Mbah Brintik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Mbah Brintik (lahir di Malang, Jawa Timur, 30 Juli 1931; umur 87 tahun) dlh salah satu dari sastrawati Jawa yang berasal dari Malang.Banyak prestasi yang sudah dia raih di antaranya:

1. Mendapatkan Bintang Budaya dan Piagam Penghargaan dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa Surakarta 2. Mendapatkan Piagam Penghargaan sebagai penulis cerita rakyat juara II (juara I tidak ada) tingkat Nasional di Wanita Taman Siswa Yogyakarta, 3. Mendapat Tali Asih dari bapak Gubernur Jatim sebagai Sastrawati Jatim. 4. Macam-macam piagam penghargaan dalam kegiatan antara lain: Kongres, Sarasehan, Seminar dll. MESKI usianya sudah berkepala tujuh, tapi tak menjadi penghalang bagi Mbah Brintik untuk terus mengembangkan bahasa Jawa. Kolumnis terkenal asal Kepanjen, Malang, Jawa Timur itu, kini mengaku tertarik untuk ikut mengembangkan bahasa Brebesan sebagai salah satu khasanah bahasa Jawa sehingga tetap lestari.

’’Bahasa Brebesan itu unik dan memiliki kekhasan tersendiri. Saya sangat tertarik untuk mempelajari dan mengembangkan agar tidak punah,’’ ujar nenek yang juga sering dipanggil Nyi Soemardi Sastro Utomo ini, saat mampir di Kantor Informasi dan Kehumasan Pemkab Brebes, belum lama ini[1].

Kiprah Mbah Brintik dalam upaya melestarikan budaya Jawa memang tak diragukan lagi. Di usianya yang genap 77 tahun, ia tetap eksis menjadi penulis majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat. Penghargaan Bintang Budaya dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa juga telah dikantongi ibu beranak sembilan itu, atas kiprahnya melestarikan bahasa Jawa[1].

Menurut Mbah Brintik, bahasa Brebesan merupakan salah satu keragaman dari bahasa Jawa yang harus tetap terjaga kelestariannya. Hal ini yang menjadi gagasan ketertarikannya untuk mengembangkan bahasa tersebut. Apalagi, bahasa Brebesan mempunyai keunikan dibanding dengan bahasa Jawa di daerah lain. Bila tak dijaga, dikhawatirkan keberadaanya akan semakin punah. ’’Sangat disayangkan bila warga Brebes sampai tak bisa menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Karenanya, mulai saat ini harus dijaga,’’ tandasnya[1].

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c [1]