Bolshevik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pertemuan Partai Bolshevik. Lenin terlihat di tengah

Bolshevik adalah semacam fraksi pecahan dari Partai Sosial Demokrat Rusia yang muncul dalam konferensi di London pada tahun 1903.[1] Partai itu pecah menjadi dua fraksi, yakni Bolshevik ( fraksi mayoritas yang bergaris keras) dan Menshevik (fraksi minoritas yang lebih moderat).[1]

Kaum Bolshevik adalah kelompok garis keras yang berpikir perubahan harus dimenangkan dengan senjata.[2] Dalam sejarah terbukti bahwa kelompok ini nucleus (inti perkembangan) dari Partai Komunis Rusia.[2] Sedangkan kelompok kedua, kaum Menshevik, merupakan kelompok minoritas yang kemudian menjadi kelompok sosialis moderat yang membentuk sikap bahwa perubahan harus dilakukan dengan damai.[3]

Ideologi[sunting | sunting sumber]

Karl Marx Pencetus paham Marxisme
Lambang Partai Bolshevik

Sandaran ideologi dan politik kaum Bolshevik adalah Marxisme dan ajaran-ajaran Lenin seperti: “Shto Delat?” (Apa yang harus dilakukan?), “Satu Langkah ke Depan, Dua Langkah ke Belakang”, “Dua Taktik Sosial-Demokrat dalam Revolusi Demokratis.”, “Materialisme dan Empiriokritisme” dan sebagainya. [4] Dengan paham ini, Uni Soviet saat itu berhasil menjajah sebagian dari Finlandia, Estonia, Lutvia, Lithuania, Czecho-Slovakia, Polandia, Jerman Timur, dan menguasai negara-negara di Eropa Selatan dan Timur, seperti Hungaria, Bulgaria, Rumania, dan Albania.[5]

Paham Marxisme

Paham Marxisme sendiri adalah paham yang paling berpengaruh dalam revolusi Oktober di Rusia yang berlangsung sebagai sepuluh hari yang mengguncangkan dunia seperti yang dikatakan oleh John Reid di daerah St. Petersburg.[6] Marxisme adalah harapan dan keyakinan penting selama kurang lebih setengah abad, tetapi dalam bentuknya yang dicoba dalam suatu transformasi sosial, sangatlah rapuh.[6] Ini terbukti dengan tersingkirnya paham ini dan diganti dengan sikap pragmatik, kerja yang tak mengedepankan persoalan benar atau tidak menurut terhadap suatu doktrin atau asas.[6]

Sejarah Kemunculan[sunting | sunting sumber]

Lenin ditahan oleh pemerintahan Tsar karena kegiatan revolusionernya.[7] Polisi rahasia menangkapnya ketika sedang mengorganisasi kelompok yang disebut dengan Persatuan Perjuangan bagi Pembebasan Kaum Buruh. Lenin kemudian ditahan empat belas bulan. Setelah itu dia dibuang ke Siberia.[7]

Lenin dipenjara di Siberia dari tahun 1887 hingga 1900. (Indonesia)[8] Ketika di Siberia yang tampaknya tidak digubrisnya sebagai siksaan, Lenin menikah dengan Nadezhda Krupskaya, seorang wanita yang juga berpaham revolusioner pada tanggal 22 Juli 1898.[7] Di sana di menulis buku yang berjudul The Development of Capitalism in Russia.[2]

Lenin kadang sangat bosan dengan cara partai berjuang yang dinilainya terlalu lembek. [9] Banyak orang-orang partainya beranggapan bahwa revolusi sosial tidak perlu dibatasi waktunya, para buruh harus dididik dan diorganisasi dalam wujud massa buruh. [9] Tapi bagi Lenin, anggota partai perlu dibatasi pada golongan orang elit yang berdisiplin tinggi dan mereka itu akan mempersiapkan revolusi serta memimpin kaum proletar menuju kemenangan.

Dalam pertemuan yang diadakan di Brussel, Belgia tahun 1903 dan dihadiri oleh kurang-lebih 57 utusan, maka dua perbedaan besar bertemu. [9] Dalam pemungutan suara, Lenin kalah. [9] Perbedaan dua kelompok ini kemudian menjadi cikal-bikal terbentuknya dua partai besar di Rusia, yaitu Menshevik ( yang moderat) dan Bolshevik (yang radikal). [9]

Kegagalan Bolshevik dalam Revolusi Februari[sunting | sunting sumber]

Perang Dunia I memberi Lenin, pemimpin mereka, kesempatan yang besar. Perang itu merupakan bencana militer dan ekonomi bagi Rusia dan meningkatkan ketidakpuasaan terhadap sistem pemerintahan Tsar. [2]

Antara tahun 1905 dan 1906, meski Lenin dan Krupskaya tinggal berpindah-pindah di banyak kota di Eropa Barat seperti London, Paris, Jenewa, Zurich, Burn dan Munchen, namun ia tetap lebih sering pulang ke Uni Soviet untuk persiapan rencana revolusi. [9] Kegiatan seperti ini terus dilakukan Lenin tidak kurang dalam kurun waktu 17 tahun lamanya. [9]

Alat komunikasi dan informasi yang dapat menyatukan pikiran pejuang dan orang yang akan diperjuangkan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan. [9] Lenin sangat menyadari hal itu sepenuhnya. [9] Baginya media massa dapat digunakan sebagai wahana penyambung dirinya dengan para pendukungnya dan itu sebuah keharusan untuk ditempuh. [9] Tahun 1898, Lenin bersama beberapa kelompok buruh illegal membentuk sebuah surat kabar bawah tanah Iskra (artinya Pijar). [8] Yaitu surat kabar yang kemudian menjadi corong bagi Partai Buruh Demokrat Sosial Rusia. [9]

Wilayah Kekuasaan Bolshevik
Alexander Kerensky, Pemimpin pemerintahan sementara Rusia sebelum Bolshevik menyerang

Banyak hal kurang enak yang di dengarnya di perantauan, termasuk aksi perampokan bank yang dilakukan di negerinya di bawah kendali Joseph Stalin. [9] Situasi Uni Soviet tampak jauh tidak terkendali sama sekali. Sementara untuk ke Uni Soviet, dia harus pula melewati Jerman, musuh Soviet sendiri. [9] Ini merupakan kesulitan bagi Lenin untuk bisa pulang dengan mudah. [9] Ketika kaum Bolshevik dipimpin oleh Joseph Stalin sebelum Lenin naik, untuk mendapatkan dana dan senjata, mereka bergerilya, melemparkan bom, menyerang polisi, merampok bank, kantor pos dan gudang senjata. [3]

Pemerintahan/ rezim Tsar digulingkan pada Maret 1917.[2] Yang sebelumnya pada Februari 1917 kaum Menshevik di bawah pimpinan Alexander Kerensky berhasil naik ke kursi pemerintahan. [7] Dan Saat itu Lenin di Zurich, Swiss, ia mendengar bahwa kekuasaan Tsar telah ambruk. [2] Dan Lenin buru-buru pulang ke negaranya. [7] Dimana sebelumnya dia pernah berada di Eropa selama 17 tahun sebagai professor revolusi. [2]

Sampai di St. Petersburg dia marah melihat kaum Bolshevik yang mau bekerja sama dengan Karensky. Lenin mengorganisasi kaum Bolshevik untuk menggulingkan pemerintahan. [7] Dia cukup perseptif untuk melihat bahwa walaupun partai-partai demokratis mempunyai pemerintahan tingkat provinsi, kekuatan mereka tidak besar dan partai komunis yang sangat rajin mengambil alih walau jumlahnya kecil. [2] Ia mengambil kesimpulan bahwa parta-partai demokratis- walau sudah mendirikan pemerintahan sementara- tetap tidak punya kekuatan yang cukup. Kondisi itu tentu sangat baik bagi partai komunis yang punya pegangan. [9] Oleh karena itu, dia mendesak para Bolshevik untuk berusaha mengambil alih pemerintahan provinsi dan menggantinya dengan anggota komunis. [2]

Sampai beberapa bulan Rusia dikuasai oleh pemerintah sementara dengan pimpinan Alexander Kerensky. [3] Tokoh ini dengan partainya percaya, sikap hati-hati dan perubahan perlahan akan membawa pembaharuan tidak hanya bagi kelas pekerja, tapi juga bagi rakyat Rusia seluruhnya. [3] Sikap ini ditolak oleh Kaum Bolshevik, yang tetap bersikeras meyakini kebenaran kaum Marx bahwa "Perjuangan kelas harus diarahkan kepada kediktatoran proletar, satu masa peralihan untuk menghilangkan perbedaan kelas." [3] Melihat Lenin membawa kaum Bolshevik bertentangan dengan pemerintahan Menshevik, Karensky lantas memerintahkan penangkapannya. [3] Usaha yang Bolshevik lakukan pada bulan Juni gagal, dan pemimpin mereka harus bersembunyi. [2]

Revolusi Oktober[sunting | sunting sumber]

Meski kegagalan terjadi pada bulan Juli, Lenin tidak patah semangat. [7] Dia kembali mengatur barisan dan merencanakan pemberontakan. [7]

Dari [[Finlandia] di bulan Oktober, Lenin menulis surat ke pemimpin partai,” Krisis itu ada di sini (Rusia, maksudnya).[3] Kita berdosa kalau kita tangguhkan. Kaum Bolshevik mampu dan harus merebut kekuasaan ke tangan mereka sendiri.” [3] Kaum Bolshevik ragu-ragu, namun akhirnya mereka bangkit. [3]

Sebelum menyerang Lenin berpidato, pidato tersebut disampaikan pada bulan September, hanya beberapa minggu sebelum kaum Bolshevik melakukan Revolusi Oktober.[8] Dalam pidato itu Lenin menyerang Pemerintahan Peralihan (Provisional Government)dan koalisi dari kelompok-kelompok politik yang telah menggulingkan rezim Tsar pada bulan Maret tahun itu. [8]

Para tahanan Bolshevik
Keadaan Petrograd waktu itu

Pada akhir tahun 1917, Petrograd dilanda kerusuhan. Para pekerja mengambil alih pabrik dan slogan Lenin “kekuasan untuk rakyat” menjadi kenyataan. Bersama dengan Leon Trotsky, pemimpin Soviet Petrograd, Lenin dan para tokoh Bolshevik lainnya segera menyusun rencana perjuangan bersenjata.[8] Pada tanggal 26 Oktober 1917, revolusi pecah di kota Petrograd. [7] Pemberontakan berhasil dan Karensky melarikan diri.Lenin menyuarakan perdamaian di dalam negeri. “Kita harus siap-siap membangun cita-cita kaum sosialis,” katanya.[7] Pada malam November 1917, Lenin memerintahkan Pasukan Merah untuk mengambil-alih institusi-institusi penting di Petrograd, termasuk kantor pusat Pemerintahan Peralihan di Istana Musim Dingin.Dan tanpa banyak perlawan, kaum Bolshevik berhasil merebut kekuasaan dalam Revolusi Oktober, yakni revolusi kedua bagi Rusia. [8] Dan pada bulan November tahun 1917 Lenin jadi kepala baru. [2] Setelah revolusi Oktober, sebagai pimpinan pertama Soviet itu Lenin sukses membawa negara Soviet melewati tahun-tahun pertamanya, termasuk melewati perang saudara antara tahun 1981 dan 1921. [8]

Perubahan Nama dan Program Pembangunan Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Dalam sidang III Dewan Pekerja, Militer dan Petani di Petrograd Pertengahan Januari 1918, kaum Bolshevik meresmikan berdirinya Republik Soviet Rusia yang telah diproklamirkan pada sidang sebelumnya (sidang II) pada tanggal 7 November 1917 dan mengubahnya menjadi RSFSR (Rossiiskaya Sovietskaya Federativnaya Sotsialisticheskaya Respublika) atau Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia.[4] Setelah meraih kesuksesan dan membentuk pemerintahan RSFSR, Bolshevik menyusun berbagai kebijakan baik politik maupun ekonomi untuk memperbaiki keadaan akibat revolusi dan perang.[4]

Adapun program-program Pembangunan Ekonomi Bolshevik adalah; nasionalisasi perbankan, penggabungan ke dalam bank tunggal pemerintah, nasionalisme ''trust'', sindikat yang menguasai industry-industry besar, pembentukan kontrol pekerja atas produksi dan pembagian kerja sebagai langkah persiapan nasionalisasi industri dan perdagangan.[4]

Kemudian program yang lain adalah pembentukan monopoli pemerintah atas perdagangan luar negeri, penyitaan tanah-tanah milik tuan tanah, nasionalisasi seluruh tanah, serta pembentukan Sovkhos ( perekonomian Soviet dari perkebunan-perkebunan sitaan milik tuan-tuan tanah yang berskala besar, dan mengejar ketertinggalan ekonomi negara dengan cara memacu perkembangan kekuatan produksi.[4]

Perang Saudara[sunting | sunting sumber]

Berbagai pergolakan dan pertentangan terjadi menyusul Revolusi Oktober 1917.[4] Peristiwa ini dipicu oleh perbedaan dalam memandang situasi yang terjadi di dalam negeri.[4] Perbedaan cara pandang ini pada gilirannya mengakibatkan polarisasi kekuatan dalam 2 kubu yang saling bertentangan yakni kubu Merah (Bolshevik) dan kubu Putih (kaum sosialis lainnya).[4] Perseteruan antar fraksi-fraksi sosialis itulah pada gilirannya memecah rakyat (petani) dan mngombang-ambing dalam pemihakan masing-masing.[4] Peristiwa tragis ini kemudian dikenal dengan nama Perang Saudara (Grazhdanskaya Voina).[4]

Perang saudara yang berlangsung selama sekitar dua tahun itu telah menelan korban sedikitnya tujuh setengah juta jiwa.[4] Selain tingginya korban, akibat perseteruan dua pihak, kerugian materiil yang diderita bangsa Rusia juga sangat besar.[4] Sebagai akibat dari kebijakan penghapusan kelas Borjuis yang dilancarkan kaum Bolshevik, Rusia kehilangan kelas potensial yang harusnya bisa menopang kekuatan industri.[4] Likuidasi pemilik-pemilik modal besar dan kepemilikan pribadi terjadi selama Perang saudara.[4] Nasionalisasi bidang transportasi, perhubungan, industri berat dan ringan, sistem perbankan dan sebagainya berlangsung dalam kurun waktu antara 20-30 tahun telah mengubah struktur sosial masyarakat secara drastis.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Jamal (2004). Rakkaustarina. Jakarta:PT Grasindo.Hal. 157.
  2. ^ a b c d e f g h i j k (Indonesia)Michael Hart (2009). 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah.Jakarta:PT Mizan Publika.Terj. Ken Ndaru. Hal 439-440, Cet. 2.
  3. ^ a b c d e f g h i (Indonesia) Archer, Jules (2007).Kisah Para Diktator: Biografi Politik Para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis, dan Tiran.Yogyakarta: Penerbit Narasi. Terj. Dimyati As Hal 33-56,Cet.17.
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Fahrurrodji, A (2005). “Rusia Baru Menuju Demokrasi”.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. Hal 128-135
  5. ^ Muljana, Slamet (2008).Kesadaran nasional dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan.Yogyakarta:LKiS. Hal 156 Jilid II
  6. ^ a b c Goenawan, Mohamad (2005).Setelah Revolusi Tidak Ada Lagi.Jakarta:Pustaka Alvabet. Hal 169-171 Cet 1 Edisi Revisi
  7. ^ a b c d e f g h i j Zazuli, Mohammad (2009)."60 Tokoh Dunia Sepanjang Mas".Yogyakarta: Penerbit Narasi. Hal 91-92.
  8. ^ a b c d e f g Montefiere (2007).”Speeches that changed the world”. Terj. Haris Munandar. Semarang:Penerbit Erlangga. Hal 63-64
  9. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Syamdani (2009).Kisah Diktator-diktator Psikopa.Yogyakarta:Penerbit Narasi. Hal 107-118