Denny Januar Ali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Denny JA. Ph.D
Intelektual Entrepreneur
Informasi pribadi
Lahir 4 Januari 1963 (umur 51)
Palembang, Sumatera Selatan

Denny Januar Ali, atau nama populernya: Denny JA (lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 4 Januari 1963; umur 49 tahun) adalah intelektual enterpreneur atau enterpreneur intelektual. Ia banyak membuat tradisi baru dan rekor di dunia akademik, politik, media sosial, sastra dan budaya di Indonesia.[1][ - See more at: http://inspirasi.co/informasi_gagasan/post/708#sthash.VSXCGuQc.dpuf

Di dunia politik, ia dikenang sebagai founding father konsultan politik dan lembaga survei yang kini memberi warna baru pemilu dan pilkada Indonesia. Ia membantu kemenangan dua presiden, 28 gubernur, dan 60 bupati/walikota sejak Indonesia menerapkan pemilihan langsung[2]. Di dunia sastra, ia membawa genre baru puisi esai dan dipilih sebagi satu dari 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh[3]. Di dunia pergerakan, ia menyatukan karya budaya dan gerakan sosial dalam payung Indonesia Tanpa Diskriminasi[4]. Ia membiayai sendiri semua kegiatan sosial setelah sukses berkembang sebagai pengusaha.

Lata Belakang[sunting | sunting sumber]

Sejak masa Sekolah Menengah Atas (SMA), Denny JA menggemari buku Michael Heart: The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978). Kepeloporan aneka tokoh sejarah itu mengilhaminya membuat aneka tradisi baru. Dalam perjalanan karirnya, semangat kepeloporan menjadi engine dan need for achivementnya.[5]

Di dunia akademik, Denny JA mendirikan Lembaga Survei Indonesia (LSI, 2003) Lingkaran Survei Indonesia (LSI, 2005), Asosiasi Riset Opini Publik (AROPI, 2007), serta Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (AKOPI, 2009). Melalui empat organisasi ini, Denny JA dianggap founding father tradisi baru survei opini publik dan konsultan politik Indonesia.[6] Ia mendirikan empat institusi penting itu sekaligus menjadi pimpinan tertinggi periode pertama.

Denny JA mempopulerkan tradisi ilmu sosial kuantitatif yang mampu memprediksi kemenangan calon pemimpin dalam pilkada atau pemilu Indonesia, sejak 2004.[7] Beberapa kali ia bahkan mengiklankan prediksinya di media nasional sekitar 10 hari sampai sebulan sebelum pemilu/pilkada.

Yang paling menghebohkan, ia memprediksi pemenang pemilu presiden 2009 sebulan sebelumnya. Calon Presiden SBY, prediksi Denny JA, akan menang satu putaran saja. Prediksi itu ia iklankan secara massif di koran dan TV nasional. Prediksinya menjadi wacana paling hangat dalam pemilu presiden 2009.[8] Bahkan prediksi ini menjadi bahan debat resmi calon presiden yang disiarkan aneka TV nasional. Prediksinya akurat. Denny JA dianugrahi News Maker of Election 2009 oleh Persatuan Wartawan Indonesia. [9]

Di dunia politik (2004-2012), Denny JA diberi label king maker. Ini berkat perannya membantu kemenangan presiden dua kali (2004, 2009), 23 gubernur dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 51 bupati/walikota.[10] Ia memenangkan semua pemilu presiden langsung yang pernah ada. Ia memenangkan lebih dari 60% gubernur seluruh Indonesia. Melalui enterpreneurshipnya, ia membuat konsultan politik menjadi profesi baru, yang berpengaruh.[11]

Kontrak pertama dibuatnya dengan partai politik (Golkar) pada bulan Febuari 2005. Denny JA dengan LSInya membantu pemenangan pilkada Golkar di seluruh Indonesia. Kini hampir semua partai politik besar menggunakan jasa survei opini publik dan konsultan politik.[12]

Di dunia aktivis mahasiswa, Denny JA pun dikenal sebagai entrepreneur dan founding father kelompok studi mahasiswa di tahun 80-an. Kelompok Studi Proklamasi (1984-1989) yang dirikan dan dipimpinnya, ia samakan dengan kelompok studi mahasiswa di tahun dua puluhan era Bung Karno dan Bung Hatta. [13]

Menurut Denny JA, Bung Karno dan Bung Hatta mendirikan kelompok studi di tahun 20an, ketika kolonial Belanda sangat represif. Tidak melawan secara frontal, Bung Karno dan Bung Hatta melawan secara intelektual, dengan menggali dan mensosialisasikan ideologi modern. Saat itu ideologi yang paling radikal adalah nasionalisme. Pada tahun 80an, menurut Denny JA, Presiden Suharto juga dipuncak represinya. Tidak melawan secara frontal, sebagaimana Bung Karno dan Bung Hatta, Denny JA dan kawan-kawannya menghidupkan tradisi intelektual melalui kelompok studi mahasiswa.[14]

Sebagai aktivis, Denny JA juga membuat hits ketika ia mematahkan pasal dua undang-undang . Yaitu UU Pemilu Legislatif 2009 dan UU Pemilu Presiden 2009. Dua kali Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugataan Denny JA yg bertindak selaku ketua umum asosiasi lembaga survei (AROPI). Pasal yang membatasi kebebasan akademis, seperti larangan mengumumkan quick count di hari pemilu dan survei di hari tenang, dibatalkan Mahkamah Konstitusi. [15]

Di dunia sosial media, Denny JA mendapatkan rekor MURI karena akun twiternya, @DennyJA_WORLD. Akun ini diakui sebagai akun pertama yang membawa pemilu ke era sosial media. Melalui akunnya, publik dapat mengikuti quick count dari mobile-phone, yang diup-date setiap 10 menit. Hanya 4 jam setelah TPS ditutup, melalui akunnya, publik sudah mengetahui siapa pemenang pemilu.[16] Pilkada gubernur Aceh di tahun 2012 menjadi awal quick count di sosial media.

Akun twitter Denny JA mampu menarik follower di atas sejuta. Ini merupakan follower tertinggi di Indonesia untuk intelektual/aktivis/politisi di tahun 2012.[17]

Di dunia sastra dan budaya, Denny JA juga melakukan kepeloporan atau entrepreneurship. Ia memperkenal genre baru puisi esai.[18] Ini sebuah puisi yang sangat panjang, berbabak, dengan catatan kaki, dan bahasa yang mudah mengerti. Puisi esai mengangkat isu sosial. Puisi esai ditulisnya sebagai reaksi atas puisi dengan bahasa rumit, yang membuat puisi semakin terisolasi dari publik luas.

Ia juga mendapatkan rekor MURI di dunia sastra karena yang pertama membawa sastra ke era sosial media. Buku puisinya, Atas Nama Cinta (2012) menjadi buku pertama yang bisa diakses melalui akun twitter dan smartphone. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, HITs websitenya di www.puisi-esai.com, sudah di atas sejuta. [19] Dalam waktu kurang dari enam bulan, HITSnya melampaui 4 juta. Ini belum pernah terjadi di buku umum sekalipun. Apalagi di buku sastra. Apalagi buku puisi.[20]

Ia meluaskan minatnya di dunia seni, dengan juga membuat naskah drama, novel dan film[21]. Aneka film yang diproduksinya diputar di aneka komunitas gerakan sosial. Denny JA memilih karya budaya untuk menyentuh hati, menyampaikan aneka pesan sosial.[22]

Sejak tahun 2012, Denny JA aktif dalam gerakan anti-diskriminasi. Ia mendirikan Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi. Yayasan ini bergerak mempublikasi aneka karya budaya: puisi, teater, lagu, foto, lukisan dan film, untuk menularkan gagasan modern: equality dan perlindungan hukum warga negara, apapun identitas sosialnya.[23]

Ketika terjadi tragedi Sampang (2012), Yayasan Denny JA bersama Satgas Perlindungan Anak, mengirimkan team pendongeng memberikan semangat kepada anak-anak korban yang menjadi pengungsi. Ujar Denny JA, Anak-anak biasanya riang. Namun kini mereka menjadi pengungsi. Mereka terusir dari kampung halaman. Mereka menyaksikan kekerasan atas orang yang mereka cintai. Mereka tidak memilih lahir dari orang tua yang memiliki paham agama itu. Hanya karena orang tua memiliki paham agama berbeda, puluhan anak-anak yang tak mengerti itu celaka. “Suatu kelak akan datang, era Indonesia Tanpa Diskriminasi.”[24]

Denny JA juga mendirikan Yayasan Abad Demokrasi yang didedikasikan mempopulerkan interpretasi agama Islam untuk demokrasi. Yayasan ini memiliki library online: memuat aneka informasi Islam dan Demokrasi. Aneka jurnal internasional diringkas. Aneka buku strategis yang sudah tak beredar soal Islam dan Demokrasi dibeli hak royaltinya. Buku itu diterbitkan online untuk bisa diakses publik secara gratis.

Yayasan ini menampung Komunitas Ciputat School, untuk berkumpul sebulan sekali, menggali kajian Islam untuk Demokrasi. Web Islam dan Demokrasi ini bisa dilihat di www.abad-demokrasi.com.

Aneka kegiatan sosialnya ia biayai sendiri. Berbeda dengan tradisi intelektual sebelumnya, Denny JA justru menganjurkan Intelektual harus kaya raya. Karena dengan berkelebihan secara ekonomi, Intelektual mampu membiayai sendiri kegiatan sosialnya dan tidak tergantung pada kekuatan politik lain. Ia mempopulerkan istilah intelektual enterpreneur dan enterpreneur intelektual. Denny JA pun menjadi pengusaha, mulai dari properti, food and beverage, konsultan sampai tambang.


Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Denny JA menyelesaikan pendidikan strata satu di Universitas Indonesia Jurusan Hukum pada tahun 1989, gelar Master of Public Administration (MPA) diperolehnya dari University of Pittsburg Amerika Serikat pada tahun 1994, sementara itu gelar Ph.D di bidang Comparative Politics and Business History didapatkan dari Ohio State University pada tahun 2001.

Karier[sunting | sunting sumber]

Selain sebagai kolumnis di sembilan surat kabar nasional (1986-2005), Denny JA mulai mengawali karier sebagai Direktur Eksekutif Universitas Jayabaya Jakarta pada tahun (2000-2003). Ia juga dipercaya menjadi host untuk program politik di Metro TV dan Radio Delta FM pada tahun (2002-2004). Kariernya kemudian mulai merambah dunia survei dan konsultansi politik. Pada tahun 2005 sampai sekarang Denny JA menjadi Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebuah lembaga penelitian dan konsultan politik pertama berskala nasional yang berada di Indonesia. Saat ini Denny JA juga tercatat sebagai anggota WAPOR (World Association for Public Opinion Research) untuk periode 2007 sampai sekarang dan Ketua Umum AROPI (Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia) untuk periode 2007 – 2010, dan 2010- 2013.


Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]

Denny JA menikah dengan Mulia Jayaputri dan dari pernikahan ini dianugerahi dua orang anak laki-laki, Rafi Moeslim Auliya Denny dan Ramy Bary Denny.

Legacy[sunting | sunting sumber]

Legacy

Kiprah Denny JA di dunia publik menonjol untuk tiga bidang kepeloporan di Indonesia.


1. Kepeloporannya dalam mengubah politik pemilu melalui survei opini publik dan konsultan politik

Ia membuat riset opini publik (survei) dan marketing politik (konsultan politik) menjadi variabel baru pertarungan pemilu dan pilkada di Indonesia. Saat ini hampir tak ada lagi pertarungan pemilu nasional atau pilkada di wilayah strategis di Indonesia yang tidak menggunakan jasa lembaga survei dan konsultan politik. Lingkaran Survei Indonesia yang didirikan Denny JA di tahun 2005 dianggap sebagai institusi pertama yang masif yang berperan dalam politik baru pemilu.

Sejak Lingkaran Survei Indonesia (LSI) berdiri pada tahun 2005, LSI menjadikan lembaga survey dan riset sosial menjadi instrumen penting pertarungan politik. LSI banyak meyakinkan partai politik, kandidat presiden, kandidat kepala daerah dan elit politik lainnya akan pentingnya survei pemilih. Lewat survei, posisi, kekuatan dan kelemahan partai atau kandidat bisa diketahui sedini mungkin. Strategi politik bisa dilakukan secara efektif dan efisien karena memperhatikan data mengenai apa yang dibutuhkan oleh pemilih. Dari tahun 2004 hingga 2012, LSI telah mengerjakan lebih dari 800 survei perilaku pemilih di seluruh Indonesia dari beragam klien---mulai dari partai politik, kandidat presiden, kandidat anggota DPR/DPRD/DPD dan kandidat kepala daerah. Banyaknya survei yang telah dikerjakan oleh LSI ini memperlihatkan bagaimana stakeholder politik saat ini telah menerima survei dan riset sosial sebagai instrumen penting dalam pemilihan.

Sejumlah partai (seperti Partai Golkar) saat ini telah menjadikan survei indonesia sebagai instrumen utama untuk memilih kandidat dalam Pemilu legisltif atau kepala daerah. Bahkan Golkar secara resmi dalam Juklak-nya telah menempatkan survei sebagai alat untuk menyaring kandidat yang didukung dalam Pilkada. Partai lain (seperti Demokrat, PDIP, PAN, PKS) juga menggunakan data survei sebagai pertimbangan utama dalam mendukung calon kepala daerah [25] Ini perkembangan menarik karena survei politik semula tidak diperhitungkan oleh partai politik. Rekruitmen politik sejak lama lebih didasarkan pada kedekatan dengan pengurus partai, elit politik dan sebagainya. Lewat survei, partai bisa melakukan rekruitmen secara lebih transparan dan bisa diperhatikan. LSI sedikit banyak turut berperan dalam mendorong perkembangan tersebut.

Sejak tahun 2005, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) telah aktif dalam melakukan survey pemilihan dan memprediksikan siapa yang akan memenangkan pemilihan---- mulai dari partai politik, kandidat presiden, kandidat anggota DPR/DPRD/DPD dan kandidat kepala daerah. LSI berani mempublikasikan hasil prediksi tersebut lewat konferensi pers dan iklan di media massa. Tujuan publikasi tersebut bukan untuk mempengaruhi pemilih, tetapi untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa survei dan riset sosial bisa dipakai sebagai alat prediksi. Hasil-hasil prediksi LSI selama ini selalu tepat. Apa yang diprediksikan oleh survey indonesia LSI, tercermin dari hasil aktual ketika Pemilu atau Pilkada diumumkan. Harian Republika menyebut Lingkaran Survei Indonesia (LSI) sebagai “dukun politik” karena kerap memprediksi kemenangan seorang kandidat ataui partai jauh sebelum pemilihan dilakukan. [26] Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan lima buah penghargaan karena ketepatan dan akurasi LSI dalam memprediksikan hasil pemilihan. (1) Survei Indonesia Pertama yang Akurat yang diiklankan, pada Pilkada Provinsi Kepulauan Riau tahun 2005. (2) Survei Prediksi Pemilu Legislatif Pertama yang Akurat yang diiklankan, tahun 2009. (3) Survei Prediksi Pemilu Presiden yang Akurat yang diiklankan, tahun 2009. [27] , (4) Survei Prediksi Pilkada Akurat Terbanyak yang diiklankan Dalam Satu Musim Pilkada (13 Pilkada, tahun 2005-2008). (5) Lembaga Riset yang Paling Banyak Membuat Prediksi Berdasarkan Survey yang Akurasinya 100% dalam Satu Bulan yakni 5 Prediksi yang Akurat di Bulan Maret 2006 [28]


2. Kepeloporan dalam genre baru sastra ( puisi esai ).

Denny JA juga membawa warna baru dalam dunia sastra Indonesia. Ia memperkenalkan sebuah genre yang disebutnya dengan puisi esai. Melalui genre ini Denny JA membawa puisi melampaui peran tradisionalnya karena menjadikan puisi sekaligus punya kekuatan esai, dan menjadikan esai memiliki keindahan puitik. Genre baru puisi esai ini mendapat sambutan luas pro dan kontra. Baru berusia setahun, puisi esai sudah menciptakan begitu banyak followership berupa 8 buku puisi esai. Sebuah jurnal sastra ternama Jurnal Sajak bahkan melombakan penulisan puisi esai setiap tahunnya. Puisi Esai Denny JA sendiri sudah diterjemahkan kedalam aneka seni lain seperti film, teater, lukisan, foto dan lagu [29].

Atas kepeloporannya ini, iapun dipilih menjadi satu dari 33 tokoh sastra berpengaruh di Indonesia oleh Team 8 dan PDS HB Jassin di tahun 2014[27]. Sampai tahun 2014, sudah terbit sekitar 20 buku puisi esai oleh sekitar 80 penyair dan intelektual dengan lagam puisi yang diciptakan Denny JA.

Sejauh ini publik sastra mengenal puisi lirik sebagai puisi arus utama, bahkan menjadi paradigma dalam penulisan puisi [30]. Lirisisme dalam sejarah perkembangan puisi Indonesia selalu mendominasi semua ruang kreativitas, bahkan menjadi sebuah hegemoni bagi para penyair. Namun, banyak penyair yang mencoba keluar dari jalur utama itu dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme[31].

Puisi esai merupakan salah satu jalan lain yang berada di luar jalur utama lirisisme. Puisi esai mengambil bentuk penulisan yang berbeda karena lebih menyerupai cerita pendek (cerpen) yang dituangkan dalam bentuk puisi. Pesan yang disampaikan sangat jelas dengan latar seting dan konteks yang juga tidak dirahasiakan. Bahasa yang dipilih ialah bahasa yang mudah dipahami. Inilah yang membedakannya dengan puisi lirik.

Para penyair puisi lirik melukiskan keindahan alam dengan bahasa yang indah, mengungkapkan perasaan melalui simbol dan metafor, yang untuk itu tak jarang mereka harus menciptakan idiom-idiom sendiri di luar bahasa konvensional. Membaca puisi hampir selalu berarti membaca pesan yang tersirat, karena penulis merahasiakannya melalui bahasa simbol dan pengungkapan yang sublim. Walhasil, hanya orang tertentu saja yang dapat memahami dan bisa menulisnya—yang bukan penyair tidak ambil bagian.

Hal sebaliknya terjadi pada puisi lama. Bentuk-bentuk puisi lama seperti pantun, syair, gurindam, dan sebagainya, merupakan puisi rakyat dimana semua orang bisa terlibat aktif baik dalam menikmati, memahami, maupun mencipta. Masyarakat awam sangat dekat dengan bentuk-bentuk puisi lama dan, pada masanya, ikut bertanggung jawab memelihara dan menghidupkannya. Sayangnya masa itu sudah lewat. Saat ini puisi nyaris tidak lagi memiliki “kaki” di tengah-tengah masyarakat.

Gejala elitisme dalam puisi liris telah menjauhkan masyarakat dari bentuk kesusastraan yang dulu sangat populer ini. Dan itu bukan hanya gejala Indonesia melainkan juga terjadi di mana-mana, sehingga melahirkan kerisauan tersendiri di kalangan penikmat sastra. John Barr [32] , misalnya, pemimpin Foundation of Poetry, dalam tulisannya berjudul American Poetry in New Century [33] yang dipublikasikan dalam Poetry, A Magazine of Verse tahun 2006 [34] , mengatakan bahwa puisi semakin sulit dipahami publik. Penulisan puisi juga mengalami stagnasi, tak ada perubahan berarti selama puluhan tahun. Publik luas merasa semakin berjarak dengan dunia puisi.

Menurut John Barr[32] , para penyair asik masyuk dengan imajinasinya sendiri, atau hanya merespon penyair lain. Mereka semakin terpisah dan tidak merespon persoalan yang dirasakan khalayak luas. Barr merindukan puisi dan sastra seperti di era Shakespeare. Saat itu, puisi menjadi magnet yang dibicarakan, diapresiasi publik, dan bersinergi dengan perkembangan masyarakat yang lebih luas. Saat itu puisi juga memotret aura dan persoalan zamannya.

Puisi esai berada di dalam aras itu. Ia hadir dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami publik pembaca sehingga keberadaannya tidak dipandang sebagai makhluk asing. Puisi esai menghindari paham “yang bukan penyair tidak ambil bagian”. Dalam paham ini, puisi punya logika bahasanya sendiri dalam beropini. Pesan tersirat dalam bahasa yang abstrak telah menjadi tradisi dalam berpuisi selama ini. Karena itu puisi esai dengan bahasanya yang mudah dipahami hadir sebagai “movement” cara baru beropini dan cara baru penulisan puisi, sekaligus mengembalikan puisi ke pangkuan masyarakat sebagai pemilik bahasa.

Di samping versi cetak, buku karya Denny JA ini juga dibuatkan versi mobile web, sehingga dapat diakses dari telpon genggam dan akun twitter sekalipun. Oleh sebagian orang, buku itu dianggap sebagai tonggak yang membawa sastra ke era sosial media. Hanya dalam waktu sebulan, HITS di web buku puisi itu melampaui satu juta. Ini tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah buku puisi, buku sastra bahkan buku umum sekalipun. Tak hanya membaca, sebagian mereka juga menyampaikan kesan dan komentar, seperti yang bisa dilihat di www.puisi-esai.com.

Sampai tanggal 7 Januari 2013, belum genap 10 bulan sejak diluncurkannya, web www.puisi-esai.com telah diklik lebih dari 7 juta kali (persisnya 7.502.891). Ini menunjukkan betapa puisi kembali dekat dengan khalayak. Publik luas membaca dan merespon puisi dalam waktu cepat dan massif. Dapat diduga bahwa mereka pun sebenarnya akan memberikan respon yang sama kepada puisi lain, asalkan mereka dihidangkan puisi dengan bahasa yang mudah; asalkan mereka disajikan tema yang juga menjadi kegelisahan mereka sendiri; asalkan mereka diberikan pula kemudahan akses untuk membaca puisi itu melalui jaringan yang kini hot, media sosial: twitter, smartphone, internet.

Bukan hanya disajikan dalam web dan mobile web, puisi-puisi esai karya Denny JA ini juga ditransformasikan ke dalam film dimana penulisnya, Denny JA, menggaet sineas kenamaan Hanung Bramantyo sebagai co-produser. Beberapa nama terlibat sebagai sutradara dan artis dalam film-film tersebut:


   Sapu Tangan Fang Yin disutradarai oleh Karin Bintaro. Para aktor/aktris: Leoni Vitria, Hartanti Reza Nangin, dan Verdi Solaiman
   Romi dan Yuli dari Cikeusik disutradarai oleh Indra Kobutz. Para aktris/aktor: Zascia Adya Mecca, Ben Kasyafani, dan Agus Kuncoro
   Minah Tetap Dipancung disutradarai oleh Indra Kobutz. Para aktris/aktor: Vitta Mariana, Saleh Ali, dan Peggy Melati Sukma.
   Cinta Terlarang Batman dan Robin difilmkan dengan judul Cinta Yang Dirahasiakan disutradarai oleh Rahabi MA. Para aktor: Rizal Syahdan, Zack Nasution, dan Tio Pakusadewo.

Bunga Kering Perpisahan disutradarai oleh Emil Heradi. Para aktris/aktor: Rawa Nawangsih, Arthur Brotolaras, dan Teuku Rifku Wikana.

Selain dibuat dalam bentuk film, puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta juga dibuatkan versi poetry reading-nya dalam bentuk video klip yang melibatkan para sastrawan dan budayawan Putu Wijaya , Sutardji Calzoum Bachri, Niniek L Karim , Sudjiwo Tedjo, dan Fatin Hamama.

Tema-tema puisi esai Denny JA yang sudah difilmkan dan dibuatkan video klipnya, dijadikan simulasi dalam pertemuan korban tragedi kekerasan bulan Mei 1998, peringatan hari lahir Pancasila di Taman Ismail Marzuki, dan momen hari buruh memperingati kematian Ruyati, TKW Indonedia yang dipancung di Arab Saudi. Lebih lengkapnya lihat di web resmi www.puisi-esai.com.

Sebagaimana diungkapkan oleh Denny JA dalam pengantar bukunya, sebagai penulis ia mencari bentuk lain agar kegelisahan dan komitmen sosialnya sampai ke publik dalam bentuk yang pas. Ia mencari medium baru, medium tulisan yang bisa menyentuh batin manusia, namun pada saat yang sama membuat pembaca mendapatkan pemahaman tentang sebuah isu sosial, walau secuplik. Esai atau makalah atau kolom jelas tidak mengeksplor sisi batin manusia. Sementara puisi yang ada sering tidak dipahami, apatah lagi menyentuh batin. Maka ia mengembangkan medium sendiri yang kemudian disebutnya puisi esai—puisi bercita rasa esai, atau esai yang dituliskan dalam bentuk puisi.

Dalam perkembangannya puisi esai karya Denny JA kemudian ditransformasikan ke dalam banyak bentuk. Selain film pendek dan video klip pembacaannya seperti disebutkan di atas, juga diekspresikan dalam medium teater, lukisan, foto, lagu, dan social movement[35] . Ini sekaligus menjadi kekuatan puisi esai yang sejak awal menegaskan diri untuk menjadi bagian dari denyut nadi masyarakat. Karena karakternya yang sangat dekat dengan social movement itulah maka sejak diterbitkan buku karya Denny JA ini memperoleh perhatian yang luas dari publik dan media[36].

Menyusul terbitnya buku antologi puisi esai Atas Nama Cinta karya Denny JA, telah terbit pula sejumlah buku antologi puisi esai dari para pengarang lain, yaitu:


   Kutunggu Kamu Di Cisadane (Penerbit: Komodo Book, 2012) karya Ahmad Gaus. Kata Pengantar: Jamal D. Rahman.
   Manusia Gerobak (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013) karya Elza Peldi Taher. Kata Pengantar: D. Zawawi Imron
   Mata Luka Sengkon-Karta (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Antologi ini memuat puisi esai juara Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Peri Sandi Huizchedengan, Beni Setia, dan Saifur Rohman. Penyair Agus R. Sarjono bertindak sebagai editor dan pemberi kata pengantar untuk antologi ini.
   Dari Rangin ke Telpon (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Antologi ini memuat puisi esai juara hiburan Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Katherine Ahmad, Kedung Darma Romansha, Rahmad Agus Supartono, Wendoko, dan Yustinus Sapto Hardjanto. Penyair Acep Zamzam Noor bertindak sebagai editor dan pemberi kata pengantar untuk antologi ini.
   Dari Singkawang ke Sampit (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Antologi ini memuat puisi esai juara hiburan Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Arief Setiawan, Arif Fitra Kurniawan, Catur Adi Wicaksono, Hanna Fransisca, dan Jenar Aribowo. Penyair Jamal D. Rahman bertindak sebagai editor dan pemberi kata pengantar untuk antologi ini.
   Mawar Airmata (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Antologi ini memuat puisi esai kategori puisi esai menarik Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Nur Faini, Onik Sam Nurmalaya, Sahasra Sahasika, Syifa Amori, Stefanus P Elu, Yudith Rosida. Antologi ini diberi kata pengantar oleh Sunu Wasono. Penyair Jamal D. Rahman bertindak selaku editor.
   Penari Cinta Anak Koruptor (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013. Antologi ini memuat puisi esai kategori puisi esai menarik Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Alex R. Nainggolan, Baiq Ratna Mulyaningsih, Carolina Betty Tobing, Chairunnisa, Damhuri Muhammad, dan Huzer Apriansyah. Penyair Nenden Lilis A. menulis kata pengantar untuk antologi yang disunting oleh penyair Jamal D. Rahman ini.
   Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Buku ini merupakan bunga rampai yang memuat tulisan-tulisan seputar puisi esai. Penyair Acep Zamzam Noor bertindak sebagai editor dan pemberi kata pengantar untuk buku ini.

Selain karya-karya yang disebutkan di atas, Jurnal Sajak yang terbit setiap 3 (tiga) bulan dan diasuh oleh para penyair memuat puisi esai dan mendiskusikan isu puisi esai dalam setiap edisinya. Pada bulan Januari 2013, Dapoer Seni Djogjakarta mementaskan teater Sapu Tangan Fang Yin berdasarkan puisi esai Denny JA[37].


3. Kepeloporan untuk kerja kemasyarakatan "Indonesia Tanpa Diskriminasi".

Denny JA mempopulerkan gerakan sosial yang ia beri nama "Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi". Yang baru dari gerakan ini, Denny JA mengkampanyekan gagasan itu lewat aneka karya budaya : film, puisi, teater, lukisan, foto, lagu dan aneka riset ilmiah. Untuk pertama kalinya dilakukan integrasi antara gerakan budaya dan gerakan sosial. Denny JA rajin mengkampanyekan gagasan itu bahkan lewat iklan layanan publik yang muncul setiap hari di TV nasional sejak Oktober 2012 sampai Juni 2013. Gagasan Indonesia Tanpa Diskriminasi ini dianggap ikut mempengaruhi platform pakta integritas Partai Demokrat yang dibacakan langsung oleh Presiden SBY[38].

Pada mulanya adalah survei. Lewat survei-survei sisipan tentang toleransi yang dilakukan secara berkala oleh LSI, Denny JA menemukan trend dan fakta bahwa dalam 7 tahun terakhir telah terjadi peningkatan intoleransi dan kesediaan masyarakat Indonesia untuk menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Fakta ini ditambah pula dengan semakin banyaknya regulasi kenegaraan yang bernuansa diskriminatif di berbagai wilayah di Indonesia.

Temuan itu menyadarkan inisiator gerakan ITD ini tentang perlunya melakukan sesuatu. Tujuannya dua hal: mendorong perubahan kebijakan negara dan memfasilitasi perubahan positif pada sikap masyarakat Indonesia dalam menghadapi keragaman dalam berbagai aspeknya. Langkah awal dimulai. Pada Maret 2012, Denny JA menerbitkan sebuah buku puisi-esai [39] yang berjudul Atas Nama Cinta. Buku ini memuat kisah diskriminasi dalam berbagai aspeknya, baik berbasis etnis, agama/paham agama, gender, maupun orientasi seksual.

Lima kisah diskriminasi dalam bentuk puisi-esai itu kemudian bermetamerfosis menjadi 5 film pendek yang masing-masing berdurasi 45 menit. Kelima film tersebut, Romi dan Yuli dari Cikeusik, Bunga Kering Perpisahan, Saputangan Fang Yin, Minah Tetap Dipancung, Cinta Terlarang Batman dan Robin, diproduksi bersama sutradara kenamaan, Hanung Bramantyo. Selain menjadi film, puisi esai juga telah dibacakan dan direkam secara musikal dan teatrikal sehingga dapat dinikmati di website puisi esai.

Pemahaman tentang trend masyarakat melalui survei dan berbekal seperangkat produk budaya itulah gerakan ITD mensyiarkan pentingnya satu Indonesia, Indonesia tanpa diskriminasi. Ketika menyambut momentum peringatan Sumpah Pemuda 2012, gerakan ITD menyelenggarakan serangkaian acara bertajuk Pekan Indonesia Tanpa Diskriminasi. 28 Oktober 2012, gerakan ITD menggelar acara massal di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta, dengan tampilan berbagai atraksi budaya dan senam Indonesia tanpa diskriminasi. Di situlah ikrar satu Indonesia (Indonesia tanpa diskriminasi) dipekikkan[40] .

Sejak momen itu, gerakan ITD mantap mencanangkan agar tiap-tiap 28 Oktober tak hanya dikenang sebagai hari Sumpah Pemuda, tapi juga hari untuk mengukuhkan komitmen Indonesia Tanpa Diskriminasi. Gerakan ITD percaya, kelak akan tiba era Indonesia yang terbebas dari diskriminasi dan intoleransi.

Gerakan ITD semakin terdengar gaungnya setelah melakukan serangkaian acara Pekan Indonesia Tanpa Diskriminasi, akhir Oktober 2012. Namun cikal bakal kesadaran tentang perlunya menggerakkan perlunya Indonesia tanpa diskriminasi sudah muncul sejak terbitnya buku puisi-esai Atas Nama Cinta, Maret 2012[39] yang berjudul Atas Nama Cinta. Bertolak dari buku itu, gerakan ITD bertransformasi ke dalam berbagai bentuk kegiatan.


Puisi-Esai

Puisi esai merupakan pangkal tolak gerakan ITD. Genre penulisan puisi berkisah yang ditulis Denny JA ini memuat 5 kisah diskriminasi yang ditulis secara sastrawi dan dilengkapi catatan kaki. Kelima kisah diskriminasi itu terangkum dalam buku Atas Nama Cinta yang terbit Maret 2012[39] yang berjudul Atas Nama Cinta. Meski dicetak secara terbatas, buku ini dapat dinikmati secara gratis di website www.puisi-esai.com yang disambut antusias oleh para pembaca. Sejak diluncurkan Maret 2012 sampai Desember 2012, website ini tercatat telah dijenguk tak kurang oleh 7,5 juta pengunjung.

Buku puisi-esai Atas Nama Cinta juga telah mencuri perhatian publik luas lewat berbagai apresiasi maupun resensi yang dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jurnal Sastra, Gatra, Majalah Sastra “Horison”, dan koran-koran lokal maupun nasional lainnya.Genre puisi-esai pun telah mencuri perhatian kritikus sastra dan mulai memasuki ranah polemik sastra [41]


Musikalisasi Puisi-Esai

Musikalisasi puisi-esai merupakan pengembangan lanjutan dari cara menyajikan puisi-esai. Kelima puisi yang termuat dalam buku Atas Nama Cinta itu dibacakan dengan iringan musik dan disajikan dalam bentuk audio-visual. Pembacaan dan penggarapan musikalisasi puisi-esai ini melibatkan berbagai tokoh kebudayaan ternama Indonesia, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Sujiwo Tedjo, Ine Febriyanti, Niniek L Karim, dan Fatin Hamamah. Semua video tersebut telah dimuat di media Youtube dan telah ditonton oleh tak kurang puluhan, bahkan ratusan ribu orang [42].


Film ITD

Puisi esai juga telah diterjemahkan ke dalam bentuk lima film pendek yang masing-masing berdurasi 45 menit. Kelima film tersebut dijuduli sesuai dengan judul lima puisi esai yang termaktub dalam buku Atas Nama Cinta. Film Saputangan Fang Yin berkisah tentang diskriminasi yang menimpa etnis Tionghoa tatkala pecahnya Reformasi 1998. Film Minah Tetap Dipancung berkisah tentang derita-nestapa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di mancanegara.

Film Bunga Kering Perpisahan berkisah tentang problematika yang dihadapi mereka yang mengalami cinta/nikah beda agama. Romi dan Yuli dari Cikeusik berkisah tentang pertentangan antar paham agama antara sebagaian Muslim Indonesia dan anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Cinta Terlarang Batman dan Robin menggambarkan dilema dan problematika yang dihadapi kaum hososeksual di Indonesia.

Kelima film yang mengeskplorasi sisi batin tiap tokohnya itu diproduksi oleh Denny JA dengan melibatkan surtadara ternama, Hanung Bramantyo. Film-film tersebut juga diperankan oleh banyak aktor dan aktris ternama Indonesia, seperti Agus Condro, Tyo Pasukodewo, Sazkia Adya Mecca, Leoni, Peggy Melati Sukma, dan lain-lain.


Diskusi dan Nobar

Diskusi dan nonton bareng (nobar) film-film ITD merupakan ajang silaturahmi batiniah dan penguatan komunitas Indonesia tanpa diskriminasi. Diskusi membicarakan berbagai aspek diskriminasi yang aktual terjadi di Indonesia, baik berbasis etnis, agama/paham agama, gender, maupun orientasi seksual. Diskusi dan Nobar ITD telah berlangsung di banyak tempat dan komunitas, baik di Jakarta maupun luar Jakarta. Gerakan Indonesia tanpa diskriminasi akan terus melangsungkan acara serupa guna memperkuat komunitas Indonesia tanpa diskriminasi dan terwujudnya masyarakat Indonesia yang lebih ramah terhadap keragaman dan menampik diskriminasi.


Lomba ITD

Lomba ITD diselenggarakan demi melibatkan partisipasi publik yang lebih luas dalam mensyiarkan dan menggerakkan semangat Indonesia tanpa diskriminasi. Lomba-lomba yang telah dilangsungkan meliputi lomba review dan penulisan puisi-esai, lomba lukisan, foto tunggal dan foto esai, serta lomba cipta lagu. Sebagian lomba bersifat terbatas seperti lomba review puisi-esai antara sekolah menengah di Propinsi Banten. Tapi umumnya, lomba-lomba ini bersifat terbuka untuk semua kalangan dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.

Berbagai jenis perlombaan yang diselenggarakan untuk ITD telah menarik minat partisipasi publik yang sangat luas. Lomba review puisi-esai se-SMP dan SMA Banten yang memperebutkan hadiah 10.000.000 rupiah untuk pemenang pertama—misalnya—telah menggaet tak kurang dari 120 naskah review (sejak awal April – 28 Mei 2012). Lomba penulisan puisi-esai tingkat nasional (dari 16 Juni – 28 Oktober 2012) yang memperebutkah total hadiah 50.000.000 rupiah telah menghimpun tak kurang dari 429 naskah dari berbagai anak bangsa di seluruh penjuru Nusantara.

Sementara lomba paling prestisius, lomba lukisan ITD (16 Juni – 15 September 2012), yang memperebutkan hadiah utama 100.000.000 rupiah telah melibatkan 114 lukisan karya anak bangsa dari seluruh penjuru Indonesia. Lomba foto tunggal dan foto esai tak kalah massifnya. Tak kurang dari 400 karya foto dari berbagai penjuru Nusantara berkisah tentang macam-macam praktek diskriminasi dalam lomba yang memperebutkan total hadiah 50.000.000 rupiah ini. Sementara lomba lagu yang berlangsung dari 16 Juni – 28 Oktgober 2012 berhasil menyaring sekitar 47 karya lagu yang dikirim dari berbagai penjuru Indonesia.[6]


Pameran ITD

Pameran lukisan, foto tunggal dan foto esai, foto esai digital, dan lagu adalah tindak lanjut dari berbagai lomba ITD yang dilakukan sebelumnya. Pameran ini berlangsung sepekan, dari 11 - 18 Desember 2012. Berbagai lukisan dan foto yang dipajang di Sigiart Galery, Pisa Kafe Mahakam, Jakarta Selatan, seakan bersaksi tentang diskriminasi. Tak hanya bersaksi, semuanya berkisah tentang diskriminasi. Lagu-lagu pun bercerita tentang berbagai praktek diskriminasi.

Lukisan “Aku Tidak Menginginkan Hitam-Putih” menampilkan sepasang anak yang tak hendak dilukis hitam-putih. Sekali pun kuas sangat ingin menghitam-putihkan keduanya, tapi warna-warni lainnya lamat-lamat menyapu lengan, muka, dan baju mereka. Inilah lukisan Hudi Alfa, pemenang lomba lukis ITD yang telah memenangkan hadiah 100 juta rupiah. Lukisan Abdurrohman Wahid berkisah lebih gamblang lagi. Lelaki parlente duduk di kursi sambil menutup muka dengan tangannya. Kaki yang disilangkannya mengenakan sepatu merah berhak tinggi. Inilah lukisan “Batman dan Robin/Penolakan Diri” yang memenangkan juara kedua.

Foto esai “Punk not Dead” berkisah tentang diskriminasi yang terjadi di Serambi Mekah, Nanggroe Aceh Darussalam. Tanpa berkata-kata, “Punk not Dead” sudah berkisah dengan lantang tentang perlakuan diskriminatif yang diderita kemunitas punk. Foto tunggal berjudul Parmalin menunjukkan ekspresi lain dari diskriminasi. Seorang lelaki megacungkan KTP yang kosong kolom agama. Itu berkata-kata tentang problem minoritas agama di Indonesia sampai hari ini.

Foto esai digital yang dibuat Denny JA, penggagas gerakan Indonesia tanpa diskriminasi, dengan gamblang menyampaikan pesan Indonesia tanpa diskriminasi. Pada foto “Airmata Darah”, pesan termaktub:

Terusir dari tanah kami yang sah/ Hanya karena paham agama/ Muslim di Ambom, Kristen di Poso, Hindu di Lampung/ Ahmadiyah di Mataram, Syiah di Sampang/ Dan Kaharingan di Kalimantan Tengah.

Pameran ini diliput berbagai media nasional, baik cetak maupun elektronik. Antusiasme pengunjung tampak tinggi pada saat pembukaan acara. Seniman Arahmaiani mengoleskan kuas di atas kanvas kosong. Di sana ia menulis kalimat “Indonesia Tanpa Diskriminasi.” Para pengungjung pun mengoleskan berbagai pesan mereka di atas kanvas putih itu. Kanvas putih itu kini warna-warni, semuanya mengusung semangat Indonesia tanpa diskriminasi.

Gerakan ITD juga mendasarkan pergerakannya pada riset dan survei-survei tentang sikap publik Indonesia terhadap isu-isu toleransi dan diskriminasi. Sampai akhir Desember 2012, gerakan ITD telah melakukan dan merilis dua survei. Pertama tentang “Meningkatnya Populasi yang Tidak Nyaman dengan Keberagaman”. Dalam konpres Minggu, 21 Oktober 2012 ini dipaparkan temuan survei nasional Yayasan Denny JA dan LSI Community dari 1-8 Oktober 2012[43].

Intinya terjadi peningkatan ketidaknyamanan publik Indonesia terhadap eksistensi mereka yang berbeda identitas. Dibanding survei LSI tahun 2005, ketidaknyamanan masyarakat Indonesia bertetangga dengan mereka yang berbeda agama, kelompok Syiah, Ahmadiyah, dan homoseksual mengalami peningkatan. Yang lebih mengkhawatrirkan, angka kesediaan masyarakat untuk menggunakan kekerasan juga meningkat signifikan. Pada tahun 2005, angkanya cuma 9.8%, tapi di tahun 2012 sudah berada di angkat 24%.

Survei kedua memaparkan tentang 5 kasus kekerasan bernuansa diskriminasi terburuk sejak Reformasi 1998. Survei yang dirilis dengan judul Dicari: Capres 2014 yang Melindungi Keberagamaan ini diselenggarakan 23 Desember 2012. Inti survey mengungkapkan bahwa 67,5% publik Indonesia menilai Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tidak maksimal dalam melindungi keragaman primordial di Indonesia. Inilah yang dipercayai publik sebagai pemicu maraknya tindakan diskriminasi dan kekerasan. Sembari itu, publik Indonesia juga berharap munculnya figure capres 2014 yang mampu melindungi keragaman masyarakat Indonesia tanpa diskriminasi [44].


Amal

Gerakan ITD juga terlibat dalam acara amal. Berkerjasama dengan Satgas Perlindungan Anak, gerakan ITD mengirim tim pendongeng yang berupaya melipur lara anak-anak korban diskriminasi dan kekerasan yang menimpa warga Syiah di pengungsian Sampang, Madura, Jawa Timur.

Tragedi Sampang merupakan noda hitam lain dari diskriminasi dan intoleransi beragama di Indonesia. Sepekan setelah perayaan Idul Fitri (26 Agustus 2012), sekelompok massa menyerbu kediaman 600an warga Syiah di tiga dusun di Kecamatan Omben, Sampang, Madura. 37 rumah warga Syiah rusak, 1 orang tewas dan 6 orang lainnya luka-luka.Tim pendongeng berangka Kamis (30 Agustus 2012) dan tinggal di Sampang selama satu bulan dengan dukungan langsung Denny JA, penggagas gerakan ITD[45] - See more at: http://inspirasi.co/informasi_gagasan/post/708#sthash.VSXCGuQc.dpuf

Buku dan karya[sunting | sunting sumber]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]