Museum Perjuangan Yogyakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Museum Perjuangan Yogyakarta
Museum perjuangan yogyakarta.jpg
Informasi bangunan
Lokasi Jalan Kolonel Sugiyono 24, Yogyakarta
Negara Indonesia
Koordinat 7°48′59″LS 110°22′18″BT / 7,816466°LS 110,371795°BT / -7.816466; 110.371795Koordinat: 7°48′59″LS 110°22′18″BT / 7,816466°LS 110,371795°BT / -7.816466; 110.371795
Awal konstruksi 5 Oktober 1959
Penyelesaian 29 Juni 1961
Jenis Jawa-Romawi

Musuem Perjuangan Yogyakarta adalah museum yang memiliki koleksi mengenai perjuangan bangsa Indonesia. Terletak kurang lebih 2 km dari pusat kota Yogyakarta


Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dalam rangka peringatan setengah abad kebangkitan nasional, di Yogyakarta pada tahun 1958 telah dibentuk sebuah panitia yang diberi nama "Panitia setengah Abad Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta". Panitia tersebut diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan beranggotakan kepala-kepala jawatan, wakil-wakil dari kalangan militer dan polisi, pemimpin-pemimpin partai dan organisasi dari segala aliran dan keyakinan yang tergabung dalam Panitia Persatuan Nasional (PPN), kaum cerdik cendekiawan dan karya.

Pada tanggal 20 Mei 1958, di halaman Gedung Agung, Yogyakarta diadakan upacara peringatan setengah abad kebangkitan nasional. Selain itu juga dilakukan rangkaian kegiatan antara lain kerja bakti, gerakan menambah hasil bumi, mengumpulkan bingkisan untuk dikirim kepada kesatuan-kesatuan yang sedang berjuang menumpas pemberontakan, serta mengadakan ziarah ke makam para pahlawan nasional. Meski demikian, panitia merasa ada sesuatu yang kurang. Oleh karena itulah muncul gagasan Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku ketua Panitia Setengah Abad Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengadakan suatu peninggalan kepada generasi mendatang.

Ndalem Brontokusuman terletak di belakang Museum Perjuangan Yogyakarta.

Seusai upacara tanggal 20 Mei 1958, diadakan rapat panitia. Rapat berhasil membentuk Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional yang anggotanya terdiri dari anggota Dewan Pimpinan Panitia Peringatan Setengah Abad Kebangkitan Nasional Yogyakarta. Sebagai tempat berdirinya monumen Sri Sultan Hamengkubuwana IX memberikan sebagian halaman Ndalem Brontokusuman.


Adapun susunan dari panitia tersebut, sebagai berikut :


  • Wakil Ketua II : Moh. Djamhari (EYD Moh. Jamhari)(anggota DPD DIY)
  • Wakil Ketua III: Letkol Joesmin (EYD : Letkol Yusmin) (Kepala Staf Resimen Infantri 13)
  • Wakil Ketua IV  : Mayor R.M Hardjokoesoemo (EYD : Mayor R.M Harjokusumo) (Kom. KMK Yogyakarta)
  • Wakil Ketua : Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo (EYD : Bpk. Sudarisman Puwokusumo) (Kepala Daerah Kota Praja Yogyakarta)[1]
  • Sekretaris : R. Soetardjo (EYD : Sutarjo) (Kepala Japendi Yogyakarta)
  • Anggota :
Kom. Bes. R. Soemarsono (EYD : Kom. Bes. R. Sumarsono) (Kepala Polisi DIY)
K.R.T Kertoprodjo (EYD : K.R.T Kertoprojo) (Kepala Jawatan Keuangan DIY)
R. Rio Darmoprodjo (EYD : R. Rio Darmoprojo) (Kepala Jawatan Sosial DIY)
R. Mangoenwasito (Kepala Djawatan PP dan K. DIY)
Prodjosudono (Kepala Djawatan Penerangan Yogyakarta)
Lets. Soejoedi (Ketua BKSPM DIY)
Soesila Prawirosoesanto (Angggota PPN dari Partai Nasional Indonesia)
Bismo Wignyoamidjojo (Anggota PPN dari Partai Komunis Indonesia)
S. Mangoenpuspito (Anggota PPN dari partai Masyumi)
R.W. Probosoeprojo (Anggota PPN dari Partai Nasional Indonesia)
Winoto (Anggota PPN dari PRI)
Ds. SP. Poerbowijogo (Anggota PPN dari Partai Kristen Indonesia)
Ibnoe Moekmin (Anggota PPN dari Partai Syarikat Islam Indonesia)
Daljoeni (Anggota PPN dari Partai Indonesia Raya)
Prodjokaskojo (Anggota PPN dari Partai Indonesia Raya)
Ny. Sahir Nitihardjo (Ketua POWJ)
K.R.T Labaningrat (Sekretaris I Pem. Yogyakarta)
Prof. Ir. Soewandi (Ahli Bangunan dari Universitas Gadjah Mada)
R.M Srihandojokoesoemo (Ahli Kebudayaan)
Soedharso Pringgobroto (Ahli Kesenian dari Jawatan PP dan K DIY)
Kepala Perwakilan Jawatan Kebudayaan PP dan K


Selanjutnya untuk membahas apa dan bagaimana monumen itu kelak, panitia monumen setengah abad kebangkitan nasional membentuk panitia khusus. Karena jumlah anggota dari panitia ini berjumlah sembilan orang, maka sering disebut dengan Panitia Sembilan. Adapun susunan panitia sembilan tersebut adalah sebagai berikut:


  • Ketua : Soenaryo Mangoenpoespito
  • Sekretaris : Soetardjo
  • Anggota :
Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo
Soenito Djojosoegito
Ny. Sahir
Bismo Wignjoamidjojo (EYD : Bismo Wignyoamijaya)
Daljoeni
Fadlan AGN
RW. Probosoeprodjo (EYD : RW. Probosupraja)
Mangoenwarsito


Pada tanggal 22 Mei 1958 panitia khusus mengadakan rapat di gedung Japendi (Jawatan Penerangan). Rapat membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepanitiaan, arti penting monumen, letak monumen, bentuk monumen, sumber dana, dan rencana kerja. Pada tanggal 7 Juli 1958, dalam rapat pleno yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX panitia monumen setengah abad kebangkitan nasional menyetujui apa yang telah direncanakan dan dikerjakan oleh panitia khusus. Untuk merealisasikaimya, maka dalam rapat tersebut dibentuk dua panitia kecil.


Adapun susunan kepanitiaan tersebut sebagai berikut :

Panitia Teknis, yang terdiri dari :

  • Ketua : Prof. Ir. Soewandi
  • Sekretaris : diambilkan personel dari Djapendi, dan juga berkantor di Japendi.
  • Anggota : Bismo Wignyoamidjojo dan Winoto


Panitia Keuangan, yang terdiri dari :

  • Ketua : Soenarjo Mangoenpoespito (EYD : Sunaryo Mangunpuspito)
  • Anggota : diambilkan personel dari Resimen Infantri 13, Ds. S.P. Purbowijogo


Rapat juga menunjuk Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo untuk menghubungi pengurus/panitia yang dulu pernah dibentuk untuk mengambil alih pekerjaan mereka dan diminta supaya menunjuk sekarang wakilnya untuk duduk dalam Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional.

Perlu disampaikan bahwa di Yogyakarta sejak tanggal 2 Desember 1952 telah dibentuk panitia sementara yang bermaksud merencanakan berdirinya sebuah museum perjuangan yang akan digunakan untuk menyimpan dan memelihara benda-benda yang dipergunakan oleh rakyat Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan.

Adapun susunan kepanitiaan pada waktu itu adalah :

  • Ketua : Sri Paku Alam VIII
  • Wakil Ketua : Prof. Mr.A.G. Pringgodigdo
  • Sekretaris : I. Hutauruk
  • Bendahara : RM. Dryono
  • Anggota :
Kol. Bachrun, Overste Sarbini
Pemb. Komisaris Besar Polisi Sudjono Hadipranoto
R. Patah
Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo.


Selanjutnya Panitia Sementara Museum Perjuangan menyerahkan barang-barang yang berhasil dikumpulkannya, antara lain berupa :


1. Barang-barang berupa pakaian dan lain-lain yang dipakai oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman ketika bergerilya.

2. Tas yang dipergunakan Drs. Mohammad Hatta ketika perundingan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.

3. Barang-barang berupa senapan, juga pedang dari Aceh

4. Uang dengan jumlah beberapa ratus rupiah

5. Uang yang dijanjikan oleh Presiden Soekarno sebanyak Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah) dengan catatan supaya panitia monumen berhubungan langsung dengan beliau


Sejak saat itu kata Museum Perjuangan mulai digunakan lagi, dan menggeser kepopuleran kata Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional. Berita-berita yang muncul di koran-koran juga mendorong perubahan penyebutan dari Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional menjadi Museum Perjuangan.

Karena itulah, pada tanggal 14 Mei 1959 Museum Pusat TNI AD[2] menghubungi Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional di Yogyakarta dengan mengutus Kapten Kamari Sampurno untuk mengadakan pembicaraan dengan Soetardjo selaku Sekretaris Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional di Yogyakarta.

Dalam rapat pleno keempat tanggal 19 Juni 1959, ketua panitia teknik Prof. Ir. Soewandi memberikan penjelasan tentang rencana dan bentuk bangunan. Ide bentuk bangunan muncul dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Museum akan berbentuk bulat, sedang ornamen-ornamen akan diambilkan dari macam-macam candi.

Terkait dengan masalah permohonan dana ke pemerintah pusat, ditunjuk Soetardjo (Kepala Djapendi Yogyakarta) selaku Sekretaris Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional. Hasilnya pemerintah RI sanggup memberikan dana Rp 8.000.000, serta menyanggupkan diri hadir dalam peringatan 10 tahun Yogya Kembali.

Pada tanggal 29 Juni 1959 di Gedung Negara Yogyakarta (Gedung Agung) diadakan peringatan 10 tahun Yogya Kembali[3] yang dihadiri oleh tokoh-tokoh selama Agresi Militer Belanda II. Sebagai wakil pemerintah pusat hadir Wakil Perdana Menteri I Mr. Hardi yang mewakili Perdana Menteri Ir. Djuanda yang waktu itu sedang berada di luar negeri. Berkenan memberikan sambutan dalam acara tersebut antara lain Kepala Daerah dan Ketua DPRD Siswosoemarto dan Wakil Perdana Menteri I Mr. Hardi. Dalam sambutannya, Wakil Perdana Menteri I Mr. Hardi, mewakili pemerintah menyatakan persetujuannya terhadap pendirian Museum Perjuangan di Yogyakarta.

Pada tanggal 1 Juli 1959 bertempat di Gedung Wilis, Kepatihan, Yogyakarta, diadakan rapat pleno yang kelima. Rapat dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Dalam rapat tersebut berhasil dibentuk seksi-seksi beserta anggota. Adapun seksi-seksi tersebut antara lain :


Seksi l (Pembangunan Gedung Museum)

  • Ketua : Prof. Ir. Soewandi
  • Anggota : Soedarman
K.R.T. Mertosono
K.R.T. Mertopuro
Dr. Sahir Nitihardjo
Winoto


Seksi II (Pengumpulan Barang-barang dari pihak sipil)

  • Ketua : Darmosugito
  • Anggota : I. Hutauruk
Wakil dari Sonobudoyo
Soetardjo
Soesilo Prawirosusanto
Soenito Djojosoegito (EYD : Sunito Joyosugito


Seksi III (Pengumpulan Barang-barang dari pihak militer)

  • Ketua : Kapten Kamari Sampurno
  • Anggota: Dari Resimen Infantri 13
Dari KMK Jogjakarta


Seksi IV (Usaha sesudah Museum Jadi dan dibuka)

  • Ketua : AZ. Djojoaminoto
  • Anggota : S. Mangunpuspito
K.R.T. Kertoprodjo


Seksi V (Relief)

  • Ketua : Ny. Sahir Nitihardjo
  • Anggota: Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo
R. W. Probosoeprodjo
Soemardjo, L. E
Joemadi


Seksi VI (Administrasi Keuangan)

  • Ketua : S. Mangun Puspita
  • Anggota: AZ. Djojoaminoto (EYD : AZ. Joyoaminoto)
K.R.T. Kertoprodjo


Seksi VII (Penerangan dan Propaganda)

  • Ketua : Soetardjo
  • Anggota : Sdr. Prodjosudono
Toekidjo Handojo (EYD : Tukijo Handoyo)
Soedomo Bandjaransari


Laporan pelaksanaan tugas seksi-seksi tersebut disampaikan dalam rapat pleno tanggai 26 Juli 1959. Dengan mempertimbangkan masukan dan laporan-laporan dari tiap seksi maka ditetapkan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1959 dilakukan pemasanan patok pertama kali. Upacara pemasangan patok pertama dilakukan halaman ndalem Brontokusuman Yogyakarta. Upacara ini berlangsung tepat 12.00 WIB usai upacara resmi di Gedung Negara Yogyakarta (Gedung Agung) selesai. Hadir dalam acara tersebut antara lain para pembesar sipil maupun militer beserta tamu undangan. Karena Sri Sultan Hamengkubuwana IX sedang menjalani tugasnya di tempat lain maka pemasangan patok pertama dilaksakan oleh Sri Paku Alam VIII. Dengan demikian sudah dapat dipastikan tanda dimana gedung Museum Perjuangan Yogyakarta nantinya akan dibangun.


Pada tanggal 21 Agustus 1959 diadakan rapat pleno yang ke tujuh. Rapat ini dipimpin oleh Ketua Panitia Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan bertempat di Gedung Wilis, Kepatihan, Yogyakarta. Dalam rapat tersebut Sri Sultan Hamengkubuwana IX melaporkan hasil kunjungannya selama di Jakarta, antara lain keberhasilannya menemui Perdana Menteri Ir. Djuanda dan Menteri Keamanan Nasional Letnan Jenderal A.H. Nasution.


Mengenai uang Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) dari pemerintah pusat akan diatur dalam 3 termin, yaitu :

  • Termin pertama : tahun 1959 sebesar 3,5 juta.
  • Termin kedua : tahun 1960 sebesar 2,5 juta.
  • Termin ketiga : tahun 1961 sebesar 2 juta.


Pada tanggal 1 September 1959 diadakan pertemuan antara Seksi I (Pembangunan Gedung Museum) dengan para pemborong yang datang dari berbagai kota besar di Jawa seperti dari Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Malang dan Yogyakarta. Pertemuan tersebut diadakan di ruang Perpustakaan Djapendi. Penjelasan mengenai gambar proyek gedung museum dan cara-cara memasukkan penawaran diberikan oleh Soedarman.


Setelah melalui pemikiran, perhitungan biaya dan memasukkan penawaran, maka pada tanggal 28 September 1959 bertempat di Japendi, diadakan pertemuan pelelangan gedung Museum Perjuangan yang dihadiri oleh para pemborong yang telah memasukkan penawaran. Surat-surat penawaran dibuka, penawar tertinggi adalah E.I.C (Indonesian Engineering Corporation) dengan penawaran mendekati Rp 7.000.000. Dengan demikian I.E.C. merupakan pemenang dalam lelang pembangunan Museum Perjuangan. Surat pemberian pekerjaan dan kontrak telah diselesaikan oleh ketua direksi Soedarman (Kepala Djawatan Gedung-gedung Negeri di Yogyakarta).


Sebagai awal pembangunan gedung Museum Perjuangan, pada tanggal 5 Oktober 1959, bertepatan dengan Hari Angkatan Perang, dilakukan pencangkulan pertama. Kegiatan itu dilaksanakan setelah usai upacara peringatan hari Angkatan Perang di Makam Pahlawan Kusuma Negara Semaki, Yogyakarta. Upacara pencangkulan pertama berlangsung di ndalem Brontokusuman, dengan didahului kata pembukaan oleh sekretaris panitia Soetardjo, disusul dari direksi yang melaporkan jalannya pelelangan. Yang ketiga adalah dari pemborong yang disampaikan oleh Poegoeh (EYD : Puguh) dari I.E.C.selanjutnya pembacaan doa oleh Kyai Haji Badawi.


Akhirnya Sri Paku Alam VIII selaku Wakil Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta berkenan memberikan amanatnya. Selanjutnya para hadirin dipersilahkan menuju ke halaman muka mengelilingi patok yang teiah dipancangkan tanggal 17 Agustus 1959. Ayunan cangkul pertama dilakukan oleh Paku Alam VIII selaku Wakil Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta bersama para pembesar sipil, militer, polisi dan lain-lain. Dengan selesainya upacara pencangkulan pertama ini, pembangunan bangunan gedung museum dimulai.


Sesuai dengan laporan sekretariat dan seksi V (relief) pada sidang pleno ke sembilan tanggal 7 April 1960, Panita Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional di Yogyakarta telah membuat dua macam sayembara yaitu :

  • Hiasan Puncak gedung Museum
  • Kesatuan Patung Gerilya di muka Gedung Museum


Menurut rencana, sayembara ini akan ditutup tanggal 30 Juni 1960, tetapi mengingat ada beberapa kiriman naskah sayembara yang tidak sampai kepada alamat yang dituju (kembali) maka atas persetujuan rapat pleno, penutupan sayembara diundur sampai dengan tanggal 31 Juli 1960.


Pada permulaan bulan Agustus 1960, setelah diadakan pemeriksaan, ternyata terdapat 44 gambar yang memenuhi syarat. Gambar-gambar tersebut meliputi gambar hiasan puncak dan kesatuan patung gerilya. Menurut hasil pemeriksa panitia ahli selaku juri, tidak ada gambar yang memenuhi keinginan panitia, hingga tidak ada hadiah pertama yang dapat diberikan. Untuk sayembara hiasan puncak menurut penilian juri hanya ada satu yang mendekati keinginan panitia yaitu gambar yang berjudul "Purna Swaraj". Gambar inilah yang dinilai no. 2 dan dapat dipakai meski harus dengan beberpa perubahan. Sebagai penghargaan kepada penciptanya diberikan uang sebesar Rp 20.000,- (dua puluh ribu rupah). Untuk gambar Kesatuan Patung Gerilya hanya dapat hadiah sebesar Rp 5.000,- (lima ribu rupiah) kepada gambar yang berjudul "Mara Hanung".

Selanjutnya kepada F. A. Sutjipto, pencipta gambar hiasan puncak tersebut diminta menyempurnakan hasil kerjanya dengan petunjuk dari panitia ahli, yang pelaksanaannya diserahkan kepada Katamsi sebagai panasehatnya.

Hiasan dinding luar museum.

Disamping kesibukan menyelesaikan pembangunan gedung museum di Brontokusuman, kesibukan yang lain adalah pembuatan relfef, hiasan puncak dengan ornamen-ornamen gedung Museum perjuangan. Relief dibuat di desa Karangwuni, yang berada di beberapa kilometer di sebelah utara kota Yogyakarta. Tepatnya di rumah Edhi Soenarso yang diserahi tugas menyelesaikan relief dan patung-patung kepala para Pahlawan Kemerdekaan. Sedangkan hiasan puncak dibuat di sebelah timur kota , Mujamuju, Umbulharjo, Yogyakarta sebelah timur kota Yogyakarta.


Mengenai Pahlawan Nasional yang dibuat patung kepala ialah yang diambil tokoh-tokoh nasional yang kepahlawannya telah disahkan oleh Pemerintah. Menurut rencana ada 11 patung kepala pahlawan nasional yang akan dibuat namun berhubung hingga saat museum akan segera dibuka panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan mengalami kesulitan untuk mencari gambar Sisingamangaraja XII, maka terpaksa baru 10 buah patung kepala yang dibuat.


Karena banyaknya materi relief dan patung yang perlu diselesaikan maka diperlukan pengerahan tenaga para pelukis, pemahat dan pematung. Pembuatan relief dan patung dipimpin oleh Edhi Soenarso dibantu oleh guru-guru ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) dan pemahat, pematung yang tergabung dalam PIM (Pelukis Indonesia Muda) antara lain Soedarso, Abdul Salam, Hendrodjasmoro, Saptoto, Soetopo dan Boediani. dan SIM (seniman Indonesia Muda).


Disamping itu masih terdapat pelaksana yang terdiri dari 20 orang pokok dan 20 orang pembantu. Adapun yang membuat rencana sket selain anggota-anggota staf sendiri, juga mendapat sumbangan pikiran dari seniman-seniman lain seperti Suromo (SIM), Handrijo (PIM), Abdul Sidik (bekas siswa ASRI), Abdul kadir, Murtihadi dan Sindusawarno (Tamansiswa). Pembuatan relief mulai dikerjakan bulan Oktober 1960 dan pada pertengahan bulan April 1961 sudah dapat dipasang di dinding gedung museum.


Hiasan puncak merupakan sebuah proyek besar dengan ukuran dasar 3 meter dan tinggi 7 meter, maka pengerjaannya tidak dapat dikerjakan sekaligus, dan dibagi menjadi 3 bagian. Untuk membuat dasarnya dibutuhkan tanah liat kurang lebih seberat 11 ton dan gibs untuk cetakannya sebanyak 6 ton. Jika gibs cetakan telah selesai baru dibawa ke ndalem Brontokusuman untuk diatur di atas atap gedung museum.


Menurut keterangan pimpinan pembangunan gedung museum Soerodjo dari NV I.E.C. yang dibantu oleh Djoko Soenarso bersama teman-temannya, dijelaskan bahwa pelaksanaan pembangunan yang dianggap sukar adalah pengecoran koepeldak dan hiasan puncak. Potongan-potongan cetakan dari gibs mulai dinaikkan ke atas atap gedung museum. Setelah diatur sedemikian rupa baru masuk tahap pengecoran dengan beton yang dilakukan oleh I.E.C.. Menurut perhitungan bahwa jika seluruh hiasan puncak selesai dicor dengan beton maka beratnya mencapai kurang lebih 15 ton.Hal itu tidak perlu dikhawatirkan karena kekuatan atap dirancang hingga 45 ton.


Pembuatan proyek hiasan puncak ini diselenggarakan oleh murid-murid SGA III Prabangkara dibawah pimpinan Prawito, Saptoto dan Hendrodjasmoro. Selain hiasan puncak oleh Prabangkara juga dibuat relief, makara dan candrasengkala. Relief dalam hal ini merupakan ornamen perhiasan tiang-tiang dan mengelilingi dinding museum dengan mengambil motif api. Jumlah Makara yang dibuat dua buah dan ditempatkan di kanan dan kiri trap pintu masuk.


Candra Sengkala di atas pintu masuk dengan tulisan yang berbunyi "Anggatra Piriantining Kusuma Negara" yang memberi catatan 1959. Pencipta dari Candra Sengkala ini adalah R.M Kawindra Susanto dan pengecoran dilakukan kerjasama dengan NV.I.E.C. Setelah pembangunan Museum Perjuangan Yogyakarta mencapai tahap akhir, maka diadakanlah upacara pemasangan batu terakhir yang dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX selaku Ketua Panita Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional pada tanggal 29 Juni 1961 pada jam 19.00 WIB.


Setelah upacara pemasangan batu terakhir selesai, dilanjutkan upacara penyerahan gedung oleh Wakil NV I.E.C. yaitu Sdr. Poegoeh kepada Sri Sultan Hamengkubuwana IX selaku Ketua Panitia Monumen Setengah Abad Kebangkitan Nasional. Setelah upacara pemasangan batu terakhir selesai dilaksanakan, maka anggota panitia mengadakan rapat pleno yang ke sepuluh bertempat di ruang ndalem Brontokusuman. Dalam rapat tersebut selain diperdengarkan laporan dan seksi-seksi, juga dibicarakan hal-hal yang belum selesai terkait dengan pembukaan museum untuk umum. Setelah rapat selesai, Ketua panitia menyimpulkan bahwa pembukaan Museum Perjuangan Yogyakarta yang semula direncanakan tanggal 6 Juli 1961 diundur menjadi tanggal 5 Oktober 1961, bertepatan dengan peringatan Hari Angkatan Perang. Hal itu dengan pertimbangan, antara lain :


1. Persiapan interior museum belum selesai.

2. Diselenggarakannya Pekan Raya Dwi Windu Kemerdekaan RI dari tanggal 6 Juli -24 Agustus 1961.

3. Adanya pertunjukan Ballet Ramayana di Prambanan, hingga suasana tidak menguntungkan untuk membuka museum untuk umum.


Meski demikian, rencana tersebut juga tidak dapat terlaksana karena suatu hal. Akhirnya museum berhasil dibuka untuk umum pada tanggal 17 November 1961 oleh Sri Paku Alam VIII melalui sebuah upacara pembukaan.


Dari uraian di atas, secara ringkas proses pembangunan Museum Perjuangan Yogyakarta dapat disebutkan sebagai berikut :


1. Pemasangan Patok pertama tanggal 17 Agustus 1959 oleh Sri Paku Alam VIII sebagai tanda tempat akan dibangunnya Museum Perjuangan Yogyakarta.

2. Pencangkulan pertama tanggal 5 Oktober 1959 oleh Sri Paku Alam VIII sebagai tanda dimulainya pembangunan Museum Perjuangan Yogyakarta

3. Pemasangan batu terakhir tanggal 29 Juni 1961 oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX, sebagai tanda berakhirnya pembangunan Museum Perjuang Yogyakarta.

4. Upacara Pembukaan Museum tanggal 17 November 1961 oleh Sri Paku Alam VIII sebagai tanda dibukanya Museum Perjuangan Yogyakarta untuk umum.


Setelah museum dibuka untuk umum selanjutnya museum dikelola langsung oleh panitia setengah abad kebangkitan nasional di Yogyakarta. Meski demikian secara operasional pengelolaan Museum Perjuangan ditangani oleh Jawatan Penerangan Daerah Istimewa Yogyakarta (Japendi). Oleh karena pengelolaan museum ditangani oleh sebuah panitia dan bukan sebuah yayasan yang dibentuk untuk menanganinya, maka kegiatan Museum Perjuangan Yogyakarta mengalami pasang surut. Bahkan sempat tutup beberapa waktu lamanya.


Arti dan Makna Bangunan Museum Perjuangan[sunting | sunting sumber]

Bangunan Museum Perjuangan secara keseluruhan memiliki arti dan makna sesuai dengan tujuan bangunan didirikan. Bangunan gedung berbentuk bulat silinder dengan garis tengah 30 meter dan tinggi 17 meter. Bangunan ini merupakan perpaduan bentuk bangunan model zaman Romawi Kuno dengan bangunan model timur, yang dinamai "RONDE TEMPEL".


Di bagian kiri dan kanan pintu masuk museum terdapat hiasan makara berbentuk binatang laut. Bagian atap gedung berbentuk topi baja model Amerika dengan hiasan puncak lima buah bambu runcing yang berdiri tegak di atas bulatan dunia. Sedang bulatan dunia itu sendiri terletak di atas lima buah trap.


Di bagian atas pintu masuk museum terdapat hiasan berbentuk binatang bersudut delapan dengan peta kepulauan Indonesia di tengah-tengahnya. Di bawahnya ada candrasengkala ciptaan R.M Kuswaji Kawindro Susanto yang berbunyi : "Anggatra Pirantining Kusuma Nagara". Suryasengkala memiliki arti tahun pendirian museum yaitu 1959.


Di bagian depan pintu masuk museum terdapat trap berjumlah 17 buah. Kemudian daun pintu masuk berjumlah 8 buah. Jendela pada sekeliling dinding luar museum dipisahkan oleh pilar yang dihias ukiran lung-lungan menyerupai api yang tak kunjung padam berjumlah 45 buah. Selain itu juga dilengkapi dengan 10 patung kepala pahlawan nasional serta 37 relief sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak zaman pergerakan nasional sampai dengan pemulihan kedaulatan tahun 1950.

Bentuk bangunan tersebut secara keseluruhan mengandung arti simbolis bahwa Kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan bangsa Indonesia sendiri, bukan hadiah dari bangsa lain, masyarakat Indonesia adalah masayarakat yang adil makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan jumlah trap, daun pintu dan jendela melambangkan tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan. Hiasan pilar pemisah jendela ini memiliki arti simbolis semangat bangsa Indonesia yang tak pernah pudar dalam memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan melaksanakan pembangunan menuju masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.


Pengelolaan Museum Perjuangan Yogyakarta[sunting | sunting sumber]

1. Tahun 1961 - 1963, Museum Perjuangan Yogyakarta dikelola oleh Panita Setengah Abad Kebangkitan Nasional di Yogyakarta. Pada saat ini museum dibuka untuk umum dan terbuka bagi kunjungan masyarakat.


2. Tahun 1963 - 1969, di karenakan pendanaan museum ditutup untuk umum. Urusan perawatan gedung dan koleksi museum diserahkan kepada Museum Angkatan Darat waktu itu berkedudukan di Ndalem Brontokusuman, tepat di belakang Museum Perjuangan.


3. Tahun 1970 - 1974, museum masih tertutup untuk umum. Pada masa ini Museum Perjuangan Yogyakarta dalam pengawasan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta c.q. Inspeksi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Yogyakarta.


4. Tahun 1974 - 1980, museum tertutup untuk umum. Pada tahun 1974 Museum Perjuangan Yogyakarta oleh Pemerintah Daerah DIY diserahkan kepada Museum Sonobudoyo untuk dikelola sebagai bagian dari Museum Sonobudoyo. Pada masa ini pengelolaannya berada dibawah Bidang Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan (PSK) Kanwil Depdikbud Prop.Yogyakarta. Selanjutnya oleh PSK dilakukan pemugaran.


5. Tahun 1980 - 1997, museum berada dibawah pengelolaan Museum Sonobudoyo.Tanggal 30 Juni 1980 museum mulai dibuka untuk umum dibawah Museum Negeri Sonobudoyo/Direktorat Permuseuman Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan dipimpin oleh seorang koordinator.


6. Tahun 1997 - sekarang, museum berada di bawah pengelolaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.Tanggal 5 September 1997 Museum Sonobudoyo menyerahkan pengelolaan Museum Perjuangan kepada Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Tanggal 27 Mei 2006, Museum Perjuangan Yogyakarta rusak akibat gempa dan ditutup untuk umum. Tahun 2007 Museum Perjuangan Yogyakarta diadakan pemugaran dan dibuka untuk umum bulan Juli 2008.


7. Pada bulan Juli Tahun 2008 di Museum Perjuangan juga ditempatkan koleksi-koleksi sejarah Persandian Indonelia di lantai bawah dan lebih dikenal Museum Sandi yang dikelola oleh Lembaga Sandi Negara.


Koleksi-koleksi museum[sunting | sunting sumber]

Koleksi museum dibedakan menjadi dua yaitu di dalam dan di luar.

1. Tata Pameran di Luar Gedung


  • Patung Kepala Pahlawan Nasional yang berjumlah 10 buah. Berikut nama-nama kesepuluh pahlawan tersebut.

a. Sultan Hasanuddin

b. Kapitan Pattimura

c. Pangeran Diponegoro

d. Tuanku Imam Bonjol

e. Teuku Umar

f. R.A Kartini

g. Dr. Wahidin Soedirohoesodo

h. Ki Hadjar Dewantara

i. Mohammad Husni Thamrin

j. Jenderal Soedirman

Koleksi Museum Perjuangan Yogyakarta.


  • Koleksi relief yang menceritakan peristiwa sejarah sejak dari masa lahirnya Budi Utomo sampai dengan masa bersatunya lagi pemerintahan RI yaitu dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1950.

1. Lahirnya Budi Utomo

2. Lahirnya Sarekat Islam

3. Lahirnya National Indische Partij

4. Lahirnya Muhammadiyah

5. Lahirnya [Taman Siswa]]

6. Perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda

7. Lahirnya Partai Nasional Indonesia

8. Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia

9. Kongres Pemuda II

10. Kongres Wanita Indonesia

11. Lahirnya Gabungan Politik Indonesia (GAPI)

12. Perang Dunia II

13. Penindasan Jepang

14. Menyerah Jepang kepada Sekutu

15. Proklamasi kemerdekaan Indonesia

16. Gema proklamasi dalam peristiwa IKADA (Ikatan Atletik Djakarta)

17. Konsolidasi kekuasaan Jepang oleh rakyat Indonesia

18. Insiden Bendera Tunjungan di Surabaya

19. Pemberontakan Tentara Keamanan Rakyat

20. Kongres Pemuda I

21. Sidang I Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat

22. Perpindahan ibukota RI ke Yogyakarta

23. Perang Puputan di Bali

24. Berdirinya Universitas Gajah Mada

25. Peristiwa Bandung Lautan Api

26. Politik Diplomasi tahun 1948

27. Pengankutan eks tahanan warganegara Belanda dan eks tentara Jepang

28. Agresi Militer Belanda I

29. Kongres Kebudayaan di Magelang tahun 1948

30. Pekan Olahraga Nasional di Solo

31. Agresi Militer Belanda II

32. Serangan Umum 1 Maret 1949

33. Penarikan tentara Belanda dari Yogyakarta

34. Para Pemimpin Negara kembali ke Yogyakarta 6 Juli 1949

35. Konferensi Meja Bundar

36. Pengakuan Kedaulatan RI oleh Belanda 27 Desember 1949

37. Terbentuknya Republik Indonesia Serikat



2. Tata Pameran Kedua di dalam ruang (Indoor) antara lain :


1. Replika meriam yang dltemukan di dalam kompleks Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

2. Miniatur Kapal Armada Laut Belanda

3. Meja kursi tamu kapten Widodo, Sepeda Tentara Pelajar

4. Replika Senjata Senladu VOC yang beru|ud laras pendek

5. Buku Ilmu Kedokteran dari Stovia

6. Barang-barang milik R.M Soerjopranoto yang berwujud udheng (penutup kepala), mesin. ketik, dan peralatan makan (piring dan enthong)

7. Miniatur Kepanduan yang terdiri dari: Miniatur Pandu Hizbul Wathan (HW ). Miniatur Pandu Rakyat, dan Miniatur Pramuka

8. Tugu KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia)

9. Pakaian Pandu Mataram bagian Wanita

10. Keranjang rumput yang dipakai oleh para pejuang di Bali

11. Mata Uang VOC. Klise mala uang ORI dan uang ORI

12. Meja Guru Militer Akademi Yogyakarta

13. Perlengkapan milik Tjilik yang merupakan pejuang dari Bali yang tongkat, bumbung, perples, cangkir bambu, pinggang rotan, dan dokumen perjuangan.

14. Perlengkapan Ir. Soekarno di Rengasdengklok yang terdiri dari tempat tidur, meja, kursi dan peralatan minum milik Djiaw Kie Slong.

15. Perlengkapan Milik Soekimin, salah seorang anggota [[Tentara Pelajar]] yang terdiri dari arsip surat-surat penting, buku catatan harian, topi pakaian Tentara Pelajar, dan Bendera Merah Putih.

16. Perlengkapan SPN (Sekalah Polisi Negara) di Nanggulan, yang terdiri dari Meja, kentongan, dan lampu senthir.

17. Tas Kayu, Bambu Runcing, Samurai, Radio Perjuangan, Lumpang batu

18. Plakat-plakat perjuangan

19.Kentongan Kesekretariatan MBKD ( Markas Besar Komando Djawa)

2O.Perlengkapan Kepolisian yang dipakai Kepolisian Gunungkidul sebelum tahun 1958.

27. Tas Kulit Milik Drs. Moh.Hatta

28. Peralatan Minum Pangsar Jenderal Sudirman

29. Perlengkapan Kolonel Zulkifli Lubis dan Letkol. Suhano

30. Replika Patung Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Dr.Soetomo, Tirto Koesoemo, K.H.A Dahlan, R.M. Soerjopranoto, Adi Sutjipto, Ir. Soekarno, Letjend. Oerip Soemoharjo, Drs. Moh. Hatta.

31. Lukisan-lukisan peristiwa sejarah, yaitu : Pernyataan Negeri Ngayogyakarta, Pengibaran Bendera Merah Putih di Gedung Agung, Korban Pertempuran Kotabaru, Penawanan Tentara Pelajar di daerah Prambanan, Serangan Umum 1 Maret 1949, Dapur Umum di daerah Gerilya di Kulonprogo.


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://www.jogjakota.go.id/index/extra.detail/21,Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Daerah tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.
  2. ^ http://www.disjarah-ad.org/museum-pusat-ad.html
  3. ^ http://www.tempo.co/read/news/2012/02/27/177386688/Peristiwa-Yogya-Kembali-Diusulkan-Diperingati,Peristiwa bersejarah "Yogya Kembali" yang berlangsung 29 Juni 1949 dianggap layak diperingati sebagai peristiwa nasional. Ide itu muncul menjelang peringatan 63 tahun "Serangan Oemoem 1 Maret" dan "Yogya Kembali" di Kota Yogyakarta.
  • Dadun Widoyoko (1993). Selayang Pandang Museum Perjuangan Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
  • Depdikbud (1977). Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta. Proyek Penelitian dan Pencacatan Kebudayaan Daerah. 
  • Djamal Marsudi, dkk (1985). Yogyakarta Benteng Proklamasi. Barahmus DIY. 
  • Museum Perjuangan Yogyakarta (1961). Sedjarah Musium Perdjuangan Yogyakarta, Panitia Setengah Abad Kebangkitan Nasional Jogjakarta. Museum Perjuangan. 


Lihat pula[sunting | sunting sumber]