Asal Mula Sungai Kawat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Asal Mula Sungai Kawat adalah cerita rakyat asal Kalimantan. Sungai Kawat adalah salah satu anak Sungai Kapuas di Kota Sintang, Kalimantan Barat.[1][2]

Ringkasan Cerita[sunting | sunting sumber]

Dahulu kala, ada seorang nelayan miskin keluar dari rumahnya untuk mencari ikan buat ia dan keluarganya. Pada hari itu, si nelayan seperti biasa ia mendayung perahu ia menuju sungai. Saat dia sampai di tengah sungai, pancing yang ia bawa diberi umpan dan dibuang ke bagian sungai yang menurut ia akan terdapat ikan yang lebih banyak.

Telah lama ia menunggu di tengah sungai, tetap tidak ada satu ekor ikan pun yang tertangkap. Tetapi, nelayan masih bersabar dan tetap menunggu karena ia harus pulang dengan ikan. Tidak lama kemudian kailnya mengait sesuatu. Ketika si nelayan mengangkat kailnya, ia nampak bahwa yang nyangkut adalah satu gulungan kawat. Setelah diperhatikan lebih dekat ternyata gulungan kawat ini terbuat dari emas.

Tiba-tiba, kegembiraan menyelimuti dirinya. Si nelayan membayangkan betapa mahalnya gulungan kawat jika ia akan jualnya. Satu depa yang telah ia menarik, nelayan menjadi semakin rakus dan nafsu serakah ia telah menguasai dirinya. Hari pun sudah gelap, ia tetap terus menerus menarik kawat dari sungai, seolah-olah itu tidak ada habisnya. Sungguh aneh, dari dalam ada yang berkata.

“Sudah, cukuplah, putuskan saja kawatnya,” sebuah suara dari sungai memperintakan.

Tetapi si nelayan tidak menuruti suara itu dan tetap lanjut menarik kawat emas dari sungai. Karena semangatnya untuk membawa pulang ke rumah kawat emas sebanyak mungkin, ia jadinya lupa diri dan nafsu serakah juga menguasai jiwa si nelayan.

Sekali lagi, suara dari dalam sungai memperingatkan dia, “Hentikanlah.” Tetapi si nelayan tidak mendengarnya dan tetap menarik kawat.

Tidak lama kemudian, perahu si nelayan mulai dipenuhi oleh air karena kawat yang ia menarik terlalu banyak dan menjadi semakin berat. Di saat ini, nelayan akhirnya sadar bahwa ia telah salah. Tetapi kesadaran ini sudah terlalu lambat. Air telah memenuhi seluruh sungai dan nelayan tenggelam ke dasar sungai dan tertimpa oleh kawat emas.

Semenjak ini, masyarakat menyebut sungai ini tempat tenggelamnya sang nelayan dengan kawat emas itu menjadi, Sungai Kawat.

Pesan Moral[sunting | sunting sumber]

Sifat serakah dan nafsu keinginan yang terlalu besar itu merugikan tidak hanya sendiri tetapi juga orang di sekitar kita. Keserakahan bisa membuat seorang buta mata dan hatinya hanya mau lebih banyak dan tidak puas-puas.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Cerita Legenda Di Indonesia Asal Muasal Sungai Kawat". Cerita Rakyat Nusantara | Kumpulan Dongeng Anak Anak Sebelum Tidur. 2017-10-11. Diakses tanggal 2021-04-05. 
  2. ^ tariumedia (2019-01-22). "Cerita Rakyat Kalimantan Barat : Legenda Sungai Kawat". Tariunews.com. Diakses tanggal 2021-04-05.