Negeri 5 Menara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Negeri 5 Menara
Menara 5 Negara.jpg
Penulis Ahmad Fuadi
Ilustrator Doddy R. Nasution
Seniman sampul Slamet Mangindaan
Negara Indonesia
Bahasa Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu
Genre Edukasi, Religi, Roman
Penerbit Gramedia (Jakarta)
Tanggal terbit Juli 2009
Halaman 416
ISBN 978-979-22-4861-6

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • Judul Buku                 
    : Negeri 5 Menara
  • Nama Pengarang        
    : Ahmad Fuadi
  • Tahun Terbit                :
    2009
  • Nama Penerbit                        :
    PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Tempat Terbit             
    : Jakarta
  • Tebal Buku                 
    : 423 Halaman

Sinopsis

Cerita ini bermula ketika suatu kegundahan yang dialami oleh Alif, bocah dari pinggiran danau maninjau, Sumatera Barat, suatu kampung yang disanalah lahir ulama terkenal, Buya Hamka namanya. Alif bercita-cita ingin menjadi seorang “Habibie” , ahli teknologi yang pernah mengeyam pendidikan di ITB Bandung. Alif sangat ingin merasakan kuliah di ITB, salah satu jalannya adalah masuk ke sekolah umum. Namun, Ibunya menginginkan dia agar menjadi ulama seperti Buya Hamka, maka Ibunya berkehendak agar Alif masuk madrasah. Suatu pergolakan di dalam diri Alif muncul, di satu sisi Alif tidak ingin mengecewakan Ibunya, di satu sisi dia ingin meraih mimpi-mimpinya masuk di ITB. Tiba-tiba Alif mendapatkan pencerahan, dia memutuskan untuk mondok di suatu pesantren di Jawa Timur.

Kisah ini berawal dari Minang sekitar danau Maninjau yang mengisahkan tantang perjalanan hidup seorang anak laki-laki bernama Alif, yang bersekolah di madrasah tsanawiyah. Ia lulus dengan nilai ujian sepuluh terbaik di Kabupaten Agam. Alif dan Randi mempunyai keinginan melanjutkan sekolahnya di SMA.

Awal mulanya dia sangatkaget dengan segala peraturan ketat dan kegiatan pondok. Untunglah, dia menemukan sahabat-sahabat dari berbagai daerah yang benar² menyenangkan. Niatan setengah hatinya kini telah menjadi bulat. Di bawah menara PM inilah mereka berlima justru menciptakan mimpi²i lewat imajinasinya menatapi langit dan merangkai awan-awan menjadi negeri impian. Mereka yakin kelak impian itu akan terwujud. Karena mereka yakin akan mantra ampuh yang mereka dapatkan dari Kyai Rais (Guru Besar PM), yaitu man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Kelebihan novel ini adalah mengubah pola pikir kita tentang kehidupan pondok yang hanya belajar agama saja. Karena dalam novel ini selain belajar ilmu agama, ternyata juga belajar ilmu umum seperti bahasa inggris, arab, kesenian dll. Pelajaran yang dapat dipetik adalah jangan pernah meremehkan sebuah impian setinggi apapun itu, karena allah Maha mendengar doa dari umatNya.

Ternyata keinginan Alif itu berbeda dengan keinginan i bunya. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti  tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Namun, keinginan Alif tidaklah mudah untuk diwujudkan. Kedua orangtuanya berkata lain, Beliau menginginkan agar Alif tetap tinggal dan sekolah di kampung untuk menjadi guru agama. Alif mendapat saran dari Pak Etek Gindo (Paman Alif) agar melanjutkan sekolahnya di Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur. Akhirnya Alif mengikuti saran dari pamannya. Disana Alif berkenalan dengan Raja alias Adnin Amas, Atang alias Kuswandani, Dulmajid alias Monib, Baso alias Ikhlas Budiman dan Said alias Abdul Qodir.

Siswa-siswa yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang unik. Menjelang Adzan Maghrib, mereka berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Alif mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi setelah lulus nanti. Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi ataupun Mesir.

Melalui kehidupan di pesantren yang tidak dibayangkan selama ini, ternyata lima santri-santri itu bertemu kembali di London, Inggris beberapa tahun kemudian. Kemudian mereka bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka seperti saat mereka masih berada di bawah menara masjid Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur dan menggambarkan awan-awan dilangit itu seperti impian mereka terdahulu.

 

 

 

 

 

Penokohan / watak :

o   Alif Fikri                : Tabah dan Sabar (“sabar, kita harus menghadapi hukuman                                                     ini dengan sabar”)

o   Dulmajid               : Sumenep, Madura. Seorang pemain bulutangkis, rekan                                                           latih tanding Ustad Torik. Lucu, nekad (“Hah,, ayo kita                                                           gotong terus masih ada waktu 5 menit” )

o   Raja Lubis             : Ia dari  Medan. Ia adalah anggota English Club dan                                                                  seorang orator yang hebat. penghafal keras, gampang                                                               bingung (“Aku tidak berani melihat anak perempuan,                                                        karena akan mengganggu hafal Al-qur’an” )

o   Basosalahudin     : Dari Gowa, Sulawesi. Terkenal karena memori fotografis                                                        dan Bahasa Arab yang fasih. Ia meninggalkan Pondok                                                               Madani saat kelas lima untuk menjaga neneknya dan                                                       berusaha menghafal Al-Qur`an di kampung halamannya.                                                    Pintar dan pengertian (“ ayo ujian akan dilaksanakan 3 hari                                        lagi, kita harus belajar keras” )

o   Atang Yunus        : Dari Bandung. Seorang yang mencintai seni dan teater                                                              pendiam, tidak berani aneh - aneh  (“ aku sangat tidak                                                             bilang kepada ketua jasus itu, karena aku takut di hukum                                                        lagi” )

o   Said Jufri              : Dari Surabaya. Ia sangat terobsesi dengan                                                                                  bodybuilding dan mengidolakan Arnold Schwarznegger.

o Ustad Salman         : Wali kelas Alif. Laki-laki muda bertubuh kurus bersuara                                 lantang.

o Amak                      : menjunjung tinggi nilai agama, tegas, baik.

o Ayah/ Fikri Syafnir / Katik Parpatiah Nan Mudo  : sabar, baik, menjunjung                                                                                                                     tinggi nilai agama.

Alur :

Maju-Mundur (campuran)                                                                                    

Dimana tokoh utama (Alif Fikri) kilas balik dari ingatannya  akan masa silam ketika menimbah ilmu di Pondok Madani hingga membuahkan hasil yang menyenangkan dimasa kini. Sangat bagus dan menarik, sehingga membuat pembaca sulit menebak peristiwa yang terjadi selanjutnya. Dan juga bisa membuat pembaca penasaran serta mengundang antusias pembaca untuk membaca novel ini. Dan, berkesinambungan. Tidak terpecah berantakan. Disini, pengarang menggunakan alur sorot balik. Pembaca tidak akan bosan membaca kehidupan di pondok karena penulis menggunakan alur campuran. Ia memulai cerita dengan mengambil setting Alif yang sudah bekerja lalu mulai masuk ke dalam ingatan-ingatan Alif akan kehidupannya dulu di Pondok Madani. Setelah cukup panjang menceritakan tentang pondok, ia mulai beralih lagi ke kehidupan Alif masa sekarang.

 

 

Latar :

o   Waktu       : “Pagi yang aku tunggu selama ini telah tiba”

o   Tempat     : “Kami pun dipanggil ke ruang jasus untuk menerima hukuman atas keterlambatan kami selama 5 menit”

o   Suasana   : “Suasana mencekampun datang ketika Tyson tiba, dan kami juga menjadi agak sedikit gemetaran”

Tema  :      

Novel ini bertemakan tentang Perjuangan dan kesungguhan. Yang mana sangat menarik untuk dibaca. Apalagi oleh kaum remaja. berbagai kisah sederhana kehidupan di Pondok Madani, pesantren modern yang akhirnya menampung Alif di dalamnya. Suka, duka, persahabatan, dan pengajaran-pengajaran PM yang sederhana namun mengenal.       

PM berbeda dengan sekolah agama lainnya karena di sini para murid dilatih untuk menjadi intelektual dan mampu menganalisa berbagai ilmu dari sudut pandang Islam. Sehari-harinya mereka wajib menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Jika melanggar, tidak mungkin tidak terlepas dari hukuman. PM sangat ketat dengan pengawasan dan kedisiplinannya Novel itu menggambarkan bagaimana kuatnya tekad dan semangat yang dimiliki murid-murid Pondok Madani yang berjuang keras untuk mendapat ilmu dan kesuksesan dalam pendidikannya.

Selain itu, juga digambarkan bagaimana keikhlasan seorang guru untuk mendidik muridnya tanpa menerima gaji sepeserpun, keikhlasan seorang murid untuk mau dididik, keikhlasan seorang murid dalam berjuang menghadapi ujian-ujian dan keikhlasan seseorang menjadi pemimpin dan dipimpin. Semuanya merujuk pada satu kata yaitu IKHLAS.

Amanat :

 

Pengarang bisa menyampaikan amanatnya dengan jelas kepada sipembaca. Sehingga, pembaca terinspirasi dari sini dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. (“sesuatu yang dilakukan dengan sungguh sungguh dan tidak pernah putus asa sedikitpun, pasti akan membawa hasil yang sangat baik”).

novel ini juga sangat perlu dibaca pelajar ataupun remaja-remaja yang ingin mendapat motivasi sekolah atau belajar agama di Pondok. Bahwa Pondok tidak hanya bagi mereka yang tidak mampu meneruskan sekolah ke jenjang selanjutnya, tetapi Pondok mendidik dan mencetak murid secara total untuk berkarya penuh totalitas di masyarakat. Cara penulis dalam menceritakan semangat perjuangan dan pantang menyerah 6 murid Pondok Madani juga patut di acungi jempol. Sebuah buku inspiratif yang sangat layak dibaca di waktu senggang.