Juz 5

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Juz 5 merupakan sebuah bagian dari 30 juz yang tersusun dalam kitab suci Al-Qur'an. Juz ini diawali dengan kata وَالْمُحْصَنَاتُ pada surah An-Nisa ayat 24 dan berakhir di ayat 147.[1]

Jumlah ayat dalam juz ini adalah 124 ayat.


Tafsir Ayat 114 QS An Nisa

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا ﴿١١٤﴾

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

Secara umum ayat ini menerangkan bahwa tiada kebaikan pada bisikan manusia kecuali dalam 3 hal. Berbisik untuk memerintahkan sedekah, ma’ruf, dan mendamaikan manusia. Itupun dengan syarat hanya mengharap ridha dari Allah SWT. Bisikan tersebut di zaman ini banyak terjadi dan lebih luas. Dulu apabila manusia ingin berbisik maka harus bertatap muka terlebih dahulu. Sekarang dari jarak jauhpun manusia bisa lakukan. Ada banyak grup di media sosial tempatnya nongkrong warga netizen. Artinya media sosial juga termasuk hal yang disinggung oleh ayat ini. Tidak ada baiknya ngobrol atau ngechat satu sama lainnya kecuali tentang menganjurkan sedekah, kebaikan dan perdamaian manusia. Inilah pesan dari ayat al Quran ini.

Kebaikan pertama yang disebut dalam ayat ini adalah sedekah, karena sedekah adalah memberikan sesuatu yang disukai kepada orang lain, dan itu membutuhkan usaha keras dari diri untuk merelakannya. Jika manusia itu yakin bahwa semua yang mereka miliki adalah titipan dari Allah, maka mereka akan mudah bersedekah. Dan ini ayat motivasi agar manusia selalu memberikan manfaat kepada orang lain. Minimal memberikan senyuman karena senyuman itu bernilai sedekah. Bukan sebaliknya.

Kebaikan kedua adalah makruf, yang mana makruf adalah sesuatu yang direkomendasi oleh syariat. Jadi apabila ada hal yang bertentangan dengan syariat itu bukan hal yang baik, walaupun kelihatannya baik. Dan sedekah termasuk dalam makruf. Disebutkan pertama karena penting ditegaskan agar manusia tidak materialistik.

Diakhiri dengan perdamaian yang masih termasuk dalam kategori makruf, disebut dalam ayat ini, sebab inilah harapan terbesar manusia. Agar tercipta kedamaian di setiap lini kehidupan. Ayat ini secara tidak langsung mengutuk aksi terorisme, aksi main hakim sendiri, dan semua bentuk permusuhan. Ya, bahkan dalam hadis Nabi SAW diterangkan bahwa setiap orang dilarang berbohong kecuali dalam tiga hal, pertama dalam mendamaikan orang yang bermusuhan, kedua dalam keadaan perang, dan ketiga bohongnya suami menceritakan keburukan istri atau sebaliknya.

Dan ayat ini memberikan rahasia agar manusia memiliki hati yang lapang dada, yaitu kebaikan apapun yang anda kerjakan kerjakanlah karena Allah, jangan karena selain-Nya. Maka hati anda akan damai. Tidak jatuh ketika dihina, tidak melayang ketika dipuji. Karena niat sudah tertanam dalam hati dan tujuan sudah lebih dari apapun. “WALLAHU A’LAM BISH SHOWAB”.

Referensi[sunting | sunting sumber]