Naipospos

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Naipospos adalah salah satu marga (nama keluarga) dalam suku bangsa Batak yang merupakan keturunan dari Raja Naipospos. Raja Naipospos sendiri memiliki 5 (lima) putera yang menurunkan 7 (tujuh) marga. Hal tersebut menyebabkan keturunan Raja Naipospos disebut sebagai Naipospos silima saama pitu marga (Naipospos si lima satu bapak tujuh marga)

Raja Naipospos[sunting | sunting sumber]

Kisah Raja Naipospos dan Keturunannya[sunting | sunting sumber]

Menurut para tetua dan tokoh adat marga-marga keturunan Naipospos yang bermukim di daerah Dolok Imun, Hutaraja, dan Sipoholon sebagai sentral Naipospos, menuturkan bahwa Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera dari 2 (dua) orang isteri yang merupakan kakak-beradik (marpariban) boru Pasaribu. [1]

Raja Naipospos tidak sabar menunggu keturunan dari isteri pertama boru Pasaribu, sehingga secara diam-diam ia mengambil isteri kedua yang adalah adik kandung satu bapak dari isteri pertama. Tanpa diduga isteri pertama dan kedua sama-sama mengandung.

Isteri pertama lebih dahulu melahirkan putera bagi Raja Naipospos yang kemudian diberi nama Donda Hopol, dengan harapan agar manghopol (memegang teguh atau mengayomi) adik-adiknya.[2]

Kemudian isteri kedua pun melahirkan putera bagi Raja Naipospos dan diberi nama Marbun.

Isteri pertama kembali melahirkan 3 (tiga) orang putera lagi bagi Raja Naipospos, yaitu: Donda Ujung, Ujung Tinumpak, Jamita Mangaraja.

Putera dari isteri kedua hanyalah Marbun, namun sejak 1983 sebagian kecil keturunan Naipospos berpendapat bahwa Marbun adalah putera sulung. Sesuai dengan adat istiadat Batak, Marbun bukanlah putera sulung, melainkan yang bungsu, karena dilahirkan oleh isteri kedua dan tidak lahir lebih dahulu di antara putera-puteri Raja Naipospos.[3]

Dolok Imun, Huta Raja - Naipospos

Jadi, putera Raja Naipospos adalah sebanyak 5 (lima) orang, yaitu:

  1. Donda Hopol, yang merupakan cikal-bakal marga Sibagariang
  2. Donda Ujung, yang merupakan cikal-bakal marga Hutauruk
  3. Ujung Tinumpak, yang merupakan cikal-bakal marga Simanungkalit
  4. Jamita Mangaraja, yang merupakan cikal-bakal marga Situmeang
  5. Marbun, kemudian memiliki 3 (tiga) putera yang merupakan cikal-bakal 3 (tiga) marga, yakni:
    1. Marbun Lumban Batu
    2. Marbun Banjar Nahor
    3. Marbun Lumban Gaol

Gelar Martuasame[sunting | sunting sumber]

Martuasame adalah gelar dari Raja Naipospos.[4]

Sebuah tempat keramat di pemandian air panas Sipoholon yang bernama Sombaon Same sangat erat kaitannya dengan gelar Martuasame ini.[5]

Dolok Imun[sunting | sunting sumber]

Dolok Imun, Huta Raja, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara merupakan daerah perkampungan yang pertama kali dibuka oleh Raja Naipospos.

Dolok Imun sebagai tempat lahir dan dibesarkannya putera-puteri Raja Naipospos dan dari tempat tersebutlah keturunan Raja Naipospos tersebar atau merantau ke daerah lain.

Silsilah Naipospos[sunting | sunting sumber]

Berikut ini bagan silsilah keturunan Raja Naipospos sesuai dengan penuturan para tetua dan tokoh adat marga-marga keturunan Naipospos yang bermukim di daerah Dolok Imun, Hutaraja, dan Sipoholon sebagai sentral Naipospos. [3]

 
 
 
 
 
 
 
 
Raja
Naipospos

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sibagariang
 
Hutauruk
 
Simanungkalit
 
Situmeang
 
Marbun
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Lumban Batu
 
Banjar Nahor
 
Lumban Gaol
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kontroversi Silsilah Naipospos[sunting | sunting sumber]

Toga Sipoholon[sunting | sunting sumber]

Penamaan Toga Sipoholon sering menjadi nama kumpulan yang diidentikkan untuk marga-marga keturunan Raja Naipospos dari istri pertama, yakni: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Versi lain silsilah Naipospos yang berkembang mengatakan bahwa Raja Naipospos memiliki 2 (dua) putera dari 2 (dua) istri. Istri pertama melahirkan satu putera yang dinamai Sipoholon, dan istri kedua melahirkan satu putera yang diberi nama Marbun. [6]

Menurut para tetua dan tokoh adat Naipospos khususnya yang bermukim di daerah Sipoholon sendiri menyatakan bahwa Toga Sipoholon bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos. [7] Para tetua tersebut mengatakan bahwa tidaklah benar pendapat yang mengatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun. Pendapat ini dikatakan muncul sejak tahun 1921. [8]

Alasan yang sering dikemukakan para tetua dan tokoh adat Naipospos yang ada di daerah Sipoholon, antara lain sebagai berikut.

Putera Sulung[sunting | sunting sumber]

Secara historis sesuai dengan yang dituturkan oleh tetua dan tokoh adat Naipospos yang bermukim di Dolok Imun, Hutaraja, dan Sipoholon bahwa yang pertama kali lahir di antara 5 (lima) putera Raja Naipospos adalah Donda Hopol. Nama ini sengaja diberikan langsung oleh Raja Naipospos kepada putera sulungnya dengan harapan dan doa, semoga dia dapat manghopol, yang artinya mengayomi adik-adiknya. Donda Hopol inilah yang kemudian mewariskan marga Sibagariang. [9]

Namun, bagi kalangan yang meyakini bahwa Raja Naipospos memiliki 2 (dua) putera, sering berselisih paham mengenai siapa yang menjadi putera sulung antara Sipoholon atau Marbun. Karena meskipun Sipoholon lahir dari isteri pertama, tetapi yang diyakini lebih dahulu lahir adalah Marbun.

Urutan Keturunan Naipospos[sunting | sunting sumber]

Terlepas dari kontroversi jumlah putera kandung Raja Naipospos, penulisan urutan marga-marga keturunan Raja Naipospos sering juga menjadi perdebatan di kalangan keturunan Raja Naipospos. Beberapa kalangan sering kurang terima Marbun menjadi putera bungsu dengan alasan bahwa Situmeang adalah yang paling akhir lahir di antara keturunan Raja Naipospos. Sedangkan di lain pihak, sesuai dengan adat-istiadat yang umumnya berlaku di kebanyakan daerah di Tanah Batak selalu menuliskan urutan keturunan dari istri pertama, kedua, dan seterusnya, jika memiliki istri lebih dari satu orang.

Persoalan ini sering ditengahi para tetua dan tokoh adat antar marga-marga keturunan Naipospos dengan sebuah padan. Padan adalah sebuah istilah untuk ikatan janji setia dalam tata nilai masyarakat Batak. Dalam praktiknya, marga Hutauruk menjadi selevel dengan marga Marbun Lumbanbatu, marga Simanungkalit menjadi selevel dengan marga Marbun Banjarnahor, dan marga Situmeang menjadi selevel dengan marga Marbun Lumbangaol. Maka akibat padan ini, dengan sendirinya marga Marbun Lumbanbatu menjadi abang marga Simanungkalit dan Situmeang, karena Hutauruk telah menjadi selevel dengan Marbun Lumbanbatu. Marga Situmeang dan Marbun Lumbangaol bersama-sama otomatis menjadi yang bungsu. Sedangkan marga Sibagariang tetap diperlakukan sebagai yang sulung di antara seluruh marga-marga keturunan Raja Naipospos. [10]

Berkas:Bagan Naipospos.JPG
Bagan stratifikasi tutur sapa antar marga keturunan Naipospos berdasarkan janji khusus (padan) yang disepakati

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Si Raja Naipospos". BUKU SAKU MARGA BATAK, tulisan Doangsa P. L. Situmeang tahun 2009. 
  2. ^ "Tarombo dohot Turiturian ni si Raja Naipospos". Scribd, buku tulisan Haran Sibagariang pada tahun 1953, mantan Kepala Negeri Hutaraja (dalam bahasa Batak). 
  3. ^ a b "TAROMBO NAIPOSPOS". Kisah Raja Naipospos dan Keturunannya, tulisan Ricardo Parulian Sibagariang. 
  4. ^ "Martuasame adalah julukan (goar tulut) Naipospos". tulisan Ricardo Parulian Sibagariang. 
  5. ^ "Sombaon Same". HUTAURUK BONA, tulisan Leopold Parulian Sibagariang. 
  6. ^ "SILSILAH NAIPOSPOS : Pomparan ni Raja Lumban Gaol". lumbangaol.org. 
  7. ^ "Apa Benar Naipospos Menurunkan 7 Marga?". HUTAURUK BONA, tulisan Maridup Hutauruk. 
  8. ^ "Toga Sipoholon bukanlah putera Naipospos". tulisan Ricardo Parulian Sibagariang. 
  9. ^ "BUKTI-BUKTI HAK SULUNG SIBAGARIANG". Donda Hopol (Sibagariang) adalah putera sulung (siangkangan ni) Raja Naipospos, tulisan Ricardo Parulian Sibagariang. 
  10. ^ "Mampukah Keturunan Naipospos Bertutursapa?". HUTAURUK BONA, tulisan Maridup Hutauruk.