Keseleo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Strain (cedera)
2010-10-02 pulled hamstring.jpg
Dua gambar strain. Satu gambar dipotret dari cermin.
Klasifikasi dan rujukan luar
Spesialisasi Pengobatan darurat
ICD-10 M62.6, T14.3
ICD-9-CM 848.9
MeSH D013180
Sprain
Sprained foot.jpg
Pergelangan kaki yang terkilir (sprain) dengan adanya memar
Klasifikasi dan rujukan luar
Spesialisasi Pengobatan olahraga
ICD-10 T14.3
ICD-9-CM 848.9
MedlinePlus 000041
MeSH D013180

Keseleo atau terkilir, adalah istilah umum untuk cedera otot. Dalam bahasa medis, ada dua istilah yang merujuk pada kondisi ini namun memiliki arti yang berbeda yaitu "sprain" dan "strain". Dalam Bahasa Indonesia kedua istilah ini sering diterjemahkan sebagai satu kata yang sama, yaitu ‘keseleo’ dan/atau ‘terkilir’ namun sebenarnya ada perbedaan arti. Jika seseorang mengalami keseleo atau terkilir, berarti ada dua kemungkinan yaitu "sprain" atau "strain".

  • Sprain adalah cedera yang terjadi karena regangan berlebihan atau terjadi robekan pada ligamen dan kapsul sendi.
  • Strain (atau pulled muscle) adalah cedera yang terjadi karena regangan berlebihan atau terjadi robekan pada otot maupun tendon.[1]

Sendi disambung menjadi satu dan dikuatkan oleh jaringan ikat yang disebut ligamen. Otot menempel pada sendi dengan bantuan jaringan ikat yang disebut tendon. Dengan kata lain, sprain adalah cedera sendi yang biasanya melibatkan robek ringan (trauma mikro) pada ligamen dan kapsul sendi. Bagian tubuh yang biasanya mengalami sprain adalah jempol, pergelangan kaki, dan pergelangan tangan. "Strain" adalan cedera pada tendon atau pada otot itu sendiri. Bagian tubuh yang biasanya mengalami strain adalah betis, selangkangan, otot hamstring (otot paha belakang), punggung, dan kaki (umumnya karena olahraga).

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Sprain dan strain adalah 2 tipe kerusakan atau cedera jaringan lunak. Jaringan lunak terbuat dari kumpulan serat. Otot dan tendon mengandung sel-sel yang memonitor tingkat kontraksi dan peregangan. Dengan aktivitas sehari-hari, otot dan tendon menggunakan kontraksi ringan untuk melawan peregangan yang berlebihan. Namun gerakan mendadak dengan intensitas kuat dapat memberikan tekanan terlalu kuat pada jaringan, membuat serat meregang melebihi kapasitasnya dan robek. Perdarahan dari pembuluh darah akibat perobekan inilah yang menyebabkan adanya bengkak.[2] Sprain bisa disebabkan oleh jatuh, terpelintir, atau tekanan pada tubuh yang menyebabkan sendi bergeser sehingga terjadi cedera ligamen. Strain bisa disebabkan otot/tendon terpelintir atau mengalami tarikan, overstressing, dan mengangkat benda berat.[3]

Gejala[sunting | sunting sumber]

Gejala sprain:

  • nyeri
  • memar
  • bengkak
  • sulit menggerakkan sendi

Gejala strain:

  • nyeri
  • spasme otot
  • kelemahan otot
  • bengkak
  • kram
  • sulit menggerakkan otot

Sprain dan strain level akut dapat dikategorikan menurut tingkat keparahannya:

  • Tingkat I – sejumlah serat robek dan anggota tubuh yang terkena cedera terasa sedikit sakit dan bengkak, tapi fungsi dan kekuatan dari anggota tubuh tersebut tidak berkurang.
  • Tingkat II – serat yang robek lebih banyak dan area cedera terasa lebih sakit dan bengkak, dengan pengurangan fungsi dan kekuatan.
  • Tingkat III – jaringan lunak robek seluruhnya, dengan pengurangan fungsi dan kekuatan secara signifikan. Tingkat III seringkali membutuhkan tindakan operasi.

Penanganan[sunting | sunting sumber]

Penanganan bisa dilakukan dengan prinsip RICE:

  • R (rest): istirahatkan selama 48 jam
  • I (ice): letakan es pada area yang cedera selama 15 menit setiap dua jam. Gunakan handuk di antara kulit dengan es.
  • C (compression): kompresi atau perban secara ketat area cidera dengan arah balutan dari daerah yang paling jauh dari jantung ke arah jantung (dari bawah ke atas)
  • E (elevation): bagian yang cedera diposisikan lebih tinggi dari jantung

Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat antinyeri seperti piroksikam, meloksikam, atau ibuprofen.

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan: olahraga, konsumsi alkohol, dan pijat pada area cedera dalam 72 jam setelah cedera karena dapat memperburuk pembengkakan.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ NIAMS, http://www.niams.nih.gov/Health_Info/Sprains_Strains/sprains_and_strains_ff.asp
  2. ^ DuniaLari, http://dunialari.com/apa-perbedaan-sprain-dan-strain/, diakses tanggal 28 November 2016
  3. ^ The Permanente Medical Group, Inc. 2008. Regional Health Education.011061-199 (Revised 11-10) RL 7.2
  4. ^ Patient Info, http://patient.info/health/sprains-and-strains-leaflet