Labakkang, Pangkajene dan Kepulauan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Labakkang
—  Kecamatan  —
Negara  Indonesia
Provinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
Pemerintahan
 • Camat Drs Jufri A. Baso
Luas 98,46 km²
Jumlah penduduk 38.320 jiwa (Tahun 2000), 39.486 jiwa (Tahun 2001), 39,707 jiwa (Tahun 2002), 39.923 (Tahun 2003), dan 40.135 jiwa (Tahun 2004).
Kepadatan - jiwa/km²
Desa/kelurahan Bori Masunggu, Mangallekana, Batara, Taraweang, Barabatu, Kassiloe, Pattalassang, Labakkang, Pundata Baji, Bonto Manai, Manakku, Gentung dan Kanaungang

Labakkang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Pangkajene, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal Muasal Nama[sunting | sunting sumber]

Kata “Labakkang” (Bahasa Makassar) secara harfiah berasal dari kata Labba yang artinya luas atau lebar. Dalam terminologi bahasa Makassar, aklaba berarti melebarkan. Bisa juga diarrtikan pelesir atau istirahat. Jadi, arti kata Labakkang yang sesungguhnya ialah suatu tempat yang biasa digunakan untuk istirahat (tempat melepas lelah) ; tempat persinggahan ; atau tempat rekreasi. Penamaan ini mengacu kepada luasnya bentangan wilayah pesisir dari ujung utara sampai ke ujung selatan sepanjang pantai baratnya, disamping karena daerah ini banyak dikunjungi pada pendatang dari luar daerah yang akhirnya menetap dan berketurunan disitu. (Makkulau, 2008).

Andi Bahoeroe Karaeng Gaoe, Karaeng Labakkang ke 22 ini mengungkapkan bahwa kata ”Labakkang” (Bahasa Makassar) berasal dari kata ” A’labba ” yang berarti lebar dan ” A’gang ” yang berarti berteman atau bersatu. Kedua kata ini, menurutnya mengacu kepada Kondisi wilayah Labakkang yang luas / lebar serta karakter masyarakat Labakkang yang suka berteman. Hal ini mendapatkan konfirmasi di lapangan bahwa masyarakat Kecamatan Labakkang dihuni oleh dua etnis mayoritas, yakni etnis Bugis pada bagian timurnya dan Etnis Makassar pada bagian baratnya (Syamsul Alam Nyonri, Disbudpar Pangkep, 2007 : 6 dalam Makkulau, 2008).

Kenyataan ini menurut Andi Bahoeroe Karaeng Gaoe (Karaeng Loloa) karena pada waktu itu Somba Labakkang meminta bantuan orang – orang dari Bone dan Soppeng untuk membuka hutan dan lahan pertanian untuk bercocok tanam pada bagian timur Labakkang sehingga pendatang Bugis tersebut akhirnya menetap disitu secara turun temurun. Begitu pula halnya dengan kedatangan Orang – orang dari Gowa dan Galesong ke Labakkang bagian barat untuk menetap, membuka hutan dan bercocok tanam dengan persetujuan Somba Labakkang. Pada waktu itu Labakkang sangat terkenal dengan potensi hasil pertaniannya sehingga daerah ini banyak didatangi oleh orang – orang Bugis dan Makassar dari berbagai daerah. Kedua etnis ini hidup rukun dan damai. (Syamsul Alam Nyonri, Disbudpar Pangkep, 2007 : 6).

Dari sejumlah kerajaan yang pernah ada di Sulawesi Selatan, hanya tiga kerajaan yang diketahui rajanya bergelar “sombaya” yang berarti raja yang disembah, yaitu hanya Kerajaan Gowa, Kerajaan Bantaeng dan Kerajaan Labakkang. Sampai kira – kira Tahun 1653 Masehi, Kerajaan Labakkang bernama Kerajaan Lombasang. Perubahan nama dari Lombasang menjadi Labakkang menurut Sejarawan Daerah, (alm) Abdur Razak Daeng Patunru adalah atas perintah Sultan Hasanuddin setelah naik takhta dalam tahun 1653 sebagai Raja Gowa 16. Abdur Razak Daeng Patunru dalam tulisannya tersebut tidak menyebutkan alasan Sultan Hasanuddin sehingga mengubah nama Lombasang menjadi Labakkang. Diduga perubahan itu didasari atas kesamaan nama Lombasang dengan nama kecil Sultan Hasanuddin, I Mallombasi. (Makkulau, 2008).

Sejarah Kekaraengan Labakkang[sunting | sunting sumber]

Kekaraengan Labakkang berasal dan bermula dari kebangsawan Kerajaan Lombasang, yaitu sebuah kerajaan yang terletak di sebelah utara Siang. Sampai Tahun 1625, Kerajaan Lombasang masih berdiri sendiri, merdeka dan berdaulat, rajanya bergelar Sombayya (raja yang disembah) seperti gelar yang dipakai Raja Gowa, sampai kemudian kerajaan ini ditaklukkan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV, Sultan Alauddin (Tumenanga ri Agamana). Sejak itulah raja Lombasang dan seterusnya hanya berhak memakai gelar Karaeng saja. (Makkulau, 2008).

Ketika Sultan Hasanuddin, I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape naik takhta sebagai raja Gowa XVI dalam Tahun 1653, Beliau memerintahkan supaya nama Lombasang diubah menjadi Labakkang. Pada tahun 1667, daerah – daerah yang dikatakan Noorderprovincien (Daerah – daerah utara) yang kemudian disebut Noorderdistricten ditaklukkan oleh Kompeni Belanda yang bekerjasama dengan pasukan Bugis dibawah pimpinan Arung Palakka dengan kekuatan senjata. Hanya Labakkang sendiri yang menggabung dengan sukarela kepada Kompeni, tetapi kemudian, Labakkang mengadakan perlawanan terhadap kompeni. Kompeni terpaksa menaklukkan Labakkang dengan kekuatan senjata dan kerajaan itu dimasukkan tanah – tanah Gouvernemen berdasarkan pasal 20 dari Perjanjian Bungaya. (Makkulau, 2008).

Distrik Labakkang dikepalai oleh seorang Karaeng, membawahi 25 kepala kampong, diantaranya seorang yang bergelar Karaeng, seorang bergelar Gallarang, seorang bergelar Mado, tiga orang bergelar Matowa, tiga orang bergelar Jennang dan yang lain – lainnya masing – masing bergelar Lokmo. Kampong – kampong tersebut ialah Labakkang (lokmo), Labakkang (Gallarang), Tonasa (lokmo), Teko (Lokmo), kajumate (Lokmo), lembang (Lokmo), Turungang (Lokmo), Montjong Bori (Lokmo), Patjikombaja (Lokmo), Kasuwarang (Lokmo), Biringere (Lokmo), Bontobarani atau Kalibarang (lokmo), Gentung (Lokmo), Parang – Parang (Lokmo), Pattalassang (lokmo), Mangallekana (Lokmo), Djannalabu (Lokmo), Kabirisi (Matowa), Palambeang (matowa), Bontowa (Matowa), Boroanging (Jennang), Kanaungang (Jennang), KassiLoE (Jennang), Leang (mado), dan Bonto Tangnga (Karaeng). (Makkulau, 2008).

Dahulu Karaeng Labakkang didampingi oleh sebuat Hadat yang terdiri dari Lokmo Labakkang, Lokmo Tonasa, Lokmo Teko, lokmo Kajumate, Lokmo Lambang, Lokmo Turungeng, Lokmo Moncong bori, Lokmo Bolosino, Lokmo Patjikombaja, Lokmo Kasuwarang, lokmo Biringere, dan Gallarang Labakkang. Dari mereka itu, adalah Lokmo dan Gallarang Labakkang yang terkemuka. Dalam Upacara – upacara pelantikan Karaeng Labakkang itulah yang memegang peranan terpenting. Lokmo Labakkang adalah juga selaku pinati dari Kalompoang – kalompoang / Arajang – arajang dari Labakkang. Kalompoang kekaraengan Labakkang itu terdiri dari tiga pataka, yaitu Bolong Kampongnga atau Tamaloba, Bakkaka, dan Djinaka. Bolong Kampongnga berasal dari Karaeng Barasa (Pangkajene), Kalompoang mana diberikan selaku hadiah oleh raja Gowa kepada Karaeng Lombasang karena raja ini membantu raja Gowa pada permulaan abad XVII dalam peperangannya melawan Raja Barasa. Kedua kalompoang yang lain itu adalah masing – masing dari Karaeng Mangallekana dan Karaeng Malise. Kedua kekaraengan ini terletak dalam daerah Lombasang dan keduanyalah yang sebenarnya merupakan inti Kerajaan Lombasang. Labakkang dahulu rapat kekeluargannya dengan Gowa dan Bone. (Makkulau, 2008).

Somba Lombasang / Labakkang yang terkenal ialah La Upa, seorang bangawan tinggi yang pada dirinya menetes darah keturunan Gowa dan Luwu. Beliaulah yang memperanakkan I Biba Daeng Pa’ja Karaengta Campagaya yang diperisterikan oleh La Sulili Matinrowe ri Malili dari garis keturunan La Tenrisessu Cenning Luwu Arung Pancana, Raja Segeri merangkap Raja Agang Nionjo’ (Tanete), Barru sekarang ini . Dari hasil perkawinan keduanya inilah melahirkan Karaeng Labakkang La Ida MatinroE ri Balang yang kawin dengan Patta Ati anak dari Arung Mampu La Makkulau. Salah seorang anaknya yang terkenal dari Karaeng Matinroe ri Balang ini adalah La Maruddani Karaeng Bonto – Bonto. Karaeng Labakkang La Ida Matinroe ri Balang ini kemudian kawin lagi dengan I Endang Daeng Tonji yang melahirkan putera – puterinya, diantaranya ialah Karaengta Malise, Karaengta Campagaya, Karaengta Sapanang La Sanapipa Daeng Niasi dan Karaengta Tana – Tana La Yummu. Anaknya yang terakhir inilah, Karaengta Tana – tana La Yummu yang bersuamikan Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang (Raja Gowa yang terakhir). (Makkulau, 2008).

Regent Labakkang, Page Daeng PaliE juga melawan Belanda yang membuatnya diasingkan ke Bandung, berputerakan Sondeng Daeng Pasawi, ia menikah dengan I Dellung, puteri dari Karaeng Galesong yang bernama Majengkok Daeng Sila. Dari perkawinan itu lahirlah Tjalla Daeng Muntu, kemudian jadi Karaeng Labakkang. Puteranya yang bernama Andi Bahoeroe menggantikannya menjadi Karaeng Labakkang. Setelah terbentuk Kecamatan Labakkang beliau menjadi Camat Labakkang pertama, yang sekaligus menandai awal pemerintahan kecamatan di wilayah tersebut. (Makkulau, 2007 ; 2008).

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • Makkulau, M. Farid W. 2007. Sejarah dan Kebudayaan Pangkep. Pangkep : Pemkab Pangkep.
  • Makkulau, M. Farid W. 2008. Sejarah Kekaraengan di Pangkep. Makassar :'Pustaka Refleksi.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]