Homo faber

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Seorang perempuan yang sedang mengerjakan pekerjaan pabrik

Homo Faber merupakan sebuah konsep yang menggambarkan manusia sebagai pekerja.[1] Pekerjaan adalah hal yang utama di dalam kehidupan manusia.[1] Dalam konsep homo ludens, hidup manusia tidak mempunyai arti tanpa pekerjaan.[1]

Penjelasan[sunting | sunting sumber]

Pemahaman deus ludens dipengaruhi konsep Deus Faber.[2] Dalam konsep ini, kemampuan manusia diukur berdasarkan prestasi kerjanya maupun apa yang dihasilkan oleh manusia tersebut.[3] Dalam konsep ini, manusia mampu mengenal dirinya melalui apa yang mereka kerjakan.[1] Nilai-nilai kehidupan manusia ditemukan melalui apa yang mereka kerjakan.[1] manusia mampu mengukur kemampuannya sendiri.[4] Perkembangan teknologi turut mempengaruhi konsep deus ludens.[1] Manusia tidak mempunyai arti untuk hidup jika ia tidak mengerjakan sesuatu.[1] Dalam konsep ini, manusia memandang kehidupan sesamanya sebatas pekerjaan.[5] Hal ini menyebabkan relasi antara sesama manusia pun tidak dipandang sebagai relasi personal atau relasi antar sesama manusia.[4] Dalam konsep homo faber, relasi antara satu manusia dengan manusia lain berubah menjadi relasi manusia kepada benda atau objek.[4] Objek disini berarti sesuatu yang dapat diukur dan dikendalikan.[4] Perkembangan maupun perubahan yang terjadi dalam diri manusia pun dinilai dari produktivitas atau hasil akhir dari pekerjaan yang dilakukan oleh manusia tersebut.[4] Dunia atau alam semesta akhirnya pun bisa diukur karena perkembangan teknologi yang merupakan bagian dari pekerjaan manusia.[5] Homo faber juga memungkinkan manusia untuk mengukur berbagai hal dalam dunia atau alam semesta.[5] Secara singkat, manusia melalui apa yang dikerjakan dan apa yang dihasilkan dapat melihat serta mengukur dirinya maupun hal-hal lain yang berada di luar dirinya.[6] Konsep yang merupakan pasangan dari homo faber adalah Homo ludens.[2]

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

Konsep homo faber mempunyai pengaruh dalam kehidupan manusia.[2] Kita dapat menemukan konsep homo faber dalam berbagai negera.[2] Jepang adalah salah satu contoh negara yang sangat menekankan konsep homo faber.[5] Hal ini dapat dilihat dari tingginya jam kerja yang dimiliki oleh masyarakat Jepang.[2] Homo faber juga memungkinkan seseorang menjadi workaholic.[2] Selain Jepang, Rusia saat masih menjadi bagian dari Uni Sovyet pun demikian.[2] Saat itu, Uni Sovyet berada di bawah pimpinan Josef Stalin.[2] Rusia menganut paham komunis.[2] Masa itu, Rusia bahkan memberikan penghargaan kepada seseorang yang dipandang mempunyai semangat kerja yang tinggi.[2] Penghargaan yang diberikan Rusia kepada orang tersebut dapat dikatakan sama dengan penghargaan nobel.[2]

referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g (English) Keekok Lee. 1999. The Natural and the artefactual: The Implication of Deep Science and Deep Technology for environmental philosophy.Maryland: Lexington Books.
  2. ^ a b c d e f g h i j k Emanuel Gerrit Singgih. 2011. Dari Eden ke Babel: Sebuah Tafsir Kejadiaan 1-11. Yogyakarta: Kanisius.
  3. ^ (English) Ton Van Prooijen. 2004. Limping but blessed: Jurgen Moltmann's Seacrh for a liberating theology. Rodopi B.V.:Amsterdam.Hlm 243.
  4. ^ a b c d e (English) Josef Tischner. 1994. The Philosophy of Person: Solidarity and Cultural Creativity. Washington: Paideia Press & The Council for Research in Values and Philosophy. Hlm 85-91.
  5. ^ a b c d (English) Lewis P. Hinchman. 1994.Hannah Arendt: Critical Essays. Albany:New York Press. Hlm 234-236.
  6. ^ (English) Warner, Karl Raff. 2001. New Pharmalogical approaches to reproductive Health and Healthy Ageing. New York: Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]