Masjid Nurul Iman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Koordinat: 0°57′17″LS 100°21′44″BT / 0,9548°LS 100,36224°BT / -0.9548; 100.36224

Masjid Nurul Iman
Nurul Iman mosque.JPG

Masjid Nurul Iman, dilihat dari Jalan Imam Bonjol

Letak Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
Pembukaan tanah 1958
Tahun selesai 1976
Renovasi 2007
Biaya pembangunan Rp18,4 miliar
Spesifikasi
Kubah 1
Menara 1

Masjid Nurul Iman atau juga dikenal sebagai Masjid Presiden adalah masjid yang terletak di pertigaan Jalan Imam Bonjol dan Jalan Muhammad Thamrin, Kota Padang, Sumatera Barat. Masjid ini merupakan salah satu masjid terbesar di kota Padang.[1]

Masjid Nurul Iman mulai dibangun pada tahun 1958. Ledakan bom hampir meluluhlantakkan masjid ini pada tahun 1976.[2] Mengingat kondisi bangunan yang sudah tidak layak akibat ledakan bom tersebut, masjid ini mulai dibongkar untuk dibangun kembali pada tahun 2004. Dengan didukung APBD, pada tahun 2007 pembangunan kembali Masjid Nurul Iman dapat diselesaikan. Namun akibat gempa bumi di Sumatera Barat pada tahun 2009, Masjid Nurul Iman kembali mengalami kerusakan.[1]

Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid dua lantai ini juga digunakan sebagai kantor untuk sekretariat Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) kota Padang.[3]

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Masjid Nurul Iman memiliki satu kubah besar di bangunan utama dan menara yang terpisah dari bangunan utama. Masjid ini terdiri dari dua lantai dengan disangga 30 tiang. Enam belas tiang di antaranya adalah tiang penyangga utama yang terletak di tengah bangunan utama. Nuansa warna hijau mendominasi kubah dan menara masjid, dilengkapi dengan hiasan motif bintang segilima pada ornamen dinding dan pagar masjid. Keunikan dari masjid ini terletak pada jenjang menuju lantai dua yang dapat ditemukan di setiap sudut ruangan. Selain itu, lantai tempat jemaah melakukan ibadah salat juga dirancang dengan nuansa kayu yang lembut dirasakan di kaki jemaah.[4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masjid Nurul Iman, tampak di belakang adalah Lapangan Iman Bonjol

Pembangungan Masjid Nurul Iman mulai dilakukan pada 26 September 1958, ketika jabatan Gubernur Sumatera Barat dijabat oleh Kaharudin Datuk Rangkayo Basa. Dibangun di atas lahan seluas 1,18 hektare, masjid ini direncanakan akan memiliki 2 lantai dengan luas masing-masing 2.674 m².[5] Namun hingga tahun 1966, pembangunan masjid ini belum dapat diselesaikan. Pembangunan Masjid Nurul Iman mulai dilanjutkan setelah mendapat uluran tangan pemerintah.[6] Saat itu, pembangunan masjid telah menghabiskan biaya sekitar Rp300 juta.

Pada 1976, masjid ini sudah mendekati tahap penyelesaian dan telah dapat difungsikan untuk salat Jumat. Namun dua tahun kemudian, masjid ini hampir diluluhlantakkan oleh ledakan bom. Pada 11 November 1976 pukul 22.20, ledakan bom merusak masjid ini. Menurut keterangan dari pihak keamanan disebutkan bahwa bom tersebut sepertinya diatur untuk meledak ketika pelaksanaan ibadah salat Jumat keesokan harinya, namun bom meledak lebih dini, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Ledakan bom tersebut menyebabkan loteng masjid di lantai satu mengalami kerusakan parah. Sedangkan jendela kaca di beberapa bagian pecah. Meski sempat ditutup sementara untuk penyelidikan, namun menjelang waktu salat Jumat masjid ini kembali dibuka untuk umum. Hingga kini pihak kepolisian belum berhasil menangkap pelaku bom tersebut.[2]

Pada masa jabatan Gubernur Sumatera Barat dijabat oleh Zainal Bakar, masjid ini menurut rencana akan dibongkar untuk dirombak total.[7] Namun sampai masa jabatannya berakhir pada tahun 2005, proses pengerjaan pembongkaran masjid terkesan terbengkalai. Sehingga selain mengganggu proses peribadatan, juga menimbulkan kekecewaan dari berbagai kalangan. Kemudian pada masa peralihan tugas Gubernur Sumatera Barat ke tangan Gamawan Fauzi, bangunan masjid telah dibongkar sebagian. Dalam waktu yang cukup lama, Masjid Nurul Iman tidak dapat lagi digunakan. Pembagunan kembali masjid ini dapat diselesaikan pada tahun kedua pemerintahan Gamawan Fauzi, setelah sekitar Rp18,4 miliar dikucurkan dari APBD Sumatera Barat. Peresmiannya dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 7 Juli 2007. Saat upacara peresmian tersebut, masjid ini belum sepenuhnya rampung, yaitu bangunan menara lama masih dalam proses pengerjaan.[5]

Dua tahun setelah diresmikan, masjid ini kembali mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang melanda Sumatera Barat pada 30 September 2009. Masjid ini merupakan satu dari 608 unit tempat ibadah di Sumatera Barat yang mengalami kerusakan, yaitu dinding dan sebagian lantai di lantai dua rusak parah. Namun struktur tahan gempa masjid ini tetap bekerja dengan baik.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b www.eqclearinghouse.org Masjid Nurul Iman: Padang Earthquake Clearinghouse. Diakses pada 18 Maret 2012.
  2. ^ a b majalah.tempointeraktif.com Bom Di Nurul Imam, 27 November 1976. Diakses pada 18 Maret 2012.
  3. ^ www.minangkabaunews.com Masjid Nurul Iman Dipadati Jemaah I'tikaf. Diakses pada 18 Maret 2012.
  4. ^ Masjid Nurul Iman kota Padang, Sumatera Barat. Diakses pada 18 Maret 2012.
  5. ^ a b www.antaratv.com Wapres Tersinggung Fotonya Untuk Tutup Menara (yang) Terbengkalai. Diakses pada 18 Maret 2012.
  6. ^ a b www.harianhaluan.com Masjid Nurul Iman Segera Diperbaiki. Diakses pada 18 Maret 2012.
  7. ^ www.rifkadejavu.com Majsid Nurul Iman Padang (Antara Kekhusyukan dengan). Diakses pada 18 Maret 2012.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]