Kaba Cindua Mato

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Kaba Cindua Mato adalah cerita rakyat, berbentuk kaba, dari Minangkabau. Kaba ini mengisahkan petualangan tokoh utamanya, Cindua Mato, dalam membela kebenaran. Cerita ini masih digemari dan telah banyak dibahas para peneliti.[1] Kaba Cindua Mato menggambarkan keadaan ideal Kerajaan Pagaruyung menurut pandangan orang Minangkabau.[2]

Edisi[sunting | sunting sumber]

Edisi cetak tertua kaba ini adalah yang dicatat oleh van der Toorn, Tjindur Mato, Minangkabausch-Maleische Legende. Edisi ini hanya memuat sepertiga saja dari manuskrip asli yang tebalnya 500 halaman. Pada 1904 Datuk Garang menerbitkan edisi lengkap kaba ini di Semenanjung Malaya, dalam aksara Jawi. Edisi ini mirip dengan versi van der Toorn. Edisi Datuk Garang didasarkan pada manuskrip milik keluarga seorang Tuanku Laras di daerah Minangkabau timur.[2] Edisi lain adalah Saripado (1930), Madjoindo (1964), Endah (1967), Singgih (1972) dan Penghulu (1982). Cerita ini juga telah disadur ke dalam bentuk sandiwara oleh Moeis (1924), Penghulu (1955), dan Hadi (1977 dan dalam Esten, 1992).[1]

Naskah kaba ini tersimpan di berbagai perpustakaan, antara lain Jakarta (Juynboll, 1899) dan Leiden (Van Ronkel, 1921). [1]

Tokoh-tokoh utama[sunting | sunting sumber]

  • Bundo Kanduang adalah gelar bagi Puti Panjang Rambut II. Ia adalah putri dari Tuanku Maharaja Sakti Dewang Pandang Putrawana, sepupu Ananggawarman
  • Dang Tuanku'Sultan Remendung' adalah Raja Pagaruyung, putra Bundo Kanduang dengan Bujang Salamat alias Hyang Indera Jati dari dinasti Makhudum di Sumanik. Dia ditunangkan dengan Puti Bungsu, sepupunya, anak dari pamannya Rajo Mudo alias Sutan Saktai Gelar Rajo Jonggor, yang berkuasa di Renah Sekalawi (Lebong)kira-kira kurang lebih 40 km dari lunang sbg Raja Jang Tiang Pat ke I (petuloi Tubey)
  • Cindua Mato seperti Dang Tuanku terlahir setelah ibunya, Kembang Bendahari, sepupu dari Bundo Kandung. Karena itu dia juga dapat dipandang sebagai saudara Dang Tuanku.
  • Imbang Jayo adalah raja Sungai Ngiang, rantau Minangkabau sebelah selatan yakni di sekitar Sangir dan Kerinci. Dia berusaha merebut Puti Bungsu, yang sudah ditunangkan dengan Dang Tuanku, dengan menyebarkan desas-desus bahwa raja Pagaruyung tersebut menderita penyakit.
  • Tiang Bungkuak adalah ayah Imbang Jayo yang sakti dan kebal. Namun pada akhirnya Cindua Mato menemukan kelemahannya.

Antara Fakta dan Legenda[sunting | sunting sumber]

Sebagian sejarawan menilai bahwa kisah Cindua Mato merupakan sebuah cerita yang mengambil settingan dan inspirasi dari kerajaan Pagaruyung pada suatu periode. Diduga periode itu adalah ketika terjadinya kevakuman di Pagaruyung sekitar awal abad 15 hingga awal abad 16. Sepeninggal Anannggawarman banyak terjadi huru-hara perebutan tahta di Pagaruyung dan juga disebabkan oleh perubahan akidah rakyat Minangkabau yang sebelumnya animisme Hindu Buddha menjadi muslim yang mendorongnya berkurangnya dukungan rakyat terhadap kekuasaan Pagaruyung yang otoriter dan aristokrat.[rujukan?]

Karena serangan dari kerajaan-kerajaan di timur, Pagaruyung terdesak dan sebagian besar kalangan istana menyelamatkan diri ke tenggara Pagaruyung.[rujukan?]

Menurut masyarakat Lunang (termasuk bekas wilayah kesultanan Inderapura di masa lampau), keturunan dari Bundo Kandung dan Cindua Mato masih ada sampai sekarang disana dan dibuktikan dengan adanya makam mereka di sana.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Djamaris, Edwar (2002). Pengantar Sastra rakyat Minangkabau. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 80. ISBN 9789794613955. 
  2. ^ a b Abdullah, Taufik. "Some Notes on the Kaba Tjindua Mato: An Example of Minangkabau Traditional Literature" (PDF). Diakses 12 Juni.  Unknown parameter |accessyear= ignored (help)