Ali bin Husain

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bagian dari seri Dua Belas Imam
Ali Zainal Abidin
Sebuah penggambaran dari seniman muslim.
penggambaran fiksi
Ali bin Husain bin Ali
Imam Keempat
Kunyah Abu Muhammad
Lahir 15 Jumadil awal 38 H
658 Masehi
Meninggal 25 Muharram 95 H
713 Masehi
Tempat lahir Madinah
Dikuburkan Jannatul Baqi, Madinah
Masa hidup

Sebelum Imamah: 37 tahun
(38 - 75 H)
- 2 tahun bersama kakeknya Imam Ali
- 12 tahun bersama pamannya Imam Hasan
- 23 tahun bersama ayahnya Imam Husain

Imamah: 20 tahun
(75 - 95 H)
Gelar as-Sajjad (Arab: ahli sujud)
Zainal Abidin (Arab: hiasan para ahli ibadah)
Istri Fatimah binti Hasan
Ayah Husain
Ibu Syahzanan
Keturunan Muhammad al-Baqir
Ali · Hasan · Husain

as-Sajjad · al-Baqir · ash-Shadiq
al-Kadzim · ar-Ridha · al-Jawad
al-Hadi · al-Asykari · al-Mahdi

Ali bin Husain (658-713) (Bahasa Arab: علي بن حسين زين العابدين) adalah imam ke-4 dalam tradisi Syi'ah. Ia anak dari Husain bin Ali dan cicit dari Muhammad. Ia dikenal oleh Syi'ah dengan julukan Zainal Abidin karena kemuliaan pribadi dan ketakwaannya dan as-Sajjad sebagai tanda "orang yang terus melakukan sujud dalam ibadahnya".[1] Beliau juga dipanggil dengan nama Abu Muhammad, bahkan kadang ditambah dengan Abu al-Hasan. [2]

Kelahiran dan Kehidupan keluarga[sunting | sunting sumber]

Kelahiran[sunting | sunting sumber]

Ali bin Husain dilahirkan di Madinah pada tahun 38 H/658-659 M menurut mayoritas riwayat yang ada, riwayat lainnya menyatakan ia dilahirkan pada tanggal 15 Jumadil Ula 36 H. Dua tahun tinggal bersama kakeknya, Ali bin Abi Thalib, 12 tahun tinggal bersama pamannya, al-Hasan, 23 tahun tinggal bersama ayahnya, al-Husain. Dia wafat di Madinah pada 95 H/713 M dalam usia 57 tahun, ada pula yang menyatakan wafat pada 25 Muharram 95 H. 34 tahun setelah kewafatan ayahnya. 34 tahun ia menjadi Imam dan dimakamkan di Pekuburan al-Baqi, Madinah sebelah pamannya, al-Hasan.[2]

Ibu[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa riwayat yang menyatakan tentang siapa ibu dari Ali Zainal Abidin, antara lain:

  • Riwayat pertama menyatakan bahwa ibunya bernama Syahzanan putri dari Yazdigard bin Syahriyar bin Choesroe. Selain itu disebut juga ia bernama Syahrbanawaih. Khalifah Ali bin Abi Thalib mengangkat Huraits bin Jabir al-Hanafi untuk menangani urusan bagian provinsi-provinsi timur, Huraits memberikan kepada Ali dua putri Yazdigard bin Syahriyar bin Choesroe. Salah satu putri Yazdigard ini yang bernama Syahzanan diberikan Ali kepada putranya yang bernama al-Husain. Syahzanan kemudian memberikan anak lelaki kepada al-Husain. Anak lelaki ini bernama Zainal Abidin. Ali memberikan putri Yazdigard yang satunya lagi kepada Muhammad bin Abu Bakar, yang melahirkan seorang anak lelaki bernama al-Qasim.[2]
  • Riwayat lainnya menyatakan bahwa ibunya bernama Syahrbanu, putri Yazdigird, kaisar terakhir Sasaniyah, Persia. Oleh karena itu Ali Zainal Abidin dijuluki pula Ibn al-Khiyaratyn, yaitu anak dari dua yang terbaik, yaitu Quraisy di antara orang Arab dan Persia di antara orang non-Arab. Menurut riwayat itu ibunya dibawa ke Madinah sebagai tahanan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab yang hendak menjualnya. Namun Ali bin Abi Thalib menyarankan sebaiknya Syahrbanu terlebih dahulu diberi pilihan untuk menjadi istri salah seorang Muslim, dan mas kawinnya diambil dari Baitul Mal. Khalifah Umar menyetujuinya, dan akhirnya Syahrbanu memilih putra Ali bin Abi Thalib yaitu Husain. Konon Syahrbanu wafat tak lama setelah melahirkan anak semata wayangnya ini.[1]

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Beliau memiliki 15 orang keturunan,

11 anak laki-laki[sunting | sunting sumber]

  1. Muhammad al-Baqir, ibunya adalah Ummu Abdullah binti al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Merupakan Imam selanjutnya menurut Imamiyah.
  2. Abdullah al-Bahir[3]
  3. al-Hasan
  4. al-Husain al-Akbar[3]
  5. Zaid, imam pengganti menurut Zaidiyah.
  6. al-Husain al-Asghar[3]
  7. Abdurrahman
  8. Sulaiman
  9. Muhammad al-Asghar atau Qaim[3]
  10. Umar al-Asyraf[3]
  11. Ali, merupakan anak bungsu

4 anak perempuan[sunting | sunting sumber]

  1. Khadijah, saudara seibu dengan Ali
  2. Fatimah
  3. Aliyah
  4. Ummu Kultsum

Masa keimaman[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Sumber[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b ABIDIN, Imam Ali ibn al-Husain Zainal; ASH-SHAHIFAH AS-SAJJADIYYAH: kumpulan doa-doa mustajab Imam Ali Zainal Abidin AS cucu Baginda Nabi SAW. Jakarta: Lentera, 2005. ISBN 979-3018-95-X
  2. ^ a b c al-MUFID, Syaikh; Sejarah para imam ahlulbait Nabi SAW. Jakarta: Lentera, 2005. ISBN 979-24-3304-X
  3. ^ a b c d e Keturunan Ali Zainal Abidin. Naqobatul Asyraf

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]