Denny Januar Ali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Denny JA. Ph.D
Intelektual Entrepreneur
Informasi pribadi
Lahir 4 Januari 1963 (umur 51)
Palembang, Sumatera Selatan

Denny Januar Ali, atau biasa disapa Denny JA (lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 4 Januari 1963; umur 49 tahun) adalah seorang intelektual sekaligus pengusaha. Dalam karirnya, ia telah membuat terobosan di dunia akademik, politik, media sosial, sastra dan budaya di Indonesia.[1] [2] [3].

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Sejak masa Sekolah Menengah Atas (SMA), Denny JA menggemari buku Michael Heart: The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978). Kepeloporan aneka tokoh sejarah itu mengilhaminya membuat aneka tradisi baru. Dalam perjalanan karirnya, semangat kepeloporan menjadi engine dan need for achivementnya.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Denny JA menyelesaikan pendidikan strata satu di (Universitas Indonesia) Jurusan Hukum pada tahun 1989, gelar Master of Public Administration (MPA) diperolehnya dari (Universitas Pittsburgh) Amerika Serikat pada tahun 1994, sementara itu gelar Ph.D dibidang Comparative Politics and Business History didapatkan dar (Ohio State University) pada tahun 2001.

Karier[sunting | sunting sumber]

Kepeloporannya di dunia akademik dimulai Denny JA ketika mendirikan Lembaga Survei Indonesia (LSI, 2003) Lingkaran Survei Indonesia (LSI, 2005), Asosiasi Riset Opini Publik (AROPI, 2007), serta Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (AKOPI, 2009). Melalui empat organisasi ini, Denny JA dinilai telah membuat tradisi baru survei opini publik dan konsultan politik Indonesia[4].

Pada tahun 2004 misalnya, Denny JA mulai mempopulerkan tradisi ilmu sosial kuantitatif yang mampu memprediksi kemenangan calon pemimpin dalam pilkada atau pemilu Indonesia/pilkada[5].

Bahkan sebulan sebelum Pilpres 2009 berlangsung, Denny JA telah memprediksi SBY akan memenangkan Pilpres dalam satu putaran saja. Prediksinya ini menjadi wacana paling hangat dalam pemilu presiden 2009[6] dan menjadi bahan debat resmi calon presiden yang disiarkan aneka TV nasional. Karena perannya dipemilu 2009 itu, Denny JA dianugrahi News Maker of Election 2009 oleh Persatuan Wartawan Indonesia[7].[4].

Karena kesuksesannya inilah, ia kemudian menjadikan konsultan politik sebagai sebuah profesi baru, yang cukup berpengaruh peranannya dalam arena politik nasional[4].

Di dunia sosial media, Denny JA juga ikut meramaikan dengan akun twiternya, @DennyJA_WORLD. Akun ini diakui sebagai akun pertama yang membawa pemilu ke era sosial media. Melalui akunnya, publik dapat mengikuti quick count dari mobile-phone, yang diup-date setiap 10 menit. Hanya 4 jam setelah TPS ditutup, melalui akunnya, publik sudah mengetahui siapa pemenang pemilu.

Ia juga berperan membawa sastra ke era sosial media. Buku puisinya, Atas Nama Cinta (Rene Books, 2012) memperoleh Rekor MURI karena menjadi buku pertama yang bisa diakses melalui akun twitter dan smartphone.

Selain di dunia sastra, Denny JA sejak tahun 2012 juga aktif dalam gerakan anti-diskriminasi. Ia mendirikan Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi. Yayasan ini bergerak dengan mempublikasikan aneka karya budaya, seperti puisi, teater, lagu, foto, lukisan dan film, sebagai cara untuk menularkan gagasan modern: equality dan perlindungan hukum warga negara, apapun identitas sosialnya. Gerakan ini salah satunya ditunjukkan Yayasan Denny JA bersama Satgas Perlindungan Anak, dengan mengirimkan team pendongeng untuk memberikan semangat kepada anak-anak korban yang menjadi pengungsi, akibat terjadinya tragedi Sampang pada 2012[8].

Denny JA berpartisipasi dalam 3 bidang kepeloporan di Indonesia: 1. Kepeloporannya dalam mengubah politik pemilu melalui survei opini publik dan konsultan politik; 2. Kepeloporan dalam genre baru sastra ( puisi esai ); 3. Kepeloporan untuk kerja kemasyarakatan "Indonesia Tanpa Diskriminasi".

Selain sebagai kolumnis di sembilan surat kabar nasional (1986-2005), Denny JA mulai mengawali karier sebagai Direktur Eksekutif Universitas Jayabaya Jakarta pada tahun (2000-2003). Ia juga dipercaya menjadi host untuk program politik di Metro TV dan Radio Delta FM pada tahun (2002-2004). Kariernya kemudian mulai merambah dunia survei dan konsultansi politik. Pada tahun 2005 sampai sekarang Denny JA menjadi Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Denny JA juga pernah tercatat sebagai anggota WAPOR (World Association for Public Opinion Research) untuk periode 2007 dan Ketua Umum AROPI (Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia) untuk periode 2007 – 2010, dan 2010- 2013.[butuh rujukan]

Di tahun 2012, Denny JA mulai berkecimpung dalam dunia yang lebih lagi luas: akademik, politik, dunia usaha, sastra-budaya, media sosial, dan charity. Di bidang yang ia tekuni ini, acapkali Denny JA membuat terobosan baru dan kepeloporan[9].

Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]

Denny JA menikah dengan Mulia Jayaputri dan dari pernikahan ini dianugerahi dua orang anak laki-laki, Rafi Moeslim Auliya Denny dan Ramy Bary Denny. Di kalangan kawan dekat, Denny JA dikenal sebagai “family man.” Ia acapkali mencari waktu untuk dilewati bersama dengan istri dan anak-anaknya[10].

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Penghargaan atas prestasi dan kepeloporan riset ilmu sosial Indonesia dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) 2011[11]
  • Newsmaker of The Election Award 2009 Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia: PWI Jaya, 2009[12]
  • Civil Society Award 2009 Penghargaan dari Majalah Forum Keadilan: Forum Keadilan, 2009[13] [8]
  • Life Achievmnet Award 2008 Penghargaan dari Majalah Biographi Politik, 2008[14]
  • Penghargaan dari Masyarakat Ilmu Pemerintahaan Indonesia: MIPI, 2007[15]
  • PKS Award An Award from Partai Keadilan Sejahtera for His Contribution on New Traditional for Nastional Politics, Through Public Opinion Polling: PKS, 2007[16]
  • MO Award An Award form Mens Obsession (MO) Magazine for His Contibution on New Traditional for National Politics, Through Public Opinion Polling, 2006[17]
  • Political Entrepreneur An Award from Rakyat Merdeka for His Contribution on New Traditional for National Politics, Through Hundred Researches in Vast Provincial Election District, Which Resulted in Surveys and Political Consultancies Become a Central Element in Provincial and District Election (Pilkada) from Aceh to Papua :, 2006
  • 25 Indonesian Records (MURI) dalam bidang akademik, opini publik, konsultan politik, sosial media dan sastra[1].
  • Meraih Democracy Award dari Rakyat Merdeka Online pada tahun 2013, atas aktivitasnya ikut membangun demokrasi di Indonesia[18].
  • Dinobatkan sebagai salah satu dari 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia oleh Tim 8 (2014)[19]

Buku dan karya[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b [1] muri.org
  2. ^ [2]muri.org
  3. ^ [3]muri.org
  4. ^ a b c Lihat Majalah Tempo Edisi 30 Juli-5 Agustus 2012 dan buku Fransiskus Surdiasis, Ulin Ni'am Yusron, Rusdi Mathari, "Enam Ikon Pembawa Tradisi Baru Jakarta: Sinar Harapan, hlm 91-126
  5. ^ [4]Muri.Org
  6. ^ [5]news viva.co.id
  7. ^ [6]Antaranews
  8. ^ a b [7]Rakyat Merdeka
  9. ^ Majalah d'Maestro : Denny J.A, Man of Year 2007 , Desember 2007, hlm 18-29
  10. ^ Lihat Fransiskus Surdiasis, Ulin Ni'am Yusron, Rusdi Mathari
  11. ^ [8]antaranews
  12. ^ [9]detik.com
  13. ^ [10]Rakyat Merdeka
  14. ^ Majalah Biographi Politik, 2008
  15. ^ [11]Pelita
  16. ^ PKS Award, 2007
  17. ^ Majalah Mens Obsession, 2006
  18. ^ [12] Rakyat Merdeka Award
  19. ^ [13]33 Tokoh Sastra Berpengaruh
  20. ^ [14]antaranews

Pranala luar[sunting | sunting sumber]