Sabet

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Sabet merupakan semua bentuk ekspresi dalang lewat gerak wayang dalam pertunjukan wayang sesuai dengan karakter tokoh dan suasananya.[1] Sabet merujuk pada semua olah gerak wayang yang dimainkan oleh dalang.[1] Karakter dan suasana seorang tokoh wayang dapat dikenali dari gerak-gerik wayang di kelir.[2] Sabet merupakan unsur pementasan wayang yang menyentuh aspek visual, khususnya bagi penonton. [3] Kelincahan seorang dalang memainkan gerak wayang menjadi aspek penting dalam konsep sabet.[4] Bagian tubuh wayang yang bisa digerakkan oleh dalang adalah tangan. [5] Dalam menggerakkan wayang, dalang akan menggoyangkan tubuh wayang disertai gerakan tangan wayang.[5]

Tangan menjadi bagian tubuh wayang yang digerakkan oleh dalang

Unsur-unsur Tekhnik Sabet[sunting | sunting sumber]

Unsur-unsur tekhnik sabet terdiri dari 4 jenis, yaitu cepengan, tancepan, solah, bedholan dan entas-entasan.[1]

Cepengan[sunting | sunting sumber]

Cepengan berasal dari bahasa Jawa krama cepeng, cekel dalam bahasa ngoko, yang artinya adalah memegang.[1] Tekhnik cepengan adalah tekhnik yang berkaitan dengan cara memegang wayang.[1] Cepengan dibedakan menjadi dua, yaitu berdasarkan ukuran wayang dan suasana adegan.[1] Berdasarkan ukuran wayang cepengan tergantung dari besar kecil tokoh wayang yang dimainkan.[1] Semakin besar dan berat tokoh wayang maka cepengan harus semakin ke atas mendekati badan wayang.[1] Sementara berdasarkan suasana adegan, cepengan menyesuaikan suasana adegan yang sedang berlangsung.[1] Misalnya ada tekhnik cepengan untuk adegan perang, menari, berjalan dan juga terbang.[1]

Cepengan berfungsi untuk memberikan patokan kepada dalang bagaimana memegang tokoh wayang.[1] Cepengan juga berfungsi untuk memberi pijakan bagi dalang untuk menggerakan wayang sesuai dengan karakter dan tokoh wayang.[1] Cepengan memberikan penekanan dan kesan hidup pada setiap gerakan wayang.[1]

Tancepan[sunting | sunting sumber]

Tancepan berasal dari bahasa Jawa tancep yang artinya tancap.[1] Tancepan merupakan tekhnik menancapkan wayang pada gedebog (batang pisang) yang menjadi panggung wayang.[1] Kaidah-kaidah tancepan disebut udanegara.[1] Seorang dalang tidak bisa hanya asal dalam menancapkan wayang.[1] Posisi menancapkan wayang disesuaikan dengan kedudukan dan status tokoh wayang.[1] Seorang raja akan ditancapkan di sebelah kanan agak ke atas.[1] Sementara patih akan berada di sisi kiri agak ke bawah.[1] Selain menunjukkan kedudukan, tancepan berfungsi untuk menggambarkan keadaan batin seorang tokoh wayang.[1]

Solah[sunting | sunting sumber]

Solah merupakan kata kerja dalam bahasa Jawa yang artinya bergerak.[1] Tekhnik solah adalah tekhnik menggerakkan wayang sesuai dengan adegan yang dimainkan.[1] Terdapat tiga aspek dalam solah, yaitu nges, trampil, dan semu.[1] Nges adalah kemampuan dalang membuat gerakan wayang sungguh-sungguh tampak hidup.[1] Trampil adalah kelincahan dan ketepatan dalang dalam menggerakkan wayang.[1] Sementara semu merupakan keluwesan dalam memegang wayang sehingga gerakan mengalir dan tidak dibuat-buat.[1]

Bedholan[sunting | sunting sumber]

Bedholan berasal dari kata dalam bahasa Jawa bedhol yang artinya cabut.[1] Bedholan adalah tekhnik mencabut wayang dari gedebog yang disesuaikan dengan udanegara.[1] Misalnya, tokoh raja akan dicabut terlebih dahulu daripada tokoh-tokoh yang mempunyai kedudukan di bawahnya.[1]

Entas-entasan[sunting | sunting sumber]

Entas dalam bahasa Jawa artinya keluar dari.[1] Tekhnik entas-entasan merupakan tekhnik bagaimana mengeluarkan seorang tokoh wayang dari panggung.[1] Entas-entasan disesuaikan dengan situasi adegan yang sedang berlangsung.[1] Misalnya, tergesa-gesa, normal, sedih atau situasi yang lain.[1] Selain itu juga terdapat tekhnik untuk mengeluarkan tokoh wayang ketika dia mati.[1]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai Bambang Murtiyoso, dkk (2007). Teori Pedalangan. Surakarta: ISI Surakarta. hlm. 29-37. ISBN 979-8217-60-8. 
  2. ^ Soetarno, dkk (2007). Estetika Pedalangan. Surakarta: ISI Surakarta. ISBN 979-8217-59-4. 
  3. ^ Purbo Asmoro (2011). "Konsep Garap Sabet Dalam Tradisi Pedalangan". Pusat Data Wayang Indonesia. Diakses tanggal 6 Mei 2014. 
  4. ^ Koentjaraningrat (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 293. 
  5. ^ a b Clifford Geerstz (1983). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Pustaka Jaya. hlm. 352.