Bambang Noorsena

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Bambang Noorsena (lahir di Ponorogo, 31 Maret 1964; umur 51 tahun) adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies(ISCS). Sejak akhir 1997, setelah mempelajari dari dekat gereja-gereja Arab di beberapa negara di Timur Tengah, ia menawarkan kekristenan Syria sebagai wacana dalam menembus "kebuntuan dialog teologis Kristen-Islam".

Di jagad pemikiran nasional, nama Bambang Noorsena telah menjadi fenomena tersendiri. Dari rekam jejaknya sebagai seorang intelektual, Bambang Noorsena dikenal sangat konsisten, bahkan ketika kalangan Kristen dan Muslim mula-mula menolaknya, ia cenderung “melawan arus”.  Meskipun mula-mula ia laksana “menempuh jalan sepi”, namun akhirnya pemikiran-pemikirannya “booming” di aras nasional, dan kini mulai merambah ke forum internasional. Uniknya, ia tetap menolak menjadi pendeta, sehingga ISCS (Institute for Syriac Christian Studies) yang digagasnya, lebih dikenal sebagai “komunitas biara tanpa jubah”.

Bambang Noorsena menulis sejak mahasiswa, bukunya yang terbit pertama Telaah Kristis Injil Barnabas.  Pada tahun 1995 dimulai melakukan riset mengenai gereja-gereja Timur di Yordan dan Syria, dan The Dead Sea Scrolls di Israel, hingga secara khusus mengambil studi di Cairo, Mesir (2003-2005) telah ditanggapi publik Islam dengan cukup baik. Mulai 1998 jagad pemikiran intelektual Islam aras nasional  – seperti Alm. Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI ke-4) dan Alm. Cak Nur (Dr. Nurcholish Madjid). Prof. Dr. K.H. Said Aqiel Siradj, MA, Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, dan masih banyak lagi – menyambut positif pemikiran-pemikiran dan terobosan-terobosan Bambang Noorsena dalam dialog teologis Kristen-Islam.

Pelayanan Bambang Noorsena “passing over” (melintas batas) interdenominasi, interreligius, dan interkultural. Dalam rangka itu, Bambang Noorsena tidak hanya menulis buku-buku rohani, tetapi juga terlibat dalam “pertarungan wacana intelektual”, baik dalam dunia sosial politik, maupun sastra dan budaya. Misalnya, ketika “dunia anak-anak muda Muslim” menggandrungi Kahlil Gibran, ia terpanggil menulis tentang sosok sang penyair, karena jarang orang Indonesia mengetahui bahwa Gibran adalah seorang Kristen. Maka lahirlah buku Kahlil Gibran: Yesus Yang Disalib (Jakarta: Nisita, 2003), yang tak kurang telah diresensi dalam bahasa Perancis oleh Etianne Naveau, “Bambang Noorsena:  Un traducteur de Khalil Gibran à la Richerche du Christianisme Oriental” (Bambang Noorsena: Penerjemah Kahlil Gibran dan Kristen Timur” (2005). Sedangkan pemikirannya mengenai dialog Kristen-Islam, telah diapresiasi di dunia internasional oleh guru besar INALCO, Paris, tersebut, melalui artikelnya yang khusus mengangkat sosok Bambang Noorsena, “Le dialogue Islamo-chrétien selon Bambang Noorsena” (Dialog Islam-Kristen a la Bambang Noorsena”), yang dimuat jurnal  Archipel, No 81, 2011.

Sebelumnya, Bambang Noorsena juga menulis buku Religi dan Religiusitas Bung Karno (Kata Pengantar: Presiden RI. Alm. K.H. Abdurrahman Wahid), telah secara luas disambut publik lintas agama di Indonesia, dan mendapat perhatian khusus dari koran berbahasa Belanda, De Telegraph (Juni, 2001). Dalam pengembangan wacana kebangsaan, Bambang Noorsena juga sering diundang oleh beberapa media TV nasional (“Dialog Aktual” TVRI, “Barometer” SCTV), dan wawancaranya mengenai relasi Islam-Kristen di Timur Tengah bersama Duta Besar Palestina, Fariz Nafi Al-Mehdawi dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, ditayangkan TVN dan TVRI, 27 Desember 2009). Pada waktu kon-troversi Undang-undang Penodaan Agama, Bambang Noorsena menjadi salah satu saksi ahli dalam juridical review Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 di Makhamah Konstitusi, Maret 2010. Juga menjadi salah satu nara sumber sosialisasi Empat Pilar Bangsa dan Negara di MPR RI, khususnya mengenai pilar “Bhinneka Tunggal Ika” (Juli, 2011). Sekalipun ia seorang Kristen, tetapi ia juga sering diundang sebagai narasumber oleh komunitas lintas agama. Keberhasilannya “menembus kebuntuhan dialog teologis Kristen-Islam” diakui oleh Prof. Karel A. Steenbrink, Ph.D., Guru Besar kajian Islam pada Universitas Utrech, Belanda: “…. Bambang Noorsena, bestaat veel draagvlak, juist ook bij Moslims. Hij iis daarmee een belangrijk vertegen-woordiger van heel apart soort theologische dialoog geworden” − Bambang Noorsena, karya-karyanya jauh lebih luas dan relevan, khususnya di kalangan Muslim. Tampaknya, pendekatannya bisa dipromosikan sebagai model dialog teologis Kristen-Islam (www. Interreligieeuze-werplaats.nl/ portal/doc). Sementara “malang melintang” di dunia lintas agama, Bam-bang Noorsena terus berakar dan tekun dalam pelayanan antar denominasi gereja, dari memenuhi undangan pelayanan di gereja-gereja Protestan, Kharismatik/ Pentakosta, hingga beberapa kali diundang untuk memberikan homili (khotbah) di Gereja Katolik, sekalipun ia bukan seorang imam atau pastor. Pemikiran-pemikirannya tidak hanya diterima oleh umat Kristen di tanah air, tetapi juga disambut di negeri-negeri tetangga, seperti Malaysia, Filipina dan Thailand. Beberapa artikelnya diterjemahkan dalam bahasa Thai, Ismael Tirak: Ruam Sang Khasanakati Tidi Nai Khanyuruam kan Kapphukon Tangsanana (Mencintai Ismail: Membentuk Paradigma yang lebih baik dalam Hidup Bersama dengan Umat Agama Lain),  dan menjadi rujukan dialog Kristen-Islam atas dukungan Bangkok Evangelistic Center dan Bethany International Church, Bangkok, dan masih banyak lagi sambutan dari dalam dan luar negeri.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • Dar Comboni for Islamic Intitute Kairo 2005.
  • Master Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya 2007.
  • Doktor Hukum Pidana di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya,Malang 2012.

Karya tulis[sunting | sunting sumber]

  • "Telaah Kritis Atas Injil Barnabas (asal usul, historitas dan isinya)"(Yogyakarta: Yayasan Andi,1990).
  • "Religi & Religiusitas Bung Karno Keberagaman Mengokohkan Keindonesiaan" (Denpasar:Bali Jagadhita Press,2000).
  • "Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam" (Yogyakarta: Yayasan Andi, 2001).
  • "Menyongsong Sang Ratu Adil"(Yogyakarta: Yayasan Andi,2003)
  • "Kahlil Gibran: Yesus yang Disalib"(Denpasar: Nisita, 2003)
  • "Renungan Ziarah ke Tanah Suci"(Yogyakarta: Yayasan Andi,2004).
  • "The History of Allah" (Yogyakarta: Yayasan Andi, 2005)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]