Hyeonjong dari Joseon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Hyeonjong dari Joseon
Hangeul 현종
Hanja 顯宗
Alih Aksara yang Disempurnakan Hyeonjong
McCune–Reischauer Hyŏnjong
Nama lahir
Hangeul 이연
Hanja 李棩
Alih Aksara yang Disempurnakan I Yeon
McCune–Reischauer I Yŏn
Courtesy name
Hangeul 경직
Hanja 景直
Alih Aksara yang Disempurnakan Gyeongjik
McCune–Reischauer Kyŏngjik

Raja Hyeonjong dari Joseon (1641-1674) merupakan raja ke-18 Dinasti Joseon, Korea yang memerintah dari tahun 1659 sampai dengan tahun 1674. Masa pemerintahannya hampir kebanyakan diwarnai oleh konflik berat di antara fraksi-fraksi politik nasional dalam berbagai masalah, terutama masalah pemakaman.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Hyeonjong dilahirkan pada tahun 1641 sebagai putra pertama Raja Hyojong sebagai Yi Yeon, ketika ayahnya masih di Cina sebagai tawanan Manchu Dinasti Qing; kemudian ia lahir di Shenyang, ibukota Manchu sebelum Dinasti Qing secara resmi memindahkan ibukotanya ke Beijing setelah mengalahkan Dinasti Ming pada tahun 1644. Ia kembali ke Korea pada tahun 1645 bersama dengan ayahnya dan menjadi Putra Mahkota pada tahun 1651.

Konflik tentang pemakaman Hyojong (kontroversi Yesong)[sunting | sunting sumber]

Ketika Raja Hyojong wafat pada tahun 1659, Hyeonjong menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Dinasti Joseon. Masalah pertama pada masa pemerintahannya adalah tentang pemakaman raja pendahulunya; Fraksi Barat yang konservatif dan fraksi Selatan yang bebas berdebat mengenai hal untuk berapa lama Ratu Jaeui, istri kedua Raja Injo, harus mengenakan pakaian berkabung sesuai dengan adat upacara pemakaman Konfusianisme. Fraksi Barat yang dipimpin oleh Song Si-yeol, menantang bahwa ia harus mengenakan pakaian berkabung itu hanya selama satu tahun, sebaliknya fraksi Selatan dan pemimpin mereka Heo Jeok menginginkan hal tersebut selama tiga tahun. Konflik ini meningkat karena tidak adanya catatan terdahulu mengenai syarat-syarat tentang pemakaman Konfusian ketika anak tiri laki-laki kedua yang mewarisi tahta kerajaan meninggal. Fraksi Barat ingin mengikuti adat untuk anak tiri laki-laki kedua, dan fraksi Selatan beranggapan Hyojong berhak atas pemakaman selama tiga tahun karena ia sebenarnya mewarisi darah kerajaan Raja Injo.

Keputusan final diserahkan oleh Raja muda Hyeonjong; Ia memilih untuk periode satu tahun, yang mana hal tersebut memberi angin kepada fraksi Barat sebagai fraksi utama. Namun, pada waktu yang sama, Hyeonjong tidak menyingkirkan Heo Jeok dari kantor Perdana Menteri, untuk menghindari fraksi Barat dari ancaman otoritas kerajaan. Pertikaian antara fraksi Selatan dan Barat tersebut sangat intensif dengan masalah pemakaman; Sebelumnya, setelah jatuhnya fraksi Utara Besar pada tahun 1623, fraksi Barat dan Selatan membentuk aliansi politik di bawah kepemimpinan Raja Hyojong, namun karena masalah pemakaman, kedua belah pihak saling bermusuhan yang mengiring ke arah konfrontasi yang lebih besar.

Hyeonjong mulanya menjaga keseimbangan dua fraksi dan menjanjikan mereka dengan periode satu tahun fraksi Barat dan menyimpan fraksi Selatan Heo Jeok sebagai Perdana Menteri, dan kedua fraksi tersebut kembali menjalin hubungan damai untuk sementara waktu. Namun pada tahun 1674, ketika Ratu Inseon, istri Hyojong dan ibu Hyeonjong, wafat, masalah pemakaman datang lagi; Fraksi Selatan ingin agar Ratu Jaeui mengenakan pakaian berkabung selama satu tahun tapi fraksi Barat memilih periode selama sembilan bulan. Kali ini Hyeonjong mendengar fraksi Selatan dan memilih metode mereka, membuat fraksi Selatan sebagai fraksi politik utama di atas fraksi Barat. Kontroversi pemakaman bahkan berlanjut setelah Hyeonjong wafat pada tahun 1674, dan hal ini diselesaikan oleh pewaris Hyeonjong Raja Sukjong, yang melarang segala debat mengenai masalah itu. Kontroversi tersebut bahkan memengaruhi publikasi dari sejarah resmi di era Hyeonjong; pertama-tama sebagian besar di tulis oleh fraksi Selatan tapi kemudian direvisi oleh para sejarawan dari fraksi Barat.

Prestasi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1666, selama masa pemerintahan Hyeonjong, seorang berkebangsaan Belanda Hendrick Hamel meinggalkan Korea dan kembali ke negara Belanda, dan menulis sebuah buku tentang Dinasti Joseon dan pengalamannya di Korea selama 14 tahun, yang memperkenalkan sebuah kerajaan kecil kepada bangsa Eropa.

Hyeonjong menghentikan rencana Hyojong untuk menguasai bagian Utara, karena Joseon dan Dinasti Qing membangun sebuah hubungan persahabatan dan Dinasti Qing menjadi terlalu besar untuk dikuasai dengan militer kecil Dinasti Joseon. Namun, Hyeonjong melanjutkan ekspansi militer Hyojong dan rekonstruksi negara yang hancur dari perang 7 tahun dan dua invasi Manchu. Ia juga mendukung astronomi dan pencetakan. Ia juga secara legal melarang pernikahan antara kerabat dan pasangan yang memiliki nama keluarga yang sama. Ia wafat pada tahun 1674, dan digantikan oleh putranya Sukjong.

Keluarga[sunting | sunting sumber]

  • Ayah : Raja Hyojong (효종)
  • Ibu : Ratu Inseon dari klan Deoksu Jang (인선왕후 장씨)
  • Selir : Ratu Myeongseong dari klan Cheongpung Gim (명성왕후 김씨)[1]
  • Keturunan :
  1. Pangeran Pewaris Kerajaan (왕세자)
  2. Puteri Myeongseon (명선공주)
  3. Puteri Myeonghye (명혜공주)
  4. Puteri Myeongan (명안공주)

Nama Lengkap Anumertanya[sunting | sunting sumber]

  • Raja Hyeonjong Sohyu Yeongyung Dondeok Suseong Sunmun Sukmu Gyungin Changhyo yang Agung Korea
  • 현종소휴연경돈덕수성순문숙무경인창효대왕
  • 顯宗昭休衍慶敦德綏成純文肅武敬仁彰孝大王

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Not to be confused with another Myeongseong, with the same Sino-Korean syllable yet with different hanja, who came from his son Sukjong's second wife's great-great-great-grand-niece descendant thru her clan (Yeoheung Min)
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Hyojong
Daftar Penguasa Korea
(Dinasti Joseon)
1659–1674
Diteruskan oleh:
Sukjong