Sinar Mas Group

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Logo Sinarmas

Sinar Mas Group adalah salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. Perusahaan ini dibentuk tahun 1962 dan memiliki banyak anak perusahaan seperti Asia Pulp & Paper dan produsen minyak sawit PT SMART TBK.

Sinar Mas Group didirikan oleh seorang pengusaha keturunan Tionghoa, Eka Tjipta Widjaja. Bisnis utamanya ialah pulp dan kertas, agribisnis, properti dan jasa keuangan. Eka Tjipta Widjaja datang ke Indonesia pada usia 9 tahun bersama orang tuanya ketika negara asal mereka sedang bergejolak. Perusahaan ini mendirikan anak perusahaan di India pada 1990-an yang kemudian dijual kepada Ballarpur Industries Limited tahun 2001.

Jaringan[sunting | sunting sumber]

Jaringan Sinar Mas Group tersebar dalam beberapa industri, seperti:

Kritik dan kontroversi[sunting | sunting sumber]

Masalah lingkungan[sunting | sunting sumber]

Anak perusahaan Sinar Mas Group yang memproduksi minyak sawit, PT SMART TBK, dituduh melakukan deforestasi hutan hujan di Indonesia oleh Greenpeace.[1]. Untuk menyelidiki tuduhan ini, Smart Tbk telah menunjuk Control Union Certification dan BSI Group[2], dibantu dua peneliti dari Institut Pertanian Bogor[3].

Unilever[sunting | sunting sumber]

Bulan Desember 2009, Unilever menghentikan pembelian minyak sawit dari PT SMART TBK, anak perusahaan Sinar Mas, karena mereka tidak memberikan bukti yang cukup bahwa mereka tidak terlibat dalam praktik lingkungan bermasalah.[4]. Namun, Unilever berencana untuk melanjutkan pembelian minyak sawit jika auditor independen yang dibentuk Sinar Mas dan Unilever menyalahkan tuduhan penghancuran hutan tersebut[5].

Nestle[sunting | sunting sumber]

Bulan Maret 2010, Nestle menghadapi krisis reputasi publik terhadap penggunaan minyak sawit dari Sinar Mas yang hutan sawitnya menjadi penyebab penghancuran hutan hujan dan habitat orangutan berskala besar.[6]. Untuk menghindari bencana reputasi publik, Nestle langsung menghentikan pembelian minyak sawit dari Sinar Mas. Setelah Sinar Mas menunjuk auditor independen untuk menyelidiki masalah ini, Nestle bergabung dengan komite dan akan melanjutkan pembelian dari Sinar Mas jika mereka bebas dari segala tuduhan.[7]. Pada bulan Agustus 2010 chairman Nestle Peter Brabeck-Letmathe mengatakan bahwa fokus dari perusahaannya telah salah arah. "Anda tahu bahwa bukanlah 350.000 ton minyak sawit Nestle yang mendorong deforestasi di Indonesia, katanya, "tetapi keputusan politik untuk menggunakan makanan sebagai sumber bahan bakar bio. Britania Raya dan Jerman telah mengonsumsi 500.000 ton minyak sawit untuk bahan bakar bio."

Abengoa[sunting | sunting sumber]

Bulan Mei 2010, Abengoa Bioenergy meminta para penyuplai bahan mentahnya untuk memboikot minyak sawit dari perusahaan manapun di dalam lingkup Sinar Mas Group Indonesia sampai perusahaan tersebut dapat membuktikan bahwa mereka memenuhi persyaratan keberlanjutan lingkungan dan sosial Abengoa. [8]

HSBC[sunting | sunting sumber]

Bulan Mei 2010, fokus dari kampanye Greenpeace beralih ke HSBC[9] dengan menyuruh mereka agar menjual saham HSBC di Sinar Mas. Pada Juli 2010, HSBC telah menulis kepada Greenpeace bahwa saham mereka telah dijual[10].

Carrefour[sunting | sunting sumber]

Tanggal 7 Juli 2010, Carrefour telah mengeluarkan Sinar Mas dari daftar penyuplai produk mereka[11]. “Carrefour sangat berkomitmen terhadap pengembangan berkelanjutan dan telah memutuskan untuk menghentikan suplai APP untuk produk berlabel swasta mulai pertengahan tahun ini sampai waktu yang tidak ditentukan.” kata Manajer Hubungan Masyarakat Carrefour Indonesia, Hendri Satrio.[12].

Burger King[sunting | sunting sumber]

Bulan September 2010, Burger King mengumumkan bahwa mereka tidak lagi membeli minyak sawit dari Sinar Mas. Mereka mengeluarkan pernyataan, "Setelah menyelesaikan pratinjau terhadap laporan verifikasi independen oleh Control Union Certification (CUC) dan BSI Group, kami yakin laporan ini telah memunculkan masalah keabsahan tentang sejumlah praktik keberlanjutan produksi minyak sawit Sinar Mas dan dampaknya terhadap hutan hujan. Praktik-praktik tersebut tidak konsisten dengan komitmen tanggung jawab perusahaan kami." [13]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]