Globulin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Immunoglobulin

Globulin merupakan kelompok protein yang tidak larut di dalam air tetapi larut dalam larutan pram encer. Globulin yang terdapat dalam darah terdiri atas alfa-globulin, beta-globulin, dan gamma-globulin. Globulin berfungsi sebagai pengangkut lemak, vitamin, hormon, dan mineral. Gamma-globulin berfungsi sebagai antibodi. Globulin berguna untuk membentuk fibrinogen, musculin, crystallin, dan antibodi. Pada keadaan normal jumlah protein yang diperlukan untuk orang dengan berat badan 75 kg adalah seba-nyak 100 gram. Walau protein itu penting, pada beberapa penyakit orang dibatasi intake proteinnya.[1] Globulin merupakan 40% dari total protein. Globulin sebagian dihasilkan oleh hati, sebagian lagi dihasilkan sistem imun. Fungsi globulin adalah melawan infeksi dan mengangkut nutrisi ke jaringan tubuh.[2]

Kelompok[sunting | sunting sumber]

Globulin memiliki tiga kelompok utama yaitu Alfa globulin, beta globulin, dan gamma globulin. Dari fraksi-fraksi tersebut terdapat penyusun yang berbeda.

  • Alfa globulin yang terdiri dari alfa-1 globulin dan alfa-2 globulin. Beta globulin terdiri dari beta-1 globulin dan beta-2 globulin, sedangkan gamma globulin tidak dapat dipisah menjadi komponen lain. Setiap bagian dari protein tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Gelombang alfa-1 globulin adalah molekul alfa-1 antitrypsin, yang menjadi penghambat protease (protease inhibitor) dan menginaktfikan enzim tripsin dalam darah. Alfa-2 globulin yang terdiri dari dua protein plasma akan berperan sant terjadi penghancuran eristrosit dan menjadi penghambat protease.
  • Beta globulin yang terbagi menjadi dua yaitu beta-1 dan beta-2 globulin berperan dalam transfer molekul dan pengangkutan kolesterol ke dalam sel. Dalam protein beta globulin terdapat sebuah komponen pelengkap yang dikenal sebagai fibrinogen.
  • Gamma globulin yang terdiri dari IgG, IgA, IgD, IgE, dan IgM yang dari masing-masing komponen tersebut memiliki fungsi faal sebagai antibodi yang berperan antigen yang khas spesifiknya. Pada umumnya gamma globulin lebih dikenal dengan antibodi.[3] Gamma globulin adalah protein yang beredar dalam darah. menambah ke-kebalan. sera melawan dan mencegah infeksi. Gamma globulin telah digunakan selama bertahun-tahun sebagai injeksi intramuscular (suntikan ke dalam otot) dengan hasil yang cukup baik. Ketika beberapa masalah teknis bisa diatasi pada akhir 1970-an, gamma globulin yang diberikan secara intravenous (dimasukkan ke pembuluh vena) semakin banyak jumlahnya. Gamma globulin yang diberikan ke pembuluh vena memiliki beberapa mekanisme aksi, salah satu yang paling penting adalah kemampuannya mencegah limpa agar tidak menghancurkan platelet. Gamma globulin intravenous pada lupus hanya berguna untuk pemakaian jangka pendek pada autoimmune thrombocytopenia (kekurangan Amer) sampai obat-obatan lain menjadi efekti( dan mengatasi peradangan saraf. Gamma globulin innvenous bisa dilakukan berkala setiap bulan untuk sebagian pasien lupus yang telah sembuh dan infeksi dan kekurangan gamma globulin (sebagian besar pasien lupus mengalami peningkatan gamma globulin). Sebagian besar penelitian menyatakan bahwa gamma globulin intravenous tidak berlaku untuk menangani fibmmyalgia maupun kelelahan kronis.[4]

Gangguan[sunting | sunting sumber]

  • Hepatitis B Immune Globulin adalab suatu sediaan anti-HBs titer tinggi yang dimurnikan dari plasma yang diambil dari individu anti-HBs positif titer tinggi. HBIG dipergunakan untuk pencegahan infeksi VHB pasca paparan, yaitu pencegahan infeksi paparan terhadap sumber infeksi VHB telah tetjadi sebelum tindakan pencegahan, misalnya penularan dari ibu kepada anak, penularan dari tusukan tidak sengaja, dan penularan dari hubungan kelamin dengan seorang karier.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Djojodibroto, Darmanto (2001). Seluk-Beluk Pemeriksaan Kesehatan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm. 86. ISBN 978-979-461-387-0. 
  2. ^ Sari, Joni Indah (19-07-2020). "Tes Protein Total: Fungsi, Prosedur, Hasil, dan Komplikasi". SehatQ. Diakses tanggal 2022-01-26. 
  3. ^ As, Nour Athiroh; Mubarakati, Nurul Jadid (2021). BIOPROSPEKSI BENALU TEH–BENALU MANGGA SEKARANG DAN YANG AKAN DATANG (Terapi Adjuvan terhadap Hipertensi. Magetan: Inara Publisher (kelompok Intrans Publishing). hlm. 165. ISBN 978-623-98428-4-0. 
  4. ^ Wallace, Daniel J. (2007). The Lupus Book. Yogyakarta: Bentang Pustaka. hlm. 317. ISBN 978-979-24-3823-9. 
  5. ^ Soemoharjo, Soewignjo (2007). Hepatitis Virus B ed2. Jakarta: EGC. hlm. 29. ISBN 978-979-448-927-7.