Sukasada, Buleleng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Balinese Flag
Sukasada
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Bali
Kabupaten Buleleng Buleleng
Pemerintahan
 • Camat I Made Dwi Adnyana, S.STP
Luas 172,93 km²
Jumlah penduduk 67.458
Kepadatan 390 jiwa/km²
Desa/kelurahan -

Sukasada adalah sebuah kecamatan di kabupaten Buleleng, provinsi Bali, Indonesia.

Sebagian besar, wilayah kecamatan Sukasada berada pada dataran tinggi namun pusat pemerintahannya berada pada dataran rendah. Di Kecamatan Sukasada, terdapat titik tertinggi di Kabupaten Buleleng, yaitu puncak bukit Tapak (1903 m) dan juga memiliki danau, yaitu danau Buyan (360 hektare).

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

  1. Barat : Kecamatan Banjar
  2. Utara : Kecamatan Buleleng
  3. Timur : Kecamatan Buleleng, Kecamatan Sawan, Kabupaten Badung
  4. Selatan : Kabupaten Tabanan

Demografi[sunting | sunting sumber]

  • Luas Wilayah (km2) : 172,93
  • Jumlah Kepala Keluarga : 18.833
  • Jumlah Penduduk : 67.458
  • Agama : Hindu (98,12%), Islam (0,81%), Kristen (0,73%), Budha (0,34%)

Desa dan Kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Kelurahan sukasada
  2. Kayu Putih
  3. Padang Bulia
  4. Pancasari
  5. Panji Anom
  6. Panji
  7. Sambangan
  8. Selat
  9. Silangjana
  10. Tegal Linggah
  11. Wanagiri
  12. Pegadungan
  13. Pegayaman

Objek Wisata[sunting | sunting sumber]

  • Air Terjun Gitgit : Salah satu destinasi wisata yang terletak di kecamatan Sukasada berupa air terjun kembar sekaligus bertingkat yang berlokasi di desa Gitgit (15 km dari pusat Kota).
    Air Terjun Nyarai merupakan salah satu air terjun terindah yang kami temukan di Sumatera Barat- Air Terjun ini terletak di Hutan Gamaran, Kec- Lubuk Alung, Kab- Padang Pariaman, Sumatera Barat- Butuh waktu 2 s 2014-02-06 23-35.jpg
    Gitgit Waterfall
  • Monumen Tri Yudha Sakti : Monumen yang didirikan untuk menghargai tiga sosok pahlawan dari Buleleng ini berlokasi di lingkungan Bantangbanua, kelurahan Sukasada.
  • Desa Wisata Sambangan : Desa yang masih asri dengan pemandangan alam yang mempesona hasil perpaduan antara hamparan sawah, sungai jernih dengan air terjun Aling-alingnya.
  • Danau Buyan : Satu dari tiga danau kembar yang ada di bagian tengah pulau Bali terletak di kawasan Sukasada. Danau ini terkenal dengan banyaknya monyet yang jinak yang berkeliaran di pinggir jalan dekat danau.
Buyan Lake

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah Sukasada berawal dari Istana Gelgel pada sekitar tahun 1568 dalam suasana tenang, di mana Raja Sri Aji Dalem Sagening menitahkán putranda Ki Barak Panji, supaya kembali ke tempat tumpah darah Bundanya di Den Bukit (Bali Utara). Ki Baräk Panji bersama Bunda Si Luh Pasek, setelah memohon ijin kehadapan Sri Aji Dalem lalu berangkat menuju Den Bukit diantar oleh empat puluh orang pengiring Baginda yang dipelopori oleh Ki Kadosot. Perjalanan mereka memasuki hutan lebat sangat mengerikan, udara yang sangat dingin menggigilkan, menembus celah-celah bukit, mendaki gunung-gunung meninggi, menuruni jurang-jurang curam, dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yang agak mendatar. Pada tempat itulah mereka melepaskan lelah seraya membuka bungkusan bekal mereka. Selesai mereka makan ketupat, mereka sembahyang. Kemudian mereka diperciki air/tirta oleh Si Luh Pasek, demi keselamatan perjalanannya, belakangan tempat itu diberi nama “Yeh Ketipat’. Rombongan Ki Barak Panji telah tiba di Desa Gendis/Panji dengan selamat. Tersebutlah Ki Pungakan Gendis, pemimpin Desa yang sekali-kali tiada menghiraukan keluh kesah para penduduknya. Ia memerintah hanya semata-mata untuk memenuhi nafsu buruknya, kesenangannya hanyalah bermain judi, terutama sabungan ayam. Oleh karena demikian sikap pemimpin Desa Gendis itu, maka makin lama makin dibenci rakyatnya, dan pada saat terjadi peperangan, ia dibunuh oleh Ki Barak Panji. Desa Gendis diperintah oleh Ki Barak Panji, seorang pemimpin yang gagah berani, adil dan bijaksana. Ki Barak Panji mendengar adanya kapal Iayar Tionghoa terdampar, kemudian timbulah rasa belas kasihan untuk menolong pemilik kapal tersebut. Baginda bersama-sama dengan Ki Dumpyung dan Ki Kadosot dapat membantu menyelamatkan kapal layar yang terdampar itu di pantai Segara Penimbangan. Setelah bantuannya berhasil, Baginda mendapat hadiah seluruh isi kapal tersebut berupa barang-barang tembikar seperti piring, mangkok dan uang kepeng yang jumlahnya sangat besar. Kepemimpinan Ki Barak Panji makin lama makin terkenal, beliau selalu memperhatikan keadaan rakyatnya, melaksanakan pembangunan di segala bidang baik fisik maupun spiritual. Oleh karena demikian maka sekalian penduduk Desa Gendis dan sekitarnya, secara bulat mendaulat Baginda supaya menjadi Raja, yang kemudian dinobatkan dengan gelar “Ki Gusti Ngurah Panji Sakti". Untuk mencari tempat yang agak datar, maka Kota Gendis serta Kahyangan Pura Bale Agung-nya dipindahkan ke Utara Desa Panji. Pada tempat yang baru inilah Baginda mendirikan istana lengkap dengan Kahyangan Pura Bale Agung-nya. Guna memenuhi kepentingan masyarakat desanya untuk menghantar persembahyangan di dalam Pura maupun upacara di luar pura, serta untuk hiburan-hiburan lainnya, maka Baginda membuat seperangkat gamelan gong yang masing-masing diberi namasebagai berikut: Dua buah gongnya diberi nama Bentar Kedaton.

  1. Sebuah bendenya diberi nama Ki Gagak Ora.
  2. Sebuah kenuknya bernama Ki Tudung Musuh.
  3. Terompong bernama Glagah Ketunon.
  4. Gendangnya bernama Gelap Kesanga.
  5. Keseluruhannya bernama ‘Juruh Satukad’.

Karena perbawa dan keunggulan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, maka Kyai Alit Mandala, Lurah Kawasan Bondalem tunduk kepada Baginda. Kemudian atas kebijaksanaannya maka Kyai Alit Mandala diangkat kembali menjadi Lurah yang memerintah di kawasan Bondalem, Buleleng Bagian Timur. Pada sekitar tahun 1584 Masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka Kota Panji dipindahkan ke sebelah Utara Desa Sangket. Pada tempat yang baru inilah Baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru diberi nama “SUKASADA’’ yang artinya selalu bersukaria.