Intimidasi dunia maya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Cyberbullying)

Intimidasi dunia maya atau perundungan dunia maya (bahasa Inggris: cyberbullying) adalah segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia maya atau internet.[1] Intimidasi dunia maya juga dapat dikatakan sebagai kejadian manakala seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler.[2] Tindakan ini biasanya dilakukan atas dasar kesengajaan menggunakan bentuk kontak elektronik secara berulang-ulang,[3] dan terjadi karena kurangnya pengawasan ke akses perangkat elektronik dan internet.[4]

Intimidasi dunia maya dianggap valid bila pelaku dan korban berusia di bawah 18 tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa. Bila salah satu pihak yang terlibat (atau keduanya) sudah berusia di atas 18 tahun, maka kasus yang terjadi akan dikategorikan sebagai kejahatan dunia maya atau pembuntutan dunia maya (atau sering disebut cyber harassment).

Bentuk dan metode tindakan intimidasi dunia maya beragam. Hal ini dapat berupa pesan ancaman melalui surel, mengunggah foto yang mempermalukan korban, membuat situs web untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok korban hingga mengakses akun jejaring sosial orang lain untuk mengancam korban dan membuat masalah.[5] Motivasi pelakunya juga beragam.Ada yang melakukannya karena marah dan ingin balas dendam, frustrasi, ingin mencari perhatian bahkan ada pula yang menjadikannya sekadar hiburan pengisi waktu luang.[butuh rujukan] Sebagian perundungan dilakukan oleh buzzer atau pasukan siber sebagai bagian dari kampanye politik dan disinformasi yang terorganisasi.[6][7]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Fenomena penindasan ini merupakan salah satu masalah yang mungkin pernah dialami oleh setiap orang.[8] Perasaan ditertawakan atau dilecehkan oleh orang lain dapat membuat seseorang menjadi depresi dan tidak ingin membicarakan atau mengatasi masalah tersebut.[9] Dalam kasus ekstrim, tindakan tersebut dapat menyebabkan seseorang mengakhiri nyawanya sendiri.[10] Perundungan dunia maya dapat memengaruhi seseorang dengan berbagai cara, tetapi tentunya masalah ini dapat diatasi dan orang-orang yang terdampak juga dapat memperoleh kembali kepercayaan diri dan kesehatan mental mereka.[11]

Sumber[sunting | sunting sumber]

Media sosial[sunting | sunting sumber]

Intimidasi dunia maya dapat terjadi melalui situs media sosial seperti Facebook, Instagram, Snapchat, ataupun Tiktok.[12] Penelitian pada tahun 2008 menyatakan bahwa 93% anak-anak usia muda berusia antara 12 hingga 17 tahun lebih banyak menghabiskan waktu dengan media sosial ketimbang aktivitas lain.[13]

Permainan video daring[sunting | sunting sumber]

Penelitian tahun 2014 oleh Hamer menyatakan bahwa anak-anak yang bermain permainan video yang mengandung unsur kekerasan secara signifikan cenderung terlibat dalam kasus pengintimidasian.[14] Secara gender pelaku atau korban intimidasi akibat permainan video biasanya lebih sering dialami oleh laki-laki ketimbang perempuan,[15] yang mana intimidasi perempuan lebih banyak terjadi melalui media sosial.[16] Dalam beberapa kasus, pihak pengembang permainan video telah menjadi target pelecehan dan ancaman kematian oleh para pemainnya yang kecewa terhadap perubahan pada permainan video atau oleh kebijakan pengembang yang bersangkutan.[17]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Devina, Chyntia (tanpa tanggal). "Tanamkan Kesadaran Berinternet Aman Sejak Dini". Indonesia Baik. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  2. ^ "Cyber Bullying Law and Legal Definition | USLegal, Inc". definitions.uslegal.com. Diakses tanggal 2021-12-08. 
  3. ^ Smith, Peter K (2008). "Cyberbullying: its nature and impact in secondary school pupils". Journal of Child Psychology and Psychiatry. 49 (4): 376. 
  4. ^ Waasdrop, Tracy E (2015). "The Overlap Between Cyberbullying and Traditional Bullying". Journal of Adolescent Health. 56 (5): 483. 
  5. ^ Diaz, Fernando L (2016). "Trolling & the First Amendment: Protecting Internet Speech in the Era of Cyberbullies & Internet Defamation" (PDF). University of Illinois Journal of Law, Technology & Policy. 2016: 136–137. 
  6. ^ Sastramidjaja, Yatun; Rasidi, Pradipa P. (21 Juli 2021). "The Hashtag Battle over Indonesia's Omnibus Law: From Digital Resistance to Cyber-Control". ISEAS Perspective (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 6 Desember 2021. 
  7. ^ Rasidi, Pradipa P. (13 Oktober 2021). "Normalising the New Normal". Inside Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 6 Desember 2021. 
  8. ^ Nur Hidayah, Perwitasar (1 November 2021). "Memahami Bullying dan Jenis-Jenis Intimidasi". Tirto. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  9. ^ Fadli, Rizal (10 Desember 2020). "Cyberbullying Bisa Sebabkan Depresi Hingga Bunuh Diri". Halodoc. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  10. ^ Ulum, Derry (tanpa tanggal). "Cyberbullying: Apa dan Bagaimana Menghentikannya?". UNICEF Indonesia. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  11. ^ Bagian Komunikasi Publik, Biro Hukum, dan Hubungan Masyarakat (29 Juni 2020). "Cara Mengatasi Cyberbullying". Badan Siber dan Sandi Negara. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  12. ^ Affairs (ASPA), Assistant Secretary for Public (2019-09-24). "What Is Cyberbullying". StopBullying.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-08. 
  13. ^ "Social Media and Young Adults". Pew Research Center: Internet, Science & Tech (dalam bahasa Inggris). 2010-02-03. Diakses tanggal 2021-12-08. 
  14. ^ Patchin, Justin W. (2018-09-20). "Are "Gamers" More Likely to be "Bullies"?". Cyberbullying Research Center (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-08. 
  15. ^ Hu, Elise (2014-10-22). "Pew: Gaming Is Least Welcoming Online Space For Women". NPR (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-08. 
  16. ^ Rosenberg, Alyssa (23-10-2014). "Gamergate and how Internet users think about gaming and harassment". Washington Post (dalam bahasa Inggris). ISSN 0190-8286. Diakses tanggal 2021-12-08. 
  17. ^ Crecente, Brian (2013-08-15). "Plague of game dev harassment erodes industry, spurs support groups". Polygon (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-08. 

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Berson, I. R., Berson, M. J., & Ferron, J. M.(2002).Emerging risks of violence in the digital age: Lessons for educators from an online study of adolescent girls in the United States.Journal of School Violence, 1(2), 51–71.
  • Burgess-Proctor, A., Patchin, J. W., & Hinduja, S. (2009). Cyberbullying and online harassment: Reconceptualizing the victimization of adolescent girls. In V. Garcia and J. Clifford [Eds.]. Female crime victims: Reality reconsidered. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall. In Print.
  • Keith, S. & Martin, M. E. (2005). Cyber-bullying: Creating a Culture of Respect in a Cyber World.Reclaiming Children & Youth, 13(4), 224–228.
  • Hinduja, S. & Patchin, J. W. (2007). Offline Consequences of Online Victimization: School Violence and Delinquency. Journal of School Violence, 6(3), 89–112.
  • Hinduja, S. & Patchin, J. W. (2008). Cyberbullying: An Exploratory Analysis of Factors Related to Offending and Victimization. Deviant Behavior, 29(2), 129–156.
  • Hinduja, S. & Patchin, J. W. (2009). Bullying beyond the Schoolyard: Preventing and Responding to Cyberbullying. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
  • Patchin, J. & Hinduja, S. (2006). Bullies Move beyond the Schoolyard: A Preliminary Look at Cyberbullying. Youth Violence and Juvenile Justice', 4(2), 148–169.
  • Tettegah, S. Y., Betout, D., & Taylor, K. R. (2006). Cyber-bullying and schools in an electronic era. In S. Tettegah & R. Hunter (Eds.) Technology and Education: Issues in administration, policy and applications in k12 school. PP. 17–28. London: Elsevier.
  • Wolak, J. Mitchell, K.J., & Finkelhor, D. (2006). Online victimization of youth: 5 years later. Alexandria, VA: National Center for Missing & Exploited Children. Available at unh.edu
  • Ybarra, M. L. & Mitchell, J. K. (2004). Online aggressor/targets, aggressors and targets: A comparison of associated youth characteristics. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 45, 1308–1316.
  • Ybarra ML (2004). Linkages between depressive symptomatology and Internet harassment among young regular Internet users. Cyberpsychol and Behavior. Apr;7(2):247-57.
  • Ybarra ML, Mitchell KJ (2004). Youth engaging in online harassment: associations with caregiver-child relationships, Internet use, and personal characteristics. Journal of Adolescence. Jun;27(3):319-36.
  • Frederick S. Lane, (Chicago: NTI Upstream, 2011)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]