Ali bin Ja'far

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Ali Uraidhi)
Langsung ke: navigasi, cari

Ali bin Ja`far atau lebih dikenal dengan Ali al-Uraidhi adalah putra dari Imam Ja'far ash-Shadiq dan saudara dari Imam Musa al-Kadzim. Dia dikenal dengan julukan al-`Uraidhi, karena ia tinggal di suatu daerah yang bernama `Uraidh (sekitar 4 mil dari Madinah), selain itu ia juga dipanggil dengan julukan Abu Hasan.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Kelahiran[sunting | sunting sumber]

Dilahirkan dan dibesarkan di Madinah, dan kemudian memilih untuk tinggal di daerah 'Uraidh. Ia merupakan seorang yang tekun beribadah, dermawan dan seorang ulama besar. Di antara saudara-saudaranya, ia adalah anak yang paling bungsu, paling panjang umurnya dan salah satu yang menonjol. Ayahnya, Ja'far ash-Shadiq meninggal pada saat ia masih kecil.

Ali al-'Uraidhi, lebih mengutamakan menghindari ketenaran dan takut dari hal-hal yang dapat menyebabkan dikenal. Ia dikaruniai umur panjang, sampai dapat menjumpai cucu dari cucunya.

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Kebanyakan sayyid dan habib yang berada di Indonesia dan Asia Tenggara merupakan keturunannya dari jalur Ahmad al-Muhajir. Putra-putranya adalah:

  1. Hasan
  2. Ahmad asy-Sya'rani
  3. Ja'far al-Ashgar
  4. Muhammad al-Naqib

Wafat[sunting | sunting sumber]

Dia meninggal pada tahun 112 H di kota 'Uraidh dan disemayamkan di kota tersebut. Makamnya sempat tak diketahui, lalu Zain bin Abdullah Bahasan menampakkannya, sehingga terkenal hingga sekarang.

Keilmuan[sunting | sunting sumber]

Keilmuan didapat dari ayah dan sahabat ayahnya, selain itu didapat pula dari saudaranya, Musa al-Kadzim. Ia juga belajar dari Hasan bin Zaid bin Ali. Banyak pula yang meriwayatkan hadits dari jalur Ali al-Uraidhi, di antaranya adalah kedua putranya (Ahmad dan Muhammad), cucunya (Abdullah bin Hasan bin Ali), putra keponakan (Ismail bin Muhammad bin Ishaq bin Ja'far ash-Shadiq) dan juga al-Imam al-Buzzi.

Pendapat perawi hadits[sunting | sunting sumber]

  • Berkata Al-Imam Adz-Dzahabi di dalam kitabnya Al-Miizaan, "Ali bin Ja'far Ash-Shadiq meriwayatkan hadits dari ayahnya, juga dari saudaranya (yaitu Musa al-Kadzim), dan juga dari Sufyan ats-Tsauri. Adapun yang meriwayatkan hadits dari beliau di antaranya Al-Jahdhami, Al-Buzzi, Al-Ausi, dan ada beberapa lagi. At-Turmudzi juga meriwayatkan hadits dari beliau di dalam kitabnya."
  • Adz-Dzahabi menulis dalam kitab lainnya, Al-Kaasyif, "Ali bin Ja'far bin Muhammad meriwayatkan hadits dari ayahnya, dan juga dari saudaranya (yaitu Musa al-Kadzim). Adapun yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah dua putranya (yaitu Muhammad dan Ahmad) dan juga ada beberapa orang. Ia meninggal pada tahun 112 H..."
  • Adz-Dzahabi juga meriwayatkan suatu hadits dengan mengambil sanad dari beliau, dari ayahnya terus sampai kepada Imam Ali bin Abi Thalib, "Sesungguhnya Nabi SAW memegang tangan Hasan dan Husain, sambil berkata, 'Barangsiapa yang mencintaiku dan mencintai kedua orang ini dan ayah dari keduanya, maka ia akan bersamaku di dalam kedudukanku (surga) pada hari kiamat.' "
  • Ibnu Hajar juga berkata di dalam kitabnya At-Taqrib, "Ali bin Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain adalah salah seorang tokoh besar pada abad ke-10 H..."
  • Al-Yaafi'i memujinya di dalam kitab Tarikh-nya. Demikian juga Al-Qadhi menyebutkannya di dalam kitabnya Asy-Syifa', dan juga mensanadkan hadits dari beliau, serta meriwayatkan hadits yang panjang tentang sifat-sifat Nabi SAW. Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad-nya juga meriwayatkan hadits dari jalur beliau. Demikian juga beberapa orang menyebutkan nama beliau, di antaranya As-Sayyid Ibnu 'Unbah, Al-'Amri, dan As-Sayyid As-Samhudi.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Sumber[sunting | sunting sumber]

  • Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy

Pranala luar[sunting | sunting sumber]