Interogativa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Interogativa atau kata tanya adalah kata tugas yang digunakan untuk mengajukan pertanyaan. Kata tanya dalam bahasa Indonesia antara lain apa, siapa, dan mengapa. Dalam bahasa Inggris, kelas kata ini sering disebut wh-words karena sebagian besar kata tanya dalam bahasa ini diawali dengan wh-, misalnya what, when, where, who, dan why. Kata tanya dapat dipakai dalam kalimat tanya langsung (Siapa dia?) ataupun kalimat tanya tak langsung (Saya membatin siapa dia).

Interogativa adalah kategori dalam kalimat interogatif yang berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan apa yang telah diketahui oleh pembicara. Apa yang ingin diketahui dan apa yang ingin dikukuhkan itu disebut anteseden. Anteseden tersebut selamanya ada di luar wacana; dan karena baru akan diketahui kemudian, interogativa bersifat kataforis.[1] Kalimat tanya bertujuan untuk memperoleh respon berupa jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan. Secara formal kalimat tanya akan selalu diakhiri sebuah tanda tanya (?) dalam bentuk tulisan, sedangkan dalam bentuk penuturan akan meninggikan maupun menurunkan intonasi diakhir kalimatnya.

Kalimat tanya memiliki pola intonasi yang berbeda dengan kalimat berita. Perbedaannya terletak pada pada nada akhir, apabila kalimat berita bernada akhir turun, sedangkan kalimat tanya pola intonasi akhir naik. Ciri khas dari kalimat tanya adalah dengan munculnya kata tanya misalnya, apa, siapa, berapa, bagaimana, dan lain sebagainya.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dalam studi gramatika tradisi Eropa, sistem kelas kata menempati posisi penting sejak ilmu bahasa mulai dikaji dan dikembangkan. Bahkan dalam salah satu karya paling tua yang dianggap sebagai peletak dasar sistem kelas kata yaitu dalam karya Aristoteles Peri Hermeneias (abad ke-4 SM), segi itu menjadi pokok pembahasan tentang bahasa. Tradisi gramatika Eropa yang menyebar ke tanah air membawa kerangka pikiran itu, sehingga dalam buku-buku gramatika awal penyajiannya seluruhnya berkisar pada kelas kata.

Ciri-ciri[sunting | sunting sumber]

Setiap kalimat mempunyai cirinya masing-masing untuk membedakan kalimat satu dengan kalimat yang lain. Kalimat tanya pun memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan kalimat lainnya, diantaranya;

  1. Kalimat tanya selalu diakhiri dengan tanda baca tanya (?), hal ini merupakan salah satu ciri khas dari kalimat tanya. Jika kalimat tanya diakhiri dengan tanda tanya maka kalimat perintah biasa diakhiri dengan tanda seru yang merupakan ciri dari kalimat perintah
  2. Kalimat tanya umumnya selalu diawali dengan kata tanya yaitu 5W+1H (what, who, when, where, why, how). Kata tanya dalam bahasa Indonesia diantaranya, apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana, dan masih banyak lagi bukan hanya 5W+1H sesuai perkembangan bahas Indonesia saat ini. Contoh: Kapan kamu akan berangkat ke Surabaya?
  3. Kalimat tanya yang hanya berupa tanggapan konfirmasi, intonasi pada akhir kalimat meningkat
  4. Kalimat tanya yang mengharapkan tanggapan yang jelas dan panjang intonasi pada akhir kalimat menurun
  5. Kalimat tanya sering menggunakan akhiran -kah, bagaimanakah, kapankah, apakah, berapakah, bolehkah, bisakah dan lain sebagainya. Akhiran -kah ini bertujuan untuk memperjelas pertanyaan yang ditanyakan kepada seseorang.

Dari kelima ciri-ciri kalimat tanya tersebut, dapat dipastikan bahwa kalimat tanya sangat sering digunakan. Menurut Kridalaksana (2001), kalimat interogatif dibentuk dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan kata tanya dan intonasi tanya.[1] Jika ingin mengetahui jawaban terhadap suatu masalah atau keadaan kalimat yang digunakan merupakan kalimat tanya (Bambang, 1995:183).  

Ragam[sunting | sunting sumber]

Kalimat tanya dihadirkan untuk memperoleh jawaban yang diharapkan oleh penanya. Chaer (2006) membedakan kalimat tanya berdasarkan reaksi jawaban yang diharapkan, di antaranya;[2]

  1. Kalimat tanya yang meminta pengakuan atau jawaban ya atau tidak/ bukan, kalimat tanya ini hanya membutuhkan jawaban iya atau tidak sehingga tidak perlu penjelasan dari yang menjawab pertanyaan. Biasanya kalimat tanya ini ada dalam sebuah survei yang hanya menyediakan jawaban iya atau tidak. Contoh: Apakah anda sudah bekerja?, hanya ada dua jawaban atas pertanyaan tersebut yakni sudah atau belum.
  2. Kalimat tanya yang meminta keterangan mengenai salah satu unsur kalimat. Biasanya kalimat tanya ini, digunakan untuk menyakan keterangan yang dibutuhkan oleh penanya. Penggunaan apa, untuk menanyakan benda, contoh: - Apa isi tasmu? - Apa yang sedang kau bawa? Penggunaan kata tanya siapa, untuk menanyakan orang. Contoh: - Siapa nama gadis itu? - Siapa saja yang akan berangkat ke Kebumen? Penggunaan kata tanya dimana, untuk menanyakan keberadaan. Contoh: - Di mana kamu membeli bunga itu? - Di mana kamu menaruh buku catatanku? Penggunaan kata tanya kapan, untuk menanyakan waktu. Contoh: - Kapan kamu akan melanjutkan studi? - Kapan kamu mengerjakan tugas ini? Penggunaan kata tanya berapa, untuk menanyakan jumlah atau banyaknya. Contohnya: - Berapa uang sakumu? - Berapa banyak saudaramu yang bekerja?
  3. Kalimat tanya yang meminta alasan. Kalimat tanya ini hadir karena adanya suatu sebab akibat yang menayakan sebuah alasan. Biasanya kalimat tanya ini diawali dengan kata tanya mengapa atau kenapa. Contoh: - Mengapa kamu pergi ke Surabaya? - Mengapa dia mengejarmu sampai ke sini? Kalimat diatas membutuhkan alasan atas pertanyaan yang diberikan.
  4. Kalimat tanya yang meminta pendapat atau buah pikiran orang lain. Kalimat ini hadir untuk mendapatkan pendapat dari orang lain atas apa yang ia ingin lakukan. Jawaban atas pertanyaan ini biasanya akan sesuai dengan pengetahuan dan ide dari penjawab. Terkadang kalimat tanya ini diawali dengan kata tanya bagaimana. Contoh: - Apa pendapatmu mengenai berita semalam? Bagaiamana cara kalian menyelamatkan diri dari banjir bandang tersebut? Penjawab akan menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan pendapat dan pengetahuaannya.
  5. Kalimat tanya yang menyungguhkan. Kalimat tanya ini mengharapkan jawaban untuk menguatkan yang ditanyakan. Oleh karena itu, jawaban yang diharapkan adalah “ya” atau “betul”. Contoh: - Kamu sudah berkuliah, bukan? - Ia yang dahulu pernah kecelakaan, bukan? Secara eksplisit kata jawaban “ya” atau “betul” itu tidak diucapkan.
  1. ^ a b Kridalaksana, Harimurti, author. Kelas kata dalam bahasa Indonesia. ISBN 978-979-403-085-1. OCLC 883281349. 
  2. ^ Chaer, Abdul, 1942- author. Tata bahasa praktis bahasa Indonesia. ISBN 978-979-098-010-5. OCLC 956692605.