Chairun Nisa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Chairun Nisa (lahir di Surakarta, 27 Desember 1958; umur 60 tahun) merupakan seorang politikus Indonesia dan anggota DPR Kalimantan Tengah.

Profil[sunting | sunting sumber]

Chairun Nisa merupakan politisi wanita dari Fraksi Golkar yang telah menduduki kursi di DPR RI sejak tahun 1997. Kini ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI. Sebelum menjadi politisi, ia berprofesi sebagai pengajar di salah satu universitas di Palangkaraya. Namun, setelah dikeluarkannya peraturan yang melarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk berpolitik, ibu satu anak ini akhirnya melepaskan kariernya di bidang akademik dan berkiprah di dunia politik sampai detik ini.

Kendati ia mengajar di Pulau Kalimantan karena mengikuti suaminya yang merupakan penduduk Palangkaraya, ia menyelesaikan semua studinya di Yogyakarta dan Jakarta. Semasa kuliah, ia sangat aktif dalam keorganisasian. Ia membulatkan tekad untuk bergabung dengan Golkar ketika lulus kuliah dan hal itu benar-benar ia realisasikan. Menurutnya, ada satu hal yang membuat partai berlambang beringin itu berbeda dengan partai lain yaitu karena pluralisme yang dianut penghargaan terhadap kemajemukan sehingga jauh dari kesan eksklusif.

Mantan dosen Universitas Palangkaraya ini maju ke pemilu legislatif lewat dapil Kalimantan Tengah. Ia memenangkan kursi di DPR dengan memperoleh 34,7% suara yang setara dengan 40.017. Di DPR, Nisa mengaku memfokuskan pikiran dan langkahnya dalam isu-isu pendidikan dan agama. Ia ingin menyetarakan posisi sekolah umum dan madrasah juga universitas umum dan agama yang saat ini dinilai masih tidak seimbang bahkan menjurus ke arah diskriminasi baik dari segi anggaran maupun fasilitas.

Wakil Ketua DPD Alhidayah Tingkat I Kalteng tahun 1985-1995 ini sekarang ditunjuk Fraksinya untuk menjadi salah satu pimpinan di Komisi VIII. Walaupun bukan lagi di Komisi X yang membidangi pendidikan, tetapi niatnya tetap ingin mencerdaskan masyarakat Kalteng. Ia memperjuangkan pendidikan karena Kementerian Agama Indonesia membawahi masalah pendidikan terutama untuk sekolah Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah dan Perguruan Tinggi agama. Selain masalah pendidikan dan agama, Nisa juga peduli dengan isu gender yang merebak di masyarakat.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]