Serat Wedhatama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Serat Wédhatama ("tulisan mengenai ajaran utama") adalah sebuah karya sastra Jawa Baru yang bisa digolongkan sebagai karya moralistis-didaktis yang sedikit dipengaruhi Islam. Karya ini secara formal dinyatakan ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV. Walaupun demikian didapat indikasi bahwa penulisnya bukanlah satu orang.[1]

Serat ini dianggap sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa abad ke-19 dan memiliki karakter mistik yang kuat. Bentuknya adalah tembang, yang biasa dipakai pada masa itu.

Isi[sunting | sunting sumber]

Serat ini terdiri dari 100 pupuh (bait, canto) tembang macapat, yang dibagi dalam lima lagu, yaitu

  • Pangkur (14 pupuh, I - XIV))
  • Sinom (18 pupuh, XV - XXXII)
  • Pocung (15 pupuh, XXXIII - XLVII)
  • Gambuh (35 pupuh, XLVIII - LXXXII)
  • Kinanthi (18 pupuh, LXXXIII - C)

Isinya adalah merupakan falsafah kehidupan, seperti hidup bertenggang rasa, bagaimana menganut agama secara bijak, menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi orang berwatak ksatria.

Terdapat beberapa bagian yang dapat dianggap sebagai kritik terhadap konsep pengajaran Islam yang ortodoks, yang mencerminkan pergulatan budaya Jawa dengan gerakan pemurnian Islam (gerakan Wahabi) yang marak pada masa itu.

Serat Wedhatama di masa kini[sunting | sunting sumber]

Teks ini masih populer hingga sekarang. Kitab terjemahan ke dalam bahasa Indonesia serta tafsirnya telah diterbitkan. Terjemahan dalam bahasa Inggris juga telah dikerjakan.

  • Adityo Djatmiko (1969). Tafsir Ajaran Serat Wedhatama. Penerbit Pura Pustaka.
  • Stuart Robson (1990). The Wedhatama : an English translation. KITLV Press.
  • Yusro E. Nugroho (2001). Serat Wedhatama, Sebuah Masterpiece Jawa dalam Respons Pembaca. Penerbit Mimbar.

Penyanyi Gombloh mengutip sebagian dua sajak yang populer dari Wedhatama (Pangkur, bait I dan XII) ke dalam komposisinya, Hong Wilaheng Sekaring Bawono (1981).

Cuplikan[sunting | sunting sumber]

Pangkur, bait 1 (I):

Mingkar mingkuring angkara
Akarana karenan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinuba sinukarta
Mrih kretarta pakartining ngèlmu luhung
Kang tumrap ning tanah Jawa
Agama ageming aji
Menghindarkan diri dari angkara
Bila akan mendidik putra
Dikemas dalam keindahan syair
Dihias agar tampak indah
Agar tujuan ilmu luhur ini tercapai
Yang berlaku di tanah Jawa
Agama pegangan para pemimpin

Pocung, bait 1 (XXXIII):

Ngèlmu iku kalakoné kanthi laku
Lekasé lawan kas
Tegesé kas nyantosani
Setya budya pangekesé dur angkara.
Ilmu itu bermanfaat bila dilaksanakan
Dimulai dengan kemauan
Kemauan untuk menyejahterakan sesama
Tabah mengembangkan, menaklukkan semua tantangan.

Catatan kaki dan referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Menurut Pigeaud beliau bekerjasama dengan Rangga Warsita dan penulis lainnya. (Th. Pigeaud. Literature of Java. Vol. I. 1967:110)