Minyak cengkeh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Minyak cengkeh berwarna bening kekuningan

Minyak cengkeh atau minyak cengkih adalah minyak atsiri yang dihasilkan dari penyulingan bagian tanaman cengkeh, terutama daun dan bunga cengkeh.[1]:52 Seluruh bagian tanaman cengkeh mengandung minyak, namun bunganya memiliki kandungan minyak yang paling banyak.[2]:27 Karena daun dan ranting cengkeh juga menghasilkan minyak, keduanya pun menjadi penghasilan sampingan bagi petani cengkeh yang memanen bunga cengkeh untuk rokok. Mereka cukup mengumpulkan daun dan ranting yang runtuh di sekitar pohon dan melakukan penyulingan sederhana untuk mendapatkan minyak cengkeh kasar.[3]:27

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pembaharu bidang kedokteran asal Swiss, Philippus Aureolus Paracelcus pada abad ke 16 memperkirakan bahwa tanaman yang berbau harum mendapatkan aromanya dari senyawa tertentu di dalamnya. Ia menyebutnya quinta essentia. Hipotesanya tersebut menjadi kunci lahirnya industri minyak atsiri di Eropa. Produksi pertama minyak cengkeh tidak terlepas dari sejarah penjajahan bangsa Belanda di Indonesia. Di Eropa ketika itu sedang populer minyak lavender, yaitu minyak atsiri yang merupakan hasil penyulingan bunga lavender. Tak lama kemudian dengan kehadiran cengkeh ke Eropa, berbagai tanaman yang berbau harum, termasuk cengkeh, disuling untuk mendapatkan minyaknya.[3]:3

Kandungan kimia[sunting | sunting sumber]

Minyak cengkeh mengandung eugenol sebanyak 78-98 persen.[4]:125 Zat tersebut dihasilkan dari kelenjar minyak yang terdapat pada permukaan badan bunga cengkeh.[4]:24

Secara umum, daun dan ranting cengkeh mengandung eugenol dengan konsentrasi lebih banyak dibandingkan bunga cengkeh. Pada minyak yang dihasilkan dari daun cengkeh terdapat 82-88% eugenol, dan pada ranting mencapai 90-95%. Dibandingkan minyak dari bunga cengkeh yang hanya mengandung 60-90% eugenol, sisanya adalah eugenyl asetat, caryophyllene, dan senyawa minor lainnya.[5]

Indonesia dan Madagaskar merupakan produsen utama minyak cengkeh.[5]

Manfaat[sunting | sunting sumber]

Minyak cengkeh digunakan dalam industri untuk pembuatan obat gigi, penyedap rasa, parfum[4]:16, sebagai anti jamur, anti bakteri, dan anti serangga.[6]:29 Minyak cengkeh juga dapat digunakan sebagai pembius ikan pengganti sianida[3]:9 sehingga usaha penangkapan ikan hidup dapat lebih ramah lingkungan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Kuwait University menemukan bahwa minyak cengkeh memiliki efektivitas yang setara dengan benzocain sebagai pereda nyeri di dalam mulut.[7][8][9] Meski terkenal sebagai obat pereda sakit gigi, namun FDA meragukannya.[10]

Trivia[sunting | sunting sumber]

Minyak cengkeh hadir dalam novel Perfume karangan Patrick Süskind. Dalam novel tersebut, disebutkan bahwa minyak cengkeh merupakan salah satu campuran untuk menghasilkan minyak wangi beraroma kuat hingga mampu membangunkan orang yang pingsan.[11]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dian Malini (2006). 20 ramuan esensial nusantara untuk cantik dan bugar. ISBN 9797814157. 
  2. ^ Kardinan, A. Tanaman Pengendali Lalat Buah. Agromedia. ISBN 9793357290. 
  3. ^ a b c Minyak Asiri. PT Niaga Swadaya. 
  4. ^ a b c Aak. Petunjuk Bercocok Tanam Cengkeh. Kanisius. ISBN 9794135984. 
  5. ^ a b Lawless, J. (1995). The Illustrated Encyclopaedia of Essential Oils. ISBN 1-85230-661-0. 
  6. ^ Kardinan, A. Tanaman Pengusir & Pembasmi Nyamuk. Agromedia. ISBN 9793357177. 
  7. ^ Alqareer, Athbi; Asma Alyahya, Lars Andersson (November 2006). "The effect of clove and benzocaine versus placebo as topical anesthetics". Journal of Dentistry 34 (10): 747–750. doi:10.1016/j.jdent.2006.01.009. PMID 16530911. 
  8. ^ O'Connor, Anahad (2011-02-17). "Remedies: Clove Oil for Tooth Pain". The New York Times. Diakses 2012-05-06. 
  9. ^ "Cloves". American Cancer Society. Diakses 2012-05-06. 
  10. ^ "Clove". MedlinePlus. NIH. 
  11. ^ novel Perfume bab sembilan halaman 91