Montezuma II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Moctezuma Xocoyotl (1466-1520) atau lebih dikenal sebagai Montezuma II dilahirkan sekitar tahun 1466 M. Dari keturunan raja, ia merupakan anak bungsu Maharaja Axacatatl, yang memerintah antara tahun 1469-81. Raja Aztec tidaklah diwarisi dan Axacayatl digantikan oleh Ahuitzotl, jenis pahlawan yang pemerintahannya antara 1481-1502. Cakap, tidak mempunyai perasaan belas kasihan dan ganas, Ahuitzotl memperluas wilayah kekaisaran Aztek dan dikatakan telah mengadakan upacara pengorbanan dua puluh ribu tawanan pada pembangunan teocalli, atau pengorbanan "kuil."

Saat Ahuitzotl mati, dewan bangsawan memilih pelajar teologi ini yang walaupun muda dianggap penuh potensi untuk ditabalkan sebagai maharaja berikutnya. Ini adalah Moctezuma Xocoyotl, nama akhirnya berarti "yang lebih muda."

Maharaja muda ini dengan segera menunjukkan tanda-tanda pemerintah yang berkaliber. Sering berkampanye di hadapan angkatan militernya, ia memenangkan 43 pertempuran menumpas musuhnya yang beroperasi di kawasan selatan kerajaan Aztec.

Montezuma merupakan pemerintah yang tegas di dalam negeri. Ia membangun dan menghias kuil dan menyediakan cadangan air bersih pada ibu kotanya di Tenochtitlán dengan membina akuaduk kembar. Untuk menggalakkan kepatuhan kepada undang-undang, ia berpaling menggunakan taktik memberi sogok kepada hakim untuk menentukan keikhlasan mereka. Ia turut merayau di jalanan dengan menyamar untuk menentukan undang-undangnya dipatuhi.

Apa yang menyebabkan kejatuhan Montezuma bisa diringkas kepada satu perkara: kepercayaan carut agamanya. Dihantui oleh kepercayaan carut dan sebagai seorang pelajar teologi, ia kenal benar dengan legenda Quetzalcoatl, dewa Aztek yang dipercayai akan pulang ke Meksiko sebagai seorang kulit putih yang berjanggut. Montezuma sangat yakin bahwa kepulangan dewa ini akan menandakan kejatuhan kekaisarannya.

Oleh itu, begitu ia mengetahui pendaratan tentara Spanyol (yang berjanggut dan berkulit putih) di Veracruz, Montezuma dilanda dilema. Ia mengadakan perjumpaan dengan penasihat tertingginya, termasuk sekutunya yaitu Raja Cacama dari Texcoco. Namun musyawarah ini telah menemui jalan buntu, kerana sebagian mau menentang tentara Cortés, sedangkan yang setengah lagi mau melayani penjelajah ini sebagai dewa.

Akhirnya, Montezuma telah membuat keputusan yang tidak tepat: yaitu dengan cara memberi suap kepada Cortés untuk meninggalkan Meksiko yaitu dengan mengantar hadiah berbentuk emas kepadanya. "Ini hanya membuka kekayaan serta kelemahannya," tulis William H. Prescott, ahli sejarah penaklukan Meksiko yang tersohor pada abad ke-l9. Cortés mempunyai sikap yang berani, mungkin karena keinginannya yang mendalam untuk menaklukkan Meksiko. Saat diberitahu oleh perwakilan Montezuma yang Montezuma enggan bertemu dengannya Cortés menjawab dengan angkuhnya bahwa ia tidak akan meninggalkan Meksiko selagi ia tidak pergi ke Tenochtitlan untuk memberi penghormatan kepada Maharaja tersebut. Sebagai tanda kesungguhannya, ia telah memerintahkan semua kapal (kecuali satu) untuk dibakar dan dimusnahkan.

Tindakan drastis ini telah menambah ketakutan Montezuma. Ia akhirnya menjemput Cortés untuk masuk ke ibukota Tenochtitlán pada 12 November 1519. Di samping itu, ia telah membolehkan Cortés dan beberapa pembantunya untuk memasuki mahligai kerajaannya. Cortéspun mengambil kesempatan ini untuk menahan Montezuma di tempatnya sendiri dengan alasan ia telah memerintahkan kaumnya di pesisir pantai untuk menyerang garnisun Spanyol di Veracruz.

Pihak Spanyol kini mempunyai tebusan yang berharga. Walaupun ditahan dan ditindas Montezuma masih menyanjung penculik ini. Malah ia menerima segala permintaan mereka seperti membersihkan tempat korban, menaikkan salib di kuil, menerima agama Kristen dan juga patuh kepada Raja Spanyol saat itu iaitu Raja Carlos V. Tindakannya itu telah menimbulkan kemarahan rakyatnya.

Untuk menambah masalah, Cortés menerima berita buruk bahwa satu pasukan Spanyol telah diantar oleh Velázquez untuk menangkapnya karena mengingkari perintahnya yaitu tidak menaklukkan negara Meksiko. Ia mengamanatkan administrasi ibukota itu kepada letnannya yang dipercayai iaitu letnan Pedro de Alvarado. Lalu, dia dan laskarnya bergerak ke arah ekspedisi Kuba dan menewaskan mereka yang dipimpin oleh Pánfilo de Narváez. Cortés kemudian mengabarkan kepada pihak yang kalah tentang ibukota emas di Tenochtitlán, dan mereka setuju untuk menyertai tentara Cortés.

Saat Cortés kembali ke ibukota itu, ia mendapati Alvarado dan laskarnya telah membunuh secara beramai-ramai semua bangsawan Aztec dan mereka yang masih hidup telah menabalkan maharaja yang baru yaitu Cuitláhuac. Alvarado telah berbuat demikian karena menyangka upacara keagamaan mereka itu sebagai satu pemberontakan. Cuitláhuac kemudian mengarahkan perwiranya untuk mengepung mahligai yang diduduki oleh pihak Spanyol dan Montezuma. Cortés tiada pilihan lain dan terpaksa meminta Montezuma untuk bercakap di anjungan mahligai kepada rakyatnya dan mendesak mereka untuk membiarkan laskar Spanyol keluar secara aman. Namun demikian, rakyatnya sudah benci dengannya terutama sekali selepas mencemarkan agama mereka dengan menaikkan salib di kuil mereka dan juga pembunuhan yang diarahkan oleh Alvarado. Lalu mereka pun mengejeknya dan melemparkan batu-batu besar ke arahnya. Akibatnya Montezuma mengalami cedera parah di kepalanya. Cortés bersama-sama La Malinche mencoba berunding dengan kelompok yang menentangnya tetapi perundingan itu berakhir saat maharaja itu mangkat 2 minggu selepas itu pada 30 Juni 1520.