Harga bahan bakar minyak di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Bahan bakar minyak sebagai komoditas penting yang digunakan hampir setiap orang, harganya dapat memengaruhi kinerja ekonomi Indonesia. Oleh karena itu penetapan harga bahan bakar minyak sangat penting. Harga bahan bakar minyak juga menjadi penentu bagi "besar kecilnya" defisit anggaran. Tetapi harga bahan bakar minyak pada sisi yang lain dapat membebani rakyat miskin, apabila penetapannya tergolong tinggi. Tak jarang penetapan harga bahan bakar minyak selalu diikuti kenaikan harga-harga bahan lainnya, walaupun tidak ada "komando" bagi kenaikannya sebagaimana kenaikan harga bahan bakar minyak.

Ketika pemerintah berencana akan menetapkan harga bahan bakar minyak lebih tinggi dari periode sebelumnya, dapatkah pemerintah menurunkan harga bahan pokok kebutuhan rakyat? Secara perbandingan kemungkinan, lebih sulit harga kebutuhan pokok diturunkan bersamaan dengan penetapan harga bahan bakar minyak lebih tinggi dari sebelumnya. Cara yang lebih mungkin bisa dilakukan pemerintah adalah mengimbanginya dengan cara memberikan bantuan kepada rakyat miskin.

Perkembangan harga[sunting | sunting sumber]

Harga eceran BBM bersubsidi[sunting | sunting sumber]

Bahan bakar minyak bersubsidi terdiri dari 3 jenis yang diperuntukkan bagi konsumen eceran.

Berlaku Harga (Rupiah per liter)
Tahun Tanggal Bensin premium Minyak solar Minyak tanah
2013 22 Juni 6.500,00 5.500,00 2.500,00
2009 15 Januari 4.500,00 4.500,00 2.500,00
2008 15 Desember 5.000,00 4.800,00 2.500,00
1 Desember[1] 5.500,00 5.500,00 2.500,00
24 Mei[2] 6.000,00 5.500,00 2.500,00
2005 1 Oktober 4.500,00 4.300,00 2.000,00
1 Maret 2.400,00 2.100,00 2.200,00
2003 21 Januari 1.810,00 1.650,00 1.800,00
1 Januari 1.810,00 1.890,00 1.970,00

Kronologi[sunting | sunting sumber]

1 Desember 2008[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 38 Tahun 2008[1], pemerintah menurunkan harga jual eceran BBM jenis bensin premium, minyak solar, dan minyak tanah. Permen ini juga menetapkan harga jual eceran BBM jenis tersebut akan dievaluasi setiap bulan dan menetapkan batas atas untuk bensin premium sebesar Rp 6.000 per liter dan minyak solar Rp 5.500 per liter. Berdasarkan permen ini, setelahnya, harga jual eceran bensin premium dan minyak solar kembali mengalami penurunan pada 15 Desember 2008 dan 15 Januari 2009.

1 Oktober 2005[sunting | sunting sumber]

Pada 1 Oktober 2005 pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak di Indonesia sebanyak 80%. Keputusan ini diharapkan dapat menekan pengeluaran pemerintah untuk subsidi tahun fiskal 2005 sebanyak 89,2 trilyun rupiah dan menahan defisit negara 24,9 trilyun rupiah, atau sekitar 0,9% PDB negara.

Pemerintah mendapatkan tentangan karena sebelumnya telah menyatakan bahwa kenaikan Maret 2005 sebanyak 29% merupakan kenaikan harga bahan bakar terakhir tahun ini.

Kenaikan pada 1 Oktober ini sebagai berikut:

Jenis bahan bakar Harga lama Harga baru Kenaikan
Minyak tanah 700 2.000 185,7%
Premium 2.400 4.500 87,5%
Solar 2.100 4.300 104,8%

1 Maret 2005[sunting | sunting sumber]

Kenaikan harga BBM pada 1 Maret sebagai berikut:

Jenis bahan bakar Harga lama Harga baru Kenaikan
Premium 1.810 2.400 32,5%
Solar 1.650 2.100 27%

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]