Gereja daring

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Gereja daring (bahasa Inggris: Internet church), atau disebut gereja internet, mengacu pada tata cara di mana sebuah kelompok keagamaan menggunakan internet sebagai sarana untuk memfasilitasi kegiatan keagamaan.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Gereja mula-mula[sunting | sunting sumber]

Dalam sebuah Alkitab ada perkataan Tuhan Yesus, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Yesus mendirikan gereja-Nya di dunia dan berkata bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Apa sebenarnya arti perkataan Tuhan Yesus ini? Ini merupakan jaminan yang diberikan kepada gereja-Nya, yang telah dibuktikan kebenarannya pada satu abad pertama sejarah gereja. Sangat banyak hal yang terjadi dan jika dilihat dari kacamata dunia, gereja mula-mula seharusnya tidak dapat bertahan. Gereja pada abad pertama berdiri menghadapi sangat banyak tantangan, mulai dari serangan ajaran sesat, perpecahan di dalamnya, penolakan dari agama-agama lain, dan tekanan serta penganiayaan dari negara atau kelompok politik. Namun sejarah mencatat bahwa saat gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus mengalami banyak tantangan, gereja tetap dipelihara oleh Tuhan sendiri. Yang terjadi bukannya keberadaan gereja hilang namun gereja mampu bertahan dan justru malah berkembang dengan pesat.

Gereja secara daring[sunting | sunting sumber]

Pada awal munculnya internet, banyak kelompok pelayanan rohani yang mulai mengunggah informasi dan khotbah bagi para pengunjungnya. Dalam perkembangannya, metode pengajaran tersebut berkembang menjadi bentuk video, audio podcast, dan blog. Gereja daring masa kini merupakan sebuah alternatif baru sebagai pengembangan dari gereja konvensional yang melakukan pertemuan ibadahnya di dalam gedung gereja. Gereja ini bahkan mulai memanfaatkan layanan pos daring untuk interaksi antara pendeta dengan anggota gereja, atau menggunakan transmisi, kadang-kadang dengan menggunakan pra-rekaman siaran televisi. Gereja daring modern memberikan alternatif kegiatan bergereja yang sama bagi para anggotanya dengan jangkauan lebih luas, sering kali ditambah pendekatan interaktif.[2][3]

Data statistik terkini menunjukkan peningkatan angka keluarnya orang muda dari gereja, terutama setelah mereka meninggalkan rumah dan hidup sendiri. Dalam sebuah studi pada tahun 2007, Lifeway Research menemukan bahwa 70% dari kaum Protestan muda dan dewasa antara 18-22 tahun berhenti menghadiri gereja secara teratur.[4]

Gereja daring sekarang ada di seluruh dunia, tetapi keberadaannya masih dikritik karena kurangnya relasi antar komponen gereja secara langsung.[5]

Dasar teori[sunting | sunting sumber]

Gereja dalam bentuk daring muncul sesuai teori komunikasi kelompok dimana individu bergabung dengan kelompok untuk mengejar kebutuhan individu dalam konteks sosial. Kelompok ini akan membantu individu memenuhi sejumlah tujuan termasuk sosialisasi dan persahabatan, dukungan untuk pengembangan pribadi atau perubahan positif, dan pertumbuhan spiritual. Ada juga kelompok yang tujuan utamanya adalah untuk menciptakan semangat positif dan memfasilitasi anggota mencapai tujuan pribadi atau sosial berorientasi, seperti dukungan interpersonal.

Sebagai kelompok yang menggunakan teknologi komunikasi, keberadaan gereja daring terus dikembangkan. Sebagai contoh, ada kelompok gereja daring yang menggunakan teknologi video conference untuk berkomunikasi satu sama lain dari berbagai belahan dunia. Sehingga melalui cara ini, meski terpisah jarak yang jauh setiap orang dalam kelompok ini tetap dapat berkomunikasi.

Gereja daring muncul karena perkembangan teknologi dan informasi dalam masyarakat modern masa kini yang disebut masyarakat informasi. Dalam masyarakat informasi, sumber daya yang diolah secara maksimal adalah informasi yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta bersifat komputerisasi dan digital. Masyarakat ini biasa ditemukan pada zaman ini, kebanyakan di kota-kota besar. Masyarakat informasi dalam hal ini didefinisikan sebagai masyarakat yang melakukan segala aktivitas dalam kehidupannya (ekonomi, politik dan budaya) menggunakan dan mendistribusikan informasi dalam teknologi. Teknologi yang sedang trend dan diaplikasikan dalam segala aspek adalah teknologi digital. Inilah yang menjadikan masyarakat informasi masa kini menjadi identik dengan masyarakat digital.

Perkembangan teknologi di era masyarakat informasi sangat pesat, bahkan tak terbendung. Salah satu konsekuensinya, teknologi mengikat kehidupan manusia yang ada di dalamnya. Bisa dikatakan tak ada satu manusia pun yang kini bisa lepas dari yang namanya teknologi, sejak membuka mata di pagi hari hingga menutup mata di malam hari. Belajar, bekerja, bahkan rekreasi dan bermain, tak lepas dari teknologi.

Gambaran[sunting | sunting sumber]

Gereja daring adalah suatu pertemuan dari para penganut agama yang difasilitasi melalui penggunaan pengaliran video maupun audio secara daring, maupun pesan tertulis yang tujuan utamanya untuk memungkinkan pertemuan umat dengan menggunakan internet.

Gereja daring menggambarkan sebuah lembaga yang mengajarkan dan mempraktikkan keyakinan keagamaan melalui metode daring. Meskipun ada ratusan gereja yang tersedia secara daring, istilah "gereja daring" ini umumnya diperuntukkan bagi gereja-gereja yang mayoritas anggotanya bertemu, berhubungan atau berkumpul dengan cara atau penggunaan internet; di mana pelayanan keagamaannya dilakukan melalui internet. Perbedaan dasar gereja daring dengan gereja tradisional adalah pada media fisik yang menghubungkan pendeta, pengajar, dan umat di dalamnya. Banyak gereja di Amerika Serikat memiliki gereja daring mereka sendiri, dengan mayoritas memiliki ratusan anggota.

Anggota gereja daring tetap berkomunikasi dengan pendeta dan bekerja sama dengan orang lain melalui alat komunikasi web yang disediakan. Dalam beberapa kasus, anggota berkomunikasi melalui telepon dengan para pendeta/pelayan.[6]

Karena penggunaan internet terus berkembang, orang-orang Kristen semakin banyak yang menggunakan situs web, blog, jejaring sosial, situs media jasa, chatroom, forum diskusi, dan sarana elektronik lainnya untuk untuk koneksi sosial, pendidikan, dan pengayaan iman mereka.

Istilah[sunting | sunting sumber]

Istilah gereja daring atau cyberchurch digunakan oleh pengembang web Tim Bednar dalam paper "We Know More Than Our Pastors" (Kami Tahu Lebih banyak Dari para Pendeta Kami). Ulasan dalam gerakan blogging tersebut memberi pengaruh pada pengalaman iman.[7] Seorang pelaku survei keagamaan dan penulis George Barna menggunakan istilah dalam bukunya yang berjudul Revolution untuk menggambarkan berbagai pengalaman rohani yang disampaikan melalui internet.[8] Barna melihat gereja daring atau cyberchurch sebagai salah satu masa depan dari bentuk gereja itu sendiri.[8]

Situs jejaring sosial[sunting | sunting sumber]

Orang-orang Kristen, seperti banyak pengguna internet, semakin banyak yang menggunakan situs jaringan sosial seperti MySpace, Xanga, dan Facebook. Situs ini menggabungkan banyak teknologi blogging, yang memungkinkan mereka untuk mengirim pesan satu sama lain dalam sistem, terhubung secara resmi sebagai teman, dan lain-lain. Koneksi ini bisa terwujud di dunia nyata maupun tidak, tapi banyak juga yang sekarang mempertimbangkan hubungan secara daring sebagai sesuatu bagian yang berarti dalam hidup mereka. Hal ini meningkatkan potensi pengaruh kehadiran umat Kristen dalam lingkungan ini. Kritik dari umat Kristen mengenai situs-situs tersebut telah berkembang, tetapi isinya lebih kepada pertanyaan seputar konten dan isu keamanan.[9] Hasilnya kini, sejumlah alternatif jejaring sosial Kristen telah dikembangkan. Di sisi lain, sebagian orang menganjurkan cara bermisi menggunakan situs jejaring sosial dan situs lainnya seperti blogging, chatting, dan pesan instan untuk menyebarkan injil dan merekrut anggota baru.[10]

Sudah ada beberapa spekulasi dan eksperimen untuk memulai gereja dalam "lingkungan virtual". LifeChurch.tv mencoba membuka gereja daring dalam komunitas Facebook.[11] Demikian juga gereja lainnya, mulai muncul dalam bentuk gereja virtual di mana orang dapat hadir dan melakukan ibadah atau kegiatan penyembahan bersama-sama secara daring.[12] Banyak gereja daring yang tetap mempertahankan unsur-unsur yang dapat ditemukan dalam tradisi gereja, seperti khotbah. Namun, mereka juga berusaha untuk beradaptasi dengan norma-norma sosial media digital, sepeti misalnya pengguna yang menghadiri gereja-gereja ini biasanya dikenal dengan nama pengguna mereka; dan ada sesi obrolan sebelum, setelah, atau bahkan selama pelayanan gereja daring berlangsung.[13]

Multimedia daring[sunting | sunting sumber]

Podcasting, pengaliran audio dan video, unduhan media, dan penyiaran situs web memungkinkan berbagi pandangan maupun keyakinan secara luas. Saat bentuk rekaman dari penyiaran agama sudah ada, kini giliran kemampuan internet membuat berkas ini menjadi umum bagi jutaan pengguna. Hal inilah yang mendorong pertumbuhan dan meluasnya pengaruh gereja daring.[14] Sekarang ada jutaan khotbah audio, konferensi dan seminar rekaman, video, dokumenter, film bertema keimanan yang lebih mudah diakses melalui World Wide Web.

Situs berbagi Video seperti YouTube dan Google Video memungkinkan siapapun dengan kamera web dapat mengunggah video bersama produser profesional film religi/rohani dan membuatnya tersedia untuk jutaan pengguna. Hal ini memungkinkan umat berbagi ide-ide tentang iman melalui cara baru yang kreatif. Sebagian besar situs-situs ini memungkinkan menyertakan video dalam blog atau situs web, dan memutar video tersebut menggunakan basis komunikasi di internet. Sejumlah situs Kristen juga muncul untuk memperkokoh keimanan penggunanya melalui layanan berbagi video.

Contoh[sunting | sunting sumber]

Lebih dari 500 gereja di Amerika Serikat menayangkan khotbah online Natal 2013 melalui internet, dan ratusan gereja lainnya mengunggah foto-foto kegiatan (baptis dan ibadah) serta ayat-ayat Alkitab melalui media sosial Instagram dan Pinterest.

Melalui khotbah yang disampaikan secara online, gereja online ingin menarik minat jemaat yang ingin beribadah di luar jadwal tetap atau yang sudah pindah lokasi tempat tinggal. Gereja online juga tampaknya hendak menjangkau orang yang mungkin segan hadir di gereja konservatif dengan alasan tertentu.

Gereja Liquid, New Jersey, merupakan salah satu gereja online yang menayangkan acara perjamuan kudus secara virtual. Jika pengunjung sudah log in ke website, pendeta akan meminta jemaat virtualnya untuk mengambil segelas anggur dan sebuah roti.

Gereja lain yang melakukan hal serupa adalah Gereja Saddleback yang digembalai oleh Pendeta Rick Warren. Gereja ini dikenal sebagai gereja pelopor ibadah digital. Hingga tahun 2014 setidaknya ada lebih dari 160 ibadah yang sudah ditayangkan secara streaming di website gereja ini.

Ketua pendeta pengelola ibadah online di Saddleback, Jay Kranda, bahkan ingin mempersiapkan ibadah yang dapat diakses dengan perangkat Nintendo Wii.

Meski sedang marak, tetapi tidak semua gereja setuju dengan ide ini. Pada November 2013 lalu, Gereja Methodist Bersatu membuat pernyataan bahwa perjamuan kudus seharusnya diselenggarakan dengan komunitas yang nyata secara jasmani.

Dampak[sunting | sunting sumber]

Positif[sunting | sunting sumber]

  • Mendekatkan yang jauh. Menjadikan jarak tidak berarti.
  • Mempersingkat waktu.
  • Pertukaran informasi semakin mudah.

Negatif[sunting | sunting sumber]

  • Kedekatan virtual yang terjadi di era masyarakat informasi mengubah cara pandang hubungan seseorang. Dari kedekatan langsung menjadi kedekatan yang kini banyak bersifat virtual. Kedekatan hubungan semacam ini bersifat maya, tidak nyata.
  • Kuatnya ikatan teknologi mempengaruhi penggunanya, sehingga menyebabkan ketergantungan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Brandon Buckner, [1] Redeeming The Internet" Collide Magazine (Accessed April 1, 2011)
  2. ^ Nils Smith, "Faith groups should embrace — not fear — social media" San Antonio Express (Accessed August 16, 2010)
  3. ^ "OMGod: The World's first online church". 3 News. August 5, 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-09-28. Diakses tanggal October 5, 2011. 
  4. ^ BRETT MCCRACKEN, "The Perils of 'Wannabe Cool' Christianity" Wall Street Journal (Accessed August 13, 2010)
  5. ^ Gordon MacDonald "Who Stole My Church?: What to Do When the Church You Love Tries to Enter the 21st Century" (Thomas Nelson Inc, 2008, ISBN 0-7852-2601-X, 9780785226017)
  6. ^ Jonathan Wynne-Jones, "Church minister to tweet Holy Communion to the faithful" Telegraph (Accessed August 16, 2010)
  7. ^ Tim Bednar, "We Know More Than Our Pastors: Why Bloggers Are the Vanguard of the Participatory Church" PDF (Accessed September 5, 2007)
  8. ^ a b George Barna, "Revolution" (Tyndale House, 2005, ISBN 1-4143-1016-1 )
  9. ^ John Kuhn, "Should Myspace be Yourspace?"
  10. ^ Andrew Careaga, "Embracing the cyberchurch" Next-Wave http://www.next-wave.org (Accessed September 5, 2007); Kevin D. Hendricks, "How Your Church Can Use MySpace Diarsipkan 2007-09-28 di Wayback Machine." Church Marketing Sucks http://www.churchmarketingsucks.com (Accessed September 5, 2007); and Rev.
  11. ^ Bobby Gruenewald, "Facebook Church Diarsipkan 2008-01-05 di Wayback Machine." Swerve http://swerve.lifechurch.tv (Accessed September 5, 2007)
  12. ^ Theodore Wright, "CyberChurch in Second Life" Dokimos.org http://www.dokimos.org (Accessed September 5, 2007)
  13. ^ Tim Hutchings. (2011) "Contemporary Religious Community And The Online Church."
  14. ^ Andrew Jones, "Linking to Cyberchurch Diarsipkan 2007-09-28 di Wayback Machine." Relevant Magazine (Accessed September 5, 2007)

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  • Cyberchurch by Patrick Dixon (Kingsway Publications, 1997, ISBN 0-85476-711-8)
  • "The internet church" by Walter P. Wilson (Word Publications, 2000) ISBN 0-8499-1639-9
  • "Exploring religious community online: we are one in the network" by Heidi Campbell (Peter Lang Publications, 2005) ISBN 0-8204-7105-4
  • The Blogging Church by Brian Bailey and Terry Storch (Jossey Bass, 2007) ISBN 978-0-7879-8487-8
  • The Wired Church 2.0 by Len Wilson (Abingdon Press, 2008) ISBN 978-0-687-64899-3
  • Church of Facebook: How the Hyperconnected Are Redefining Community by Jesse Rice (David C. Cook, 2009) ISBN 1-4347-6534-2
  • SimChurch: Being the Church in the Virtual World by Douglas Estes (Author) Zondervan, 2009) ISBN 0-310-28784-7
  • Under The Radar: Learning From Risk Taking Churches by Bill Easum and Bill Tenny-Brittian (Authors) Abingdon Press, 2005) ISBN 0-687-49373-0, a book citing Alpha Church for sacraments of Baptism and Holy Communion on the internet, p. 33.
  • Beniger, J. R. (2009). The control revolution: technological and economic origins of the information society. USA: Harvard University Press.
  • Kartika, Y. (2014, Januari 5). Ibadah Online Nge-trend, Jemaat Kini Tak Perlu Ke Gereja. Retrieved Oktober 21, 2016, from www.jawaban.com: http://www.jawaban.com/read/article/id/2014/01/05/91/131227202257/Ibadah-Online-Nge-trend,-Jemaat-Kini-Tak-Perlu-Ke-Gereja
  • Kencana, A. C. (2013, Februari). Buletin Pillar. Sejarah Gereja: Pembelajaran dari Gereja Mula-mula, p. 1.
  • Ruben, B. D., & Stewart, L. P. (2006). Comunication and Human Behavior 5th Edition. USA: Pearson Education.
  • Wuryanta, A. E. (2012). Digitalisasi Masyarakat: Menilik Kekuatan dan Kelemahan Dinamika Era Informasi Digital dan Masyarakat Informasi. UAJY, 131-132.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]