Titik Biru Pucat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Dark grey and black static with coloured vertical rainbow beams over part of the image. A small pale blue point of light is barely visible.
Dari jarak 6 miliar kilometer (3,7 miliar mil, 40 satuan astronomi), Bumi tampak seperti titik kecil (bintik putih kebiru-biruan di tengah rentang cahaya cokelat sebelah kanan) di antara gelapnya luar angkasa.[1]

Titik Biru Pucat (bahasa Inggris: Pale Blue Dot) adalah foto planet Bumi yang diambil tahun 1990 oleh wahana antariksa Voyager I 6 miliar kilometer)) (3.7 miliar mil, 40 AU) dari Bumi sebagai bagian dari rangkaian foto Family Portrait. Dalam foto ini, Bumi berukuran hampir separuh piksel (0,12 piksel) jika dibandingkan dengan luasnya angkasa. Wahana Voyager I, yang baru saja menyelesaikan misi utamanya dan hendak meninggalkan Tata Surya, diperintahkan oleh NASA untuk memutar kameranya dan mengambil foto Bumi di tengah jagat raya atas permintaan Carl Sagan.

Judul foto ini dipakai Sagan sebagai judul bukunya tahun 1994, Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space.[2]

Jarak[sunting | sunting sumber]

Diagram of solar system with an area outside the orbit of Pluto highlighted
Perkiraan lokasi Voyager I (lingkaran hijau) saat foto ini diambil

Sistem antarmuka web HORIZONS milik NASA Jet Propulsion Laboratory menyediakan antarmuka web terbatas ke sistem HORIZONS-nya yang dapat digunakan untuk mencari efemeris benda-benda di Tata Surya.[3] Menurut alat ini, jarak antara Voyager dan Bumi pada 14 Februari 1990 dan 9 Juni 1990 adalah: a

Jarak Voyager 1 dari Bumi
Satuan ukuran 14 Februari 1990 9 Juni 1990
Satuan astronomi (AU) 40,4722269111071 40,6835761263791
Kilometer 6.054.558.968 6.086.176.360
Mil 3.762.136.324[4] 3.781.782.502[4]

Renungan Sagan[sunting | sunting sumber]

Dalam buku Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space, astronom Carl Sagan menulis pemikirannya tentang makna yang mendalam dari foto ini:[5]

Dari jarak sejauh ini, Bumi tampak tidak penting. Namun bagi kita, lain lagi ceritanya. Renungkan lagi titik itu. Itulah tempatnya. Itulah rumah. Itulah kita. Di atasnya, semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu ketahui, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka. Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, pemikiran, dan doktrin ekonomi yang merasa benar, setiap pemburu dan pengumpul, setiap pahlawan dan pengecut, setiap perintis dan pemusnah peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu, ayah, dan anak yang bercita-cita tinggi, penemu dan petualang, setiap pengajar kebaikan, setiap politisi rakus, setiap "bintang", setiap "pemimpin besar", setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah umat manusia, hidup di sana, di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.

Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya jagat raya. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan penguasa sehingga dalam keagungan dan kemenangan mereka dapat menjadi penguasa yang fana di sepotong kecil titik itu. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa kejam mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa dalam kebencian mereka. Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

Bumi adalah satu-satunya dunia yang sejauh ini diketahui memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya untuk sementara, yang bisa menjadi penyelamat spesies kita. Kunjungi? Ya. Menetap? Belum saatnya. Suka atau tidak, untuk saat ini Bumi adalah satu-satunya tempat kita hidup. Sering dikatakan bahwa astronomi adalah suatu hal yang merendahkan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tak ada yang dapat menunjukkan laknatnya kesombongan manusia secara lebih baik selain citra dunia kita yang mungil ini. Bagiku, gambar ini mempertegas tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik terhadap satu sama lain, dan menjaga serta merawat sang titik biru pucat, satu-satunya rumah yang kita kenali bersama.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Wikidata: Pale Blue Dot

Catatan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "From Earth to the Solar System-Pale Blue Dot". fettss.arc.nasa.gov. Diakses 2011-07-27. 
  2. ^ Sagan, Carl (1994). Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space (ed. 1st). New York: Random House. ISBN 0-679-43841-6.  Text also available at http://x3m.us/library/read.php?book=Sagan-Pale_Blue_Dot Library x3m.us.
  3. ^ "NASA's JPL Horizon System for calculating ephemerides for solar system bodies". ssd.jpl.nasa.gov. Diakses 2011-07-13. 
  4. ^ a b "Nasa image shows it's a wonderful world". independent.co.uk. Diakses 2011-07-28. 
  5. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama beyond-UFOs

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]