Masalah sosial

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
India10 (10705167055).jpg

Masalah Sosial adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan atau sebagai kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang seharusnya (Jenssen, 1992).[1] Masalah sosial dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai sesuatu kondisi yang tidak diharapkan.[2]

Karakteristik[sunting | sunting sumber]

  1. Kondisi yang dirasakan banyak orang.[1]
    Suatu masalah baru dapat dikatakan sebagai masalah sosial apabila kondisinya dirasakan oleh banyak orang.[1] Namun,tidak ada batasan mengenai berapa jumlah orang yang harus yang harus merasakan masalah tersebut.[1] Jika suatu masalah mendapat perhatian dan pembicaraan yang lebih dari satu orang, masalah tersebut adalah masalah sosial.[1]
  2. Kondisi yang dinilai tidak menyenangkan.[1]
    Menurut paham hedonisme, orang cenderung mengulang sesuatu yang menyenangkan dan menghindari sesuatu yang tidak mengenakkan.[1] Orang senantiasa menghindari masalah, karena masalah selalu tidak menyenangkan.[1] Penilaian masyarakat sangat menentukan suatu masalah dapat dikatakan sebagai masalah sosial.[1]
  3. Kondisi yang menuntut perpecahan.[1]
    Suatu kondisi yang tidak menyenangkan senantiasa menuntut pemecahan.[1] Umumnya, suatu kondisi dianggap perlu dipecahkan jika masyarakat menganggap masalah tersebut perlu dipecahkan.[1] Pada waktu lalu, masalah kemiskinan tidak dikategorikan sebagai masalah sosial, karena waktu itu masyarakat menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang alamiah dan masyarakat belum mampu memecahkannya.[butuh rujukan] Sekarang, setelah masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggulangi kemiskinan, kemiskinan ramai diperbicangkan dan diseminarkan, karena dianggap sebagai masalah sosial.
  4. Pemecahan masalah tersebut harus diselesaikan melalui aksi secara kolektif.[1]
    Masalah sosial berbeda dengan masalah individual.[1] Masalah individual dapat diatasi secara individual, tetapi masalah sosial hanya dapat diatasi melalui rekayasa sosial seperti aksi sosial, kebijakan sosial atau perencanaan sosial, karena penyebab dan akibatnya bersifat multidimensional dan menyangkut banyak orang.[1]

Upaya pengendalian[sunting | sunting sumber]

  • Sosialisi
Fromm (1994) menyatakan bahwa jika suatu masyarakat ingin berfungsi secara efisien, maka anggotanya harus memiliki sifat yang membuat mereka ingin berbuat sesuai dengan apa yang harus mereka lakukan sebagai anggota masyarakat.[3] Mereka harus menghentikan kegiatan mereka secara obyektif perlu mereka melakukan. Orang dapat dikendalikan dengan mensosialisasikannya kepada mereka, sehingga mereka menjalankan peran sesuai dengan apa yang diharapkan.[3]
  • Tekanan sosial
Ketika seseorang mengalami tekanan keinginan dari sebuah masalah maka ini adalah sebuah proses yang berkisinambungan dan sebagian besar berlangsung tanpa disadari.[3] seseorang memilih menjadi seorang petani kecil, dan kemudian hanya berpandangan tentang partai Republik yang baik, namun berbeda ketika Dia mengalami tekanan dari partai ini, maka Ia akan memiliki haluan yang berbeda dengan pandangannya sebelumnya.[3] Hal ini akan sama saat keadaan dilakukannya penekanan pada masalah sosial melalui perubahan paradigma terhadap masalah tersebut.[3]

Kemunculan[sunting | sunting sumber]

Sebagai akibat dari perubahan sosial[sunting | sunting sumber]

Perubahan demografi (pertumbuhan atau pengurangan atau perubahan dalam susunan penduduk), perubahan ekologi (perubahan dalam relasi antara (penduduk dengan lingkungannya), perubahan kultural (perubahan dalam relasi untuk memproduksi hasil ciptaan manusia, termasuk perubahan teknologi, dan perubahan struktur (perubahan organisasi dan relasi-relasi sosial).[4] Perubahan-perubahan yang alami umumnya tidak banyak mendapatkan sorotan atau tanggapan karena dianggap wajar. Sedangkan perubahan yang terencana sering menimbulkan kritik tajam bila tidak menemukan apa yang diharapkan atau timbulnya masalah sosial akibat tidak sesuainya harapan dan kenyataan.[4]

Sebagai akibat dari pembangunan sosial[sunting | sunting sumber]

Pembangunan sosial adalah suatu proses perubahan sosial yang terencana dan dirancang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sebagai suatu keutuhan, dimana pembangunan ini dilakukan untuk saling melengkapi dengan dinamika proses pembangunan ekonomi.[5] Namun, ketika proses perubahan ini tidak berjalan sesuai dengan rencana, maka tujuan dari pembangunan ini tidak akan terwujud, yang kemudian dapat menimbulkan masalah sosial bagi masyarakat yang menjadi target pembangunan ini.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Edi Suharto. 1997. Pembangunan, Kebijakan Sosial,& Pekerja Sosial. Bandung: LSP STKS. Hal 153,154,155
  2. ^ Edi Suharto. 2011. Kebijakan sosial. Bandung: Alfabeta. Hal 10,11
  3. ^ a b c d e Paul B.Horton. Chester L. Hunt. 1987. Sosiologi. Jakarta: ERLANGGA. Hal 177,178
  4. ^ a b T.Sumarnonugroho. 1987. Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial. Yogyakarta: PT.Hanindita. Hal 84,85
  5. ^ a b Isbandi Rukminto A. 2012. Intervensi Komunitas & Pengembangan Masyarakat. Jakarta: PT.Raja Grafindo. Hal 40