Komunikasi persuasif

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau memengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator.[1] Komunikasi persuasif merupakan proses penyampaian pesan yang dimaksudkan untuk memperkuat, membentuk ataupun mengubah tanggapan seseorang. Atau lebih tepatnya berguna untuk mempengaruhi orang lain supaya sependapat dengan komunikator. Komunikasi persuasif sendiri indentik dengan komunikasi yang sifatnya membujuk orang lain tanpa adanya paksaan untuk sependapat dengan pembicara.[2]

Pada umumnya, sikap-sikap individu/ kelompok yang hendak dipengaruhi ini terdiri dari tiga komponen, yaitu:

  1. Kognitif - perilaku di mana individu mencapai tingkat "tahu" pada objek yang diperkenalkan. Jadi, tahap ini individu mulai mampu untuk menghubungkan, menelaah, serta mempertimbangkan suatu objek atau peristiwa yang dibahas, sehingga individu tersebut mendapatkan informasi.[3] Pada tahap inilah yang mengakibatkan individu berada pada tingkat "tahu".
  2. Afektif - perilaku di mana individu mempunyai kecenderungan untuk suka atau tidak suka pada objek. Dalam tahap afektif individu akan berkaitan dengan emosi, seperti sikap, motivasi, dan perasaan. Terdapat lima bagian utama afektif dimulai yang paling sederhana hingga kompleks, yaitu: tahap penerimaan, tanggapan, apresiasi, pengorganisasian, serta karakterisasi sesuai dengan internalisasi nilai.[4]
  3. Konatif - perilaku di mana individu melakukan sesuatu tindakan terhadap objek. Aspek ini masuk ke dalam tahap bertindak, perilaku ini merupakan stimulus dalam menghadapi peristiwa.[5]

Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat memengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya memengaruhi perilaku dan tindakan mereka terhadap sesuatu. Mengubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat mengubah perilaku mereka. Walaupun ada kaitan antara kognitif, afektif, dan konatif - keterkaitan ini tidak selalu berlaku lurus atau langsung.

Contoh:

"Budi tahu/ percaya (kognitif) bahwa mobil Mercedes-Benz itu mobil yang bagus. Budi juga senang (afektif) melihat bentuk mobil tersebut saat melenggang di jalan. Namun Budi tidak akan membeli mobil Mercedes-Benz (konatif), karena ia tidak punya uang."

Tujuan[sunting | sunting sumber]

Berikut tujuan komunikasi persuasif[6]:

  1. Merangsang: Berguna untuk memperkuat keyakinan komunikan dengan apa yang disampaikan komunikator, untuk itu perlu disampaikan suatu fakta.
  2. Meyakinkan: Proses ini bertujuan untuk meyakinkan individu sehingga memunculkan perubahan emosi, seperti keyakinan, penilaian, sikap, dll.
  3. Ajakan bertindak: Opsi ini, komunikator mengajak komunikan untuk bertindak dengan mencuri perhatian mereka. Dengan tujuan untuk meningkatkan rasa ingin tahu, atau memecahkan masalah serta mengusulkan opsi-opsi solusi terkait objek yang diperbincangkan.

Faktor-faktor yang memengaruhi komunikasi persuasif agar berhasil[sunting | sunting sumber]

Banyak faktor yang menentukan keberhasilan/ ketidakberhasilan suatu pesan persuasif. Empat faktor utama adalah

  1. Sumber pesan/ komunikator yang mempunyai kredibilitas yang tinggi; contohnya seseorang yang mempunyai pengetahuan tentang apa yang disampaikannya.
  2. Pesan itu sendiri (apakah masuk akal/ tidak).
  3. Pengaruh lingkungan.
  4. Pengertian dan kesinambungan suatu pesan (apakah pesan tersebut diulang-ulang).

Namun faktor-faktor ini tidak berjalan secara bertahap. Pada banyak kasus, faktor-faktor ini saling tumpang tindih.

Prinsip umum komunikasi persuasif[sunting | sunting sumber]

Terdapat enam prinsip persuasi yang efektif, sebagai berikut[6]:

  • Timbal Balik
  • Kelangkaan
  • Otoritas
  • Komitmen dan konsistensi
  • konsensus
  • Menyukai

Etika komunikasi persuasif[sunting | sunting sumber]

Komunikasi persuasif tidak sama dengan propaganda. Menurut Prof. Richard L. Johannesen, Profesor Komunikasi dari Northen Illinois University,[7] untuk membatasi komunikasi persuasif agar tidak menjadi propaganda diperlukan seperangkat etika yang harus dipatuhi, yaitu:

  1. Memiliki ketertarikan tinggi terhadap suatu isu.
  2. Memiliki pemahaman lebih dari isu tersebut dibandingkan orang lain.
  3. Memiliki pemahaman lebih akan media massa.
  4. Mampu mengadaptasi ide-ide baru.
  5. Memengaruhi orang lain agar dapat melakukan suatu tindakan.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris) Bruce Berger Ph.D. Persuasive Communication Part I. U.S. Pharmacist a Jobson Publication Diarsipkan 2011-10-07 di Wayback Machine.
  2. ^ Media, Kompas Cyber (2021-09-07). "Definisi Komunikasi Persuasif Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-12-28. 
  3. ^ sereliciouz (2021-05-17). "Kognitif - Pengertian, Fungsi, Teori Belajar, Perkembangan". Quipper Blog. Diakses tanggal 2021-12-28. 
  4. ^ Sukanti (2011). "Penilaian Afektif Dalam Pembelajaran Akuntansi". Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia. IX (1): 75. 
  5. ^ Zuchdi, Darmiyati (1995). "Pembentukan Sikap" (PDF). Cakrawala Pendidikan (3): 53. 
  6. ^ a b "Komunikasi Persuasif: Pengertian, Tujuan, dan Strategi". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2021-12-28. 
  7. ^ (Inggris) Buku "Ethics in Human Communication"