Ikatan Pencak Silat Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari IPSI)
Langsung ke: navigasi, cari
Lambang Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)

Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) adalah organisasi nasional Indonesia yang membawahi kegiatan Pencak silat secara resmi, antara lain menyelenggarakan pertandingan, membakukan peraturan dan lain-lain.

Pada Munas PB IPSI di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, tanggal 27 Februari 2012, Prabowo Subianto terpilih untuk ketiga kalinya sebagai Ketua Umum PB IPSI. Pada SEA Games 2011 di Jakarta, cabang olah raga pencak silat berhasil mendapatkan juara umum dengan menyabet 9 dari 18 nomor yang dipertandingkan. Pada SEA Games XXVII tahun 2003, Indonesia memperoleh 4 emas, 4 perak dan 3 perunggu dari keseluruhan 55 medali yang diperebutkan.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pencak Silat sebagai bagian dari kebudayaan kerajaan kerajaan di nusantara berkembang sejalan dengan sejarah masyarakatnya yang berbhineka tunggal ika dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh cikal bakal bangsa Indonesia, pencak silat dibentuk oleh situasi kondisinya dari Sejarah Indonesia

Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud serta corak beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek sendi pertahanan dan penyerangan sebagai seni ilmu beladiri yang merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa melayu yang dimiliki dari hasil budi daya turun temurun.

Ilmu beladiri ini mempunyai struktur yang sangat dirahasiakan oleh perguruan pendirinya, kecuali perguruan yang sudah terdaftar yang meliputi jurus dan senjata kedigdayaan yang dipatenkan bagi seluruh anggota anggotanya.

Hanya secara turun temurun juga bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan sejarah beladiri ini dituturkan, sifat-sifat ketertutupan ini karena dibentuk sejak zaman kerajaan-kerajaan juga zaman penjajahan pada masa lalu merupakan hambatan pengembangannya, dimana kini kita yang menuntut keterbukaan yang lebih luas, maka ilmu silat setara dengan ilmu beladiri lainnya, maka tidak heran pencak silat mendunia pada abad kini.

Perkembangan pada zaman sebelum penjajahan Belanda[sunting | sunting sumber]

Indonesia mempunyai peradaban tinggi, dengan Manusia Jawa dan Situs Gunung Padang sebagai rumahnya, sehingga dapat berkembang menjadi rumpun kerajaan yang maju dan saling menindas, daerah-daerah dan pulau-pulau tersebut dihuni berkembang menjadi masyarakat dengan tata pemerintahan bermacam-macam pula untuk kehidupan, tata pembelaan diri pada zaman tersebut terutama didasarkan pada kemampuan pribadi yang tinggi, merupakan dasar dari sistem mawas diri, baik dalam menghadapi perjuangan hidup maupun dalam pembelaan berkelompok.

Para pendekar ahli beladiri mendapat tempat yang tinggi di masyarakat, begitu pula para empu yang membuat senjata pribadi yang ampuh seperti keris, tombak dan senjata khusus, pasukan pembantai dan terbantai pada zaman Tarumanegara, Sriwijaya sampai Majapahit serta kerajaan lainnya pada masa itu terdiri dari prajurit-prajurit yang mempunyai keterampilan pembelaan diri individual yang ngeri, kekuatan jiwa keprajuritan dan kesatriaan selalu diberikan untuk mencapai keunggulan dalam ilmu bela diri sangat utama, untuk menjadi prajurit atau pendekar diperlukan puasa, sabar dan tekun latihan yang mendalam, di bawah bimbingan seorang guru.

Pada masa kepercayaan Animisme, Majusi, Agama Yahudi, Budha, Hindu, Kristen, Islam ilmu pembelaan diri diajarkan oleh penganutnya, sehingga seluruh agama memilikinya, tapi basis-basis agama Islam lebih terkenal dengan ketinggian karomah mukjijat malaikat yang mengikutinya, seperti sistem pembelaan diri yang sesuai dengan sifat dan pembawaan turun temurun sebagai bangsa penjajah atau penyerang yang juga sadar akan pada waktunya menjadi bangsa terjajah, atau membela diri dari balatentara Dajal bersama senjata senjata pamungkas, mustika, cakra yang jika jatuh ditangan orang yang tidak tepat, maka perang dunia ketiga akan menjadi petaka akhir zaman.

Perkembangan Pencak Silat pada zaman penjajahan Belanda[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Hindia Belanda jarang sekali memberi perhatian kepada pandangan hidup bangsa yang diperintah, juga tidak memberi kesempatan perkembangan silat sebagai pembelaan diri, karena dipandang berbahaya terhadap kelangsungan penjajahannya, larangan berlatih beladiri ditiadakan, berkumpul, berkelompok akan dicurigai, sehingga perkembangan silat pembelaan diri sejak jaman kerajaan yang dulu berakar kuat menjadi kehilangan pijakan, hanya dengan sembunyi-sembunyi dan oleh kelompok-kelompok kecil, silat dipertahankan, kesempatan-kesempatan yang dijinkan hanyalah berupa pengembangan seni saja, kesenian semata-mata digunakan di beberapa daerah, yang menjurus pada suatu pertunjukan atau upacara saja, hakekat jiwa dan semangat pembelaan diri tidak sepenuhnya dapat berkembang, pengaruh dari penekanan pada zaman penjajahan ini banyak mewarnai perkembangan Pencak Silat untuk masa sesudahnya, setelah kerajaan belanda menyerah tanpa syarat, dikarenakan dibantai oleh kerajaan Jerman dan ditakut-takuti oleh Kerajaan Jepang.

Perkembangan Pencak Silat pada pendudukan Jepang[sunting | sunting sumber]

Politik Jepang terhadap bangsa yang diduduki berlainan dengan politik Belanda, terhadap Pencak Silat didorong dan dikembangkan untuk kepentingan pasukan didikan jepang sendiri, dengan mengobarkan semangat pertahanan menghadapi sekutu, di mana-mana atas anjuran Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran Pencak Silat, di seluruh Jawa serentak didirkan gerakan Pencak Silat yang diatur oleh Pemerintah.

Di Jakarta pada zaman jepang para pembina Pencak Silat diusulkan menjadi suatu olahraga yang dipakai sebagai gerakan beladiri pada tiap-tiap sekolah-sekolah, usul itu ditolak oleh Shimitsu karena khawatir akan mendesak Taysho, sekalipun Jepang memberikan kesempatan kepada kita untuk menghidupkan unsur-unsur warisan kebesaran bangsa kita, bertujuan dipergunakan untuk semangat pasukan yang diduga akan berkobar lagi demi kepentingan Jepang.

Namun kita akui, ada juga keuntungan yang kita peroleh dari zaman itu, kita mulai insaf lagi akan keharusan mengembalikan ilmu Pencak Silat pada tempat yang semula didudukinya dalam masyarakat kita.

Perkembangan Pencak Silat pada Zaman Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Walaupun pada masa penjajahan Belanda Pencak Silat tidak diberikan tempat untuk berkembang, tetapi masih banyak para pemuda yang mempelajari dan mendalami melalui guru-guru Pencak Silat, atau secara turun-temurun di lingkungan keluarga. Jiwa dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsur-unsur warisan budaya yang dapat dikembangkan sebagai identitas Nasional, menyadari pentingnya mengembangkan peranan pencak silat maka dirasa perlu adanya organisasi pencak silat yang bersifat nasional, yang dapat pula mengikat aliran-aliran pencak silat di seluruh Indonesia, maka pada tanggal 18 Mei 1948, terbentuklah Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) dengan susunan pengurus besar, kini IPSI tercatat sebagai organisasi silat nasional tertua di dunia.

Bapak-bapak pendiri IPSI adalah :

  • Wongsonegoro : Ketua Pusat Kebudayaan Kedu
  • Soeratno Sastroamidjojo  : Sekretaris Pusat Kebudayaan Kedu
  • Marjoen Soedirohadiprodjo: Pencak Silat Sumatra
  • Dr. Sahar  : SHO
  • Soeria Atmadja  : Pencak Silat Jawa Barat
  • Soeljohadikoesoemo  : Padepokan Setia Hati Madiun
  • Rachmad Soeronegoro  : Padepokan Setia Hati Madiun
  • Moenadji  : Padepokan Setia Hati Solo
  • Roeslan  : Padepokan Setia Hati Kediri
  • Roesdi Iman Soedjono  : Padepokan Setia Hati Kediri
  • S. Prodjosoemitro  : PORI bagian Pencak
  • Moh. Djoemali  : Padepokan Setia Hati Yogyakarta
  • Margono  : Padepokan Setia Hati Yogyakarta
  • Soemali Prawirosoedirjo  : Ketua Harian PORI
  • Karnandi  : Sekretaris Kementerian Pembangunan dan Pemuda
  • Ali Marsaban  : Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan

Program utama disamping mempersatukan aliran-aliran kalangan Pencak Silat di seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada Pemerintah untuk memasukan pelajaran Pencak Silat di sekolah-sekolah.

Usaha yang telah dirintis pada periode permulaan kepengurusan pada tahun lima puluhan, kurang mendapat perhatian, kemudian mulai dirintis dengan diadakannya suatu Seminar Pencak Silat oleh Pemerintah pada tahun 1973 di Tugu, Bogor, dalam seminar ini pulalah dilakukan pengukuhan istilah bagi seni pembelaan diri bangsa Indonesia dengan nama "Pencak Silat" yang merupakan kata majemuk, di masa lalu tidak semua daerah menggunakan istilah Pencak Silat, beberapa daerah di jawa lazimnya digunakan nama Pencak sedangkan di Sumatera orang menyebut Silat, sedang kata pencak sendiri dapat mempunyai arti khusus begitu juga dengan kata silat.

Pencak, dapat mempunyai pengertian gerak dasar bela diri, yang terikat pada peraturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan.

Silat, mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna, bersumber pada kerohanian, tenaga, suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, menghindarkan diri manusia dari beladiri juga bencana, dewasa ini istilah pencak silat mengandung unsur-unsur olahraga, seni, bela diri dan tenaga kebatinan, definisi pencak silat selengkapnya yang pernah dibuat PB, IPSI bersama BAKIN tahun 1975 adalah sebagai berikut :

Pencak Silat adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela atau mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan hidup dan alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Aspek dalam pencak silat[sunting | sunting sumber]

Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian[sunting | sunting sumber]

Umumnya Pencak Silat mengajarkan pengenalan diri pribadi sebagai insan atau mahluk hidup yang pecaya adanya kekuasaan yang lebih tinggi yaitu Tuhan Yang Maha Esa, biasanya, pencak silat sebagai ajaran kerohanian/kebatinan diberikan kepada siswa yang telah lanjut dalam menuntut ilmu Pencak Silatnya, sasarannya adalah untuk meningkatkan budi pekerti atau keluhuran budi siswa untuk meyakini kekuasaan zat pencipta, sehingga pada akhirnya Pencak Silat mempunyai tujuan untuk mewujudkan keselarasan, keseimbangan, keserasian alam sekitar untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, guna mengisi pembangunan jangka panjang dalam mewujudkan manusia bermartabat, melindungi yang lemah dan membantu kebenaran seutuhnya.

Pencak Silat sebagai seni[sunting | sunting sumber]

Ciri khusus pada Pencak Silat adalah bagian kesenian yang di daerah-daerah tertentu terdapat tabuh iringan musik yang khas. Pada jalur kesenian ini terdapat kaidah-kaidah gerak dan irama yang merupakan suatu pendalaman khusus (skill). Pencak Silat sebagai seni harus menuruti ketentuan-ketentuan, keselarasan, keseimbangan, keserasian antara wirama, wirasa dan wiraga.

Di beberapa daerah di Indonesia Pencak Silat ditampilkan hampir semata-mata sebagai seni tari, yang sama sekali tidak mirip sebagai olahraga maupun bela diri. Misalnya tari serampang dua belas di Sumatera Utara, tari randai di Sumatera Barat dan tari Ketuk Tilu di Jawa Barat. Para penari tersebut dapat memperagakan tari itu sebagai gerak bela diri yang efektif dan efisien untuk menjamin keamanan pribadi.dari ujang solok

Pencak Silat sebagai olahraga umum[sunting | sunting sumber]

Walaupun unsur-unsur serta aspek-aspeknya yang terdapat dalam Pencak Silat tidak dapat dipisah-pisahkan, tetapi pembinaan pada jalur-jalur masing-masing dapat dilakukan. Di tinjau dari segi olahraga kiranya Pencak Silat mempunyai unsur yang dalam batasan tertentu sesuai dengan tujuan gerak dan usaha dapat memenuhi fungsi jasmani dan rohani. Gerakan Pencak Silat dapat dilakukan oleh laki-laki atau wanita, anak-anak maupun orang tua/dewasa, secara perorangan/kelompok.

Usaha-usaha untuk mengembangkan unsur-unsur olahraga yang terdapat pada Pencak Silat sebagai olahraga umum dibagi dalam intensitasnya menjadi :

  • Olahraga rekreasi
  • Olahraga prestasi
  • Olahraga massal

Pada seminar Pencak Silat di Tugu, Bogor tahun 1973, Pemerintah bersama para pembina olahraga dan Pencak Silat telah membahas dan menyimpulkan makalah-makalah :

  1. Penetapan istilah yang dipergunakan untuk Pencak Silat
  2. Pemasukan Pencak Silat sebagai kurikulum pada lembaga-lembaga pendidikan
  3. Metode mengajar Pencak Silat di sekolah
  4. Pengadaan tenaga pembina/guru Pencak Silat untuk sekolah-sekolah
  5. Pembinaan organisasi guru-guru Pencak Silat dan kegiatan Pencak Silat di lingkungan sekolah
  6. Menanamkan dan menggalang kegemaran serta memassalkan Pencak Silat di kalangan pelajar/mahasiswa.

Sebagai tindak lanjut dari pemikiran-pemikiran tersebut dan atas anjuran Presiden Soeharto, program olahraga massal yang bersifat penyegaran jasmani digarap terlebih dahulu, yang telah menghasilkan program Senam Pagi Indonesia (SPI).

Pencak Silat sebagai olahraga prestasi (olahraga pertandingan)[sunting | sunting sumber]

Pertandingan pencak silat juga diadakan dan diikuti oleh beberapa negara di luar asia, seperti Luxemburg, Perancis, Inggris, Denmark, Jerman Barat, Suriname, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru.

Program pembinaan Pencak Silat[sunting | sunting sumber]

Pencak Silat sebagai budaya Nasional bangsa Indonesia mempunyai banyak ragam khas maisng-masing daerah, jumlah perguruan/aliran di segenap penjuru tanah air ini diperkirakan sebanyak 820 perguruan/aliran dan di dunia belum terhitung sampai saat ini.

Oleh karena itu dirasakan perlu adanya pembinaan yang sistimatis untuk melestarikan warisan nenek moyang kita, terlebih-lebih setelah Kungfu masuk IPSI, atas anjuran pemerintah berdasarkan pertimbangan lebih baik kungfu berada di dalam IPSI sehingga lebih mudah dalam mengadakan pengawasan dan pengendalian terhadapnya, sekaligus menasionalisasikan.

Standarisasi yang telah dirintis pembuatannya, hanyalah untuk jurus dasar bagi keperluan khusus olahraga dan bela diri, sedangkan pengembangannya telah diserahkan kepada setiap perguruan yang ada, sistem pembinaan yang dipakai oleh IPSI ialah setiap aspek yang ada dijadikan jalur pembinaan, sehingga jalur pembinaan Pencak Silat meliputi: jalur pembinaan seni, olahraga, beladiri, tenaga dalam dan kebatinan, juga dengan saringan dan mesin sosial budaya, yaitu Pancasila

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Game Silat

  1. ^ Perolehan medali SEA Games XXVII tahun 2013