Bantarwaru, Ligung, Majalengka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bantarwaru
—  Desa  —
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Majalengka
Kecamatan Ligung
Luas 269.000 Ha
Jumlah penduduk 3.432 orang
Kepadatan -

Bantarwaru adalah sebuah desa di kecamatan Ligung, Majalengka, Jawa Barat, Indonesia. Desa ini berbatasan dengan Desa Ampel di Utara, Desa Ligung di Barat, Desa Sukawera di Selatan dan Desa Leuweunghapit di Timur.

Bantarwaru adalah ibu kota dan pusat perekonomian kecamatan Ligung. Desa Bantarwaru terdiri atas 6 Blok yaitu Blok Jumat, Blok Sabtu, Blok Minggu, Blok Senen, Blok Munggang, dan Blok Kamis. Desa Bantarwaru memiliki 22 RT dan 5 RW.

Bantarwaru menurut bahasa terdiri dari kata "Bantar" dan kata "Waru". Bantar adalah hutan sedangkan Waru adalah pohon waru. Menurut Istilah kata Bantarwaru diambil dari Sejarah asal muasal berdirinya desa, dimana Pada Tahun 1482 orang pertama yang singgah di Hutan Waru (red. sekarang Bantarwaru) yang bernama Syeikh Ngora dan Syeikh Bentong.

Sejarah Desa Bantarwaru[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1482 di Desa Kedongdong diadakan Pesta Raja para Demang dan Kompeni Belanda yang menjadi Raja (SULTAN) di kesultanan Cirebon waktu itu bernama Kesultanan Pakungwati.

Pada waktu pesta, Raja Syeikh Ngora dan Syeikh Bentong menyerang Belanda dibantu oleh rakyat sekitarnya. Lokasi perang di lapangan TEGAL BERSIH sebelah barat Desa Kedongdong dan sekarang termasuk wilayah Desa Kodasari dan Susukan.
Peperangan yang sangat tidak seimbang antara jumlah Kompeni Belanda dengan pasukan Syeikh Ngora dan Syeikh Bentong sehingga Pasukan Syeikh Ngora dan Syeikh Bentong mengalami kekalahan.

Pada waktu Syeikh Ngora lari dari kejaran pasukan Kompeni Belanda ke arah barat ada hutan belantara yang banyak sekali ditumbuhi pohon waru, beliau membuka hutan dengan menggunakan SELENDANG MAYANG CINDE bilamana selendang itu dilempar menjadi api mulai membuka hutan.

Tahun 1568 seluruh warga kesultanan Cirebon berduka cita berpulang ke alam baqa Syeikh Ngora setelah berusia 120 tahun dikuburkan di Astana Gunung Jati Cirebon di depan pangimaman Masjid Astana disebut GEDE BANTARWARU.

Setelah Ki Gede Bantarwaru wafat Pangeran Walangsungsang alias Pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu Cirebon (Wa`nya Sunan Gunung Djati) yang merupakan murid dari Syeikh Datul Kahfi atau Syeikh Nur Djati, mengutus Buyut Cidum untuk meneruskan perjuangan Ki Gede Bantarwaru, karena tempat itu, dipersiapkan untuk persinggahan atau singgahnya para pejuang atau penggeden, bahkan menjadi tempat persembunyian. Para penggeden itu, tidak hanya dari Kesultanan Cirebon, tetapi juga dari kerajaan lainnya. Mengingat, jaman itu, Kerajaan Pakuan Padjajaran yang dipimpin Prabu Siliwangi (Ayah Pangeran Walangsungsang) masih berkuasa didataran pasundan.

Jejak berupa situs atau peninggalan lainnya dari orang Agung sendiri nyaris tidak bisa ditemui sekarang. Namun begitu, terdapat sisi lain yang masih disimpan oleh penggeden. Misalnya, Syeikh Maulana dari Kesultanan Cirebon, yang menyimpan ilmu kanuragannya berupa keris dan batu merah delima berbentuk kemangmang (pewujudan, mungkin khodam dari banaspati) di Pinangsraya (sekarang Buyut Raya). Konon, pusaka tersebut hanya bisa diambil oleh keturunannya. Atau, cerita Syeikh Masran bin Malik juga dari Cirebon, yang diutus untuk menaklukan dan mengusir bangsa lelembut di bantaran Kali Cimanuk (wilayah Buyut Kati, basuh cilik dan basuh gede). Lelembut yang tidak bersahabat dengan manusia itu, ditaklukan untuk diusir, sebagian yang mengikuti (jawa = manut) masih tersisa sampai sekarang. Tidak heran, sampai saat ini banyak orang dari sejumlah wilayah yang berjiyarah di buyut pejaratan yang ada di Bantarwaru.

Tentang Buyut Cidum, tidak ada informasi menyebutkan nama aslinya siapa. Tetapi cidum sendiri diambil dari bahasa sunda yakni ceudeum, artinya sejuk karena mendung atau sendu. Mengingat wilayah yang dihuni Buyut Cidum (sekarang pejaratan Buyut Cidum) begitu sepi suasananya. Ternyata, pada waktu yang sama juga, dua wilayah lainnya dibuka oleh kedua adik Buyut Cidum. Ya'ni Buyut Arsitem di kawasan Desa Sumber, Jatitujuh yang berbatesan dengan Indramayu, dan Buyut Depok di kawasan Cisambeng, Cigasong dan Palasah.

Seiring dibukanya pemukiman baru bernama Bantarwaru, para penduduk dari luar daerah mulai masuk. Sedikitnya, terceritakan ada enam rumpun yang menjadi cikal bakal berkembang atau menjadi nenek moyang masyarakat Bantarwaru dan Ligung. Pertama berasal dari tanah Cakrabuana, Cirebon dan Cirebon Girang. Termasuk Buyut Cidum juga berasal dari tanah Cirebon. Selain itu, rumpun Galunggung yang datang dari tanah Sunda, juga banyak migran ke Bantarwaru. Selanjutnya, berdatangan dari kawasan lainnya, seperti Indramayu, Tegal, dan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi, bisa dimaklumi kenapa penggunaan bahasa masyarakat Bantarwaru dan Ligung didominasi jawa. Namun sebagian penggunaan bahasanya juga mengadopsi sejumlah kosakata sunda.

Pada suatu cerita ketika Si Nuhun (Orang Agung dari Cirebon) berkeliling ke daerah Majalengka Utara sekitar Bantarwaru membawa pedati, pedatinya terpeleset di Kali Cikeruh kemudian Buyut Raya menolong dengan mengambil kerbau dari Desa Kejiwan Kecamatan Susukan (kerbaunya kecil seperti rusa tapi tenaganya kuat) kemudian Kerbau itu menarik pedatinya dan Buyut Raya tenggelam (jawa slulup) mengangkat roda pedati dan Si Nuhun memecut kerbaunya, kemudian Si Nuhun memberi gelar pada kerbau tersebut dengan sebutan Kerbau Kejiwan. Sampe sekarang Pedati tersebut masih ada dan di simpan di Museum Desa Krangkeng Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu dalam keadaan rusak.

Hadirnya banyak rumpun, juga menjadikan banyaknya buyut pejaratan. Sekiranya, terdapat tujuh yang semuanya berlokasi di Bantarwaru. Buyut pejaratan yang paling tua yakni Buyut Cidum. Namanya diambil dari nama tokoh yang membuka alas menjadi pemukiman itu. Kemudian Buyut Raya, nama terebut diambil dari nama Pinangsraya. Tidak nyata siapa orangnya, tetapi diceritakan orang Agung sakti yang pernah tinggal, lantas namanya dijadikan nama pejaratan. Jauh setelah itu, terdapat Buyut Panggih atau Buyut Kuru yang berada di Lunggandu, Dukuasih. Keberadaan Buyut Kuru sebagai sesepuh dikawasan tersebut. Terus, pejaratan Buyut Nurilah yang letaknya dibelakang Balai Desa Bantarwaru. Buyut Nurilah adalah seorang petapa dari Indramayu yang hingga akhir hayatnya dimakamkan ditempat tersebut. Adapun Buyut Kati, namanya diambil dari saudagar beras, bernama Katijah yang dimakamkan dilokasi tersebut. Sementara lainnya, terdapat Buyut Tekol dan Buyut Slamet. Intinya, penamaan buyut diambil dari masyarakat tokoh pada fase-fase tertentu di Bantarwaru.

Mengenai pemisahan kawasan sendiri, baru belakangan dilakukan menjadi dua wilayah. Pada masa Buyut Cidum dan sesudahnya hingga paling tidak masa kemerdekaan, dua kawasan tersebut masih menyatu. Namun begitu, muasal perbatasan Bantarwaru Ligung yakni kali mati, yang sekarang kali mati itu sudah ditutup. Namun seiring waktu, diubah perbatasannya, yakni kali Cikeruh.

Tahun 1705 seluruh Majalengka pemerintah kolonial menetapkan Pangeran ARIA Cirebon sebagai seorang GUBERNUR untuk seluruh Jawa Barat untuk diberi wewenang oleh Bupati memungut pajak dari Rakyat untuk kepentingan pemerintah Hindia Belanda.

Kepala Desa[sunting | sunting sumber]

  1. H. Umar 1741 – 1778
  2. Tasem 1778 – 1819
  3. Umar Saleh 1820 – 1858
  4. Rd. Carang Pering Gandangi 1820 – 1899
  5. Dayat 1900 – 1937
  6. H. Mohammad Ali 1938 – 1939
  7. Surya 1940 – 1943
  8. Soleman 1943 – 1947
  9. Amsor H. Rais 1948 – 1955
  10. Asmu'i/H. Basuni Ma'ruf 1956 – 1962
  11. H. Ma`mun Ma'ruf 1963 – 1979
  12. A. Radji 1980 – 1982
  13. Basari 1982 – 1982
  14. Abdul Karim 1983 – 1984
  15. M. Sya'roni Abdussalam Anwar 1982 – 1994
  16. Taryadi 1994 – 2000
  17. Abdul Karim 2000 – 2001
  18. M. Sya'roni Abdussalam Anwar 2001 – 2007
  19. H. Narpan Supandi 2008 – 2013

Sarana dan Prasarana Desa[sunting | sunting sumber]

Sekolah
  1. SDN Bantarwaru I beralamatkan di Jl. Raya Timur Blok Munggang
  2. SDN Bantarwaru II beralamatkan di Jl. Raya Timur Bantarwaru
  3. MTsN Bantarwaru beralamatkan di Jl. Raya Timur No. 541 Bantarwaru
  4. SMPN 1 Ligung beralamatkan di Jl. Raya Timur Blok Munggang
  5. Madrasah Ibtidaiyah PUI beralamatkan di Jl. Raya Timur Bantarwaru
  6. PAUD BUNDA PERTIWI beralamatkan di Jl. Raya Timur Bantarwaru
  7. PAUD dan Raudhotul Athfal Al-Anwariyah beralamatkan di Jl. Raya Barat Bantarwaru
  8. TK Mayang Cinde beralamatkan di Jl. Raya Timur Bantarwaru
Masjid
  • Masjid Jamie Nurul Huda
  • Masjid Al Istiqomah
Mushola
  1. Mushola At-Taqwa di Blok Jum'at
  2. Mushola Al Barokah di Blok Jum'at
  3. Mushola Tarbiyatul Aulad di Blok Jum'at
  4. Mushola Al-Islah di Blok Jum'at
  5. Mushola Al Bakir di Blok Sabtu
  6. Mushola Al An-Shori di Blok Sabtu
  7. Mushola Nurul Huda di Blok Sabtu
  8. Mushola Al Hidayah di Blok Sabtu
  9. Mushola Al Ma`ruf di Blok Ahad
  10. Mushola Darussalam di Blok Ahad
  11. Mushola Mambaul Amanah di Blok Ahad
  12. Mushola As Salam di Blok Ahad
  13. Mushola Miftahul Jannah di Blok Ahad
  14. Mushola Al Aqso di Blok Senin
  15. Mushola Al Ishak Jaruki di Blok Senin
  16. Mushola Al Karomah di Blok Senin
  17. Mushola Ar-Rohmah di Blok Senin
  18. Mushola Al-Ikhsan di Blok Kamis
  19. Mushola As-Shidiq di Blok Kamis
  20. Mushola Al Shodiq di Blok Kamis
Pondok Pesantren
  • Pondok Pesantren Darussalam beralamatkan di Jl. Raya Barat Bantarwaru
Pasar dan Pusat Perbelanjaan
  1. Pasar Pagi Slamet terletak di Bantarwaru Utara
  2. AlfaMart terletak di Bantarwaru Barat buka jam 07.00 s/d 22.00
  3. Pasar Malam Mini terletak di Prapatan Bantarwaru buka pada malam hari setiap hari buka jam 17.30 s/d 02.00
  4. Pasar Senggol diselenggarakan pada hari Minggu pukul 16.00 s/d 20.00 di Depan Warnet G-Net Balai Desa Bantarwaru
Pusat Kesehatan
APOTIK SETYA FARMA yang terletak di JL. Raya Barat Bantarwaru no 10[sunting | sunting sumber]
Potensi Tempat Wisata
  1. Wisata Air Cadas Buyut Cidum
  2. Wisata Bendungan Air Dam

Peristiwa Penting[sunting | sunting sumber]

Tahun 1923 – 1925 Jalan PUK dibangun dengan batu kerikil Jalur Desa Bantarwaru, Desa Ligung, Desa Bongas dan Desa Ampel.

Tahun 1930 Pemekaran Desa Majasari

Tahun 1937 Kampung Tegal Maja diserahkan kepada Desa Bongas

Tahun 1938 Kampung Tegal Simpur diserahkan kepada Desa Buniwangi

Tahun 1970 rehabilitasi pasar tradisional yang diselenggarakan setiap hari Jum'at s/d Rabu pukul 02.00 s/d 08.00 yang sebelumnya terletak di timur simpang pertigaan jalan masuk ke jalan arah Desa Sukawera.

Tahun 1982 Pemekaran Desa Sukawera beserta Kampung Cimuncang, Kampung Leuwiliang dan Kampung Dukuh Asih

Tanggal 5 - 8 Juni 2001 Tragedi Bentrok masyarakat antara Desa Bantarwaru dan Desa Ampel Korban luka parah dari Bantarwaru 1 orang, rumah yang ada di Bantarwaru dibakar 40 rumah lebih, dan di Ampel sekitar 28 rumah

Tanggal 8 Februari 2008 Internet Speedy sudah masuk Bantarwaru, dan sejak waktu itu banyak warnet di Desa Bantarwaru

Pranala luar[sunting | sunting sumber]