Reunifikasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Peta penyatuan Jerman

Reunifikasi adalah unifikasi (penyatuan) kembali 2 negara atau lebih menjadi 1 negara induk yang sebelumnya terpecah karena peristiwa sejarah.

Negara-negara yang mempunyai isu reunifikasi biasanya adalah 2 negara atau lebih yang terpecah setelah Perang Dunia II terutama karena persaingan antara blok Barat dan Timur.

Negara-negara yang mempunyai isu reunifikasi:

Isu reunifikasi Jerman[sunting | sunting sumber]

Jerman Barat dan Timur telah resmi bersatu pada tanggal 3 Oktober 1990. Jerman terpecah menjadi Jerman Barat dan Timur setelah Perang Dunia II 1945 di mana Jerman dikuasai oleh Britania Raya, Perancis dan Amerika Serikat di sebelah barat dan Uni Soviet di bagian timur. Kedua belah pihak kemudian sepakat membentuk Jerman Barat dan Jerman Timur sebagai negara terpisah yang merdeka pada tahun 1949.

Isu reunifikasi Korea[sunting | sunting sumber]

Bendera penyatuan Korea

Korea Utara dan Korea Selatan resmi terpisah sejak Perang Dunia II berakhir dengan bagian utara dikuasai oleh Uni Soviet dan selatan dikuasai oleh AS. Kedua Korea sebenarnya masing-masing berharap dapat mempersatukan Korea di bawah rezim dan ideologi masing-masing. Korea Utara melancarkan aksi militer pada tahun 1950 dengan harapan mempersatukan Korea di bawah rezim komunis, pecahlah Perang Korea yang kemudian melibatkan AS dan Republik Rakyat Tiongkok.

Sekarang ini, walau perundingan reunifikasi Korea macet, namun kedua belah pihak percaya bahwa mereka akan bersatu di masa depan.

Isu reunifikasi Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Peta Tiongkok dan Taiwan

Republik China yang kalah dalam perang saudara pada tahun 1949 mundur ke Taiwan dan merencanakan penyatuan kembali seluruh Tiongkok di bawah rezim nasionalis. Sebaliknya, Republik Rakyat Tiongkok yang diproklamirkan tahun 1949 menyatakan Taiwan adalah salah satu propinsi mereka yang membangkang.

Masing-masing mengklaim sebagai pemerintah yang legal atas Tiongkok Daratan. Namun, perbedaan isu Tiongkok ini adalah kedua belah pihak konsisten pada garis kebijakan Satu Tiongkok, yang menyebabkan tidak mungkin akan ada 2 negara terpisah. Ini menyebabkan Republik China terkucil dari dunia internasional setelah pengakuan diplomatik negara-negara dunia dialihkan dari Taipei ke Beijing.

Deng Xiaoping mengajukan solusi Satu Negara Dua Sistem, yang memberikan Taipei otonomi kelas tinggi bila bereunifikasi dengan Beijing. Namun tentu saja, Taipei menolak solusi ini dikarenakan kedua pemerintahan masih dalam keadaan perang dan Taipei tidak boleh disamakan dengan Hong Kong ataupun Makau yang merupakan bekas koloni negara lain.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]