Cheng Huang Ye

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Cheng Huang Ye

Forbiddencity notopen16.jpg

The City God temple in the Forbidden City.
Hanzi: 城隍

Cheng Huang Ye (Hanzi: 城隍爺; hanyu pinyin: Chénghuáng; Hokkien: Seng Ong Ya) atau Cheng Huang Lao Ye (Hokkien: Seng Ong Lo Ya) adalah Dewa Pelindung Kota dalam agama Taoisme dan Khonghucu. Beliau dipercaya sebagai pejabat pengadilan di akhirat (alam baka) yang bisa mengisi kelemahan pengadilan di dunia. Demikianlah Cheng Huang Ye sangat dihormati di kalangan rakyat jelata.[1]

Nama dan Etimologi[sunting | sunting sumber]

Secara harafiah, Cheng Huang berarti parit pelindung benteng kota. Aksara Cheng (城) adalah tembok kota; Huang (隍) adalah parit kering di luar tembok kota; Ye (爺) adalah kakek/tuan terhormat. Cheng Huang Ye secara keseluruhan memiliki arti Kakek Pelindung Kota.

Cheng Huang Ye juga dikenal sebagai Dewa Kota.

Sejarah Pemujaan[sunting | sunting sumber]

Kepercayaan kepada Seng Hong Ya berasal dari pemujaan terhadap Shui Yong Shen (水庸神) atau Dewa Pengawas Saluran Air, salah satu dari Ba Zha Shen atau Delapan Dewa Palawija. Pemujaan kepada Ba Zha Zhen dimulai oleh Kaisar Purba Yao (堯) (2357 SM – 2258 SM). Shui Yong Shen memiliki kedudukan penting di antara ke delapan dewa. Arti namanya (Saluran Air) mengalami generalisasi meliputi saluran atau parit pelindung benteng.[1]

Pada zaman Tiga Kerajaan (Hanzi: 三國; Hanyu pinyin: San Guo; Fujian/Hokkian: Sam Kok ) tahun 221 M – 265 M, Kerajaan Wu (Fujian: Gouw) mulai menghormati Cheng Huang tersendiri, terlepas dari Ba Zha Shen. Tahun 239 M didirikan kuil Cheng Huang Ye yang pertama, bernama Cheng Huang Miao (Hanzi: 城隍廟; Fujian/Hokkian: Seng Ong Bio]]. Pada masa Dinasti Tang (唐) tahun 618 M – 907 M, tiap ibukota provinsi mulai banyak mendirikan kuil untuk menghormati Cheng Huang. Semenjak saat itu, Cheng Huang secara resmi menjadi Dewa Pelindung Kota.[1]

Kaisar pertama Dinasti Ming yang bernama Zhu Yuan Zhang (Hanzi: 朱元璋) mengangkat Cheng Huang sebagai Tian Xia Dou Cheng Huang atau Dewa Pelindung Ibukota Negara. Pada masa inilah Dewa-Dewa kota di tiap kota diberi pangkat yang berbeda-beda mengikuti urutan kepangkatan pejabat pemerintah dan kuil-kuilnya berbentuk seperti kantor pejabat pemerintah. Pada masa Dinasti Qing (1644 – 1911), setiap kantor pemerintah baik sipil maupun militer diharuskan membangun sebuah kuil untuk memuja Cheng Huang di dekatnya, sebagai lambang Yang (pemerintahan yang nyata yaitu kantor pemerintah) dan Yin (pemerintahan roh yang berupa kuil Cheng Huang). Para pejabat wajib bersembahyang setiap Ce It (Imlek tanggal 1) dan Cap Go (Imlek tanggal 15).[1]

Kultus[sunting | sunting sumber]

Banyak kota-kota di Negara China yang mendirikan kuil untuk Cheng Huang. Mirip dengan Yunani kuno, bangsa China secara tradisional mempercayai adanya Dewa-Dewa Penjaga yang mengawasi tiap-tiap kota.[2] Bangsa China percaya bahwa Cheng Huang mengawasi seluruh kota dan melindungi tembok, benteng, dan parit kota dari roh pengganggu.[3]

Dewa-dewa Kota dipercaya mempengaruhi beberapa aspek kehidupan penduduk kota, termasuk suasana pembangunan di dalam tembok kota, masalah komunitas seperti kebutuhan akan hujan, dan permohonan personal seperti kesembuhan dari penyakit. Penduduk akan menghadap Dewa Kota untuk memohon bantuan pada masa terjadi bencana alam atau krisis lainnya. Dewa Kota juga disebut untuk menolong seseorang yang dituduh melakukan kejahatan. Si tertuduh akan menghadap sang dewa dan memohon pertanda untuk menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah.[4]

Kepangkatan Dewa-Dewa Kota[sunting | sunting sumber]

Kepercayaan kepada Cheng Huang Ye tersebar secara turun-temurun di kalangan rakyat China. Orang-orang percaya bahwa para pahlawan yang telah gugur, orang-orang yang bajik atau telah berjasa bagi masyarakat, akan diangkat menjadi Dewa Kota. Oleh karena itu, di berbagai kota, Cheng Huang Ye yang dihormati tidak sama. Misalnya di kota Hangzhou, ibukota provinsi Zhejiang, tokoh yang dianggap Cheng Huang Ye adalah Zhou Xin. Zhou Xin adalah gambaran seorang pejabat pengadilan yang jujur dan tegas dalam usahanya menegakkan keadilan, tidak bisa disuap dan tidak takut digertak, bahkan oleh orang yang amat berkuasa sekalipun. Di kota Gunming, ibukota provinsi Yunnan, yang diangkat sebagai Cheng Huang Ye adalah Yu Qian, seorang tokoh pada zaman Dinasti Ming yang pernah menjadi perdana menteri.[1] Pang Yu, seorang jendral di zaman Dinasti Tang, diangkat menjadi dewa tembok kota di Shaoxing.[3]

Dewa-dewa kota dipercaya memiliki kedudukan penting dalam Birokrasi Surga, atau tatanan panteon dewata agama tradisional China. Tugas mereka dalam alam roh bisa dikatakan sama dengan tugas pejabat pemerintah di dunia manusia. Pada masa kekaisaran di China, seringkali diperdebatkan apakah dewata lokal seperti Cheng Huang memiliki kekuasaan dibandingkan pejabat lokal. Meskipun demikian, pejabat atau hakim seringkali memohon nasihat Dewa Kota dan bantuan memimpin kota.[5]. Sebagai contoh pejabat tinggi yang jujur dan ideal, bila ada dua belah pihak yang saling berselisih, mereka akan pergi ke kuil Cheng Huang Mio untuk saling bersumpah.[1]

Kaisar Zhu Yuan Zhang dari Dinasti Ming memberi kepangkatan yang berbeda untuk tiap-tiap Dewa pelindung kota. Dewa Kota pelindung Ibukota Nanjing diberi gelar Ming Ling Wang. Pada ibukota provinsi, semua Cheng Huang diberi gelar Du Cheng Huang atau Dewa Pelindung Ibukota. Setiap Cheng Huang di ibukota karesidenan dianugerahi gelar Wei Ling Gong. Gelar pada tingkat kabupaten adalah Ling Ying Hou, dan pada tingkat kecamatan adalah Xian You Bo. Itulah sebabnya tiap-tiap Cheng Huang Ye memiliki corak kedaerahan yang khas.[1].

Ritual Pemerintahan dan Masyarakat[sunting | sunting sumber]

Kultur tradisional China membedakan antara agama pejabat pemerintahan dengan agama populer masyarakat. Pada agama pemerintah, ritual pemujaan Dewa Kota cukup komplek dan hanya boleh dilakukan oleh pejabat pemerintah atau yang sederajat. Hal tersebut juga bertujuan untuk melegitimasi pemerintahan di mata masyarakat dan menegaskan status lokal pada wilayah kekuasaan.[6] Ketentuan persembahan untuk Dewa Kota dideskripsikan dalam bab Ritual Bertuah pada Da Qing Tongli, buku panduan ritual Dinasti Qing.[7] Ritual pemerintahan bersifat khidmat dan khidmat serta dilangsungkan di dalam kuil.[6] Hewan dan makanan yang dikurbankan kepada Dewa Kota diperiksa secara hati-hati oleh pejabat religius untuk memastikan bahwa persembahan tersebut layak.[7]

Suasana kuil Cheng Huang biasanya berwibawa. Ada papan besar yang bertuliskan kata-kata: Anda juga akan kemari kalau harinya tiba. Ada pula yang dilengkapi dengan sempoa yang menyatakan bahwa para malaikat di sini adalah lurus, tidak bisa disuap. Apa yang anda perbuat selama kehidupan di dunia, akan diperhitungkan dengan teliti.[1]

Ritual masyarakat jauh lebih fleksibel. Masyarakat dari pedesaan dan perkotaan berdoa kepada Cheng Huang mengajukan permohonan khusus. Permohonan yang paling umum adalah memohon kesehatan yang bagus. Hari ulang tahun Cheng Huang dirayakan masyarakat perkotaan secara megah dan biasanya menarik perhatian masyarakat, meliputi pertunjukan teater drama, basar makanan dan minuman, kembang api, petasan, bunyi-bunyian gong dan drum, serta asap dupa.[6] Pada perayaan tersebut juga diadakan upacara Gotong Toa Pe Kong dengan thema Seng Ong Ya menginspeksi rakyatnya.[1]

Pengadilan Alam Baka[sunting | sunting sumber]

Semenjak zaman Dinasti Tang, bangsa China mulai mempercayai bahwa Chenghuang juga menguasai kematian. Para pejabat kota wajib memberikan 2 buah laporan, yang satu diberikan kepada pemerintah pusat dan satunya dibakar di kuil Cheng Huang sebagai pertanggungjawaban pejabat kota kepada dewa Pelindung Kota yang merupakan juga dewa kematian.[3]

Arwah orang yang telah meninggal dunia akan dibawa ke hadapan Cheng Huang Ye untuk diperiksa, lalu diputuskan akan masuk surga atau ke neraka. Cheng Huang Ye memiliki banyak anak buah, di antaranya adalah Wen Wu Pan Guan (Hanzi: 文武判官; Fujian/Hokkian: Bun Bu Pwan Kwan) yaitu Jaksa Sipil dan Militer, Niu Tou Ma Mian (Hanzi: 牛頭馬面; Fujian/Hokkian: Gu Thou Be Bin) yaitu Si Kepala Sapi da Si Muka Kuda, Qi Ye Ba Ye atau Da Ye Er Ye (Hanzi: 大爺二爺) atau Dewa Jangkung dan Dewa Pendek, serta 24 pejabat yang disebut Er Shi Si Si (Fujian/Hokkian: Ji Cap Si Su).[1]

Ada beberapa kuil Cheng Huang yang bersambung langsung dengan Dong Yue Miao (kuil pemujaan Dong Yue Da Di, Dewa Penguasa Pegunungan Timur). Di samping Dong Yue Da Di, dipahatkan 10 Raja Akhirat dan 18 tingkat Neraka. Ini menggambarkan bahwa di akhirat pun ada urutan pemeriksaan. Setelah diperiksa secara teliti di tempat Cheng Huang, roh akan dibawa ke hadapan Dong Yue Da Di, dan diteruskan ke tempat Raja Neraka Yan Luo Wang (Fujian/Hokkian: Giam Lo Ong) untuk dijebloskan ke neraka.[1]

Cheng Huang Tiap-Tiap Kota[sunting | sunting sumber]

Dewa Kota di Hong Kong[sunting | sunting sumber]

Pada masa Dinasti Qing, kaisar China menunjuk sesosok Dewa Kota (Shing Wong) untuk tiap-tiap kota besar di China untuk memerintah dan mengawasi wilayah mereka masing-masing. Hong Kong tidak memiliki hakim yang ditempatkan di sana sehingga tidak memiliki perlindungan dari Shing Wong.

Kuil Shing Wong di Shau Kei Wan, Hong Kong.

Hong Kong membangun kuil Shing Wong pertama kali pada tahun 1877 yang dinamakan Fook Tak Tsz, kini di antara Jalan Shau Kei Wan dan Kam Wa di Shau Kei Wan, Hong Kong. Kuil ini direnovasi dan diubah namanya beberapa kali. Dinding luar yang baru dibangun tahun 1974 sehingga kini kuil tersebut terkesan seperti kuil yang berada di dalam kuil.[8] Kini nama resmi tersebut kini adalah Shing Wong Temple.

Selain altar untuk Shing Wong, kuil tersebut juga memiliki altar untuk Tu Di Gong (土地) dan Ng Tung (五通神).[9] Tu Di Gong adalah pengurus kuil tersebut, berada di bawah perintah Shing Wong. Ng Tung bertugas mengurusi kekayaan, waktu, peruntungan, dan festivalnya adalah "Festival Lima Dewa Keberuntungan, Imlek tanggal 5 bulan 1. Festival Shing Wong dirayakan tiap Imlek tanggal 7 bulan 5 dan ulang tahunnya tanggal 24 bulan 7. Festival untuk Tu Di Gong pada Imlek tanggal 2 bulan 1.

Dewa Kota di Shanghai[sunting | sunting sumber]

Kuil Dewa Kota di Shanghai dikenal dengan sebutan Kuil Dewa Kota Tua, awalnya bernama Kuil Dewa Jinshan yang didedikasikan untuk Roh distrik Jinshan. Jinshan (Gunung Emas) adalah sebuah pulau di pantai Shanghai. Kuilnya diubah menjadi kuil Dewa Kota pada tahun 1403 (Dinasti Ming). Semasa perang China-Jepang kedua (1937-1945), Shanghai dikuasai oleh pasukan Jepang sehingga penduduk tidak bisa bersembahyang ke kuil. Maka penduduk membangun Kuil Dewa Kota Baru. Setelah perang berakhir, kuil baru tersebut ditinggalkan umat dan akhirnya dihancurkan pada tahun 1972.[10]

Kuil Dewa Kota Tua didedikasikan untuk 3 Dewa: Huo Guang, Qin Yubo, dan Chen Huacheng.[10] Huo Guang (meninggal tahun 68 SM) adalah jenderal dan penasihat terkenal dari Dinasti Han.[11] Beliau ditunjuk sebagai Dewa Kota Shanghai yang pertama pada masa Dinasti Yuan. Qin Yubo (1295–1373) hidup di Shanghai selama masa Dinasti Yuan sebagai pegawai negeri. Setelah meninggal, kaisar menganugerahi beliau kehormatan sebagai Dewa Kota Shanghai. Chen Huacheng (1776–1842) adalah jenderal Dinasti Qing yang terkenal keberanian serta kegagahannya. Ia bertempur dalam Perang Opium Pertama dan pertahanannya di Sungai Yangtse sangat kuat. Beliau gugur pada tahun 1842 dalam perang melawan Inggris.[10]

Daftar Klenteng Cheng Huang Ye[sunting | sunting sumber]

  • Kuil Hong San Si, Jalan Sultan Muhammad, Singapura.

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k . Buddhist Temple Jindeyuan. Unduh= 7 Maret 2013. Seng Ong Ya – Dewa Pelindung Kota. Jakarta.
  2. ^ OrientalArchitecture.com. Unduh= 14 Juni 2011. Shanghai City God.
  3. ^ a b c Zhonghua Wenhua. 5 Oktober 2006. Cheng Huang – Dewa Kota. Unduh= 7 Maret 2013.
  4. ^ Zito, A. R. 1987. City Gods, Filiality, and Hegemony in Late Imperial China. Symposium on Hegemony and Chinese Folk Ideologies Part II, 13, 333-371. Diunduh 27 Oktober 2008 dari JSTOR Database
  5. ^ Johnson, D. 1985. The City-God Cults of T'ang and Sung China. Harvard Journal of Asiatic Studies, Volume 45, hal. 363-457. Diunduh 27 Oktober 2008 dari JSTOR Database
  6. ^ a b c Columbia.edu. 2007. Temples of the State Cult. Diunduh 26 Oktober 2008.
  7. ^ a b Huters, Theodore. 1988. Modern China, hal. 344-346. Diunduh 26 Oktober 2008 dari JSTOR system database.
  8. ^ Discoverhongkong.com. Evolvement of a Fishing Village : Shau Kei Wan
  9. ^ ctc.org. Chinese Temples Committee : Shing Wong Temple, Shau Kei Wan
  10. ^ a b c City God Temple. 2005.
  11. ^ (City God Temple in Shanghai reopens to Public, 2006)

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]