Kanker prostat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Prostate cancer
Klasifikasi dan rujukan eksternal
ICD-10 C61.
ICD-9 185
OMIM 176807
DiseasesDB 10780
MedlinePlus 000380
eMedicine radio/574 

Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi lelaki. Hal ini terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali. Sel ini dapat menyebar secara metastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan lymph node. Kanker prostat dapat menimbulkan rasa sakit, kesulitan buang air kecil, disfungsi ereksi dan gejala lainnya.

Jumlah kanker prostat sangat bervariasi di dunia, namun jarang terjadi di Asia Timur dan Selatan; sering terjadi di Eropa dan Amerika Serikat.[1] Menurut American Cancer Society, kanker prostat paling jarang di pria Asia dan paling sering terjadi di orang hitam, dan orang Eropa di tengahnya.[2]

Pada penderita ditemukan rasio plasma vitamin B12 yang sangat rendah.[3]

Faktor resiko[sunting | sunting sumber]

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker prostat adalah usia, ras, riwayat keluarga (faktor keturunan), hormon, dan pola makan. Risiko menderita kanker prostat ditemukan meningkat pada pria kulit putih dengan usia > 50 tahun atau pria kulit hitam dengan usia > 40 tahun. Etnis kulit hitam memiliki risiko kanker prostat 1.6x lebih tinggi daripada pria kulit putih.[4][5]

Pria yang memiliki keluarga laki-laki penderita kanker prostat (saudara, ayah, kakek) memiliki risiko yang lebih tinggi menderita penyakit tersebut dibandingkan dengan pria yang tidak punya riwayat keluarga. Faktor lainnya yang diduga dapat menyebabkan kanker prostat adalah perubahan hormon testosteron dan pola makan yang terlalu banyak mengkonsumsi lemak.[5][6] Menurut penelitian lainnya, agen kimia seperti Cadmium juga ditemukan pada perkembangan kanker prostat.[6]

Diagnosis[sunting | sunting sumber]

Alat diagnosis utama untuk menegakkan diagnosis kanker prostat adalah pemeriksaan melalui rektum dengan jari, pemeriksaan kadar PSA (prostate specific antigen) darah dan pemeriksaan ultrasonografi melalui rektum atau TRUS (transrectal ultrasound). Umumnya kanker prostat terletak pada zona perifer kelenjar prostat dan dapat terdeteksi dengan pemeriksaan melalui rektum dengan jari. PSA adalah enzim protease yang mirip kalikrein yang hampir secara eksklusif hanya dihasilkan oleh kelenjar prostat. Kadar PSA darah akan meningkat pada penderita kanker prostat, selain itu dapat pula meningkat pada penderita pembesaran prostat jinak, radang prostat atau pada beberapa kondisi bukan kanker lainnya. Pemeriksaan ultrasonografi prostat pada penderita kanker prostat dilakukan untuk melihat adanya gambaran tumor ganas pada prostat dan sebagai sarana untuk melakukan biopsi prostat. Biopsi prostat merupakan prosedur pengambilan sedikit jaringan kelenjar prostat untuk mengetahui adanya sel kanker.[7]

Tidak semua pembesaran prostat adalah kanker prostat, karena dengan bertambahnya umur, maka prostat akan membesar. Pada lelaki berusia mulai 50 tahun sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG dari luar tubuh, bukan dengan USG melalui dubur. Jika hasilnya Prostat Membesar Sesuai Umur, maka hal tersebut adalah normal. Jika semakin membesar, maka mungkin mengalami Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) dimana cukup minum obat oral. Jika semakin membesar lagi, maka mungkin perlu dilakukan pemeriksaan PSA dan jika perlu pemeriksaan free-PSA/PSA untuk menentukan apakah kondisi tersebut adalah BPH atau Kanker Prostat. Dianjurkan untuk melakukan Pemeriksaan USG jangan hanya Prostat saja, tetapi Pemeriksaan USG Lower Abdomen yang meliputi juga kondisi Ginjal dan Kandung Kemih, karena jika ada batu dan belum menyumbat, maka bisanya tidak ada gejala apapun dan biayanya tidak berbeda jauh dengan Pemeriksaan USG Prostat saja. Bagi yang overweight apalagi Obes dan jarang berolahraga dianjurkan untuk melalukan Pemeriksaan USG Full Abdomen, karena mungkin saja terjadi Fatty Liver (Pelemakan Hati).

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Klasifikasi menurut TNM tahun 2009[8]

Klasifikasi kanker prostat menurut TNM
Tx: Tumor primer tidak dapat ditemukan

T1: Tumor tidak terdeteksi secara klnis, tidak dapat diraba atau terlihat dengan pencitraan

  • T1a: Tumor ditemukan secara kebetulan dari pemeriksaan histopatologis pada kurang dari atau sama dengan 5% dari jaringan yang direseksi
  • T1b: Tumor ditemukan secara kebetulan dari pemeriksaan histopatologis pada lebih dari 5% dari jaringan yang direseksi
  • T1c: Tumor ditemukan dari biopsi (karena ada peningkatan kadar PSA)

T2: Tumor terbatas pada prostat

  • T2a: Tumor mengenai kurang dari atau sama dengan setengah lobus prostat
  • T2b: Tumor mengenai lebih dari setengah lobus tetapi tidak pada kedua lobus prostat
  • T2c: Tumor mengenai kedua lobus prostat

T3: Tumor meluas melewati kapsul prostat

  • T3a: Tumor meluas di luar kapsul prostat (satu atau kedua sisi) termasuk penyebaran ke leher buli secara mikroskopik
  • T3b: Tumor mengenai kelenjar vesikula seminalis

T4: Tumor terfiksir atau mengenai struktur sekitar prostat selain vesikula seminalis: seperti katup luar buli, rektum, otot levator dan/atau dinding pelvis

Nx: Kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai

N1: Tidak ada penyebaran kelenjar getah bening N2: Penyebaran pada kelenjar getah bening regional

Mx: Penyebaran luas tidak dapat dinilai

M1: Penyebaran luas

  • M1a: Penyebaran kelenjar getah bening bukan regional
  • M1b: Penyebaran ke tulang
  • M1c: Penyebaran ke organ lain

Pencegahan dan Pengobatan[sunting | sunting sumber]

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker prostat adalah menjaga kesehatan, menjaga berat badan tubuh, banyak minum air, mengurangi depresi, olahraga teratur, dan mengurangi konsumsi alkohol, daging, serta lemak.[9]

Dalam perawatan kanker prostat, ada beberapa pemilihan metode pengobatan yang dapat dilakukan oleh dokter. Di antaranya adalah kemoterapi, radiasi, terapi hormon, operasi, dan transurethral resection of the prostate (TURP, digunakan pada tahap awal penyakit untuk membuang jaringan yang menghalangi saluran kemih). Pemilihan jenis pengobatan berbeda-beda antara satu pasien dengan pasien lainnya karena sangat dipengaruhi oleh usia, kondisi kesehatan secara umum, perkembangan kanker, manfaat dan efek samping terapi.[6] Terapi hormon digunakan untuk mencegah tubuh memproduksi hormon testosteron yang dapat merangsang perkembangan sel kanker. Sedangkan, kemoterapi umumnya digunakan pada kasus kanker prostat yang telah menyebar ke bagian tubuh lain sehingga harus dicegah perkembangannya dengan menggunakan bahan kimia.[9]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "IARC Worldwide Cancer Incidence Statistics—Prostate". JNCI Cancer Spectrum. Oxford University Press. December 19, 2001.  Retrieved on 2007-04-05 through the Internet Archive
  2. ^ Overview: Prostate Cancer—What Causes Prostate Cancer? American Cancer Society (2006-05-02). Retrieved on 4007-04-05
  3. ^ (Inggris)"Coexistence of pernicious anemia and prostate cancer - 'an experiment of nature' involving vitamin B12 modulation of prostate cancer growth and metabolism: a case report". Department of Nutrition and Neoplasia, Whittier Cancer Research Building; Glenn Tisman, Seth Kutik, dan Christa Rainville. Diakses 2010-12-10. 
  4. ^ "Guidelines on prostate cancer". European Association of Urology. 2013.  Retrieved on 2013-05-07 through the Internet Archive
  5. ^ a b Tinjauan Pustaka, Universitas Sumatera Utara.
  6. ^ a b c Pasien dan Informasi Kanker: Kanker Prostat, Dharmais Hospital - National Cancer Institute.
  7. ^ "Guidelines on prostate cancer". European Association of Urology. 2013.  Retrieved on 2013-05-07 through the Internet Archive
  8. ^ "Prostate-cancer staging". American Joint Comitee on Cancer. 2009.  Retrieved on 2013-05-07 through the Internet Archive
  9. ^ a b Kanker Prostat, Diakses pada 3 November 2013. Laboratorium Klinik Prodia.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]