Coping

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Coping merupakan respon pikiran dan perilaku terhadap situasi penuh tekanan yang bertujuan untuk mengatasi konflik yang muncul akibat situasi tersebut, baik konflik internal maupun eksternal.[1] Coping bukan sekedar tindakan satu kali yang dilakukan individu untuk mengelola konflik, melainkan serangkaian respon yang dilakukan secara berulang kali dan seiring dengan berjalannya waktu sampai individu merasakan perkembangan yang baik dalam hidupnya. Kemampuan coping yang sehat membantu meminimalkan dampak negatif dari situasi penuh tekanan dan menghadapi permasalahan agar tidak semakin sulit untuk ditangani.[2]

Strategi coping[sunting | sunting sumber]

Pemilihan strategi coping yang akan digunakan bergantung pada jenis stres dan permasalahan yang dihadapi individu. Strategi coping bertujuan untuk mengatasi situasi yang dianggap menekan, membebani, dan di luar kemampuan atau sumber daya yang dimiliki individu.[3]

Strategi coping berfokus pada masalah[sunting | sunting sumber]

Strategi ini cenderung digunakan oleh individu yang memiliki sumber daya untuk menghadapi situasi sehingga konflik yang tengah dihadapi dianggap masih dalam kontrol indidvidu. Strategi coping berfokus pada masalah meliputi:

  • Planful problem solving yaitu bentuk reaksi terhadap situasi menggunakan pendekatan analitis untuk mengubah keadaan.
  • Confrontative solving yaitu bentuk reaksi yang disertai dengan penggambaran tingkat risiko yang harus diambil.
  • Seeking social support yaitu bentuk reaksi dengan cara mencari dukungan sosial baik berupa dukungan nyata, informasi, maupun dukungan emosional.

Strategi coping berfokus pada emosi[sunting | sunting sumber]

Strategi ini cenderung akan digunakan ketika individu merasa tidak memiliki kendali atas suatu situasi karena tidak adanya sumber daya yang cukup untuk mengatasi situasi tersebut. Strategi coping berfokus pada emosi meliputi:

  • Positive reappraisal
  • Accepting responsibility
  • Self-controlling (pengendalian diri)
  • Distancing (menjaga jarak)
  • Escape avoidance

Approach dan avoidance[sunting | sunting sumber]

Strategi approach berarti mengambil tindakan secara langsung dan bersifat konfrontatif sedangkan strategi avoidant cenderung menghindari permasalahan. Kedua strategi tersebut memiliki kelebihannya masing-masing. Namun secara keseluhuruhan, strategi approach lebih berhasil dalam mengatasi permasalahan dan membawa dampak yang lebih sehat pada kondisi fisik maupun mental.

Proactive coping[sunting | sunting sumber]

Terdapat tiga hal yang perlu dilakukan ketika menggunakan strategi proactive coping, yaitu mengantisipasi stresor yang berpotensi menyebabkan stres, mengelola stres tersebut, dan mampu mengatur diri sendiri (self-regulatory) dan melakukan tindakan yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan.

Coping dan kepribadian[sunting | sunting sumber]

Karakteristik kepribadian berpengaruh pada cara seseorang mengatasi permasalahan yang dialaminya. Beberapa orang lebih mudah mengalami stres, merasakan ketidaknyamanan dan ketidakpuasan terhadap berbagai situasi, sehingga dapat memunculkan gangguan fisiologis maupun psikologis dan menjadi rentan terserang penyakit. Kondisi ini disebut juga sebagai neurotisisme. Sedangkan orang-orang yang mengatasi permasalahan dengan kondisi emosi yang positif akan lebih mudah dalam menurunkan kadar kortisol (indikator tingkat stress) dan memiliki respon imun tubuh yang lebih baik. Secara psikologis, emosi positif juga mendorong seseorang untuk menginvestasikan waktu dan tenaganya untuk menghadapi tantangan dan fokus pada pencapaian tujuan.[4]

Karakteristik lainnya yang membantu seseorang untuk melalui proses coping dengan lebih efektif adalah optimisme dan harga diri (self-esteem) yang tinggi. Optimisme meningkatkan partisipasi pada aktivitas-aktivitas yang menunjang kesehatan fisik dan mental dan bermanfaat dalam jangka panjang. Harga diri yang tinggi membantu seseorang untuk terlibat aktif dalam perilaku sehat dan cenderung mengurangi perilaku merokok maupun mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.[5]

Mekanisme coping[sunting | sunting sumber]

Stuart dan Sundeen membagi mekanisme coping menjadi dua jenis yaitu mekanisme coping yang berpusat pada masalah dan mekanisme coping yang berpusat pada emosi.[6]

1. Mekanisme coping yang berpusat pada masalah.

  • Konfrontasi
  • Isolasi
  • Kompromi

2. Mekanisme coping yang berpusat pada emosi.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Maryam, Siti (2017). "Strategi Coping; Teori dan Sumberdayanya". Jurnal Konseling Andi Matappa. 1 (2): 101-107. 
  2. ^ Morin, Amy. "Healthy Coping Skills for Uncomfortable Emotions". verywellmind. Diakses tanggal 2 Desember 2021. 
  3. ^ E.Taylor 2017, hlm. 140-141.
  4. ^ E.Taylor 2017, hlm. 135-137.
  5. ^ E.Taylor 2017, hlm. 147-148.
  6. ^ Stuart; Sundeen (1991). Pocket Guide to Psychiatric Nursing. Toronto: The Mosby Company.