Lompat ke isi

Abdul Ghani al-Maqdisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Abdul Ghani
Imam Abdul Ghani al-Maqdisi
GelarAl-Imam, Al-Hafizh, Taqiyuddin
KunyaAbu Muhamad
Nasabbin Abdul Wahid bin Ali bin Surur bin Rafi’ bin Hasan bin Ja’far
Nisbahal-Jama’ili, as-Shalihi, al-Maqdisi, ad-Dimasyqi, al-Hambali.
KebangsaanSyam (sekarang Palestina)
EtnisArab
ZamanAbad ke-6 Hijriyah
Wilayah aktifPalestina, Baghdad, Mosul, Asfahan, Damaskus, Yerusalem, Iskandariah dan Kairo.
DenominasiSunni
Mazhab fikihHambali
KaryaUmdatul Ahkam · Al-Kamal fi Asma' ar-Rijal.
Dipengaruhi  oleh

Abdul Ghani al-Maqdisi (bahasa Arab: عبد الغني بن عبد الواحد بن سرور المقدسي) adalah seorang ulama dari mazhab Hambali dan seorang ahli hadis yang menonjol. Sehingga karyanya dalam bidang hadis sangat berpengaruh dan terus digunakan hingga saat ini. Dia adalah saudara sepupu dari Ibnu Qudamah dan murid dari Ibnul Jauzi. Al-Maqdisi pernah belajar kepada Abdul Qadir Jaelani tetapi hanya sebentar karena tak lama berselang al-Jaelani meninggal.[1] Nama lengkapnya Taqiyuddin Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdil Wahid bin Ali bin Sarur bin Rafi' bin Hasan bin Ja'far Al-Maqdisi.[2]

Perjalanan menuntut ilmu

[sunting | sunting sumber]

Dilahirkan di Jama’il pada Rabiul Awal tahun 541 H / 1146 M, suatu daerah di pegunungan Nablus bagian dari Negeri Palestina dekat Baitul Maqdis, karenanya dinisbatkan ke Baitul Maqdis. Kemudian keluarganya pindah ke Damaskus, setelah itu pindah di tepi gunung Qasiyun dan daerah ini dikenal dengan nama Ash Shalihiyah. Imam Abdul Ghani tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang berilmu dan baik yang menyebarkan mazhab Hambali di Syam.

Pandangan Ulama

[sunting | sunting sumber]

Syaikh Adh-Dhiya' mengatakan, "Wama kulitnya tidaklah putih bersih tetapi putih agak kesawo-matangan, rambutnya bagus, jenggotnya lebat, pelipisnya luas, akhlaknya mulia dan perawakannya sempuma, seolah cahaya terpancar dari wajahnya. Penglihatannya melemah karena banyak menangis, menyalin kitab dan membaca."[2] Abu Musa Al-Madini mengatakan, "Jarang orang yang datang kepada kami yang memahami disiplin ilmu hadits seperti syaikh Imam Dhiyauddin Abu Muhammad Abdul Ghani Al-Maqdisi memahaminya, ia telah diberi taufik dalam menjelaskan kesalahan-kesalahan ini. Seandainya Imam Ad-Daruquthni dan orang-orang sepertinya hidup maka mereka pasti menganggap benar perbuatannya. Pada zaman kita sekarang ini jarang orang yang memahami seperti apa yang dipahaminya."

Mahmud bin Salamah, seorang pedagang Harran mengatakan, "Al-Hafizh Abdul Ghani pernah singgah di rumahku di Asfahan. Pada waktu malam, ia tidur hanya sebentar saja, karena ia gunakan untuk melakukan shalat, membaca dan menangis."

Dhiyauddin mengatakan, "Al-Hafizh Abdul Ghani membaca hadits pada malam Kamis dan pada hari Jumat di masjid jami' Damaskus. Di sela-sela membaca hadits, ia menangis, begitu pula orang-orang yang hadir dalam majelisnya. Jika ada orang yang pertama kali menghadiri majelisnya, maka pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, ia hampir tidak pernah meninggalkan majelis tersebut. Apabila selesai membaca hadits dalam majelisnya, maka ia berdoa dengan doa yang panjang."

Amar Ma'ruf Nahi Munkar

[sunting | sunting sumber]

Dhiyauddin mengatakan, " Al-Hafizh Abdul Ghani tidak melihat sebuah kemungkaran kecuali mencegahnya dengan tangannya atau lisannya. Dalam membela agama Allah, ia tidak menghiraukan hinaan orang yang menghina. Pernah suatu saat aku melihatnya mengalirkan khamr. Tindakannya ini menyebabkan pemilik khamr mengangkat pedang. Namun, Al-Hafizh Abdul Ghani tidak gentar melihat hal itu dan justru dia memegang tangan pemilik khamr tersebut. Ia mempunyai badan yang kekar. Seringkali di Damaskus ia menghancurkan alat-alat musik. Suatu saat, putra-putra Shalahuddin dibuatkan alat-alat musik gitar. Mereka meminum khamr dalam suafu taman. Maka, Al-Hafizh Abdul Ghani melihat alat-alat musik tersebut lalu memecahnya."[2]

Al-Hafiz Abd al-Ghani al-Hanbali menghadapi penganiayaan berat karena serangannya terhadap mazhab Asy'ari, pengikut Abu al-Hasan al-Ash'ari (wafat 324 H). Wazir Seljuk Nizam al-Mulk (wafat 485 H) telah menganut mazhab Ash'ari dan mendirikan sekolah-sekolah Ash'ari di Baghdad dan di seluruh Irak. Al-Hafiz Abd al-Ghani menjadi sasaran kampanye yang sengit dan intens oleh kaum Ash'ari ke mana pun ia pergi, karena pengetahuannya yang luas, banyaknya murid yang berkumpul di sekitarnya, dan pendekatannya yang tajam dan teliti dalam berdebat.[3]

Cobaan yang Dialaminya di Isfahan

[sunting | sunting sumber]

Al-Hafiz Abd al-Ghani beberapa kali memasuki Isfahan (Iran) untuk belajar dan mengajar hadits. Isfahan merupakan persinggahan penting bagi setiap pelajar hadits. Selama kunjungannya yang cukup sering, ia memperoleh banyak murid. Saat berada di Isfahan, al-Maqdisi mempelajari buku "Nama-nama Sahabat" karya al-Hafiz Abu Nu'aim, seorang ulama Ash'ari terkemuka. Ia membuat dua ratus sembilan puluh koreksi pada buku tersebut, yang memicu kemarahan di kalangan Ash'ari di Isfahan. Mereka mendekati pemimpin kota, al-Sadr al-Khujandi, seorang pendukung setia Ash'ari terhadap Abu Nu'aym, yang memanggil al-Hafiz dan bermaksud membunuhnya. Al-Maqdisi bersembunyi, dan murid-muridnya menyusun rencana untuk menyelundupkannya keluar dari Isfahan sebelum musuh-musuhnya dapat menemukannya dan membunuhnya.

Cobaan yang dialaminya di Mosul

[sunting | sunting sumber]

Selama perjalanan keilmuannya, al-Hafiz memasuki kota Mosul di Irak dan duduk di Masjid Agungnya, di mana ia mulai mengajar buku al-Uqayli tentang perawi yang lemah. Ketika ia sampai pada topik diskusi Abu Hanifa al-Nu'man dan al-Uqayli tentang kelemahannya dalam menghafal, penduduk kota, yang bermadzhab Hanafi, menjadi marah, memenjarakannya, dan bersekongkol untuk membunuhnya. Namun, temannya, pendakwah Ibnu al-Barnas, menyelamatkannya dengan tipu daya yang cerdik, dan mereka membebaskannya.

Cobaan yang Dialaminya di Damaskus

[sunting | sunting sumber]

Al-Hafiz biasa duduk di Masjid Umayyah di Damaskus, mengajar hadits di bagian Hanbali. Pelajarannya dipenuhi dengan dakwah, mengingat Allah, dan menangis karena takut kepada-Nya. Orang-orang berbondong-bondong mendatanginya, berkerumun di sekelilingnya. Dikatakan bahwa saingannya, seperti Hakim bin al-Zaki dan pendakwah al-Dawla'i, iri kepadanya dan menuntut debat dengannya di hadapan gubernur kota, Barghash. Dalam debat tersebut, al-Hafiz menjadi bersemangat dan argumennya mengalahkan argumen mereka. Akibatnya, Pangeran Barghash memerintahkan pengasingannya dari Damaskus. Al-Hafiz kemudian berdoa melawan orang-orang yang telah menzalimi dan mengusirnya.[3]

Cobaan yang Dialaminya di Mesir

[sunting | sunting sumber]

Setelah cobaan yang diderita Al-Hafiz di Damaskus, ia pergi ke Baalbek (Libanon) dan tinggal di sana untuk sementara waktu. Penduduk Baalbek berkata kepadanya, "Jika engkau mau, kami akan ikut denganmu ke Damaskus dan mencelakai orang-orang yang telah mencelakaimu." Al-Hafiz menolak, karena ingin menjaga keselamatannya dan menghindari menimbulkan perselisihan sekecil apa pun di antara umat Islam. Kemudian, pada tahun 595 Hijriah, Al-Hafiz pergi ke Mesir dan mulai mengajar dan meriwayatkan hadits. Hal ini membuat lawan-lawannya di Damaskus tidak senang, yang mengirimkan banyak fatwa kepada penguasa Mesir, Raja Imad al-Din, putra Sultan besar Salah al-Din al-Ayyubi, yang mengecam mazhab Hanbali secara umum dan Al-Hafiz Abd al-Ghani al-Maqdisi secara khusus, menuduh mereka melakukan antropomorfisme, menyamakan Tuhan dengan ciptaan-Nya, dan bid'ah.

Hal ini berlanjut hingga Imad al-Din memutuskan untuk mengusir mazhab Hanbali dari seluruh Mesir dan menekan mereka. Namun, ia meninggal sebelum melaksanakan rencananya. Setelah itu, mazhab Hanbali mendapatkan popularitas di mata masyarakat. Kemudian, lawan-lawannya mulai menghasut Raja al-Adil dan putranya, Pangeran al-Kamil Muhammad, melawan al-Maqdisi. Beberapa lawannya bahkan sampai mengeluarkan fatwa yang menyatakan dia murtad dan mengizinkan pembunuhannya. Situasi menjadi sangat sulit bagi al-Maqdisi, dan kekhawatirannya semakin bertambah. Dan dia menderita berbagai penyakit, dan setiap hari dia waspada terhadap seseorang yang akan mencelakainya dan melawannya, hingga dia meninggal di Kairo pada bulan Rabi' al-Awwal tahun 606 Hijriah, ketika usianya belum genap enam puluh tahun.[3]

Guru-Gurunya

[sunting | sunting sumber]

Di antara guru-gurunya adalah kepala keluarganya yaitu Ahmad bin Muhamad bin Qudamah al-Maqdisi di Syam; Ibnul Jauzi, Abdul Qadir Jailani dan Abul Fathi bin al-Manni di Baghdad; Abu Thahir as-Silafi di Iskandariyah; Abul Fadhl at-Tushi di Moshul; Abdurrazak bin Ismail al-Qirmani di Hamadzan; Abu Musa al-Madini dan para ulama yang seangkatan dengannya di Asbahan.

Imam Abdul Ghani mengadakan bepergian (safar) untuk menimba ilmu ke Irak dengan anak laki-laki bibinya yang bernama Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi yang menulis kitab fikih yang terkenal yaitu “Al Mughni”. Imam Abdul Ghani condong kepada ilmu hadis, sedangkan Imam Ibnu Qudamah condong kepada ilmu fikih.

Karya tulis

[sunting | sunting sumber]
Tulisan tangan al-Maqdisi bertanggal Syawal 679 H / Jan–Feb 1281 M

Kepakaran Al-Maqdisi adalah di dalam bidang hadis, di antara karya tulisnya adalah:

  • Al-Kamal fi Asma' ar-Rijal, kitab mengenai biografi dari para perawi hadis.[4] Kitab yang menyebutkan nama-nama perawi hadis Kutubus Sittah ( enam kitab hadis ) yaitu Shahih Bukhari dan Muslim, Sunan Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Kitab ini menjadi sumber penulisan semua kitab yang ditulis tentang nama-nama perawi hadis dan biografinya setelah penulis ini.
  • Umdatul Ahkam, kitab kompilasi hadis-hadis fikih. Umdatul Ahkam, merujuk kepada dua macam; yaitu Umdatul Ahkam as-Sughra (kecil), kitab koleksi hadis-hadis fikih dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim; dan Umdatul Ahkam al-Kubra (besar), kitab yang menghimpun hadis-hadis hukum yang bersumber dari Kutubus Sittah.
  • Al-Misbah Fi ‘Uyuni al-Ahadits as-Shihah, yang mencakup hadis-hadis dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
  • Kitab Dzikir
  • Al-Atsar al-Mardhiyyah Fi Fadhaili Khairil Bariyyah.
  • Kitab As Sifat.
  • Mihnatul Imam Ahmad
  • Al-Arba’in Min Kalami Rabbil ‘Alamin
  • Al-Jami’us Shaghir Li Ahkamil Basyir wan Nadzir.
  • Al-Iqtishad fil I’tiqad dan masih banyak lagi karya-karyanya yang lain.

Abdul Ghani sakit keras pada bulan Rabiul Awal. Ia tidak dapat berbicara atau berdiri. Sakit kerasnya itu menelan waktu enam belas hari. Ketika itu, putranya sering bertanya kepadanya, apa yang ia inginkan? Ia mengatakan, "Aku menginginkan surga, aku menginginkan rahmat Allatu lebih dari itu tidak."Lalu putranya Abu Musa membawakan air hangat untuknya. Ia pun memberikan tangannya lalu aku wudhukan untuk shalat Fajar. Lalu Abdul Ghani wafat, hal itu terjadi pada hari senin tanggal 23 Rabiul Awal tahun 606 Hijriyah / 1203 M. Pada malam selasa, jenazah berada di dalam masjid sementara orang-orang berkumpul di situ sampai hari besoknya. Ia dimakamkan di Al-Qufarah, Kairo di usia 60 tahun.[2]

  1. ↑ http://alhikmah.ac.id/2011/biografi-al-imam-ibnu-qudamah-al-maqdisi/
  2. 1 2 3 4 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692.
  3. 1 2 3 محنة الحافظ عبد الغني المقدسي مفكرة الإسلام Diarsipkan 2017-05-20 di Wayback Machine
  4. ↑ Untuk deskripsi manuskrip yang tersedia di Jerman, lihat: Wilhelm Ahlwardt: Direktori naskah Arab di Royal Library Berlin. Berlin 1887–1889. Hs. Nr. 9925

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
  • Siyar A’lamin Nubala, Al Imam Adz Dzahabi.
  • Thabaqatul Huffadz, Abdurrahman bin Abu Bakar As Suyuti Abul Fadhal 1/487
  • Al-Maqshadul Arsyad Fi Dzikri As-habil Imam Ahmad, karya Burhanudin bin Ibrohim bin Muhamad bin Abdullah bin Muhamad bin Muflih 2 / 152-155.
  • Syarah Umdatul Ahkam: Al-I’lam Bifawaidi Umdatil Ahkam, Karya Ibnul Mulaqqin dengan tahqiq Abdul Aziz bin Ahmad bin Muhamad Al Musyaiqih.
  • Al-Umdatul Kubra Fi Ahaditsi Al Ahkam, dengan tahqiq: Dr Rif’at Fauzi Abdul Muthalib.
  • Al-Umdah Fil Ahkam dengan tahqiq Sumair bin Amin az-Zuhairi.