Edwar Djamaris

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Edwar Djamaris
Lahir 7 Juli 1941
Bendera Belanda Cingkariang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda
Meninggal 21 Oktober 2012 (umur 71)
Bendera Indonesia Jakarta
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Almamater Universitas Gadjah Mada
Universitas Leiden, Belanda
Pekerjaan Filolog, sastrawan, pengajar
Agama Islam
Pasangan Derwita
Anak Elsa, Efgeni, Esti, dan Erik

Dr. Edwar Djamaris (lahir di Cingkariang, Agam, Sumatera Barat, 7 Juli 1941 – meninggal di Jakarta, 21 Oktober 2012 pada umur 71 tahun) adalah seorang ahli filologi, sastrawan dan pengajar Indonesia. Ia dipercaya memegang jabatan Kepala Bidang Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Bahasa dari tahun 1991—1997, dan juga sebagai Pemimpin Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1989—1994. Edwar juga merupakan Wakil Ketua Bidang Sastra Tradisional periode 1998—2001 pada Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) yang anggotanya terdiri atas Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia. Sebagai seorang ahli, ia juga pernah mengabdi sebagai pengajar pada beberapa perguruan tinggi, seperti di Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Nasional (Unas), dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).[1]

Riwayat[sunting | sunting sumber]

Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Edwar Djamaris yang lahir pada tanggal 7 Juli 1941 di Cingkariang, Agam, Sumatera Barat ini merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Derwita dan telah dikaruniai empat orang anak, yaitu 2 laki-laki dan 2 perempuan, serta dianugerahi enam orang cucu.

Edwar Djamaris meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur pada hari Minggu 21 Oktober 2012 dalam usia 71 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Perwira, Bekasi, Jawa Barat.[2]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Edwar Djamaris menamatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat Negeri pada tahun 1955 serta pendidikan menengahnya di SMPN V pada tahun 1958, dan SMA Teladan bagian A pada tahun 1961 di Cingkariang, Agam, Sumatera Barat. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan tingginya ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada Jurusan Sastra Indonesia yang berhasil diselesaikannya pada Januari 1969.

Pada tahun 1973, setelah 4 tahun bekerja di Lembaga Bahasa Nasional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Edwar mendapat kesempatan mengikuti penataran Filologi-Sejarah yang diselenggarakan oleh Konsorsium Sastra dan Filsafat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bekerja sama dengan Universitas Leiden, Belanda. Setahun kemudian, pada bulan November 1974—Oktober 1975 ia pun terpilih kembali menjadi peserta pendidikan lanjutan di Universitas tersebut bersama lima orang dosen lainnya yang berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Padjadjaran.

Atas beasiswa dari UNESCO Belanda, pada bulan Juni—Mei 1979, Edwar mendapat kesempatan lagi mengikuti pendidikan dan penulisan persiapan disertasi di bawah bimbingan Dr. R. Roolvink di Universitas Leiden. Atas dorongan dari Prof. Anton M. Moeliono, Kepala Pusat Bahasa, pada tahun 1985 Edwar dapat kesempatan untuk melanjutkan penelitian penulisan disertasi, dan berhasil diselesaikannya pada bulan Juni 1989 serta memperoleh gelar doktor dalam ilmu-ilmu sastra dari Universitas Indonesia, dengan predikat sangat memuaskan. Dengan pencapaian itu, ia merupakan orang pertama di Pusat Bahasa yang memperoleh gelar doktor dari sepuluh calon doktor yang direncanakan oleh Pusat Bahasa.

Karier[sunting | sunting sumber]

Beberapa bulan setelah meraih sarjana S1, ia bekerja sebagai pegawai honorer di Lembaga Bahasa Nasional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai calon pegawai negeri sipil dan baru pada tahun 1972 resmi diangkat menjadi pegawai negeri sipil dengan pangkat penata muda (golongan III/a).

Pada tahun 1979, Edwar dipercaya memimpin Subbidang Sastra Lama, Bidang Sastra Indonesia dan Daerah pada lembaga Pusat Bahasa. Ia aktif melakukan penelitian serta menulis buku, kritik, dan esai sastra Indonesia lama dan sastra Minangkabau. Dengan keahlian di bidang filologi dan sastra, Edwar banyak menghasilkan karya tulis mengenai dua bidang ilmu tersebut. Pada tahun 1985 di Pusat Bahasa dibuka kesempatan untuk menduduki jabatan fungsional tenaga peneliti. Ia berhasil menduduki jabatan peneliti madya setingkat golongan IV/b pada tahun 1987.

Setelah menduduki jabatan struktural Kepala Subbidang Sastra Lama, ia dipercayai menduduki jabatan Kepala Bidang Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Bahasa, tahun 1991—1997. Di samping itu, ia juga dipercaya sebagai Pemimpin Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah pada tahun 1989—1994. Selanjutnya pada tahun 1994 ia menduduki jabatan ahli peneliti muda, tahun 1996 sebagai ahli peneliti madya, dan akhirnya ia memperoleh jabatan tertinggi sebagai tenaga peneliti, yaitu ahli peneliti utama (APU) pada tahun 1999.

Tidak hanya mengabdi di Pusat Bahasa, Edwar juga mengajar sebagai dosen di berbagai fakultas sastra, seperti di Universitas Indonesia, Universitas Nasional, Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, dan Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta dengan mata kuliah Sejarah Sastra Indonesia Lama, Pengantar Filologi, Metode Penelitian Filologi, dan Telaah Sastra. Ia juga aktif menjadi penguji dan pembimbing penulisan skripsi dan tesis.

Kepeduliannya terhadap sastra ditunjukkan dengan keikutsertaan dalam mengelola organisasi kesusastraan Asia Tenggara, Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) yang anggotanya terdiri atas Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia, sejak awal didirikan pada tahun 1996. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Sastra Tradisional (1998—2001) pada lembaga tersebut.

Edwar juga aktif dalam organisasi ASEAN Committe on Culture and Information (ASEAN COCI), khususnya Sub-Committe on Culture, mewakili Pusat Bahasa (1991—1999). Beberapa kali ia ikut sebagai delegasi Indonesia dalam sidang ASEAN COCI. Ia juga ikut menyusun beberapa naskah sastra ASEAN, dua diantaranya sudah diterbitkan oleh ASEAN COCI, yaitu (1) ASEAN Folk Literature: An Anthology (1995) dan (2) Modern Literature of ASEAN (2000)

Tulisannya sudah banyak diterbitkan dan dipublikasikan, baik berupa buku, makalah ilmiah, maupun makalah populer. Naskah hasil penelitian dan penyusunan yang dilakukannya sudah diterbitkan berupa buku sebanyak 39 buku. Buku tersebut isinya bermacam-macam, seperti hasil penelitian bidang filologi berupa suntingan teks karya sastra Indonesia lama dan sastra rakyat Minangkabau: penerapan teori sastra berupa pengungkapan makna dan fungsi sastra, pengungkapan nilai budaya dan sejarah sastra, serta pengembangan teori dan metode penelitian sastra, khususnya filologi.

Karya tulis[sunting | sunting sumber]

  • Hikayat Bakhtiar (Alih Aksara/Suntingan Naskah, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Dedikbud, 1978)
  • Naskah Undang-Undang, dalam Sastra Indonesia Lama (Alih Aksara/Suntingan Naskah, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Dedikbud, 1979)
  • Nuruddin Ar-Raniri: Khabar Akhirat dalam Hal Kiamat (Alih Aksara/Suntingan Naskah, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Dedikbud, 1983)
  • Hikayat Nabi Mikraj, Hikayat Nur Muhammad, dan Hikayat Darma Tasiya (Alih Aksara/Suntingan Naskah, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1983)
  • Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1984)
  • Kaba Mamak si Hetong (Alih Aksara/Suntingan Naskah, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1985)
  • Sastra Minangkabau Lama (Alih Aksara/Suntingan Naskah, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1985)
  • Kaba si Ali Amat (Alih Aksara/Suntingan Naskah, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1985)
  • Hikayat Puti Balukih: Cerita Klasik dalam Sastra Minangkabau (Alih Aksara/Suntingan Naskah, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1985)
  • Antologi Sastra Indonesia Lama Pengaruh Islam (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1985)
  • Puisi Indonesia Lama Berisi Nasihat (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1986)
  • Kaba si Untuang Sudah (Suntingan Naskah disertai terjemahan Bahasa Indonesia, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1988)
  • Kaba Kambang Luari (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1988)
  • Kaba Bujang Paman dan Kaba Rambun Pamenan (Suntingan Naskah, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Depdikbud, 1988)
  • Antologi Sastra Indonesia Lama I: Sastra Pengaruh Peralihan (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1988)
  • Terjemahan Kaba Mamak si Hetong (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1990)
  • Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik (Balai Pustaka, 1990)
  • Pedoman Umum Bahasa Minangkabau (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1990)
  • Tambo Minangkabau (Suntingan Teks Disertai Analisis Struktur, Balai Pustaka, 1991)
  • Kaba Rambun Pamenan, (Saduran, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1992)
  • Sastra Daerah di Nusa Tenggara Barat: Analisis Tema, Amanat, dan Nilai Budaya (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1993)
  • Sastra Daerah di Sumatra: Analisis Tema, Amanat, dan Nilai Budaya (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1993)
  • Nilai Budaya dalam beberapa Karya Sastra Nusantara: Sastra Daerah di Sumatra (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1993)
  • Sastra Daerah di Sumatra: Analisis Tema, Amanat, dan Nilai Budaya (Balai Pustaka, 1994)
  • Sastra Daerah di Kalimantan: Analisis Tema, Amanat, dan Nilai Budaya (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1994)
  • Hikayat Seribu Masalah (Suntingan Teks, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1994)
  • Asean Folk Literature: An Anthology (Ed.) (ASEAN Committe on Culture and Information, 1995)
  • Nilai Budaya dalam beberapa karya Sastra Nusantara: Sastra Daerah di Kalimantan (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1996)
  • Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniri: Pengenalan Tokoh Sastrawan Lama (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1996)
  • Sastrawan Indonesia “Rendra” Penerima Hadiah Sastra Asia Tenggara 1996 (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1996)
  • Sastrawan Indonesia “Seno Gumira Ajidarma” Penerima Hadiah Sastra Asia Tenggara (SEA Write Award) (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1997)
  • Modern Literature of ASEAN (Ed.) (ASEAN Committe on Culture and Information, 2000)
  • Direktori Edisi Naskah Nusantara (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2000)
  • Cerita Rakyat Minangkabau: Dongeng Jenaka, Dongeng Berisi Nasihat, serta Dongeng Berisi Pendidikan Moral dan Budaya (Suntingan Teks dan Terjemahan, Pusat Bahasa, Depdiknas, 2001)
  • Metode Penelitian Filologi (CV Manasco, Jakarta, 2002)
  • Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau (Yayasan Obor Indonesia, 2002)
  • Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara (Pusat Bahasa, Depdiknas, 2003)
  • Kaba Minangkabau: Ringkasan Isi Cerita serta Deskripsi Tema dan Amanat (Pusat Bahasa, Depdiknas, 2004)
  • Sastra Melayu Lintas Daerah (Pusat Bahasa, Depdiknas, 2004)

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Piagam Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun
  • Piagam Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Profil Edwar Djamaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses 30 Juli 2013.
  2. ^ Selamat Jalan Pak Edwar Djamaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses 30 Juli 2013.