Lompat ke isi

Kelistrikan di Filipina

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kelistrikan di Filipina sebagian besar telah dibangkitkan dengan memanfaatkan energi terbarukan. Penyediaan listrik pernah mengalami pemutusan skala besar pada dekade 1990-an utamanya akibat kegagalan sistem transmisi tenaga listrik dan distribusi tenaga listrik. Lalu pada dekade 2010-an, kelistrikan di Filipina mengalami penurunan ketersediaan tenaga listrik. Rasio elektrifikasi di Filipina telah mencapai 83% pada tahun 2010.  

Pembangkitan listrik

[sunting | sunting sumber]

Pembangkitan listrik di Filipina sebagian besar telah memanfaatkan energi terbarukan. Jenis pembangkit listrik yang diterapkan ada tiga, yaitu pembangkit listrik tenaga air (40%), pembangkit listrik tenaga panas bumi (30%) dan pembangkit listrik tenaga surya (10%).[1]

Pada tahun 2021, Filipina menjadi negara ketiga dalam kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi tertinggi. Posisi Filipina berada setelah Amerika Serikat dan Indonesia dengan kapasitas pembangkitan hampir mencapai 2 GW.[2]   

Penyediaan

[sunting | sunting sumber]

Dekade 1990-an

[sunting | sunting sumber]

Pasokan listrik di Filipina mengalami pemutusan pada dekade 1990-an, Penyebabnya ialah kegagalan dalam sistem transmisi tenaga listrik dan distribusi tenaga listrik. Penyebab lain pemutusan pasokan listrik di Filipina pada dekade ini ialah produksi energi listrik dalam negeri yang mengalami penurunan, tarif impor tenaga listrik yang tinggi, dan pembagian geografis.[3]  

Dekade 2010-an

[sunting | sunting sumber]

Filipina mengalami penurunan ketersediaan energi listrik pada dekade kedua abad ke-21 Masehi. Pada peridoe Maret hingga November 2019, operator sistem tenaga listrik di Filipina mengeluarkan sebanyak 14 kali peringatan merah dan 50 kali peringatan kuning. Peringatan merah digunakan untuk menandai bahwa ketersediaan energi listrik hampir habis. Sementara peringatan kuning digunakan untuk memberitahukan bahwa penyediaan energi listrik sangat tidak mencukupi kebutuhan. Pada periode April hingga Juni 2019, pemadaman listrik bergilir diterapkan di Filipina dalam tingkat sering.[4]

Rasio elektrifikasi

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2010, rasio elektrifikasi di Filipina sebesar 83%. Sebanyak 16 juta penduduk di Filipina belum memperoleh akses listrik pada tahun 2010. Pada tahun 2010, rasio elektrifikasi di kawasan perkotaan di Filipina sebesar 94%. Sementara rasio elektrifikasi di kawasan perdesaan di Filipina pada tahun 2010 sebesar 73%.[5]

Undang-undang

[sunting | sunting sumber]

Ketika  Pemerintah Filipina menerbitkan Undang-Undang Reformasi Industri Tenaga Listrik pada tahun 2001. Undang-undang ini dibuat untuk mengatasi permasalahan di sektor energi Filipina yang muncul akibat Krisis Finansial Asia pada dekade 1990-an. Undang-Undang Reformasi Industri Tenaga Listrik membuat ulang struktur industri tenaga listrik di Filipina. Target dari undang-undang ini ialah peningkatan efisiensi energi, mengatasi kekurangan listrik, menetapkan peraturan untuk kesejahteraan konsumen listrik dan meningkatkan persaingan di pasar.[3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Fahim, dkk. 2023, hlm. 3.
  2. ^ Fahim, dkk. 2023, hlm. 6.
  3. ^ a b Ravago, M-L. V., Roumasset, J. A., dan Danao, R. A., ed. (2018). Powering the Philippine Economy: Electricity Economics and Policy. Quezon City: The University of the Philippines Press. hlm. ix. ISBN 978-971-542-879-8. 
  4. ^ Barroco, Jose (2021). "Designing financeable ancillary services revenue contracts in developing economies: Learnings from the Philippines" (PDF). Energy Policy (dalam bahasa Inggris). 152 (112218): 1. doi:10.1016/j.enpol.2021.112218. 
  5. ^ Sambodo, Maxensius Tri, ed. (2015). Kemiskinan Energi Listrik: Memberi Terang Wilayah Terpencil Indonesia. Jakarta: LIPI Press. hlm. 2. ISBN 978-979-799-819-6. 

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]