Membaca

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Seorang anak lelaki sedang membaca komik Marvel.

Membaca adalah kegiatan meresepsi, menganalisa, dan mengintepretasi yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan.[1]Kegiatan membaca meliputi membaca nyaring dan membaca dalam hati.[2]Membaca nyaring adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan cara membaca keras-keras di depan umum.[3]Sedangkan kegiatan membaca dalam hati adalah kegiatan membaca dengan seksama yang dilakukan untuk mengrti dan memahami maksud atau tujuan penulis dalam media tertulis.[4] Membaca nyaring adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan cara membaca keras-keras di depan umum. Proses membaca nyaring ini sering digunakan oleh seseorang untuk menyampaikan gagagsan terhadap orang lain dengan cara membaca teks yang ada. Membaca dengan metode ini dilakukan dalam bentuk pidato, khotbah, debat, diskusi, wawancara, dan segala kegiatan yang berurusan tentang penyampaian di depan umum. Membaca dalam hati adalah kegiatan membaca dengan seksama yang dilakukan untuk mengrti dan memahami maksud atau tujuan penulis dalam media tertulis. Membaca dalam hati meliputi dua aspek yaitu membaca ekstensif (extensive reading) dan membaca intensif (intensive reading). Membaca ekstensif adalah tahapan awal dimana pembaca dituntut untuk bisa menyurvei atau menilai dengan membaca secara sekilas mau pun membaca dangkal. Sedangkan membaca intensif merupakan tahapan lanjutan untuk dapat memahami isi dan memahami konteks bahasa dalam yang digunakan dalam penulisan. Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca.


Manfaat Membaca[sunting | sunting sumber]

Kita tahu bahwa buku adalah jendela dunia, untuk mengetahu isi sebuah buku kita perlu memiliki kemampuan membaca. Banyak sekali manfaat yang akan didapat dengan membaca. Manfaat dari membaca untuk kita adalah :

  1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
  2. Ketika sibuk membaca, sesorang terhalang masuk dalam kebodohan.
  3. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
  4. Membaca membatu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
  5. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
  6. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan para sarjana.
  7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi di dalam hidup.
  8. Keyakinan seseorangakan bertambah ketika dia membaca buku2 yang bermanfaat, terutama buku2 yang ditulis oleh penulis2 muslim yag saleh. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.
  9. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia2.
  10. Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebihlanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “di antara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat.

Membaca Pada Anak[sunting | sunting sumber]

Permasalahan seputar waktu yang tepat untuk mengajarkan anak membaca pernah menjadi perbincangan yang hangat. Ada yang pro dengan mengajarkan anak membaca di usia dini dan ada juga yang kontra. Sebenarnya anak yang diajarkan membaca sejak dini, sangat mempengaruhi kemampuan membaca anak di masa depan. Dolores Durkin merupakan peneliti yang pertama kali mendalami masalah ini pada tahun 1958-1964 dan mengadakan berbagai studi untuk menelitinya. Apa kesimpulan yang dapat diambil dari studi selama 6 tahun ini?

  1. Anak yang bisa membaca sejak dini ternyata senantiasa bisa mengungguli kemampuan membaca anak yang terlambat, hingga ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
  2. Kemampuan membaca sejak dini ternyata tidak berhubungan dengan IQ anak, namun sangat berhubungan dengan suasana rumah dan keluarganya. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata muncul dari keluarga yang memiliki perhatian dan usaha ekstra dalam membantu mereka belajar membaca.
  3. Kemampuan membaca sejak dini juga tidak berhubungan dengan kondisi sosial-ekonomi. Anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata memiliki orang tua yang mau menyempatkan waktu untuk kegiatan membaca bersama anaknya, walaupun latar belakang sosial-ekonomi mereka berbeda-beda.

Teori FlashCard[sunting | sunting sumber]

Para ahli mengatakan bahwa bayi sangatlah jenius terhadap bahasa. Sebagai contoh, coba kita lihat… bagi setiap bayi yang lahir di Indonesia, bahasa Indonesia merupakan bahasa asing – tidak bedanya dengan dengan bahasa Inggris atau Rusia. Namun apa yang terjadi? Ternyata si bayi bisa mempelajari bahasanya! Bagaimana ia mempelajarinya? Anda bisa saja dengan bangganya mengatakan bahwa Anda yang yang telah mengajarinya, tapi kalau mau jujur, paling-paling Anda hanya mengajari ‘Mama’, ‘Papa’ dan sebagian kecil kata saja, ya kan? Lalu bagaimana dengan ribuan kosakata, berikut dengan cara pengucapannya yang benar yang diserap oleh si kecil – apakah Anda yang mengajarkannya secara khusus? Para ahli menyimpulkan, bahwa anak-anak mempelajari bahasanya melalui konteks, bukan dengan cara diajarkan satu per satu dari daftar koleksi kata berikut dengan artinya (ini persisi seperti yang diajarkan pada umumnya di sekolah-sekolah ketika mengajarkan bahasa asing ataupun ketika mengajarkan anak membaca). Oleh sebab itu, para ahli menganjurkan agar ketika mengajarkan anak membaca, kita hendaknya mengolah bahasa dalam bentuk tulisan sebagaimana kita mengolah bahasa dalam bentuk pembicaraan. Artinya, kita sebaiknya membuat proses belajar membaca untuk bayi sesederhana mungkin. Dengan begini, anak kecil bisa belajar membaca secara alami dan tanpa ia sadari – sebagaimana ia belajar berbicara dengan bahasa ibunya. Untuk bisa memahami bahasa melalui telinga, diperlukan 3 persyaratan:

  1. Lantang
  2. Jelas
  3. Diulang-ulang

Dan tanpa disadari, seorang ibu biasanya berbicara kepada bayinya dengan 3 elemen ini; lantang,jelas dan diulang-ulang. Alasan utama mengapa kebanyakan bayi tidak menyerap bahasanya melalui mata menuju ke otaknya sebagaimana bahasa tersebut diserap melalui telinga menuju otaknya, adalah karena ternyata untuk bisa membaca bahasa tersebut, diperlukan bahasa yang disajikan kepada penglihatannya dalam bentuk yang besar, jelas dan diulang-ulang. Dan inilah yang gagal diberikan oleh kebanyakan orang tua kepada bayinya – menyajikan kata-kata dalam bentuk besar, jelas dan diulang-ulang, sehingga anak-anak bisa belajar dengan sangat mudah.

Tekhnik Membaca Kilat[sunting | sunting sumber]

Membaca 1 Halaman per Detik adalah hal mungkin untuk dilakukan semua orang. Tekhnik membaca ini dikenal dengan tekhnik baca kilat. Tekhnik ini pertama kali ditemukan oleh Agus Setiawan, seorang subconscious coach. Baca kilat adalah teknik baru dalam dunia membaca. Perbedaannya dibandingkan dengan teknik membaca biasa adalah teknik ini langsung merekam bacaan dalam pikiran bawah sadar. Itu artinya memori yang disimpan lebih awet dan tahan lama daripada membaca dengan teknik biasa yang menggunakan pikiran sadar. Teknik baca kilat ini dirancang agar para pembacanya bisa membaca dan memahami buku satu halaman dalam waktu hanya satu detik. Baca kilat menggunakan teknik dimana informasi yang didapat langsung dimasukkan ke dalam pikiran bawah sadar yang mampu menyimpan kebiasaan, memori jangka panjang, keyakinan, keahlian, karakter dan intuisi. Dengan tekhnik membaca kilat memungkinkan kita membaca dan mampu memahami isi keseluruhan sebuah buku kurang dari lima menit. Ada beberapa langkah untuk mengembangkan kemampuan membaca kilat ini :

1. Kondisi Genius Baca Kilat adalah membaca dengan menggunakan pikiran bawah sadar. Sedangkan alam bawah sadar identik dengan gelombang alfa. Kondisi genius dapat digunakan untuk memudahkan pikiran untuk mencapai gelombang alfa. Gelombang ini merupakan gelombang frekuensi hati yang ikhlas. Dengan demikian, bila pikiran telah masuk ke gelombang hati yang ikhlas maka ilmu akan cepat sekali diterima oleh otak. Dengan kata lain, pada tahap ini kondisikan pikiran senyaman mungkin terlebih dahulu.

2. Pandangan Mata Reseptif Mata manusia sebenarnya memiliki kemampuan super. Sel mata kita terdiri dari sel batang dan sel kerucut. Pikiran bawah sadar (yang berhubungan dengan sel kerucut) mampu merekam objek dengan sangat kuat dan masuk ke pikiran kita tanpa perlu melewati pikiran sadar. Hal inilah yang akan dikembangkan untuk teknik Baca Kilat. Karena objek yang akan kita scan adalah buku, maka kita harus mengaktifkan Pandangan Mata Reseptif ini ke dalam buku. Caranya, posisikan buku seperti sedang membaca buku seperti biasa. Fokuskan arah pandangan mata Anda sedikit meleset ke atas buku namun, melesetnya tetap simetris dengan kanan kiri buku. Dan walaupun mata Anda tidak fokus ke arah buku itu, usahakan buku itu tetap selalu terlihat oleh mata . Jika melakukan cara ini dengan benar, maka buku tersebut akan tampak seolah ada gelembung kertas di tengah-tengah buku di antara halaman kanan dan kiri buku. Itu adalah halaman imajiner, akibat dari Anda mengaktifkan Pandangan Mata Reseptif ke arah buku.

3. Afirmasi Afirmasi adalah menetapkan sugesti positif ke pikira. Sebenarnya ini berlaku untuk semua hal tidak hanya untuk Baca Kilat saja. Setiap kita ingin melakukan sesuatu kita perlu optimis dalam mencapai tujuan dari hal tersebut. Jika daalam membaca tujuannya ingin memori jangka panjang terhadap apa yang dibaca secara sempurna, maka bisikan afirmasi tersebut dengan tenang.

4. Baca Kilat Ini adalah tahapan yang paling krusial dari Baca Kilat, yaitu melakukan Baca Kilat itu sendiri. Dalam kondisi Pandangan Mata Reseptif dan Anda masih melihat halaman imajiner pada buku, pertahankan terus halaman imajiner tersebut lalu buka halaman demi halaman buku. Lakukan seperti ini terus sampai buku selesai di baca.

5. Tutup Setelah selesai membolak balik buku, cukup tutup buku tersebut tanpa keraguan. Percayalah bahwa sel batang mata telah sukses memasukkan informasi ke pikiran bawah sadar.

6. Afirmasi dan Visualisasi setelah selesai membaca, kita juga perlu melakukan afirmasi untuk menegaskan dan memperkuat kembali bahwa sel kerucut mata bekerja dengan baik menyimpan informasi dalam memori jangka panjang. Berikut contoh kalimat afirmasi setelah selesai membaca : “Memori jangka panjang saya telah menyerap semua informasi yang saya butuhkan dan memprosesnya. Pikiran dan tubuh saya akan berkomunikasi kepada saya saat saya membutuhkan informasi ini secara sadar maupun tidak sadar” Setelah afirmasi selesai, lanjutkan dengan visualisasi. Lakukan visualisasi bahwa semua informasi yang didapatkan masuk ke pikiran dengan sangat sistematis dan tersusun rapi di kepala kita, sehingga memudahkan untuk diakses kembali.

7. Tidur Tidurlah. Karena dengan tidur maka kita akan mengalami proses inkubasi alias pengendapan. Seluruh informasi yang telah didapatkan perlu diendapkan dalam pikiran Anda. Salah satu caranya adalah tidur.

8. Aplikasikan Setelah bangun tidur, Anda bisa mulai mengaplikasikan Baca Kilat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berhadapan dengan situasi yang berkaitan dengan apa yang telah kita baca, kita akan mamu merasakan dan mengingat kembali apa yang telah dibaca sebelumnya, seperti layaknya ‘dejavu’.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Agus Setiawan. Baca Kilat : Kiat Membaca 1 detik/ halaman. Gramedia http://www.tipsbayi.com/metode-belajar-membaca.html http://www.hidayatjayagiri.net/2013/02/cara-mengajarkan-membaca-pada-anak.html http://www.bacakilat.com/

Lihat pula[sunting | sunting sumber]


Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Henry Guntur Tarigan (1979). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Bahasa. Bandung: Angkasa. 
  2. ^ Henry Guntur Tarigan (1979). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Bahasa. Bandung: Angkasa. 
  3. ^ Henry Guntur Tarigan (1979). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Bahasa. Bandung: Angkasa. 
  4. ^ Henry Guntur Tarigan (1979). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Bahasa. Bandung: Angkasa.