Aliran seni Shijō

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Tukang kayu, karya Matsumura Gosyun, akhir abad ke-18.
Nelaya, karya Matsumura Gosyun, akhir abad ke-18.

Aliran seni Shijō (四条派, Shijō-ha), juga dikenal dengan nama aliran Maruyama–Shijō, adalah sebuah aliran seni lukis di Jepang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Aliran Shijō adalah cabang aliran seni lukis yang lahir dari aliran seni Maruyama, sebuah aliran seni lukis Jepang yang didirikan oleh Maruyama Ōkyo dan bekas muridnya Matsumura Goshun pada akhir abad ke-18. Aliran ini adalah salah satu aliran seni yang membentuk aliran seni Kyoto. Nama Shijō pada aliran Shijō berasal dari nama sebuah jalan di Kyoto, Jalan Shijō, sebuah jalan dimana banyak terdapat seniman besar berbasis di daerah tersebut. Patron utama kesenian lukis Jepang Shijō adalah pedagang-pedagang sukses di Kyoto dan Osaka, dan di area sekelilingnya. Aliran seni rupa Shijō ini juga merupakan favorit dari keluarga bangsawan kamigata, sebuah perkumpulan aristokrat dan keluarga-keluarga seniman dari ibu kota kekaisaran yang mapan selama akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.[1]

Gaya[sunting | sunting sumber]

Shibata Zhesin, Pohon maple diatas kuil Kayan-ji.

Dalam gaya, langgam seni dari aliran Shijō dapat merupakan sintesis antara dua gaya seni yang saat itu saling bersaing. Maruyama Ōkyo adalah seorang pelukis yang berpengalaman dan ahli dari lukisan tinta sumi-e, dan dikenal karena dapat mencapai tingkat realisme yang baik dalam ciptaannya. Ōkyo menekankan pengamatan langsung terhadap subjek yang digambarkan; teknik ini merupakan suatu pelanggaran langsung dari aliran yang disponsori secara resmi saat itu, aliran seni Kanō dan aliran seni Tosa. Kedua aliran ini menekankan dekoratisme pada figur-figur yang dilukis dan sama sekali tidak realistis. Ajaran yang tidak realistis ini merupakan sebuah tradisi yang selalu dilakukan turun menurun pada seni melukis Jepang. Pada saat tersebut, aliran seni Kano dan Tosa telah menjadi ejekan karena formalitasnya yang kaku. Sementara itu, sejumlah seniman, memberontak melawan realisme Ōkyo, membentuk aliran seni nanga yang mendasarkan karya seni mereka dari gaya-gaya yang ditemukan di aliran seni selatan di lukisan Tionghoa. Para seniman aliran Shijō berusaha menggabungkan prinsip kedua gaya ini dengan cara membuat karya-karya seni yang menekankan pada sisi terbaik dari kedua aliran tersebut.[2]

Fokus dari aliran Shijō adalah realisme, sebuah objektif yang dipengaruhi oleh budaya Barat, namun direalisasikan dengan menggunakan teknik melukis Jepang. Teknik Shijō tersebut tidak terlalu menekan pada penggambaran tepat dari subjek, tetapi lebih menekan pada jiwa terdalam dari subjek yang digambarkannya. Gaya dari aliran seni Shijō sering menggambarkan karakter yang ceria dan penuh humor, sangat berbeda dibandingkan dengan aliran Maruyama. Motif yang populer digambarkan pada aliran seni Shijō adalah pemandangan yang tenang, motif kachō (burung dan bunga), hewan, dan subjek tradisional dari aliran Kong Hu Cu. Penggambaran legenda, sejarah, atau literatur klasik tidak terlalu sering dilakukan oleh aliran Shijō.[2]

Seniman[sunting | sunting sumber]

Salah satu seniman Shijō yang paling terkenal di Barat adalah Mori Sosen, yang dikenal karena lukisan-lukisan monyetnya. Shibata Zeshin juga terkait erat dengan aliran Shijō, meskipun ia bekerja di banyak gaya dan media lainnya, terutama benda pernis dan lukisan pernis.[2]

Seniman aliran Shijō lain yang dikenal adalah Matsumura Goshi, Matsumura Keibun, Kukichi Yosai, Ohara Shoson, dan Watanabe Kazan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Musterberg 1957.
  2. ^ a b c Japanese Paintings and Prints of the Shijō School. New York: The Brooklyn Museum, 1981.

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  • Chibbett, David. The History of Japanese Printing and Book Illustration. New York: Kodansha International Ltd, 1977.
  • Japanese Paintings and Prints of the Shijo School. New York: The Brooklyn Museum, 1981.
  • Munsterberg, Hugo (1957). The Arts of Japan: An Illustrated History. Tokyo: Charles E. Tuttle Company. 
  • —. Splendors of Imperial Japan: Arts of the Meiji Period from the Khalili Collection. London: The Khalili Family Trust, 2002.
  • Zeshin and Related Artists. London: Milne Henderson, 1976.