Pakantan, Mandailing Natal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari


Pakantan
Kecamatan
Peta Lokasi Kecamatan Pakantan Kabupaten Mandailing Natal.svg
Peta lokasi Kecamatan Pakantan
Negara  Indonesia
Provinsi Sumatera Utara
Kabupaten Mandailing Natal
Pemerintahan
 • Camat -
Luas - km²
Jumlah penduduk -
Kepadatan - jiwa/km²

Pakantan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Indonesia.

Kecamatan Pakantan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Pakantan adalah sebuah Kecamatan yang terletak di hulu sungai Gadis (Batang Gadis), dilereng Gunung Kulabu diwilayah Kabupaten Mandailing Natal paling selatan, berjarak 12 km dari Muara Sipongi / jalan Raya Lintas Sumatera mengarah ke barat. Pakantan terdiri dari Delapan "huta" (desa): 1. Huta Dolok 2. Huta Gambir 3. Huta Lancat 4. Huta Lombang 5. Huta Padang 6. Huta Toras 7. Huta Julu 8. Silogun

Wilayahnya yang strategis dengan hamparan persawahan yang membentang luas, diapit oleh dua buah sungai kecil: Sijorni dan Mompang, dibelah dua oleh sungai Pahantan dengan kesejukan airnya serta dikelilingi perbukitan bak dipagari/dibentengi, terlihatlah serupa bentuk kuali (wajan) dan beriklim dingin karena ketinggiannya 1200 meter diatas permukaan laut. Pada tahun 2007 Pakantan ditetapkan sebagai salah satu kecamatan di kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara.

Kekerabatan[sunting | sunting sumber]

Beberapa marga yang terdapat di Pakantan: Marga Lubis, Marga Hasibuan, Marga Nasution, Marga Batubara dan Marga Lintang (marga yang terbentuk di Pakantan)

Mengenai asal-muasal nama PAKANTAN sendiri, berbagai penafsiran bermunculan, namun tiada yang pasti, antara lain berasal dari kata antara lain:

"PAHANTAN" : nama sungai yang membelah desa tersebut.

"PAMUKAPATAN": karena Pakantan merupakan tempat dimana pada tempo dulu orang-orang dari Mandailing dan Sumatera Barat datang untuk mencari ketenangan dan meminta petunjuk atas masalah yang di hadapi karena tempo dulu sebelum adanya agama di pakantan / hulu sungai batang gadis / gunung kulabu dianggap tempat yang sangat sakral dan tempat pemujaan.

"PATANTAN" : suatu bentuk upacara pemakaman Raja Mangalaon Tua (Namangarotop Banua) dimana cara membawa beliau dari rumah duka ke tempat penguburan (di Talobu) tidak diusung diatas bahu, melainkan ditantan (dibawa bersama-sama dari tangan-ketangan) secara berantai hingga semua masyarakat Pakantan berkesempatan untuk mengantar ke liang kubur.

"PARMUPAKATAN": musyawarah tentang pemilihan / pengangkatan "Raja Huta" berikutnya. Perlu diketahui bahwa pada masa Harajaon Mangalaon Tua, nama Pakantan belum ada, baru ada Huta Lobu yang diketahui sebagai pemukiman atau Harajaon.

Menurut Tarombo ( silsilah ) marga Lubis di Pakantan, yang pertama kali diakui sebagai nenek moyang bernama Datu Sang Maima Na Bolon. Selanjutnya beberapa generasi kemudian, keturunan Datu tersebut bernama Namora Pande Bosi II. Diakui sebagai awal yang menurunkan Lubis Si Langkitang dan Si Baitang. Dan kemudian, beberapa generasi kemudian lahirlah Sutan Mogol, keturunan langsung dari Mangaradja Ulu Balang. Sekitar tahun 1540-an, Raja Mangalaon Tua (Raja Pakantan I), membuka perkampungan di Pakantan. Saat itu yang menjadi kepala kampung di Huta Padang adalah anak Raja Mangalaon Tua yang pertama, Namora Tolang. Raja Gumanti Porang Debata, anak yang kedua menjadi raja di Pakantan Dolok. Kemudian anak Raja Mangalaon Tua yang ketiga, Raja Sutan Barayun, menjadi raja di Pakantan Lombang.

Beralihnya paham Parbegu* (belum beragama, animisme), menjadi Islam di Pakantan sangat berhubungan dengan peristiwa Perang Padri di Bonjol (1825-1830). Para perwira kerajaan waktu itu banyak masuk ke wilayah Pakantan dan wilayah Mandailing lain untuk menyebarluaskan agama Islam.

Misi Zending Belanda pernah menugaskan Hendrick Dirks untuk berkiprah di Pakantan. Atas persetujuan kepala kuria Pakantan Lombang, Raja Mangatas, ia mendapat pinjaman tanah tahun 1871. Akhirnya Dirks membuat rumah. Kemudian kampung itu dikenal dengan nama Huta Bargot.

Masuknya penyebaran agama Kristen ke Pakantan, jauh lebih dulu dibandingkan masuknya Kristen ke daerah Silindung dan Toba. Ajaran Kristen ke Pakantan Madina dibawa oleh penginjil dari Rusia dan Swiss tahun 1821, sedangkan ajaran Kristen yang dibawa ke Toba dibawa oleh missionaris dari Jerman. Itulah sebabnya gereja tertua di Tapanuli Selatan terletak di Pakantan Huta Bargot.


Letak Geografis[sunting | sunting sumber]

Pada zaman dahulu wilayah batas Mandailing Godang sampai Sayur Matinggi, Angkola Jae. Ke hilir Mandailing Julu sampai ke Limo Manis, tidak termasuk Muara Sipongi ke hulu (termasuk Pakantan).

Karena dahulu Gouverment sudah menetapkan satu kampung tempat Raja Panusunan seperti Mandailing Kecil ada empat, yaitu: Tamiang - Manambin - Singengu dan Tambangan. Pakantan pun demikian: Pakantan Lombang dan Pakantan Buhit (Pakantan Dolok).

Dalam keseharian (tempo dulu) apabila ada masyarakat Pakantan yang akan meninggalkan wilayah Pakantan dan ditanya: mau kemana? maka akan dijawab: "giot tu Mandailing".


Ciri Khas Adat Budaya[sunting | sunting sumber]

Ditemui banyak ciri khas bahasa dan peradatan yang berbeda dengan tempat lain. Seperti misalnya:

- Di Mandailing dikenal Raja Panusunan sedangkan di Pakantan tidak, namun ada yang disebut dengan "Pamutus Hata"

- Di Mandailing di kenal Anak Boru / Pisang Raut dan di Pakantan dikenal dengan "Parserean / Parsinggiran"

- Di Mandailing dikenal dengan Mora sedangkan di Pakantan dikenal dengan "Hula-hula"

- Di Mandailing alat kesenian Gordang Sambilan digunakan sebagai pelengkap adat, di Pakantan Gordang Sambilan selain pelengkap adat, juga sebagai pemanggil "Baso" atau dikenal dengan sebutan "Manyarama". Tiga irama Gordang Sambilan yang berasal dari Pakantan yaitu Sarama Datu, Sarama Babiat dan Pemulihon.

- Dan masih banyak lagi ciri khas budaya dan perbedaan dalam bahasa lainnya.


Kemasyarakatan


Selain dari itu, halak Pakantan juga sangat kental dengan persaudaraannya tanpa pernah memandang dari kekayaan dan keyakinannya masing-masing, itu sebabnya kemasyarakatan di Pakantan selalu kompak harmonis dan penuh toleransi. Di Pakantan sendiri, dua agama selalu bisa hidup berdampingan secara harmonis yaitu Islam dan Kristen.

Dalam suatu perkumpulan, yang namanya "halak Pakantan" selalu tampil pada jajaran terdepan, yang memiliki falsafah: "harus menjadi yang terdepan, atau tidak sama sekali". Sifat agresif ini dapat terlihat di rantau baik dalam berbagai bidang, seperti dalam hal kesenian. Di Medan misalnya, Kesenian Gunung Kulabu (kesenian ciri khas Pakantan) dengan Gondang dan Gordang Sambilan nya paling menonjol daripada wilayah lainnya, sehingga sempat melalang buana hingga ke "Negara Paman Sam". Begitu juga di Jakarta, sempat hadir di Istana Bogor saat peresmian pernikahan putri wakil presiden saat itu yaitu Bapak H. Adam Malik.

Dapat disimpulkan bahwa halak Pakantan selalu berusaha menjadi yang terdepan baik secara individu maupun kebersamaan.

Tokoh dari Pakantan[sunting | sunting sumber]

  • Dr.Parlindungan Lubis Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda 1938-1941.
  • Sakti Lubis dan Martinus Lubis ,pejuang melawan Belanda di Tembung tahun 1947.
  • Sutan Mompang Soripada,komandan Resimen Tapanuli Selatan.
  • Ronggur Patuan Malaon,mantan Kepala Kehutanan Luar Jawa dan Madura.
  • Prof. DR AP Parlindungan,pakar Hukum Agraria dan mantan Rektor USU.
  • Kolonel Purn. Dahlan Lintang Mantan Kastaf Kodam II BB.
  • Alm. Samsi B Nasution Pengusaha Jakarta.
  • DR IR Adnan Buyung Nasution, SH,pakar Hukum, pejuang HAM dan penasihat Presiden.