Konsekuensi logis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Konsekuensi logis, sering dianggap suatu konsep paling dasar dalam logika, adalah hubungan antara suatu kalimat (atau proposisi) dan kalimat lain (proposisi) sewaktu kalimat yang terakhir "mengikuti" kalimat sebelumnya. Suatu hubungan konsekuensi logis yang terspesifikasi dengan formal dapat dikarakterisasikan dengan teori model atau teori pembuktian (atau keduanya). Konsekuensi logis dapat pula diekspresikan sebagai suatu fungsi dari himpunan kalimat terhadap himpunan kalimat lain (formulasi Tarski), atau sebagai hubungan antara dua himpunan kalimat (logika simpulan jamak).

Penerapan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan anak[sunting | sunting sumber]

Konsekuensi logis diberikan kepada anak untuk melatihnya belajar melalui pengalaman. Orang tua mengajarkan tentang konsekuensi logis kepada anaknya agar anaknya mampu mengadakan pengambilan keputusan secara bertanggung jawab. Anak dibiarkan memilih tindakan yang akan dilakukannya dengan mengetahui risiko dari tindakannya. Pemberian konsekuensi logis pada anak oleh orang tua dilakukan dengan cara yang lembut tanpa perasaan marah dan tidak bersifat memberikan hukuman kepada anak.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Maghfiroh, Ana (2015). No Punishment No Worries: Menghapus Kekhawatiran, Membangun Keberanian dalam Belajar (PDF). Ponorogo: Unmuh Ponorogo Press. hlm. 95. ISBN 978-602-0815-13-8. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]