Hamengkubuwana VII

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sri Sultan Hamengkubuwana VII

Sri Sultan Hamengkubuwana VII (bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono VII, lahir 4 Februari 1839 – meninggal 30 Desember 1921 pada umur 82 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 18771920, berjuluk Sinuhun Behi. Ia dikenal juga dengan sebutan Sultan Ngabehi atau Sultan Sugih.

Riwayat Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Nama aslinya adalah Gusti Raden Mas Murtejo, putra tertua Sultan Hamengkubuwono VI yang lahir pada tanggal 4 Februari 1839. Ia naik takhta menggantikan ayahnya tanggal 13 Agustus 1877.

Pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, yang seluruhnya berjumlah 17 buah. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang kepadanya untuk menerima dana sebesar F200.000,00. Hal ini membuat Sultan sangat kaya sehingga sering memperoleh julukan Sultan Sugih[butuh rujukan].

Masa pemerintahannya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan. Ia bahkan mengirim putra-putranya belajar hingga ke negeri Belanda.

Pada tanggal 29 Januari 1921 Hamengkubuwono VII yang saat itu berusia 81 tahun memutuskan untuk turun takhta dan mengangkat putra mahkotanya yang keempat (GRM Sujadi, bergelar GPH Purubaya) sebagai penggantinya. Konon peristiwa ini masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota yang pertama (GRM Akhaddiyat, bergelar KGP Adipati Anom Hamengkunegara I), yang seharusnya menggantikan ayahnya, tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas penyebab kematiannya. Penggantinya, KGP Adipati Anom Hamengkunegara II (kemudian bergelar KGP Adipati Juminah), diberhentikan karena alasan kesehatan. Putra mahkota yang ketiga, GRM Putro (bergelar KGP Adipati Anom Hamengkunegara III), meninggal dunia tanggal 21 Februari 1913 akibat sakit keras setelah kembali dari Kulon Progo.

Dugaan yang muncul ialah adanya keterlibatan pihak Belanda yang tidak setuju dengan putera mahkota pengganti Hamengkubuwono VII yang terkenal selalu menentang aturan-aturan yang dibuat pemerintah Batavia.

Biasanya dalam pergantian takhta raja kepada putera mahkota ialah menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia. Namun kali ini berbeda karena pengangkatan Hamengkubuwono VIII dilakukan pada saat Hamengkubuwono VII masih hidup (Ada cerita bahwa sang ayah diasingkan oleh putera mahkota yang keempat ke Pesanggrahan Ngambarrukma di luar keraton Yogyakarta)

Hamengkubuwono VII dengan besar hati mengikuti kemauan sang anak (yang di dalam istilah Jawa disebut mikul dhuwur mendhem jero) yang secara politis telah menguasai kondisi di dalam pemerintahan kerajaan. Setelah turun takhta, Hamengkubuwono VII pernah mengatakan "Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya" yang artinya masih dipertanyakan. Sampai saat ini ada dua raja setelah Hamengkubuwono VII yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwono VIII (meninggal dunia setelah menjemput putra mahkota, GRM Dorojatun, dari Batavia) dan Hamengkubuwono IX (meninggal dunia di Amerika Serikat). Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Hamengkubuwono VII meninggal di Pesanggrahan Ngambarrukma pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Makam Imogiri.

Versi lain mengatakan bahwa Hamengkubuwono VII meminta pensiun kepada Belanda untuk madeg pandita (menjadi pertapa) di Kedaton Ngambarrukma. Sampai saat ini bekas kedaton itu masih ada dan di sebelah timurnya berdiri Hotel Ambarrukma.

Silsilah[sunting | sunting sumber]

  • Anak tertua dari Sultan Hamengkubuwana VI dan istri pertamanya RAy Sepuh/GKR Sultan/GKR Agung dan diangkat anak oleh Ratu Kencana.
  • Memiliki delapan belas istri:
  1. BRA Sukina/BRA Mangku Bumi (b. 1836), putri termuda Sultan Hamengkubuwana V dengan istri keduanya BRAy Dewaningsih.
  2. GKR Mas, putri dari KRT Jayadipura atau dari Pangeran Suryadiningrat.
  3. GKR Kencana/GKR Wandhani, putri dari Raden 'Ali Basa 'Abdu'l-Mustafa Senthot Prawiradirja.
  4. GKR Kencana II/BRAy Ratna Sri Wulan, putri dari BPH Adi Negara.
  5. BRAy Ratnaningsi.
  6. BRAy Ratnaningdia.
  7. BRAy Ratna Adi.
  8. BRAy Ratnasangdia.
  9. BRAy Ratnajiwata.
  10. BRAy Puryaningdia.
  11. BRAy Devaratna.
  12. BRAy Puspitaningdiya.
  13. BRAy Srengkara Adinindia.
  14. BRAy Rukmidiningdia.
  15. BRAy Ratna Adiningrum.
  16. BRAy Ratna Puspita.
  17. BRAy Tejaningrum.
  18. BRAy Ratna Mandaya, putri dari Patih Dhanuraja VI.
  • Memiliki 31 putra
  • Memiliki 38 putri

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Hamengkubuwono VI
Raja Kesultanan Yogyakarta
1877-1921
Diteruskan oleh:
Hamengkubuwono VIII