Lompat ke isi

De Oost

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
De Oost
Poster film untuk Prime Video
SutradaraJim Taihuttu
ProduserSander Verdonk
Julius Ponten
Shanty Harmayn
Ditulis olehMustafa Duygulu
Jim Taihuttu
PemeranMartijn Lakemeier
Marwan Kenzari
Penata musikGino Taihuttu
SinematograferLennart Verstegen
EditorMieneke Kramer
Perusahaan
produksi
New Amsterdam Film Company
Salto Films
Wrong Men North
BASE Entertainment
Ideosource Entertainment
Kaninga Pictures
XYZ Films
DistributorAmazon Prime Video
Splendid Film
Mola
Tanggal rilis
  • 25 September 2020 (2020-09-25) (Belanda)
  • 7 Agustus 2021 (2021-08-07) (Indonesia)
Durasi137 menit
NegaraIndonesia
Belgia
Belanda
Amerika Serikat
BahasaBelanda
Anggaran€6.6 juta[1]

De Oost (internasional:The East; terj. har.''Sang Timur'') adalah film perang Belanda-Indonesia tahun 2020 yang disutradarai oleh Jim Taihuttu dan dibintangi oleh Martijn Lakemeir, Marwan Kenzari, Jonas Smulders dan Joes Brauers. Diadaptasi dari kejadian nyata dengan menampilkan beberapa tokoh nyata dalam sejarah, film ini berkisah mengenai sekelompok pasukan Belanda yang bertugas di Indonesia pada saat masa Revolusi Nasional Indonesia.

Film ini tayang perdana di Festival Film Belanda pada 25 September 2020 dan dirilis di Prime Video pada 13 Mei 2021. Di Indonesia, film tersebut tayang di Mola TV pada 7 Agustus 2021.

Film ini berlatarkan Hindia Belanda tahun 1946 selama Revolusi Nasional Indonesia. Prajurit berusia dua puluh tahun Johan de Vries dari Arcen dikirim ke Semarang, di mana tentara Belanda mengemban misi untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kekuasaan Sukarno. Johan percaya pada janji untuk membantu penduduk, tetapi segera menemukan bahwa kenyataannya berbeda: dia memperhatikan bahwa penduduk memusuhi tentara Belanda dan rekan-rekannya pada gilirannya tidak bertindak apa-apa melawan kejahatan perang. Misalnya, tentara Belanda tidak mengambil tindakan ketika kepala desa terdekat ditemukan dipenggal. Rekan-rekan tentara Johan malah lebih mementingkan mengunjungi rumah bordil lokal dan menyebut penduduknya sebagai 'monyet'.

Setelah tiga bulan, saat berpatroli, korps tersebut tiba-tiba diserang oleh gerilyawan Indonesia, yang menewaskan prajurit Werner. Kapten Angkatan Darat Raymond Westerling, yang memimpin aksi kontra-gerilya dan pembersihan terhadap kaum revolusioner Indonesia, melacak pria yang menembak Werner dan melibatkan Johan dalam menyiksa pria tersebut. Johan kemudian menemani Raymond dalam perjalanan berbahaya jauh ke wilayah musuh untuk mengalahkan pejuang gerilya, mengambil korban musuh pertamanya dalam proses tersebut.

Raymond merekrut Johan dalam misi rahasianya dan melakukan berbagai tugas. Tidak lama kemudian, Johan dipromosikan menjadi kopral. Dia mengeras dan korpsnya menjadi semakin terasing darinya: rekannya Mattias Cohen terkejut ketika Johan menembak seorang pejuang gerilya dengan darah dingin. Sementara itu, rumor beredar tentang keluarga Johan di kamp. Dia sendiri mengatakan kepada rekan tentaranya bahwa seluruh keluarganya telah meninggal, tetapi kenyataannya ayahnya menjalani hukuman penjara di Vught karena dia adalah anggota terkemuka Gerakan Nasional-Sosialis selama Perang Dunia II yang bertanggung jawab atas kematian lebih dari seribu orang Yahudi Belanda.

Johan dan beberapa rekan prajuritnya menemani Raymond dalam misi pembersihan berbahaya ke Sulawesi Selatan dalam pasukan Korps Speciale Troepen. Dipimpin oleh Raymond, kelompok tentaranya membunuhi para tersangka gerilyawan, warga sipil tak berdosa juga menjadi korban rezim kekerasannya. Hal ini membuat Johan galau karena para tersangka tersebut dihukum dan dibunuh tanpa adanya pengadilan. Lambat laun, Johan mulai semakin mempertanyakan moralitas perang tersebut.

Di salah satu pemukiman, seorang tersangka mengaku tidak bersalah dan telah dijebak. Johan memohon untuk menyelidiki lebih dulu sebelum pria itu dihukum, yang ditafsirkan Raymond sebagai pembangkangan dan pengkhianatan. Dia kemudian menyatakan Johan sebagai pembangkang dan memerintahkan korps untuk menembaknya. Johan kabur ke hutan dan membunuh prajurit Eddy Coolen. Yang sangat mengejutkannya, sahabatnya Mattias juga menentangnya. Setelah konfrontasi dengan Raymond di pantai, Johan akhirnya berhasil kabur dengan luka tembak di perutnya.

Sesampainya di Belanda, Johan tidak bisa melanjutkan kehidupan lamanya. Dia tidak dapat menemukan pekerjaan dan bergumul dengan kebencian terhadap ayahnya. Bertahun-tahun kemudian, dia mengunjungi Raymond di teater tempat dia bekerja sebagai aktor. Johan menembak perut Raymond sebagai balas dendam lalu melakukan bunuh diri.

Sutradara Jim Taihuttu telah mengembangkan proyek film tentang "halaman gelap sejarah Belanda" sejak tahun 2012.[2] Produser Sander Verdonk bergabung pada tahun 2015 dan sejak saat itu mereka mulai mencari dana untuk pembuatan film.

Dalam penulisan skenario, KITLV terlibat untuk konsultasi mengenasi fakta sejarah,[3] dan bermitra dengan rumah produksi asal Indonesia. Verdonk mengatakan: "Bagi kami kerjasama sangat penting. Kami tidak ingin menetap di sana seperti semacam neo-koloni dan membuat film kecil. Sebagian besar kru adalah orang Indonesia."[2]

Periode syuting dimulai pada Februari 2019 di Indonesia, berlangsung selama 48 hari di Indonesia, dan enam hari syuting tambahan di Belanda.[4]

Perilisan

[sunting | sunting sumber]

Cuplikan pertama film tersebut dirilis pada bulan Mei 2020,[5] dan ditayangkan perdana di Festival Film Belanda pada 25 September 2020.[6] Film tersebut awalnya dijadwalkan tayang di bioskop pada 10 September 2020, tetapi ditunda sebab pandemi COVID-19. Film tersebut akhirnya dirilis lewat layanan Prime Video sebagai Amazon Original pada 13 Mei 2021.[7] Film tersebut juga ditayangkan di Indonesia melalui Mola TV pada 7 Agustus 2021.[8]

Sebelum rilis, para pembuat film mengembangkan paket pengajaran dengan potongan film untuk sekolah, dengan tujuan menjadikan Perang Kemerdekaan Indonesia—yang sebelumnya hampir tidak dibahas di sekolah—sebagai bahan pengajaran.[3] Produser New Amsterdam bermaksud menyelenggarakan kampanye informasi besar mengenai Perang Kemerdekaan Indonesia bekerja sama dengan antara lain East West Foundation dan Indies Remembrance Center.[2]

Film ini mendapat sorotan pada September 2020 ketika kelompok kepentingan Diaspora Maluku Maluku4Maluku, kelompok advokasi hak veteran Veterans Platform, dan Federasi Indo Belanda secara terbuka mengecam trailer film tersebut. Organisasi-organisasi ini menuduh para pembuat film melakukan "ketidakakuratan sejarah" dan membuat perbandingan kritis antara tentara Belanda dalam De Oost dengan militer Jerman Nazi.[3] Contohnya adalah seragam hitam yang dikenakan aktor, yang secara historis tidak tepat dan menyerupai seragam Schutzstaffel, serta 'kumis Hitler' pada tokoh Raymond Westerling dalam film,[9] serta penggunaan huruf blackletter, yang umum diasosiasikan dengan publikasi Jerman.[10] Pada kenyataannya, pasukan Belanda mengenakan seragam terang standar dan Westerling tidak memiliki kumis.[11] Pemimpin Maluku4Maluku, Leo Reawaruw, menuntut pemutaran awal film atas nama para pemangku kepentingan, tetapi permintaan ini tidak dikabulkan. Produser Sander Verdonk berkomentar: "Sejarah ini kompleks dan traumatis bagi sebagian orang, kami ingin menunjukkannya. Akan disayangkan jika diskusi tentang perang kemerdekaan kini hanya berfokus pada kumis dan seragam. Kami tidak akan membuat perubahan substansial pada film."[11]

Karena terus adanya respons marah dari veteran Belanda, komunitas Indo, dan Maluku, pada Desember 2020 diumumkan bahwa film ini akan diberi disclaimer, yang menjelaskan bahwa film merupakan interpretasi produser dan sutradara dan bukan berdasarkan fakta. Federasi Indo Belanda menambahkan bahwa film ini memberikan "gambaran yang salah dan sepihak mengenai situasi di Hindia Belanda".[12] Verdonk kemudian mengumumkan bahwa disclaimer tidak akan dipublikasikan.[10]

Penerimaan

[sunting | sunting sumber]

Kritikus Gudo Tienhooven dari Algemeen Dagblad memberikan film ini empat bintang: "Kelas sinematik jelas terpancar darinya, atmosfernya lembap dan aktingnya luar biasa. Namun, ini tentu bukan sebuah mahakarya. (...) Setidaknya akhirnya hadir: sebuah film bioskop tentang bagian sejarah yang sangat sensitif ini. De Oost sebenarnya adalah film tiga bintang, tetapi mendapat tambahan satu bintang karena keberaniannya."[13]

Pengulas de Volkskrant Berend Jan Bockting juga memberi film ini empat dari lima bintang: "Taihuttu menunjukkan secara rinci bagaimana kesadaran moral dapat menguap dalam keadaan tertentu, bagaimana pemikiran tentang baik dan buruk dapat ditekan demi logika perang. Itu bukan berarti De Oost dapat dilihat sebagai perhitungan dengan para veteran perang Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda, seperti yang dikhawatirkan di sana-sini. Sebaliknya, justru kehidupan para prajurit ditampilkan dengan perhatian penuh pada detail. (...) Montase tanpa dialog yang melampaui cerita, menampilkan para prajurit saat patroli dengan iringan musik yang melankolis. Pada momen-momen itu, De Oost hampir seperti mimpi demam."[14]

Kritikus Remke de Lange dari Trouw memberi film ini tiga dari lima bintang: "Struktur skenario karya Taihuttu dan Mustafa Duygulu cukup kokoh. (...) Namun pada saat yang sama, dialog terasa memaksa dan berat; seperti kaaskoppen yang angkuh, para prajurit selalu berbicara tentang pinda dan 'monyet'. Itu cara mudah untuk menarik perhatian audiens woke dan tidak membuat karakter lebih menarik. (...) Kontroversi seputar film ini menunjukkan kepekaan sosial yang berlebihan, yang dengan tepat diabaikan oleh Taihuttu. Peran Kenzari sebagai pemimpin misterius dan fasih yang membawa kengerian bagi orang lain membuat rilis De Oost – sebagai titik awal diskusi – patut diapresiasi."[15]

Pengulas RogerEbert.com Simon Abrams memberikan film ini dua bintang, dengan perbandingan yang kurang menguntungkan terhadap film Perang Vietnam Apocalypse Now. Abrams mengkritik Taihuttu dan Duygulu karena larut dalam "mentalitas chauvinistik" tokoh utama Johan Jr. dan menampilkan penduduk asli Indonesia sebagai "korban yang penurut". Abrams menggambarkan paruh pertama film sebagai "mimpi demam ala Coppola/Herzog" di mana tokoh utama yang penuh konflik dihadapkan pada batas perspektifnya, namun berpendapat bahwa paruh kedua film gagal membangun alur naratif tersebut.[16]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Melchers, Fabian (22 Mei 2020). "Wie zijn al die mensen op de aftiteling van een film (en wat doen ze)?" (dalam bahasa Dutch). Diakses tanggal 25 Maret 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. 1 2 3 Melchers, Fabian (22 May 2020). "Wie zijn al die mensen op de aftiteling van een film (en wat doen ze)?" (in Dutch). Retrieved 25 Maret 2021.
  3. 1 2 3 Bressem, Eric (1 Oktober 2020). "Veteranen woedend over nazi-link in film 'De Oost'". Trouw (dalam bahasa Belanda). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Juli 2021. Diakses tanggal 29 September 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. "Marwan Kenzari speelt rol in Nederlandse film De Oost" (dalam bahasa Belanda). 4 Februari 2019. Diakses tanggal 25 Maret 2021.
  5. "Eerste beelden van Nederlandse film over Indonesische onafhankelijkheidsoorlog" (dalam bahasa Belanda). 5 Mei 2020. Diakses tanggal 25 Maret 2021.
  6. "De Oost" (dalam bahasa Belanda). 25 September 2020. Diakses tanggal 25 Maret 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. "Nederlandse film De Oost komt op 13 mei 2021 naar Amazon Prime Video Nederland" (dalam bahasa Belanda). 24 Maret 2021. Diakses tanggal 25 Maret 2021.
  8. Khaerunnisa, Rizka (6 Agustus 2021). Putri, Maria Rosari Dwi (ed.). ""De Oost" dan perang yang tak akan membawa kita ke manapun". Antaranews. Diarsipkan dari asli tanggal 18 September 2021. Diakses tanggal 26 September 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. Broeren-Huitenga, Joost (12 Mei 2021). "Regisseur Jim Taihuttu over De Oost: 'Natuurlijk ga je niet iets bij elkaar fantaseren'". Het Parool (dalam bahasa Belanda). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Mei 2021. Diakses tanggal 29 September 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. 1 2 "Film over Indonesische Onafhankelijkheidsstrijd krijgt geen disclaimer" (dalam bahasa Belanda). NU.nl. 21 Desember 2021. Diakses tanggal 13 Juli 2022.
  11. 1 2 Beekman, Bor (8 Oktober 2020). "Strijdpunten bij nieuwe speelfilm over Nederlands-Indië: wel of geen Hitler-snor in 'De Oost'?". de Volkskrant (dalam bahasa Belanda). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Oktober 2020. Diakses tanggal 29 September 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. "De Oost in mei op Amazon Prime, makers hopen ook op bioscoopvertoning" (dalam bahasa Belanda). NU.nl. 24 Maret 2021. Diakses tanggal 13 Juli 2022.
  13. Tienhooven, Gudo (10 Mei 2021). "Omstreden oorlogsfilm De Oost is even grandioos als problematisch" (dalam bahasa Belanda). Algemeen Dagblad. Diakses tanggal 13 Juli 2022.
  14. Bockting, Berend Jan (11 Mei 2021). "De Oost verbeeldt op nietsontziende wijze een zwarte bladzijde in de Nederlandse geschiedenis ★★★★☆" (dalam bahasa Belanda). de Volkskrant. Diakses tanggal 13 Juli 2022.
  15. Lange, Remke de (12 Mei 2021). "'De Oost' roept discussie op over het koloniale verleden. Waarom is dat zo erg?" (dalam bahasa Belanda). Trouw. Diakses tanggal 13 Juli 2022.
  16. "The East movie review". RogerEbert.com. 13 Agustus 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2021. Diakses tanggal 11 November 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]