Budaya Bugis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Suku Bugis berada di Provinsi Sulawesi Selatan banyak tersebar daerah pegunungan dan bagian lainnya, teluk dan selat yaitu Laut Flores di sebelah Selatan, teluk Bone di sebelah Timur, dan selat Makassar di sebelah Barat. Di daerah ini terdapat dua buah gunung yang cukup tinggi yaitu gunung Lompobattang dan gunung Rantekombola. Terdapat dua buah danau yaitu danau Tempe dan danau Sidenreng.

Sulawesi Selatan merupakan wilayah yang dikelilingi oleh berbagai macam pulau. Wilayah kepulauan tersebut membuat Sulawesi Selatan memiliki banyak keunikan tradisional, salah satunya adalah budaya. Suku yang banyak mendiami di Sulawesi Selatan adalah suku Makassar dan suku Bugis, yang kemudian menjadi dikenal dengan perpaduan suku Makassar-Bugis. Terdapat beberapa kebudayaan yang dimiliki oleh suku MakassarBugis, seperti pakaian adat, rumah tradisional, tari tradisional, alat musik tradisional, senjata tradisional, dan lagu daerah tradisional.[1]

Berkas:Pakaian Adat Suku Makassar - Bugis.jpg
Pakaian adat suku Makassar -Bugis

Pakaian adat.[sunting | sunting sumber]

Pakaian adat Sulawesi Selatan memiliki corak khas ketimur-timuran dengan dipadukan corak khas lokal masyarakat setempat. Tiap-tiap pakaian adat memiliki keunikan masing-masing dapat dikenakan pada acara tertentu. Pakaian-pakaian adat yang beragam sering dikenakan oleh berbagai kalangan suku, etnis, dan kelompok tertentu di wilayah tersebut dan menjadi kebanggan tersendiri untuk memakainya.

Pakaian adat Makassar –Bugis, merupakan pakaian adat khas bagi suku Makassar dan Suku Bugis, yang mendiami daerah Sulawesi Selatan. Kedua suku tersebut (Bugis dan Makassar) merupakan suku yang banyak tersebar di kepulauan Sulawesi Selatan. Pakaian adat Makassar-Bugis yang ada di Sulawesi Selatan memiliki corak dan motif khas ketimur-timuran dengan dipadukan dengan corak dan motif khas lokal masyarakat setempat. Masing-masing pakaian adat memiliki keunikan tersendiri yang dapat dikenakan pada acara-acara tertentu.[2]

Pakaian Adat untuk laki-laki.[sunting | sunting sumber]

Untuk pakaian adat penganting bagi laki-laki mengenakan baju belah dada dengan bentuk kerah tertutup. Untuk pakaian bagian bawah, digunakan kain sarung atau dikenal dengan nama lipa garusuk. Untuk kelengkapan bagian kepala dikenal dengan tutup kepala dengan nama passapu

Sedangkan pakaian adat untuk kaum laki-laki dalam keseharian suku Bugis-Makassar  disebuah pesta disebut dengan Tutu. Jenis pakaian ini adalah jas dan biasa disebut dengan Jas Tutu. Pakaian adat ini dipadukan dengan celana atau paroci, dan juga kain sarung atau lipa garusuk, serta tutup kepalanya yakni berupa songkok.

Jas Tutu berlengan panjang dengan leher yang berkerah dan dihiasi dengan kancing yang dibuat dari emas atau perak, yang mana dipasangkan pada leher baju tersebut. Sedangkan untuk kain lipa garusuk atau lipa sabbe terlihat polos namun berwarna mencolok, dengan ciri khas merah dan hijau[3]

Pakaian Adat untuk perempuan.[sunting | sunting sumber]

Untuk pakaian adat bagi perempuan menggunakan baju bodo, yaitu sejenis baju kurung berlengan pendek dengan ujung ketat. Untuk pakaian bagian bawah digunakan kain lipa dengan warna yang serasi dengan pakaian yang digunakan. Sedangkan untuk kelengkapan bagian kepala ada mahkota atau disebut juga saloko. Sementara rambut disanggul atau disasak diberi hiasan bunga yang bertangkai disebut kembang goyang. Dulunya baju bodo adalah baju khas wanita suku Makassar sekarang Sudah dijadikan baju khas wanita Sulawesi Selatan.

Berdasarkan adat Bugis, setiap warna baju bodo memiliki arti tersendiri yang menunjukkan berapa usia serta martabat dari pemakainya, yakni sebagai berikut:

· Jingga, memiliki arti yaitu pemakai adalah anak perempuan berusia sekitar 10 tahun.

· Jingga dan Merah, memiliki arti yaitu pemakai adalah anak perempuan yang berusia sekitar 10 hingga 14 tahun.

· Merah, memiliki arti yaitu pemakai adalah perempuan berusia sekitar 17 sampai 25 tahun.

· Putih, memiliki arti yakni pemakai ialah perempuan dari kalangan pembantu dan dukun.

· Hijau, memiliki arti yakni pemakai ialah perempuan dari kalangan bangsawan.

· Ungu, memiliki arti yakni pemakai ialah seluruh janda yang bertempat tinggal di Sulawesi Selatan.

Aksesoris pendukung.[sunting | sunting sumber]

1. Untuk laki-laki

Akseseoris pendukung untuk laki-laki terdiri dari , gelang (ponto naga), ponto naga adalah gelang terbuat dari bahan emas yang motif seperti naga. Keris Passatimpo

adalah sebuah jenis keris terlihat seperti mewah dan indah, selempang yang terbuat dari kain senada dengan warna pakaian yang dihiasi dengan benang sulam emas, dan

  rante sembang sebuah kalung yang bermotif burung dikalungkan sepanjang dada.

2. Untuk Perempuan

Aksesoris pendudukng untuk perempuan terdiri dari anting panjang yang disebut bangkarak , sima’ yaitu pengikat ujung lengan pakaian, bando sebagai hiasan mahkota di

kepala, gelang, cincing dan kalung yang terdiri dari tiga jenis yaitu kalung berantai ( geno ma’bule), kalung panjang (rantekote) dan kalung besar (geno sibatu)[4]

Rumah Tradisional.[sunting | sunting sumber]

Rumah adat Bugis – Makassar, memiliki nilai arsitektur dan keunikan tersendiri dengan rumah adat lainnya. Bentuk rumah Bugis – Makassar biasanya memanjang ke belakang, dengan tambahan disamping bangunan utama dan bagian depan. Masyarakat Bugis – Makassar menyebut bagian ini dengan sebutan lego-lego (bugis), dego-dego (makassar). Secara arsitektur bangunan rumah adat Bugis – Makassar memiliki beberapa bagian penting seperti tiang utama (alliri = bugis, benteng tangnga = makassar). Tiang utama terdiri dari empat batang disetiap barisnya. Rumah adat Bugis – Makassar biasanya memiliki kolong-kolong sehingga dikenal dengan nama Rumah Panggung.

Tari Tradisional.[sunting | sunting sumber]

Sebuah tarian yang dilakukan oleh masyarakat Bugis –Makassar, memiliki makna tersendiri. Para penari tradisional Bugis – Makassar memakai baju bodo, tope (sarung) yang berbagai macam curak (corak) dan warnanya. Ada curak labba, curak caddi, curak sattulu’ dan curak bunga barrang. Pakaian tersebut tetap dilengkapi dengan perhiasan seperti ponto (gelang tangan) dan rante (kalung), bangkara (anting-anting), kutu-kutu ( mahkota), salepe ( ikat pinggang), pinang goyang (kembang goyang), passapu dengan iruk-irukang dan kipasa (kipas)[5]

Tari Pakarena.[sunting | sunting sumber]

Tari Pakarena merupakan tarian tradisional yang dibawakan oleh perempuan, yang mengisahkan sebuah mitos mengenai perpisahan penghuni boting langi (negeri kayangan)

dengan penghuni lino (bumi) pada zaman dulu. Dalam tarian Pakarena ini digambarkan bahwa sebelum detik-detik perpisahan boting langi mengajarkan penghuni lino

mengenai tata cara hidup bercocok tanam, beternak, hingga cara berburu. Tarian ini dipentaskan sebagai bentuk rasa syukur kepada penghuni botting langi.

Tari Paddupa.[sunting | sunting sumber]

Tari Paddupa merupakan tarian tradisional Bugis – Makassar yang ditujukan untuk memberikan sambutan kepada tamu atau pejabat yang hadir dalam suatu acara. Tari

Paddupa ini dibawakan oleh tujuh orang. Tarian ini dapat pula ditarikan pada acara pernikahan dan pesta adat. Masyarakat Bugis-Makassar percaya bahwa tarian Paddupa

merupakan simbol dari penghormatan dan keterbukaan terhadap perubahan tanpa menghilangkan nilai estetika moral dan etika suku Bugis – Makassar.

Tari Paraga.[sunting | sunting sumber]

Tari Paraga merupakan sejenis permainan yang dibawakan oleh enam orang laki-laki yang menggunakan pakaian adat passapu, dipadu dengan baju kantiu dengan celana

barocci. Tari Paraga ini menggunakan bola raga (bola takrow) dengan konstruksi bola berpindah-pindah dari kaki ke kaki. Gerakan ini merupakan aktualisasi a’ rannu-rannu.

Keahlian para pemain tari Paraga ini merupakan atraksi tersendiri. Sambil bergerak bola raga terus dimainkan dari satu pemain ke pemain yang lain tanpa jatuh menyentuh

tanah. Atraksinya menarik perhatian penonton, bola raga terus dimainkan sambil berdiri diatas pundak dua orang rekannya.

Alat Musik Tradisional.[sunting | sunting sumber]

Alat musik tradisional,merupakan alat musik khusu yang dimiliki oleh suku Bugis-Makassar. Biasanya alat musik tradisional ini dimainkan ketika waktu senggang atau waktu istirahat sekedar menghibur diri, atau dimainkan ketika ada acara atau pesta adat tertentu. Berbagai macam alat musik tradisional yang dimiliki oleh suku Bugis Makassar, diantaranya :

Kecapi.[sunting | sunting sumber]

Kecapi adalah alat musik petik tradisional yang berbentuk seperti perahu dengan dua dawai. Konon bentuk tersebut dikarenakan orang yang menciptakanannya adalah

pelaut. Keunikan dari alat musik kecapi terletak pada isi lagu dan instrumennya. Kecapi menjadi alat musik yang sangat dekat dengan rakyat. Kecapi menjadi alat musik petani

yang sedang menunggu sawah atau para pelaut yang sedang berlayar. Suara yang dihasilkan dianggap mampu memberikan ketenangan jiwa bagi pendengarnya. Kecapi

dapat dimainkan oleh satu orang atau kelompok dalam bentuk ansambel, atau dimainkan bersama dengan alat musik tradisional lainnya seperti gendang, suling, lea-lea, gong,

biola, mandoliang, katto-katto dan lain sebagainya.

pui'.[sunting | sunting sumber]

Suling atau seruling suku Makassar memiliki berbagai macam bentuk. Berbagai macam bentuk tersebut memiliki nilai dan fungsi masing-masing bagi masyarakat.

-      pui' ca’di , adalah suling pendek yang memiliki enam lubang nada.

-      pui' lompo’ , adalah suling panjang yang memiliki lima lubang nada. Pada ujungnya ditambahkan tanduk kerbau yang berfungsi sebagai corong pembesar suara.

-      pui lontarak, adalah suling yang memiliki empat lubang nada. Suling lontarak dibunyikan bersamaan dengan nyanyian-nyanyian yang syairnya berisikan tentang

petuah-petuah dan nasihat leluhur.

-      pui' bula ta, adalah suling yang digunakan sebagai alat pengiring tari dan pengiring lagu. Biasa juga digunakan sebagai pelipur lara untuk menghibur diri.

-      pui' baliu, adalah suling yang menyerupai suling ponco’ tetapi lebih pendek terdiri dari empat lubang nada.

Ganrang.[sunting | sunting sumber]

Ganrang atau gendang dibuat dari bahan yang terdiri dari kayu, seperti batang kayu cendana, batang kayu nangka dan batang pohon kelapa dan jati. Gendang disekat

dengan kulit hewan sebagai sumber bunyi dan rautan rotan kecil yang dibelah empat sebagai penarik sekat atau sebagai pembentang kulit, fungsinya agar bunyi yang

dihasilkan sesuai keinginan.

Sinrilik[sunting | sunting sumber]

Sinrilik adalah alat musik gesek yang menyerupai biola. Bahan untuk membuat alat musik tersebut terdiri atas kayu dari pohon nangka, kulit kambing dan tiga buah senar yang

terbuat dari kuningan. Sedangkan alat yang digunakan untuk menggesek terbuat dari ekor kuda.


Mandoling

Mandoling atau yang lazim oleh orang Bugis-Makassar disebut Mandali’ merupakan alat musik tradisional petik dan tindis. Alat musik ini terbilang khas dan unik, karena diduga diciptakan atas pengaruh budaya Cina.

Untuk petiknya terdiri atas tiga senar sedangkan tindisnya terdiri atas dua puluh tujuh nada, yang mesti dimainkan bersamaan layaknya gitar, hanya saja petikan dan tindisan Mandoling terpasang pada papan berbentuk persegi panjang.

Saat ini alat musik tradisional ini terancam punah mengingat tak banyak lagi yang bisa memainkannya.

Begitupun dengan alat musik Mandoling yang tak lagi diproduksi, malah hanya satu dua orang yang memiliki kemampuan membuatnya. Di Minasatene Pangkep, terdapat satu sanggar seni yang menggabungkan irama musik Mandoling dengan alat musik tradisional lainnya saat tampil. Namun sangat disayangkan bahwa alat musik Mandoling itu sendiri tinggal lima orang yang merumahkannya, salah satunya adalah M Farid W Makkulau, mantan jurnalis yang kini banyak aktif dalam kegiatan seni budaya dan sastra daerah.

Senjata Tradisional.[sunting | sunting sumber]

Salah satu senjata tradisional yang dikenal adalah Badik. Oleh masyarakat Bugis lebih mengenal senjata ini dengan sebutan kawali , selain sebagai senjata, kawali juga menjadi perlambang status pemiliknya. Badik memiliki berbagai macam bentuk, diantaranya ;

-   Badik lamalomo sugi, adalah badik yang bermotif kaitan pada bilahnya dan digunakan sebagai senjata. Badik ini juga dipercaya memiliki kekuatan berupa dapat memberikan

kekayaan dan kesejahteraan bagi pemiliknya.

-   Badik lataring Tellu, adalah badik yang memiliki motif berupa tiga noktah dalam posisi tungku. Badik ini dipercaya memiliki nilai dan kekuatan yang akan membawa

keberuntungan bagi pemiliknya. Orang yang memegang badik ini dianggap tidak akan kekurangan makanan dan tidak akan mengalami duka nestapa. Badik ini dianggap

sangat cocok bagi mereka yang berprofesi sebagai petani. - Badik Lade’ Nateyai, adalah jenis badik yang memiliki pamor bulatan kecil pada bagian pangkal dan guratan bejajar dibagian matanya. Badik bede’ nateyai memiliki motif berbentuk gala pada pangkalnya. Badik ini dipercaya memiliki kekuatan dalam mendatangkan rezeki bagi pemiliknya.

Lagu Daerah Tradisional.[sunting | sunting sumber]

Beberapa lagu tradisional suku Bugis - Makassar yang terkenal [6]:[7]

-         Anging Mammiri “ (Suku Makassar)

Angin mammiri ku pasang

Pitujui tongtongana

Tusarua takka luppa

Eaule... na mangngu rangi

Tutenayya, tutenayya parisina


Battumi angin mammiri

Angin ngerang dinging-dinging

Nama lantangsa ri buku

Eaule...  mangngerang nakku

Nallorang, nallolorang jenemata

                                                 (Pencipta; Bora Dg. Ngirate)


-         Ma Rencong-rencong “ (suku Makassar)

Marencong rencong kelongku

marencong rencong marencong rencong

Kelong nipassama riya, nakukelongang atu dendang baule

Nakupare pangurangi, lontaja eja menjo

Owe dendanga da dum ba owe para mata bengko na[8]


-         Pakarena “ (Suku Makassar) Ikatte ri tu ra tea bau Adatta ma rio loang sayang E aule pakarenaya Pakarenaya labiriri pagaukang
Ikatte butta ra teang sayang Punania pagaukang sayang E aule sukku bajina sukku bajina punna nia pakarena
Pura raba piu rukang sayang Baju Bodo kain lolo sayang E aule sukku bajina Suku Bajina punna niakki anggada[9]


-         Indo Logo “ (Suku Bugis) Dua bulu' samanna mate tongeng, Indo' Logo Dua bulu' samanna mate tongeng, Indo' Logo Kegasi samanna rionroi, ala rionroi Palla bu' sengereng
Sengeremmu samanna pada bulu', Indo' Logo Sengeremmu samanna pada bulu', Indo' Logo Adammu samanna silappae, ala silappae Buttungeng manengngi[10]


-         Bulu alauna Tempe ” (suku Bugis)

Bulu' Alua'na Tempe (2x)

Madeceng Ri Copponge, Alla Matiro Walie


Utiro toni lagosi (2x)

Kulira' lira toni ,Alla tengngana tosora Ritosara mana' mita Patennung tali benang, Alla natea makkalu Makkalu si sabe bura Pakessi batang loka Alla topanre adae
Panre adammu naritu (2x)

Mu lengeng lepa-lepa, Alla temmu ri tonangi Lepa-lepa makkacicu (2x) Masere dua tau, Alla natellu pa'bisena Mauni tellu pabisena Nabolo palopinna Alla natea nalureng
Tunru ko nalureng toto

Aja mu lega-lega Alla nabolloangmako[11]


-         Ana Mali’e (Suku Bugis)

U kucapu kucampa’ko

Paraddeni ro nyawamu

Hooo ana aja’ muteri

Kupakkuru sumange’mu 2x


U kucapu kucampa’ko

Paredde’ni ro nyawamu

Hooo ana’ku mamasewe

Ana tabbe ri ambo’na 2x


Mabelani ro pale, ambo’mu rilaona

Lao temma ringngerang, nawelai wijanna

Iyatonaro pale, pawale’na decengnge

Ulao manrurui namelle peru mua

Hooo ana’ malie


Kucapu kucampa’ko

Sukkuni ro pabbere taooo ana’ku mamasewe

ana mali ri linoe 2x[12]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Name, No (1988). Pewarisan Nusantara. Jakarta: Direktorat Jenderal Pariwisata. hlm. 168. 
  2. ^ Darmapoetra, Juma. Suku Makassar, Pewaris Keberanian Leluhur. Makassar: Arus Timur. hlm. 85. ISBN 978-602-9057-72-0. 
  3. ^ Bahari, Hamid (2013). Mengenal Budaya Daerah Indonesia. Depok Jawa Barat: Mutiar Kids. hlm. 165–170. 
  4. ^ Pangestu, Yoga (2019). "Pakaian Adat Sulawesi selatan". yogsalhafidz. [pranala nonaktif permanen]
  5. ^ dkk, Rachmah (1984). Monografi Kebudayaan Makassar di Sulawesi Selatan. Makassar: Pemerintah Daerah Tk I Sul-Sel. hlm. 91–101. 
  6. ^ Manis, Kinanti. "Lagu Anging Mammiri". https://www.liriklaguplus.com.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  7. ^ Aranda, Cosa (20 November 2010). "Sulawesi selatan Anging Mammiri". https://liriklaguindonesia.net. Diakses tanggal 20 November 2010.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  8. ^ Nusantara, Kisah (4 November 2016). "Ma-rencong". https://lagudaerah.id. Diakses tanggal 4 November 2016.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  9. ^ Name, No. "lagu_sulawesi_selatan-pakarena-lirik_lagu". http://musiklib.org.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  10. ^ Name, No (5 Desember 2014). "/lagu-daerah-sulawesi-selatan-bugis". https://lagu2daerah.com. Diakses tanggal 5 Desember 2014.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)[pranala nonaktif permanen]
  11. ^ Heriansah, Erik (21 Nopember 2013). [/2013/11/lirik-lagu-bugis-bulu-alauna-tempe.htmlhttps://www.attoriolong.com "/lirik-lagu-bugis-bulu-alauna-tempe"] Periksa nilai |url= (bantuan). https://www.attoriolong.com. Diakses tanggal 21 Nopember 2013.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  12. ^ Name, No (27 Agustus 2019). "lirik-lagu-bugis-ana-malie/". https://www.telukbone.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-01-02. Diakses tanggal 27 Agustus 2019.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)