Miracle: Menantang Maut

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Miracle "Menantang Maut")
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Miracle: Menantang Maut
Miracle3.jpg
SutradaraHelfi Kardit
ProduserChand Parwez Servia
PenulisHelfi Kardit
Anggoro Saronto
PemeranKeira Shabira
Lian Firman
Andry Ilham
Dhitra Marfie
Nadila Ernesta
Lady Veronica
Wishnu Wijaya
Robertino
Intan Ayu Purnama
Audrey
MusikIndra Qadarsih
SinematografiBudiutomo
PenyuntingDwi Ilalang
DistributorStarvision Plus
Durasi
98 menit
NegaraIndonesia

Miracle "Menantang Maut" merupakan sebuah film Indonesia yang dirilis pada tahun 2007. Film yang disutradarai oleh Helfi Kardit ini dibintangi antara lain oleh Keira Shabira, Lian Firman, Andry Ilham, Dhitra Marfie, Nadila Ernesta, Lady Veronica, Wishnu Wijaya, Robertino (Abimana Aryasatya), Intan Ayu Purnama, dan Audrey. Tayangan perdananya pada 13 Desember 2007.

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Film ini menceritakan tentang siswa-siswi kelas 3 suatu SMU yang akan berdarmawisata. Beberapa menit sebelum berangkat, Kinar (Keira Shabira), siswi kelas 3 sosial 1 mendapat penglihatan kalau bus kelas mereka akan mengalami kecelakaan dan terbakar. Kinar memperingatkan teman-teman dan Guru tetapi tidak digubris.

Kinar malah diseret turun oleh ketua angkatan, Satyo (Lian Firman) dan wali kelas Pak Irawan (Robertino). Kaka (Andry Ilham), sahabat Satyo ikut turun, tetapi dia melarang Elisa (Audrey) pacarnya untuk turun. Selain itu ada Ago (Dhitra Marfie), Tania (Lady Veronica), Mey (Nadilla Ernesta), dan Aldi (Wishnu Wijaya) yang akhirnya turun karena suatu alasan. Bus kelas itu berangkat duluan, sedangkan mereka yang turun, rencananya dinaikkan ke bus untuk guru.

Bus kelas 3 Sosial 1 itu ternyata mengalami kecelakaan seperti penglihatan Kinar. Semuanya tewas. Delapan orang yang turun semua selamat, yaitu Satyo, Pak Irawan, Kaka, Ago, Tania, Mey, Aldi, dan Kinar sendiri. Akan tetapi ternyata kematian tidak berhenti begitu saja. Satu persatu mereka mati, diawali oleh Kaka, Pak Irawan dan Tania. Kinar berhasil memecahkan teka-teki kalau kematian itu berurutan dari huruf awal nama hingga membentuk suatu kalimat, Kita Mati.

Semua dimulai dari Kaka, yang tewas secara aneh saat mengunjungi makam pacarnya, Elisa dan ia meninggal saat melompat menghindari bebatuan dan tergantung karena dahan-dahan di pohon. Lalu Pak Irawan, yang tewas karena tertimpa lemari di kantor guru, tetapi sebelumnya ia masih hidup, sebelum ada sebuah piala lancip yang menancap di dadanya. Tania adalah yang tewas berikutnya. Ia tewas setelah terjatuh dari tangga di rumahnya dan lehernya patah, setelah terpeleset oleh percikan darah dari tangannya yang memegang pecahan gelas. Aldi adalah yang tewas berikutnya, pada saat ia dan teman-teman band nya sedang latihan, ia kesetrum kabel-kabel untuk menyambungkan gitar listrik. Sekarang ejaannya sudah menjadi KITA. Kinar juga sempat menyadarinya saat melihat mainan magnet di kulkasnya berubah menjadi KI (K untuk Kaka dan I untuk Irawan, sesaat setelah Pak Irawan tewas).

Mereka semua berniat menantang maut, dan datang ke Puncak. Setelah terjadi keributan di sana, Mey menjadi korban berikutnya yang tewas, setelah tertimpa jatuhan kayu-kayu yang sudah lapuk dan tajam, menancap di dadanya dan membunuhnya seketika. Lalu, mereka berniat pergi dari tempat itu, yang tersisa hanya Kinar, Satyo dan Ago. Ago yang terluka karena keributan tadi, harus dipapah oleh Kinar dan Satyo, tetapi saat dipapah oleh keduanya, ia terlepas dan jatuh berguling-guling dari tangga karena kaki Kinar tertusuk paku. Saat mereka menghampiri Ago yang jatuh, ia telah tewas karena saat jatuh ia tertusuk batu yang tajam di bawah sana. Ejaan tersebut sudah hampir sempurna, KITA MA, dan sekarang Satyo dan Kinar sedang berusaha untuk tidak terkena kematian. Meski huruf depan nama mereka berbeda, tetapi Satyo di rumah biasa dipanggil Tyo, dan Kinar biasa dipanggil Inar, sehingga inisial nama panggilan mereka adalah T dan I

Satyo, yang saat akan pulang kerumahnya, ia naik angkot dan minum air mineral. Dirumahnya, Kinar yang juga minum air mineral tersedak dan didatangi oleh burung gagak penanda kematian. Setelah itu, Satyo dikabarkan sudah meninggal, dan Kinar yang tidak tahu mengapa, mendapatkan jawaban seutuhnya dari Imas (Intan Ayu), yang juga mantan pacar Satyo namun ditinggalkannya karena Imas buruk rupa. Saat bertemu di makam Satyo, Imas mengaku bahwa ia membunuh Satyo dengan mencampurkan obat tidur ke air mineral tersebut, dan membuat ia tertidur dan kepalanya keluar dari jendela angkot dan sebuah mobil menggilas kepalanya. Kinar yang tidak terima, membentak Imas namun keduanya berada dalam pertarungan sengit, sampai akhirnya, Imas tewas karena tertusuk nisan orang meninggal. Kinar berhasil lolos dari semuanya.

Kinar akhirnya mengerti, setelah peristiwa itu, ia tidak pernah ditemui lagi oleh burung gagak ataupun peristiwa-peritiwa aneh. Ia juga tahu, bahwa KITA MATI sudah lengkap, karena huruf "I" terakhir bukan menuju padanya, tetapi pada Imas. Film berakhir ketika Kinar melihat kembali lukisan Imas tentang bus sekolah yang akan ditumpanginya yang terbakar.

Pemain[sunting | sunting sumber]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Film ini dianggap menjiplak film Amerika, Final Destination, karena memiliki tema cerita yang mirip, yaitu kematian berturut-turut pada tokoh yang selamat dari kecelakaan.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]