Catfishing

Catfishing merujuk kepada kegiatan penipuan berkedok asmara yang dilakukan oleh individu di dunia daring yang bertujuan untuk menipu individu lain.[1] Kegiatan ini biasanya melibatkan pembuatan akun media sosial, nama, usia, foto profil, dan keterangan diri fiktif lainnya oleh pelakunya.[2]
Kerugian yang dapat ditimbulkan dari catfishing biasanya mencakup kerugian material (misalnya berupa uang atau harta berharga lainnya), hingga kerugian emosional (misalnya ketika korban sudah merasa memiliki kedekatan dengan pelaku yang ada dalam benaknya berdasarkan profil yang ada, tetapi ternyata pelaku bukanlah orang yang dikira oleh korban).[butuh rujukan]
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Asal-usul ini berakar pada buku Essays in Rebellion (1913) karya Henry Nevinson.[3] Ia menggambarkan praktik menaruh ikan lele ke dalam tangki ikan kod saat pengiriman karena diyakini menjaga kesegaran dan kualitas ikan. Dari situlah istilah catfishing berkembang menjadi sebutan bagi pelaku penipuan identitas online yang membuat orang lain tetap waspada.
Istilah catfishing mulai populer setelah rilis film dokumenter Amerika Catfish (2010) yang menyoroti pengalaman Nev Schulman sebagai korban catfishing. Dalam film itu, terungkap bahwa ia berinteraksi dengan seorang ibu rumah tangga berusia 40 tahun yang berpura-pura sebagai remaja berusia 18 tahun. Suami wanita tersebut lalu mengibaratkan perbuatan itu dengan ikan lele yang ditempatkan bersama ikan kod hidup agar tetap aktif.[4]
Tujuan
[sunting | sunting sumber]Terdapat beberapa faktor yang mendorong seseorang melakukan catfishing.[5] Salah satunya adalah perasaan insecure yang mana pelaku merasa dirinya buruk atau kurang menarik sehingga memilih menggunakan foto atau data orang lain yang dianggap lebih menarik untuk menutupi kekurangannya.
Selain itu, catfishing juga dapat dilakukan sebagai media balas dendam, yakni dengan mencuri data korban untuk merusak citra orang tersebut sebagai bentuk pembalasan. Faktor lain yang mendorong seseorang melakukan catfishing adalah keinginan untuk menyembunyikan identitas asli, misalnya dengan memanfaaatkan data atau foto orang lain untuk melecehkan. Bahkan, seseorang tersebut bisa saja memeras korban demi mendapatkan uang.
Praktik
[sunting | sunting sumber]Dalam beberapa kasus, catfishing dipakai sebagai cara bagi seseorang untuk mengeksplorasi atau mengekspresikan identitas gender maupun orientasi seksual mereka, terutama di ruang daring yang memungkinkan anonimitas. Biasanya, pelaku menampilkan diri sebagai lawan jenis di media sosial atau aplikasi kencan untuk berinteraksi dengan orang lain yang tidak menyadari penyamaran tersebut.[6]
Catfishing juga sering dilakukan untuk tujuan finansial. Pada tahun 2015, misalnya, tiga gadis menipu perekrut ISIS dengan menerima dana perjalanan sebesar $3.300 menuju Suriah, lalu menghapus akun mereka dengan menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi.[7]
Praktik ini juga pernah dimanfaatkan untuk tujuan penegakan hukum. Pada tahun 2004, program Dateline NBC menayangkan segmen "To Catch a Predator", yang memerlihatkan aparat menyamar dengan profil daring palsu untuk memancing predator seksual ke lokasi pertemuan yang telah diskenariokan dengan anak di bawah umur.[8]
Di sisi lain, catfishing bisa pula digunakan sebagai bentuk intimidasi atau serangan daring. Dengan memakai identitas palsu, pelaku dapat melancarkan serangan yang sulit dilacak kembali kepada mereka.[9]
Karakteristik
[sunting | sunting sumber]Meskipun catfishing dapat mengambil banyak bentuk, ada beberapa perilaku dan karakteristik umum yang sering teramati. Salah satu tanda yang mencolok adalah keengganan untuk melakukan panggilan video atau telepon, serta penolakan atau penundaan terus-menerus terhadap pertemuan secara langsung.
Selain itu, sering ditemukan adanya ketidakkonsistenan dalam nama, foto, atau informasi lain yang ditampilkan di profil mereka. Hal yang paling merugikan adalah kecenderungan meminta uang dengan mengarang cerita-cerita yang dramatis dan menggugah empati korban untuk memanipulasi mereka.[4]
Korban
[sunting | sunting sumber]Kelompok usia remaja sering dianggap paling rentan terhadap praktik catfishing. Kerentanan ini didorong oleh beberapa faktor psikologis dan sosial. Keterikatan remaja dengan media sosial membuat mereka kerap membagikan kehidupan pribadi, mencari validasi, dan mencoba membangun identitas diri.[butuh rujukan]
Selain itu, faktor psikologis yang belum stabil, seperti kecenderungan emosional, kecerobohan, dan sifat mudah terpengaruh menjadi alasan kuat mengapa mereka lebih mudah masuk dalam jebakan hubungan daring yang menipu.[butuh rujukan]
Secara emosional, rasa kesepian, kebutuhan akan pasangan, maupun keinginan untuk mendapatkan pengakuan semakin meningkatkan kemungkinan remaja memercayai perhatian atau rayuan yang diberikan oleh pelaku catfishing.[10]
Dampak
[sunting | sunting sumber]Catfishing tentu memiliki dampak emosional bagi korban. Sekitar 57,7% korban mengalami kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang di dunia maya, 32,9% mengalami tekanan emosional atau kecemasan; sedangkan 29,5% korban melaporkan kerugian finansial, dan 27,5% melaporkan kerusakan hubungan dengan teman atau keluarga.[11] Selain itu, catfishing juga menjadi wadah para predator seksual untuk menarik anak di bawah umur atau korban lain untuk dilecehkan dengan mengirim konten-konten tidak senonoh.
Pencegahan
[sunting | sunting sumber]Disarankan untuk selalu mengecek informasi mengenai seseorang yang menjadi teman baru, termasuk memeriksa daftar pengikutnya. Saat menjalin hubungan di dunia maya, hindari membagikan data pribadi, jangan mudah percaya pada teman baru, dan usahakan untuk tidak terlalu terbawa perasaan ketika berinteraksi secara virtual.[12]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Chandler, Daniel; Munday, Rod (2016). A Dictionary of Social Media. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-180309-3. OCLC 952388585. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ D'Costa, Krystal (2014). "Catfishing: The Truth About Deception Online". retrieved from:https://blogs.scientificamerican.com/anthropology-in-practice/catfishing-the-truth-about-deception-online/ on September 25th 2017
- ↑ "The Project Gutenberg eBook of Essays in Rebellion, by Henry W. Nevinson". www.gutenberg.org. Diakses tanggal 2025-10-09.
- 1 2 Nguyen, Sen (2024-01-29). "What is catfishing and what can you do if you are catfished? | CNN Business". CNN (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-09.
- ↑ Kumar, Singh, dan Soni (2022). Discerning Crime: Psychological, Forensic and Legal Aspects (PDF). Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Alley-Young, Gordon (2014). Reality Television: Oddities of Culture. Andre Cavalcante, Elizabeth Barfoot Christian, Nicole B. Cox, Rebecca M. Curnalia, Matthew P. Ferrari, Julie Haynes, Alison F. Slade, Amber J. Narro, Burton P. Buchanan. Blue Ridge Summit: Lexington Books. ISBN 978-0-7391-8564-3.
- ↑ "Young women 'catfished' ISIS out of $3,300. Will they be punished?". Christian Science Monitor. ISSN 0882-7729. Diakses tanggal 2025-10-09.
- ↑ ""To Catch A Predator" - Chris Hansen - NBC Dateline · Undercover Reporting". undercover.hosting.nyu.edu. Diakses tanggal 2025-10-09.
- ↑ Olckers, Christine; Hattingh, Marie. "The Dark Side of Social Media - Cyberbullying, Catfishing and Trolling: A Systematic Literature Review": 86–71. doi:10.29007/qhl5.
- ↑ Sonhaji, Euis Rosmaydini; Supriyono, Supriyono (2022-05-17). "Catfishing dalam Cyber Romantic Relationship pada Remaja". Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya (dalam bahasa Inggris). 8 (2): 439–446. ISSN 2656-940X.
- ↑ Bakar, Mahadi Ibne; Shyma, Zareen (2025-06). "Behind the mask: analyzing the drivers and impacts of catfishing" (dalam bahasa Inggris). BRAC University. ;
- ↑ D'Costa, Krystal. "Catfishing: The Truth About Deception Online". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-10.